Part 2

681 Words
Aku bangun dan duduk di birai kasurku sambil memegang kepalaku yang terasa berdenyut-denyut. Aku bangun dan duduk di birai kasurku sambil memegang kepalaku yang berdenyut. "Aduh.. Kepalaku koq rasanya berat banget ya! " Aku coba mengingat ngingat apa yang terjadi sebelum aku tertidur tadi. Seketika air mataku jatuh lagi saat mengingat kembali semuanya. Aku hanyut dalam kesedihan yang aku rasakan. Tok.. Tok.. Tok.. "Ella! Kamu koq belum turun sayang? Mamah sama papah udah nunggu kamu di bawah dari tadi loh. " Ketukan pintu dan panggilan dari mamah kembali mengejutkanku. Aku menghapus air mata yang mengalir dipipiku dan coba menetralkan suaraku agar tidak ketahuan oleh mamah kalau baru saja menangis. "Sebentar mah. Aku baru selesai telfonan. Ini baru mau mandi. " aku berbohong pada mamah. "Ya udah. Selesai mandi langsung turun ya. Kita makan malam sama-sama. Mamah ke bawah duluan. " kata mamah. "Iya mah." sahutku lagi. Lantas aku mengambil handuk dan melangkah dengan malas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah mandi dan berpakaian, aku melihat ke kaca yang ada di meja riasku. Alangkah kagetnya aku melihat mataku yang bengkak. Aku mencoba mencari cara untuk menyembunyikannya dari mamah dan papah. Akhirnya aku hanya bisa memakai bedak dan celak untuk membuat mataku yang bengkat tidak terlalu ketara. Mau pakai yang lainnya, tapi tidak ada, karna memang aku tidak punya peralatan make up. Aku bukanlah seorang yang suka berdandan. Biasanya aku hanya akan memakai bedak dan lipstick. Itupun kalau ada acara penting. Aku melangkah keluar dari dalam kamar. Tidak lupa aku memakai kaca mata yang selalu aku gunakan setiap kemana-mana. Aku menggunakan kaca mata bukan untuk bergaya. Tapi memang mataku minus. Mungkin karna dari kecil, aku seorang yang hobi membaca. Karna itu tak jarang aku mendengar orang-orang menjulukiku sebagai kutu buku. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku tidak merasa merugikan mereka. Biarlah orang berkata apa, aku sama sekali tidak peduli. Asal jangan sampai main fisik. Karna aku tidak akan tinggal diam. Sesampainya di dapur, aku melihat mamah dan papah yang sedang duduk di meja makan menungguku sambil bercanda. Aku menghampiri mereka dan duduk di bangku depan mamah sambil tertunduk. Aku bisa merasakan mamah dan papah memperhatikanku dengan pandangan yang aneh. Tapi aku berusaha untuk cuek dan kami meneruskan makan malam dalam diam. Setelah selesai dengan makan malam, aku berencana untuk langsung masuk ke kamar. Tapi,sebelum aku selesai makan dan pamit pada mamah dan papah, papah terlebih dulu mengajak untuk berkumpul di ruang keluarga. "Ella, setelah ini kita ke ruang keluarga ya. Ada yang mau papah sama mamah bicarakan!" kata papah dengan wajah serius sambil meninggalkan ruang makan dan langsung menuju ke ruang keluarga diikuti oleh mamah. "Huff.. " aku menghembuskan nafasa kasar. Segera aku menyelesaikan makan malamku. Setelah selesai, aku membersihkan meja dan mula mencuci piring. 'Apa yang akan mamah sama papah bicarakan? Apa mereka mau membahas tentang Mas Arya? Atau mungkin mereka mau nanya soal mataku yang bengkak? ' Berbagai pertanyaan bermain dalam fikiranku. 'Arh.. Daripada aku pusing sendiri, lebih baik aku cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan menyusul mereka di ruang keluarga. Kan lebih jelas! ' aku bergumam pelan sambil mempercepatkan gerak tanganku. * * * * * * Ruang Keluarga "Ada apa pah? " tanyaku saat tiba di ruang keluarga. "Duduk dulu El.. Papah mau ngomong serius!" kata papah. Aku langsung duduk di sofa yang berada tepat didepan mamah dan papah. "Kamu koq kayanya buru-buru banget El? Emang mau kemana? " tanya mamah. "Ngak kemana-mana mah. Cuma mau istirahat aja dikamar. Aku kayanya lagi ngak enak badan mah." jawabku berbohong. 'Ya Tuhan, udah dua kali aku berbohong sama mamah hari ini. Maafkan aku mah, pah. Aku belum siap buat cerita semuanya sama kalian. ' bisik hatiku. "El, kamu baik-baik aja kan? Koq mamah liat mata kamu kayanya bengkak? " tanya mamah. "Oh ini, tadi aku baca novel. Karna ceritanya sedih banget, aku jadi baper. Jadi nangis deh sampai ketiduran lagi. Hehe" Aku terpaksa berbohong lagi sama mamah. "Kamu yakin? Nangis gara-gara baca novel? Bukan karna yang lain? " kata papah yang membuatku langsung melihat mamah dan papah bergantian. Aku yakin, mereka pasti sudah tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD