Part 3

631 Words
"El, kamu baik-baik aja kan? Koq mamah liat mata kamu kayanya bengkak? " tanya mamah. "Oh ini, tadi aku baca novel. Karna ceritanya sedih banget, aku jadi baper. Jadi nangis deh sampai ketiduran lagi. Hehe" Aku terpaksa berbohong lagi sama mamah. "Kamu yakin? Nangis gara-gara baca novel? Bukan karna yang lain? " kata papah yang membuatku langsung melihat mamah dan papah bergantian. Aku yakin, mereka pasti sudah tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Aku menundukkan kepalaku. Air mata yang tadinya sudah kering, kini keluar lagi. Mamah berjalan menghampiriku dan mengusap pelan pundakku. "Menangislah, El! Setelah itu ceritakan semuanya pada kami! " kata mamah pelan. Aku bisa merasakan bahwa mamah juga ikut sedih denganku. 'Kalau mereka sudah tau, kenapa mereka sama sekali tidak mengatakan apapun kemaren saat aku tiba disini? Kenapa mamah dan papah tidak memberitahuku dari kemaren. Kenapa mereka terlihat sangat santai?' Ketika aku sudah mulai tenang, aku menceritakan semua yang terjadi pagi tadi. Mamah dan papah saling berpandangan. Lama kami terdiam, hanyut dalam fikiran masing-masing. "El, sebenarnya bagaimana dengan hubungan kalian? Untuk apa kamu memberikan kejutan buat Arya? Bukankan kamu dan Arya sudah memutuskan pertunangan kalian 2 bulan yang lalu? Lalu kenapa kamu sangat sedih saat mengetahui tentang pernikahannya? " Perkataan papah barusan benar-benar membuatku kaget. "Maksud papah apa? Kapan kami memutuskan pertunangan? Aku bahkan sama sekali tidak pernah berfikir kesitu. Bahkan kemaren sebelum aku berangkat, kami sempat telfonan. Hanya saja aku tidak mengatakan pada Mas Arya bahwa aku akan pulang. Karna aku ingin memberikan kejutan ulang tahunnya hari ini!" Jelasku panjang lebar. Keterkejutan jelas terpancar diwajah mamah juga papah. Papah akhirnya menceritakan kejadian 2 bulan yang lalu. FLASHBACK 2 BULAN YANG LALU Arya dan kedua orang tuanya, Tuan Bagas dan Nyonya Natalia, sedang duduk di sofa ruang keluarga, dikediaman keluarga Hermawan. Mereka duduk sambil menunggu Mbok Siti yang sedang memanggil Tuan Hermawan dan juga Nyonya Fatmawati yang sedang ada di ruang kerja. Saat tiba di ruang keluarga, Tuan Hermawan dan Nyonya Fatmawati segera menyapa dan bersalaman dengan kedua calon besan dan juga calon menantu mereka itu. Hermawan dan Fatmawati duduk di sofa yang berhadapan dengan keluarga Arya. Setelah basa basi sebentar, Hermawan menanyakan tujukan kedatangan kedua calon besan dan juga calon menantunya itu. "Ada apa Pak,Bu,Arya? Koq tumben, datang ngak bilang-bilang? " Tanya Hermawan. "Begini Om.. Maksud kedatangan kami kesini itu untuk mengatakan, bahwa kemaren, Arya dan Keyla udah sepakat untuk memutuskan tunangan kami, " kata Arya dengan menundukkan kepalanya. Terlihat guratan kesedihan di wajahnya. "Apa? " Serentak suara Hermawan dan Fatmawati. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian memutuskan pertunangan kalian? Apa ada msasalah?" tanya Fatmawati bertubi-tubi. "Mah, tenang dulu." Hermawan coba menenangkan Fatmawati sambil memegang tangan istrinya itu. "Ada apa Arya? Coba dijelaskan." Kata Hermawan dengan wajah serius. Arya menjelaskan alasan mereka memutuskan pertunangan mereka pada Hermawan dan Fatmawati. Setelah itu, mereka sekeluarga pamit pulang. FLASHBACK OFF "Jadi, Mas Arya bilang kalau kami sudah sepakat untuk memutuskan pertunangan kami? Dan dia juga bilang, alasan kami putus karna aku yang lebih memilih untuk sukses dulu sebelum nikah?" tanyaku panjang lebar. Mamah dan papah mengangguk. Aku jadi bingung. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Mas Arya mengatakan hal tersebut pada mereka? Bukankah hubungan kami masih baik-baik saja? Bahkan kemaren saja dia sempat menelefonku. "Trus kenapa mamah sama papah ngak telfon aku? Kenapa ngak pernah nanya ke aku? " tanyaku lagi. "Karna kami menunggu kamu yang menceritakannya pada kami. Arya juga sebelum pulang sempat berpesan agar tidak memaksamu untuk menceritakannya. Dia tidak ingin fokusmu terganggu, nak. " ucap mamah pelan. "Hebat ya Mas Arya! Bahkan kemaren pagi saja dia masih menghubungiku." gumamku pelan. "Ya sudah, aku mau istirahat aja mah, pah. Aku pusing. " kataku sambil berdiri. "Iya sayang. Kamu istirahat ya. Anggap saja ini cobaan. Nggak usah mikirin dia lagi. Masih banyak cowok yang baik diluar sana." kata mamah sambil memelukku. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD