"Ini kan pil KB, Mah? Maksud Mamah apa nyuruh Kakak minum ini?" tanya Kezia penasaran lalu mengembalikan kembali obat itu kepada Sang Mamah.
"Biar kamu gak hamil, Kak. Mama gak mau sampe kamu hamil anak dia. Dan kalau bisa, kamu juga segera cerai sama orang itu! Ini udah keputusan Mama sama Papa, dan kamu harus nurut!" gertak Bu Ayes.
"Ta -- tapi, kan, yang minta aku nikah sama Bang Arman itu Papa? Kenapa sekarang malah begini? Aku gak mau, Mah! Aku udah nunggu Abang selama 3 tahun dan sekarang Mamah minta aku pisan? Gak, Mah! Aku gak akan pernah mau pisah sama Bang Arman!" seru Kezia merasa sedikit kesal dengan perangai sang Mamah.
"Iya, itu karena Papa mu awalnya gak tau kalau kerjaan dia cuma main game. Udahlah mending nurut sama orang tua, minum ini dan tinggalkan Arman setelah dua atau tiga bulan!" gertak Bu Ayes kembali sambil mengambil paksa lengan Kezia dan menaruh pil itu di lengannya.
"Gak! Aku gak mau! Sampe kapanpun aku gak akan pernah mau tinggalin Abang! Aku lebih baik hidup susah daripada aku jadi janda di usia pernikahan yang masih seumur jagung!" ucap Kezia sambil melempar pil itu ke sembarang.
Kezia yang merasa sesak dengan kelakuan sang Mama pun memilih untuk pergi dari sana dan segera berlari menuju kamarnya.
"Kezia dengerin, Mamah dulu!" panggil Bu Ayes tak terima.
Namun, Kezia sudah terlalu sesak dengan keinginan sang Mamah dan lebih memilih untuk mengurung dirinya saja.
Kezia pun menangis tersedu-sedu di atas ranjang miliknya. Ia pun memukul-mukul bantal yang ada di depannya dan bermaksud melepaskan kekesalan yang ada kepadanya.
"Kenapa? Kenapa Mamah sama Papa tega gini ke aku?!" seru Kezia kesal sambil melempar bantalnya ke sembarang arah.
"Arghh! Aku sayang sama dia! Aku gak mau pisah huhu ..."
***
Sementara Arman, setelah keluar dari rumah Kezia tujuan utamanya adalah menuju taman tempat biasanya ia bertemu dengan orang kepercayaannya, Mahendra.
Selang 15 menit kemudian, Arman pun telah tiba di taman itu dan segera menghubungi orang kepercayaannya.
Tak butuh waktu lama, seorang pria paruh baya dengan setelan jas dan celana bahan berwarna abu-abu melangkah menuju tempat dimana Arman berada.
"Selamat siang, tuan muda Arman," ucap lelaki itu saat ia tiba di dekat Arman.
Mendengar ada yang memanggilnya Tuan Muda, Arman pun sontak terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah orang itu.
"Papa? Papa ngapain disini?" tanya Arman sambil menautkan kedua alisnya.
"Nemuin kamu, lah. Ngasih laporan hasil penelusuran semalem," jawab lelaki itu enteng, yang tak lain adalah Pak Leon --- Papa Arman sendiri.
"Dih, Papa apa-apain sih, kek tau aja apa yang Arman suruh ke sih Hendra," gerutu Arman lalu ia pun melangkah menuju sebuah kursi yang berada tak jauh dari sana.
Arman pun duduk lebih dahulu, lalu diikuti oleh sang Papa yang ikut duduk juga disebelahnya.
"Mahendra kemana, Pah? Kenapa malah Papa yang kesini?" tanya Arman penasaran.
"Mahendra ada di mobil, kok. Tadi waktu dia bilang mau keluar sebentar, Papa rada kepo, siapa tau dia mau nemuin kamu dan tada, benerkan ternyata emang dia nemuin kamu disini," ucap Pak Leon dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Hmm, Papa mau ngapain emang?" tanya Arman dengan sedikit ketus.
Pak Leon pun nampak menghembuskan napasnya kasar dan memijat pelan pelipisnya.
"Perusahaan Papa lagi gak baik-baik aja, Man," ucap Pak Leon dengan sedikit sendu.
"Perusahaan? Perusahaan utama? Kok bisa?" tanya Arman dengan sedikit terkejut.
Pak Leon pun mengangguk pasrah, lalu mengambil hpnya dan menyerahkannya kepada Arman.
"Ini profit 3 bulan kemaren. Terus merosot tajam, tapi pengeluaran makin ngebengkak. Papa rasa ada yang mulai bermain curang disana tapi entah siapa," ucap Pak Leon kembali.
Arman pun lalu melihat grafik pengeluaran yang ada di sana. Memindai untuk sesaat lalu kembali menyerahkan hpnya kepada Sang Papa.
"Nanti, Arman cari tau, Pah," ucap Arman menenangkan hati sang Papa dan mendapat anggukan darinya.
"Terus, kamu kapan nikah? Papa udah pingin gendong cucu. Rumah sepi banget semenjak kamu gak ada," lirih Pak Leon.
Arman pun hanya tersenyum dan menepuk pelan pundak sang Papa.
"Secepatnya Arman akan kasih cucu yang lucu-lucu buat Papa. Doain aja ya, semoga istri Arman bisa cepet hamil," ucap Arman sambil tersenyum.
"Istri? Kamu udah nikah?" tanya Pak Leon sedikit terkejut.
Arman pun hanya bisa menyengir kuda dan mengangkat dua jarinya membentuk huruf V yang berarti peach (damai).
"Kamu seriusan udah nikah?" tanya Pak Leon kembali dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman tau sepertinya Pak Leon sama sekali tak percaya kepadanya. Ia pun mengambil hpnya dan menunjukkan poto pernikahannya kemarin kepada sang Papa.
"Allahu Akbar, anak gua nikah gak ngomong-ngomong! Kelakuan emang ya,!" gerutu Pak Leon dengan kesal sambil menyubit lengan sang anak hingga memerah.
"Aduh, aduh, aduh, ampun, Pah, ceritanya panjang," ucap Arman sambil mengaduh kesakitan karena cubitan dari sang Papa lumayan sakit.
Arman pun membelai lengannya yang kena cubitan tadi dan meniupnya perlahan.
"Udah bikin resepsi? Kapan rencananya?" tanya Pak Leon kembali dan mendapat gelengan dari Arman.
"Aku masih mau pura - pura jadi orang susah dulu, Pah, buat yakinin istri aku. Sekarang, dia taunya aku cuma gamer yang kerjaannya cuma main hp doang. Doain aja, semoga dia beneran bisa nerima aku apa adanya," ucap Arman sambil tersenyum.
Pak Leon pun hanya bisa mengangguk pasrah, lalu mengambil sesuatu di saku celana belakangnya.
"Ini," ucap Pak Leon seraya menyerahkan sebuah kartu kepada sang anak.
"I -- ini, kan ---," ucapan Arman terjeda karena Pak Leon nampak mengangguk sempurna.
"Ini ATM kamu. Simpan,.gunakan sebaik-baiknya. Papa tau, dari hasil ngegame mu pun pasti kamu bisa cukupin semua kebutuhan istri mu. Tapi perlu diingat, jangan bermain game terus. Anak Papa yang bisa diharapkan cuma kamu, adikmu gak mau ambil perusahaan utama, kalau perusahaan cabang dia masih mau. Pulanglah, Nak, rumah itu terlalu besar untuk kami bertiga tempati, atau setidaknya, keluarlah dari rumah mertua mu, biar kamu lebih leluasa bermain dengan istrimu," nasihat Pak Leon dengan bijak.
Arman pun menghembuskan napasnya kasar sambil memegang ATM itu.
"Aku pun pinginnya pisah rumah. Tapi, mertua ku pingin kita satu atap dulu. Keknya, dia masih ragu ngasih anak perempuannya ke aku, karena aku cuma seorang gamer," lirih Arman dengan sedikit sendu.
"Nah, tu tau, ya udah simpen baik-baik. Papa pergi ya," ucap Pak Leon dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman pun memandang kartu ATM yang ada di hadapannya itu.
Sebuah kartu berwarna hitam yang hanya bisa dimiliki oleh beberapa nasabah platinum.
Arman pun memandang kartu itu dengan perasaan yang sedikit tak menentu. Hingga akhirnya ....
"Woy!"
"Astagfirullah,'