"Adnan!" seru Pak Joey kesal karena kelakuan anak lelakinya itu.
Adnan melempar hpnya ke atas meja makannya dan langsung menyendok nasi goreng yang ada didepannya.
Kezia pun menyuruh Arman untuk segera duduk di kursi sebelahnya. Kebetulan, meja makan itu berbentuk persegi dengan enam buah kursi yang mengitarinya.
"Abang mau sarapan apa?" tanya Kezia lembut kepadanya.
Arman pun nampak memindai makanan yang ada didepannya itu, namun ia sendiri bingung, karena ia jarang sarapan pagi.
Seakan mengerti kebingungan sang suami, Kezia pun mengambil empat lembar roti tawar dan mulai menatanya menjadi sebuah sandwich.
"Maaf, Pah. Habis Adnan kesel kalah mulu.Entah kenapa dari kemarin dapet team yang gak ngenakin," gerutu Adnan merasa bersalah.
"Bisa gak sih kamu tuh gak main game aja kerjaannya. Heran Papa, urusin dulu kuliah mu yang bentar lagi wisuda itu. Jangan main game mulu!" seru Pak Joey kembali dan Adnan pun nampak makin menunduk.
"Kamu bukannya kemaren mau joki? Gak jadi, Nan?" tanya Kezia menengahi perdebatan antara Papa dan Adiknya.
Adnan pun menggeleng lemah dan berkata, "Mauren Shop tutup 3 hari, Kak, katanya lagi ada acara."
"Mauren Shop?" tanya Arman mengulang ucapan Adnan dan mendapat anggukan darinya.
"Oh, iya itu, Mauren lagi tutup sementara soalnya ownernya abis nikahan. Mungkin lusa baru buka," ucap Arman enteng.
"Abang tau Mauren Shop? Kenal sama dia gak? Atau mungkin punya rekomen joki lain selain dia?" tanya Adnan bertubi-tubi.
Arman pun nampak diam sebentar dan seperti berpikir. Kezia pun menyerahkan sebuah salad roti kepadanya saat itu dan juga segelas s**u putih untuknya.
"Joki apa emang? Rank atau gendong? Kalau gendong mungkin bisa aku kerjain nanti malem," ucap Arman yang membuat Adnan seketika tersedak karenanya.
"Ma -- maksud, Abang? Kerjain? Kerjain apa?" tanya Adnan sedikit bingung.
"Bukannya kamu bilang mau joki di Mauren? Mauren kan punyaku," ucap Arman sambil menyuapkan rotinya ke dalam mulutnya.
"A -- Abang gamer?" tanya Adnan kembali dengan tak percaya dan lagi - lagi hanya mendapat anggukan dari Arman.
"Hu'um. Gak ngegame gak makan aku. Apalagi sekarang udah punya dua perut yang perlu dikasih makan. Eh, malah nanti mungkin langsung tiga," ucap Arman sedikit tersenyum.
Kezia pun nampak mengernyitkan dahinya dan menatap sekilas wajah lelaki yang berstatus menjadi suaminya itu, dan setelah itu kembali menikmati sarapannya.
"Tiga? Satu lagi siapa?" tanya Kezia sambil memakan rotinya.
"Anak kita, Yang," ucap Arman dengan entengnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Mendengar ucapan Arman membuat Kezia nampak terbatuk sebentar dan tak lama wajahnya pun nampak sedikit merona.
Untuk sepersekian detik Adnan masih nampak mencerna ucapan dari Arman sampai akhirnya ia tertawa terbahak-bahak dan tak sengaja memuncratkan nasi goreng yang ada di mulutnya.
"Haha, mampus! Kena karmanya lagi lu sekarang, Kak! Dapet suami gamer yang katanya gak bisa bahagiain lu haha," ucap Adnan menambahkan.
"Adnan!" sentak Pak Joey dengan intonasi yang tinggi.
Mendengar sentakan Pak Joey seketika membuat Adnan tertunduk dalam dan langsung diam.
"Maaf, Pah," ucap Adnan sedikit menyesal.
Kezia hanya menghembuskan napasnya kasar, ia bingung harus senang atau sedih karenanya. Sedangkan raut wajah Pak Joey nampak berubah sedikit kecewa.
Tak hanya Pak Joey, namun Bu Ayes pun menampakkan raut wajah yang sedikit tak enak dilihat.
"Ah iya, Ci, untuk sementara kamu tinggal disini aja dulu ya. Gak usah ngontrak atau pindah rumah dulu," ucap Pak Joey dan mendapat anggukan dari Kezia.
"Cia usahain, Pah. Harus diskusikan dulu sama Abang juga, karena kan sekarang Cia udah nikah. Kalau misal Abang gak nyaman disini mau gak mau ya aku juga harus pindah," ucap Kezia.
Tak lama, Pak Joey pun menghentikan sarapannya dan segera beranjak dari sana. Tak hanya Pak Joey, namun juga Bu Ayes yang ikut beranjak sesaat suaminya pergi. Padahal, sarapan mereka berdua pun belum habis sama sekali.
Kezia seakan tak peduli dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya dan tetap asik menikmati sarapannya. Sedangkan Arman, sedikit merasa sangsi saat melihat respon yang di perlihatkan oleh keluarga barunya itu.
"Papa sama Mama kenapa ya?" tanya Adnan yang mencoba memahami kondisi itu.
Kezia pun nampak menggelengkan kepalanya lemah tanda tak tau.
"Sarapan aja udah. Hari ini kuliah apa gimana?" tanya Kezia kepada sang adik.
"Libur, Kak. Besok baru masuk pagi," ucap Adnan dan mendapat anggukan dari Kezia.
Tak lama,. Kezia pun menyelesaikan sarapannya begitupun dengan Arman dan juga Adnan.
Adnan pun segera berlalu menuju kamarnya begitupun dengan Kezia.
Arman tak langsung naik ke atas, melainkan membersihkan dahulu sisa-sisa sarapan yang ada disana.
"Biarin Den Arman, biar saya aja yang beresin," ucap Mbok Puji saat Arman membantunya.
"Gak papa, Mbok, gak enak kalau cuma numpang makan doang," ucap Arman merasa sedikit sesak.
"Pasti kaget ya liat respon Tuan dan Nyonya tadi?" tanya Mbok Puji dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman merasa bahwa kedua mertuanya itu tak akan menyukainya lagi, karena pekerjaan yang dimilikinya saat ini.
Setelah membantu membersihkan bekas sarapan, barulah Arman naik ke lantai atas menuju kamar Kezia.
Saat tiba disana, nampak Kezia tengah memindahkan beberapa barangnya ke atas meja riasnya. Arman pun segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Abang ih," gerutu Kezia sedikit kaget dengan apa yang dilakukan oleh Arman.
Arman pun terkekeh geli karenanya namun tak ada niat untuk melepaskan tubuh wanita itu. Arman pun membenamkan wajahnya di leher putih milik Kezia dan membuat sebuah tanda merah disana.
Tak hanya tanda merah, namun tangan Arman pun iseng meraih sebuah gundukan yang berada tepat di d**a Kezia. Arman pun meremas pelan gundukan itu sehingga membuat sang empunya nampak mendesah pelan.
"Abang aku lagi haid," ucap Kezia pelan sambil sedikit mendesah di ujung kalimatnya.
Arman pun melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Kezia untuk menghadapnya, lalu ia pun mendudukkan Kezia dia atas meja rias itu.
Kezia pun tak tinggal dia, ia pun membelai wajah sang suami lalu mengalungkan tangannya ke leher Arman.
"Lagi apa, Sayang?" tanya Arman lembut sambil memegang pinggang Kezia yang ramping itu.
"Lagi rapihin barang ku yang ada disini. Rencananya, untuk sementara mau ku taruh baju-bajumu disini dulu, sambil nunggu beli lemari," jawab Kezia kemudian dan mendapat anggukan dari Arman.
Arman pun lalu mendaratkan bibirnya di bibir indah Kezia dan mulai melumatnya secara perlahan.
Keduanya pun kembali melakukan kissing hingga beberapa saat.
"Abang, Cia mau minta sesuatu boleh?" tanya Kezia sedikit ragu kepada Arman.
"Apa, Ci? Selama Abang mampu pasti akan Abang kasih buat kamu," jawab Arman kemudian.
"Abang cari kerjaan lain yah. Maksud aku, biar Abang gak diem dirumah gitu," ucap Kezia sedikit khawatir menyinggung sang suami.
"Kenapa emang, Ci?" tanya Arman pura-pura tak paham.
"Papa sama Mamah keknya kecewa dah waktu tau kamu itu gamer. Pasti pikirannya langsung negatif deh. Yang kamu gak kerja lah, yang kamu gak punya uang lah, yang bakal jadi beban. Pusing aku nanti dengernya," ucap Kezia sedikit menggerutu.
"Kamu sendiri apa gak punya pikiran negatif tentang aku?" tanya Arman sedikit penasaran.
"Em, soal i ... tu ...."