"Si Bego, orang lagi bengong dikagetin!" gerutu Arman kesal kepada lelaki yang baru datang itu.
Namun, bukannya meminta maaf lelaki itu pun hanya terkekeh geli dan segera duduk disamping Arman.
"Maaf. Tadi, aku gak tau kalau Tuan Besar ngikutin ternyata," ucap lelaki yang bernama Mahendra itu dengan sedikit menyesal.
"Sans, gimana? Udah beres semua?" tanya Arman mengalihkan ucapannya dan mendapat anggukan dari Mahendra.
Mahendra pun lalu menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Arman dan Arman pun langsung membukanya.
Ada beberapa data tentang Kezia yang baru ia ketahui.
"Dia kerja di Perusahaan Papa? Beneran?" tanya Arman tak percaya dan mendapat anggukan dari Mahendra.
"Salah satu orang kepercayaan Nyonya juga dia dalam ngelola keuangan. Bahkan gak cuma perusahaan utama, tapi perusahaan cabang pun auditnya sama dia," jawab Mahendra dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman pun nampak diam sambil dengan cermat matanya membaca semua data tentang Kezia. Melihat Arman yang sedang serius, Mahendra pun memilih untuk pergi sebentar dan tak lama ia pun kembali dengan segelas es kopi untuk bosnya itu.
"Makasih," ucap Arman singkat.
Setelah puas membaca semua tentang Kezia, Arman pun nampak menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Ternyata mantannya dia salah satu orang kepercayaan Winda juga, pantes kek pernah liat orang itu. Beruntung, kemaren dia gak ngenalin gua sebagai Pradipta Arman," ucap Arman sambil menyunggingkan sedikit senyumnya.
Arman pun menyeruput es kopinya sebentar dan kembali menghembuskan napasnya dengan berat.
"Ada masalah apa lagi? Bukannya dah kelar semua. Lu udah ketemu dan nikah sama wanita yang emang lu cari selama 3 tahun ini, terus apa lagi?" tanya Mahendra sedikit tak nyaman dengan gelagat yang di tunjukkan oleh Bosnya itu.
Sebenernya, Mahendra dan Arman itu seumuran. Keduanya bertemu saat masih SMP dan pertemanan mereka terus terjalin sampai saat itu.
Hal itu pula lah yang membuat Pak Leon juga mengangkat Mahendra sebagai anaknya. Umur Arman dan Mahendra sebenernya sama, hanya saja Mahendra telah menikah 4 tahun lalu dan telah dikaruniai 2 orang putra dan putri yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Gua emang udah ketemu sama wanita yang tiga tahun lalu, tapi gimana sama Mauren? Asli, gua pun masih kepikiran sama dia meskipun saat itu umur gua masih 10 tahun dan dia 5 tahun," ucap Arman dengan sedikit sendu sambil pandangannya menatap ke depan dengan perasaan kosong.
Kruyuk!
"Haha, ada yang laper tuh! Yuk, makan dulu, udah jam makan siang juga," ucap Arman mengajak Mahendra mencari tempat makan.
Memang, yang tadi adalah bunyi suara perut Mahendra yang minta diisi makanan. Mahendra pun hanya tersenyum saja saat ketauan lapar oleh sang bos itu.
Keduanya pun lalu melangkah menuju tempat makan terdekat dan akhirnya mereka putuskan untuk membeli nasi padang di warung pinggir jalan.
Setelah menyelesaikan makannya, keduanya pun tak langsung beranjak pergi, namun kembali mengobrol.
"Cewe yang lu tunggu 20 tahun itu namanya Mauren kan?" tanya Mahendra sedikit penasaran dan mendapat anggukan dari Arman.
"Iya, dia taunya nama gua Dipta bukan Arman. Nama dia gua pake buat online shop gua, dan ternyata emang bawa rejeki yang lumayan dari sana," ucap Arman dengan sedikit tersenyum.
Kali ini, Mahendra yang nampak memijat pelan pelipisnya tanda sedikit gemas terhadap temannya itu.
"Bro, kemaren lu akad merhatiin nama calon istri lu gak sih?" tanya Mahendra tiba-tiba dan mendapat anggukan dari Arman.
"Siapa coba kalau tau," tantang Mahendra kembali.
"Kezia Mauren binti Joey Gionino. Se -- bentar, Kezia Mauren? Joey Gionino? Tunggu, i -- itu bukannya ---." Perkataan Arman terhenti saat melihat Mahendra mengangguk mantap.
"Se -- seriusan, lu?" tanya Arman tak percaya, namun lagi-lagi mendapat anggukan dari Mahendra.
"Arghhh Hendra, sumpah gua seneng banget!" sorak Arman dengan bahagia.
