Belanja Bulanan

1167 Words
"Ci, jangan bengong!" tegur Arman kepada sang istri. Kezia yang sedang melamun pun nampak mengerjapkan matanya berkali-kali. "Abang, apa-apan sih!" gerutu Kezia dan mendapat kekehan dari Arman. Arman hanya tertawa saja lalu mengajak sang istri untuk turun ke lantai bawah untuk belanja bulanan. Namun, sebelum pergi ke swalayan, mereka pun menyempatkan diri untuk pergi ke salah satu resto yang ada disana dahulu untuk makan malam. "Makan yang banyak, Ci, biar kuat menghadapi kenyataan yang kek roller coaster, haha," kekeh Arman sambil meledek. "Ho'oh, Bang. Aku jadi curiga jangan-jangan kamu anak konglomerat yang merasa bosen hidup bergelimang harta, terus kabur dari rumah dan memilih ngegame. Atau mungkin, jangan-jangan kamu kek modelan Jess atau Miaw gitu, ya sebenarnya punya bisnis lain?" tanya Kezia penuh tanda tanya. "Jess No Limit? Dih, dia mah emang udah terkenal, kalah jauh lah sama aku. Lagi, kamu kalau ngayal jangan tinggi-tinggi, Ci, biar kalau jatoh tuh gak sakit," jawab Arman dengan setengah meledek. Sungguh, ucapan Arman membuat moodnya kembali menjadi jelek. Inginnya Kezia, Arman tuh berpura-pura mengiyakan ucapannya kalau ia hanya iseng bermain game. Namun faktanya, itu emang hanya dugaan Kezia saja. Setelah selesai makan malam, mereka berdua pun lantas pergi menuju swalayan yang berada di sebelahnya. Saat masuk kesana, Kezia pun segera mengambil sebuah trolly dorong dan mulai menjelajah rak-rak yang berjajar disana. "Ci, selain belanja bulanan, kebutuhan kamu juga sekalian aja, biar gak bolak balik," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia. "Tapi kebutuhanku mahal loh, Bang," ucap Kezia memperingatkan. "Sepuluh juta cash tadi masih kurang? Tenang, masih ada di M-banking kok sepuluh jutaan lagi," ucap Arman dan hanya mendapat senyuman saja dari Kezia. Dengan tangan lincahnya, Kezia pun mulai memindahkan barang-barang dari raknya menuju trolly-nya. Tak hanya kebutuhan dapur saja, tapi juga persabunan bahkan kebersihan milik kedua orang tua dan adiknya pun ia beli. "Bang, kamu pake sabun cuci muka gak? Biar sekalian," ucap Kezia dan mendapat gelengan dari Arman. "Masih banyak, ambil punyamu aja," titah Arman dan mendapat gelengan dari Kezia. "Punyaku beli di online aja, Bang, karena disini gak ada," ucap Kezia memberitahu. Setelah semua barang yang dibutuhkan lengkap, keduanya pun segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Dan kali ini, Arman yang sedikit syok saat Kezia melakukan pembayaran. Namun, syok yang di tunjukkan Arman berbeda dengan yang ditunjukkan Kezia. Jika Kezia tadi syok karena harga yang tidak masuk akan untuk kedua barang itu, sementara Arman tak percaya barang segitu banyak hanya dengan nominal yang hampir setengahnya. "Ci, ini gak salah?" tanya Arman memastikan. "Nggak, Bang, emang kenapa?" tanya Kezia balik penasaran saat keduanya sudah berada di dalam mobil. "Barang segitu banyak gak nyampe lima juta? Ini kamu yang terlalu hemat apa aku yang rada boros yak?" tanya Arman balik dan sontak membuat Kezia nampak mengernyitkan dahinya tanda tak paham. "Nggak kok, Bang. Justru ini malah di luar budget biasa yang ku keluarin," ucap Kezia memberitahu. "Abang, abang yang semangat ya bikin konten dan ngegame-nya. Ada banyak yang harus Abang pikirin nantinya. Biaya wisuda Adnan, biaya kebutuhan rumah, maafin aku kalau aku jadi ngelibatin Abang sekarang. Andai, uang gajiku gak ke potong dan habis, aku gak akan minta ini sama Abang," ucap Kezia sedikit sendu. Arman pun memandang sekilas wajah Kezia dan kembali mengalihkan pandangannya ke depan lalu tersenyum. "Doain aja biar rejeki Abang lancar ya, Ci. Doa istri itu yang paling gampang di ijabah sama Allah," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Kezia. "Ci, kalau kek gini, kenapa kita gak tinggal di rumah sendiri aja ya?" tanya Arman kemudian. "Abang gak denger tadi kata Papa?" tanya Kezia balik dan hanya mendapat helaan napas saja dari Arman. Kezia benar, Pak Joey sudah mengecam mereka untuk tak keluar dari rumah itu. Mungkin, Pak Joey masih takut Arman tak bisa membahagiakan anak perempuannya itu. Setelah menempuh perjalanan 15 menit, kini keduanya pun tiba juga di rumah mereka. Mobil dan motor milik Adnan telah terparkir sempurna di garasi yang berarti mereka semua sudah sampai dirumah. Setelah mobil terparkir sempurna, Kezia pun segera masuk ke dalam rumahnya lalu memanggil Mbak Puji untuk membantunya menurunkan barang belanjaannya. Dengan bantuan, Mbak Puji dan Arman, barang-barang itu pun sudah berpindah semua dari mobil ke dapur. "Mbok, tolong susun dan anterin ke masing-masing ya," ucap Kezia dan mendapat anggukan dari Mbok Puji. Mbok Puji pun segera memilah barang-barang itu, dan saat Kezia hendak naik ke kamarnya, Bu Ayes pun keluar dari kamarnya. "Kamu udah belanja bulanan, Ci?" tanya Bu Ayes dan mendapat anggukan dari Kezia. "Udah, lagi di rapihin sama si Mbok," jawab Kezia singkat. Melihat sang Papa dan Mamahnya berjalan ke arah ruang tamu, mau tak mau Kezia pun mengurungkan niatnya untuk ke kamar. Kezia dan Arman pun lantas mengikuti kedua orang tuanya menuju ruang tamu dan disana telah ada Adnan yang sedang bermain gamenya. "Darimana, Kak?" tanya Adnan penasaran saat melihat Kakaknya baru nongol dari tadi. "Abis belanja bulanan," jawab Kezia singkat lalu ia pun segera duduk disana. Arman duduk di atas karpet bersama dengan Adnan, sedangkan Kezia di sofa bersama kedua orangtuanya. "Eh iya, Bang Arman, joki jadi buka ntar malem?" tanya Adnan memastikan dan mendapat anggukan dari Arman. "Kalau gak ketiduran gua kerjain haha," ucap Arman sambil terkekeh. "Abang gak boleh begadang lagi!" seru Kezia dan hanya mendapat anggukan dari Arman. "Berapa, Bang, gendong dari Legend V ke Legend I?" tanya Adnan memastikan seakan tak menghiraukan sang Kakak yang berada didekatnya. "Gendong apa rank? Kalau gendong 10ribu per star, kalau rank 6ribu per star. Itu butuhnya kan sekitar 20 star," ucap Arman memberitahu. "Gendong aja, berarti 200ribu yak?" tanya Adnan memastikan kembali. "150ribu aja, buat ipar soalnya," jawab Arman dan mendapat anggukan dari Adnan. "Harusnya kamu minta gratis, Nan, kan buat ipar gitu," ucap Kezia seakan mengompori. "Boleh gratis, tapi kamu gak dapet duit jajan, Ci," ucap Arman enteng dan membuat Kezia langsung terdiam. Adnan pun lalu menyerahkan selembar uang merah dan biru kepada Arman dan langsung kembali berpindah tangan kepada Kezia. "Buat aku, Bang?" tanya Kezia memastikan dan mendapat anggukan dari Adnan. "Buat jajan besok," jawab Arman enteng. Tak lama, Kezia pun mengecup pipi Arman sebentar lalu segera bangkit dari duduknya. "Abang, aku tunggu diatas ya," ucap Kezia dengan sedikit genit lalu segera berlari ke kamarnya. Arman pun hanya menggeleng pelan melihat kelakuan sang istri itu, lalu segera menyusulnya. Setelah Arman dan Kezia pergi, Bu Ayes pun lalu menegur Adnan. "Kamu bayar apaan ke di Arman?" tanya Bu Ayes penuh selidik. "Bayar joki game-nya dia. Emang Mamah gak denger tadi? Mamah dan Papa tuh harusnya beruntung dapet menantu kek Bang Arman, dia cuannya gede kalau mau tau mah," ucap Adnan memberitahu. "Gede apanya, orang kerjaannya cuma maen game doang," ucap Pak Joey ketus dan mendapat anggukan dari Bu Ayes. "Jeh, gak tau aja dia, perlu di spill apa?" tanya Adnan, lalu ia pun segera membuka aplikasi IGe-nya dan memberitahu kedua orangtuanya. "Itu apaan?" tanya Pak Joey yang tak paham maksud Adnan. "Duitnya dia lah. Barusan dia abis keluar segini sama Kakak," ucap Adnan menambahkan. Pak Joey dan Bu Ayes pun kembali membuka poto di IGe itu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. "APAAA?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD