Menerima Apa Adanya

1254 Words
Kezia pun nampak menggeleng pelan dan membuat Arman sedikit tidak percaya. "Aku gak peduli kalau soal itu, Bang," ucap Kezia lembut. "Yakin?" tanya Arman kembali memastikan dan mendapat anggukan dari Kezia. "Setelah ketiga kalinya aku gagal nikah, aku gak berharap apa-apa lagi. Aku cuma berharap kamu segera dateng ke kehidupan aku lagi. Aku gak peduli nantinya kamu mau masih dekil atau kumel kek dulu, atau cuma serius maen game. Aku gak peduli," ucap Kezia menjeda ucapannya. Arman pun lalu menggendong tubuh ramping sang istri dan mendaratkannya di atas tempat tidurnya, lalu ia pun ikut merebahkan dirinya di sana. Posisi keduanya kini saling berhadapan satu sama lain dan masih saling merangkul. Kezia terus membelai wajah lelaki itu yang memang sedikit lebih tampan jika rambutnya dirapihikan sedikit. "Kalau urusan kumel sama dekil, aku yakin dengan perlahan juga nanti bisa berubah jadi lebih bersih. Kalau soal urusan maen game. Entah lah aku sendiri belum yakin, cuma Adnan pernah bilang jangan remehin gamer, siapa tau dia punya gaji yang lebih tinggi daripada kita yang kerja kantoran, terus dia ngasih unjuk beberapa utuber game yang emang sedikit sukses juga," ucap Kezia kemudian. Arman pun mengangguk pelan lalu memeluk tubuh sang istri dan mendaratkan kecupan hangat di pucuk kepalanya. "Ci, percaya sama aku ya, aku gak akan pernah bikin kamu kelaparan nantinya. Percaya sama aku, aku pasti bakal bisa bahagiain kamu meskipun aku cuma seorang gamer. Tolong percaya ya," ucap Arman lembut sambil menatap wajah sang istri. Kezia pun melihat wajah Arman yang begitu serius dan mengangguk penuh kemantapan. "Buktiin sama aku, Bang, kalau Abang gak seperti yang orangtua aku pikirkan. Buktiin sama aku, kalau Abang bisa bahagiain aku hanya dengan bermain game," ucap Kezia sedikit penuh ancaman namun hanya dibalas anggukan oleh Arman. Tak lama, Arman pun kembali menguap karena biasanya ia jam segini masih tidur. "Abang masih ngantuk?" tanya Kezia saat melihat sang suami tengah menguap sambil mengucek matanya itu. "Iya, Ci, ngantuk banget, Abang tidur lagi ya. Nanti tolong bangunin abis dzuhur jam 1an lah ya," ucap Arman dan Kezia pun nampak mengernyitkan dahinya tanda tak paham. "Mau ngapain emang?" tanya Kezia penuh selidik. "Aku mau ketemu temen, sekalian ke kostan dan ambil baju dan komputer. Tadi kamu gak denger Papa minta kamu tetep tinggal disini?" tanya Arman balik dan mendapat anggukan dari Kezia. Kezia tampak memikirkan sesuatu, dan tak lama lamunannya pun buyar karena suara dengkuran halus yang Arman ciptakan "Beneran ngantuk banget romannya dia," ucap Kezia sambil terkekeh. Kezia pun membiarkan Arman untuk tidur saja sementara dia merapikan barang-barangnya. Namun, ini hanya rencana awalnya saja, karena pada akhirnya Kezia pun memilih untuk membuka toko orensnya dan menonton drakor hingga tak lama ia pun ikut terlelap menyusul Arman yang tertidur. Kezia terbangun lebih dahulu karena bunyi getaran di hp Arman yang sedikit mengganggu tidurnya itu. Ia pun mengucek matanya dan melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah pukul 11.30 WIB. Kezia pun melihat hp Arman yang lagi-lagi bergetar namun tak lama ia pun mati. Sekilas, Kezia dapat melihat ada sekitar 5 panggilan tak terjawab dengan nama kontak 'Mahendra' di hp sang suami. Karena merasa itu sesuatu yang penting, Kezia pun segera membangunkan sang suami saat itu. "Abang, bangun, ada telpon dari Mahendra," ucap Kezia sambil mengguncangkan tubuh sang suami. Mendengar nama Mahendra disebut, Arman pun segera bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing. "Duh," keluh Arman kemudian. "Lagi ngapain sih? Hayo siapa Mahendra?" tanya Kezia kembali dan mendapat gelengan dari Arman. Kezia pun menyerahkan hpnya kepada Arman dan langsung mengangkat telponnya. "Sibuk, Bos? Udah semua nih," ucap lelaki di sebrang telpon sana "Udah?" "Ho'oh, udah beres, tinggal kasih laporan sama lu aja nih," ucap lelaki itu kembali. "Oke, ketemu di taman biasa ya. Jam 1an aja." Setelah itu Arman pun