Setelah itu, Arman pun lalu membayar pesanan mereka berdua dan langsung berlalu menuju parkiran mobil.
Ternyata, mobil keduanya pun terparkir bersisian.
"Berarti beres semua ya kerjaan gua?" tanya Mahendra memastikan dan mendapat anggukan dari Arman.
"Eh bentar, lu tau jumlah duit di ATM platinum gua gak?" tanya Arman kembali.
Mahendra pun nampak diam sebentar mencoba berpikir.
"Sekitar 300-400 jutaan, eh nggak keknya mungkin lebih deh. Gua gak tau pasti, tapi keknya diatas 100 juta," ucap Mahendra yang sekaligus membuat Arman nampak terbelalak tak percaya.
"Se -- seriusan lu?" tanya Arman memastikan.
"Cek aja kalau gak percaya," ucap Mahendra seraya masuk ke dalam mobilnya.
Tin!
"Jangan lupa bonus gua transfer, bakal beli s**u bocah," ucap Mahendra sambil melajukan mobilnya meninggalkan Arman dengan segala kekalutannya disana.
Arman masih bingung, haruskah ia menerima uang itu? Namun, disatu sisi ia butuh uang dalam jumlah besar untuk membeli semua peralatan gamingnya untuk menunjang pekerjaannya. Atau, haruskah ia ke kantor sang Papa berurusan dengan berkas-berkas itu lagi.
Ah, memikirkannya saja sudah membuat Arman sakit kepala.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi saja dari taman itu dan menuju kost-annya yang hanya berjarak 20 menit saja dari sana.
Setibanya di kost-an itu, Arman pun segera mengemas komputer dan juga baju-bajunya. Tak banyak yang dimiliki oleh Arman saat itu, karena memang ia hanya sendiri. Ia hanya membawa komputer, beberapa bajunya saja dan sebuah kompor portabel. Sisa semua barangnya ia serahkan kepada ibu kost, entah mau dibuang atau digunakan olehnya ia tak peduli.
"Woy, Man, mau pindah?" tanya salah satu teman kost-nya yang beda dua pintu dari kamarnya.
"Iya, mau tinggal dirumah istri gua. Bantuin angkutin dong," ucap Arman kemudian
"Lah lu udah nikah? Kaco nikah kaga undang-udang. Woy semuanya, Arman udah nikah nih!" seru temannya tadi dan sontak Arman pun segera menghampiri temannya itu dan menutup mulutnya.
"Pe'a lu, berisik banget!" gerutu Arman kesal apalagi saat melihat beberapa penghuni kamar kost yang keluar.
Tempat kost Arman sendiri berbentuk letter U dengan total 2 lantai dan 13 kamar. Lantai bawah berisi 6 kamar dan berbentuk petakan kontrakan sehingga cocok untuk pasangan yang sudah menikah, sedangkan lantai atas terdiri dari 7 kamar dengan 4 kamar berbentuk kos-an dan 3 kamar berbentuk petakan.
"Siapa yang nikah, Met?" tanya salah satu teman Arman yang lain.
"Nih si bocah gamer," jawab lelaki yang dipanggil Met itu.
Mendengar ucapan Met semua orang yang ada disana pun nampak terkejut dan Arman pun hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Beruntung, orang-orang disana tak terlalu kepo urusan Arman bagaimana ia dengan mudah menikah padahal yang mereka tau Arman adalah jomblo. Arman tak pernah membawa teman wanita kesana jadi itu yang membuat mereka sedikit heran.
Setelah semua barang rapih, Arman pun lalu pamit kepada seluruh penghuni kost-an disana dan mengijinkan siapapun mengambil barangnya yang memang sengaja di tinggal. Arman pun berjanji, jika kelak akan mengadakan resepsi, akan mengundang mereka semua.
Setelah berpamitan, barulah ia pun pulang kerumah Kezia.
Namun, sebelum pulang, ia pun berniat untuk mampir dahulu di salah satu cafe yang berada disana.
Selain untuk membeli cemilan dan jajanan untuk Kezia, ia pun berniat untuk mengecek uangnya yang berada di ATM itu.
Tak butuh waktu lama, mobil pun akhirnya terparkir di sebuah minimarket yang tak jauh dari arah rumah Kezia. Hal itu karena disana ada banyak jajan masa kecilnya dahulu seperti telur gulung, lumpia basah, papeda dan juga tahu bulat.
Arman pun membeli semuanya sekaligus dan tak lupa dua gelas es tropical yang sangat cocok di minum siang-siang begini.
Sambil menunggu semua pesanannya siap, Arman pun memilih untuk ke toko adem dulu dan mengecek uang di ATMnya.
Dan saat mengecek saldonya ...
"Gi -- gila, i -- ini ---,"