menutup telponnya. "Siapa, Bang?" tanya Kezia penuh selidik. "Temenku, Dek. Aku mandi dulu ya," ucap Arman sambil mengecup kepala Kezia. Arman pun segera berlalu menuju kamar mandi, sedangkan Kezia ingin sekali melihat ponsel milik Arman namun berhasil diurungkannya. Tak sampai 15 menit kemudian, Arman pun sudah keluar dari kamar mandi, dan kali ini sudah memakai baju lengkap. "Dek, aku pinjem motormu boleh?" tanya Arman kepada sang istri. "Mau pake motor apa mobil, Bang?" tanya Kezia memberi pilihan kepada sang suami. "Emang kamu punya mobil, Dek?" tanya Arman kembali dan mendapat anggukan dari Kezia. "Ada, tapi kalau mau pake mobil bensinnya abis, tinggal satu strip doang, kalau motor masih full soalnya baru ku isi," ucap Kezia. Arman pun nampak memikirkan sebentar dan tak lama ia pun membuat keputusan. "Pake mobil aja, Dek. Aku sekalian ambil komputer kalau gitu," ucap Arman. "Komputer? Berarti ada mejanya juga dong, Bang?" tanya Kezia dan mendapat gelengan dari Arman. "Belom ada mejanya mah. Kemaren mau beli, eh duitnya ke pake buat berobat Papa," jawab Arman dengan sedikit sendu. "Berobat Papa?" tanya Kezia tak paham. Arman pun mengangguk lalu menceritakan awal mula ia bertemu dengan Pak Joey. Saat itu, ia baru pulang dari rumah temannya di daerah Karawang dan tak sengaja bertemu dengan Pak Joey yang tengah di kepung oleh sekelompok begal. Arman pun mencoba untuk membantunya, namun tetap saja tak bisa membantu banyak. Saat itu juga, Pak Joey sempat tak sadarkan diri karena ada banyak luka di tubuhnya, begitupun dengan Arman, namun beruntung luka Arman tak terlalu parah. Arman pun memilih pergi, meninggalkan mobil dan juga motornya dan segera pergi menuju rumah sakit terdekat. Selama lima hari disana, ia pun telah mengeluarkan uang setidaknya hampir sepuluh jutaan untuk biaya rumah sakit dirinya dan juga Pak Joey. "Ya Allah, Bang, banyak juga. Maafin Papa ya, aku janji nanti aku akan ganti dikit-dikit uang Abang yang kemaren di pake buat berobat ya," ucap Kezia merasa bersalah namun mendapat gelengan dari Arman. "Gak usah, Ci. Bagi aku, nikah sama kamu tuh udah ngeganti semuanya. Awalnya, aku ragu buat nerima tawaran Papa waktu itu, karena aku juga lagi berjuang buat nemuin kamu lagi. Aku ngerasa bersalah sama sumpah aku dulu, makanya aku nyari kamu. Dan ternyata, mungkin ini cara aku ketemu bidadari aku lagi haha," ucap Arman sambil mencubit pipi Kezia. "Dih apaan sih, gombal aja," ucap Kezia sedikit merona malu. Arman pun terkekeh karenanya dan segera mengambil tas selempangnya dan juga kedua hpnya yang berada diatas nakas. "Abang masih punya pegangan buat beli bensin gak?" tanya Kezia dan mendapat anggukan dari Arman. "Kalau untuk bensin sama makanku masih aman, tinggal buat jajan kamu aja yang belum. Nanti malem, aku mulai ngegame lagi, kasian nyonya nanti kalau gak jajan," ucap Arman lembut. Kezia pun lantas memberikan kunci mobilnya dan menemani sang suami ke garasi rumahnya. "Mobil kamu yang mana, Ci?" tanya Arman kemudian, karena disana ada 2 mobil lain yang terparkir sempurna. "Yang brio putih, Bang," ucap Kezia sambil menunjuk mobilnya. Arman pun segera masuk ke dalam mobil itu dan men starternya. "Kamu beneran gak ikut, Ci?" tanya Arman kembali dan mendapat gelengan dari Kezia. Tak lama, mobil Arman pun keluar dari garasi dan perlahan menghilang dari jalanan rumah itu. Saat Cia hendak menutup pintu rumahnya, datanglah Bu Ayes yang entah habis darimana. "Kakak tunggu," panggil Bu Ayes saat hendak memarkirkan motornya. Kezia pun menunggu sang Mama di depan pintu rumahnya lalu keduanya pun masuk ke dalam rumah itu bersamaan. "Ada apa, Mah?" tanya Kezia sedikit penasaran. "Si Arman kemana?" tanya Bu Ayes mengalihkan pembicaraan dengan Kezia. "Abang mau ke kostan dulu ambil baju sama komputernya, kenapa Mah?" tanya Kezia balik. Bu Ayes pun mengeluarkan sebuah obat dari dalam tas selempangnya dan memberikan itu pada Kezia. "Minum ini tiap hari ya," titah Bu Ayes dan mendapat gelengan dari Kezia. "I -- ini, kan ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD