Part 4

624 Words
"Ya sudah, aku mau istirahat aja mah, pah. Aku pusing. " kataku sambil berdiri. "Iya sayang. Kamu istirahat ya. Anggap saja ini cobaan. Nggak usah mikirin dia lagi. Masih banyak cowok yang baik diluar sana." kata mamah sambil memelukku. "Iya mah. Aku ke kamar dulu ya mah,pah. Good night. " aku memeluk mamah dan papah bergantian. Setelah itu aku berjalan dengan langkah gontai menuju ke kamar. Di Kamar Aku berbaring sambil memikirkan perkataan papah tadi. 'Koq Mas Arya tega sih bilang gitu sama mamah sama papah? Maksudnya apa coba? Mas Arya bilang kami udah putus, tapi sebenarnya kami masih tetap berhubungan terus tiap hari. Berarti dia itu udah bohongin aku, mamah sama papah itu udah dua bulan. Arghh...' Aku mencoba memejamkan mata berharap bisa tidur. Tapi bayang-bayang Mas Arya dan wanita tadi terus menghantuiku. 'Koq kayanya aku ngak asing ya sama pengantin wanita tadi. ' Aku coba mengingat-ingat wajah pengantin wanita tadi. Tadi aku terlalu syok, sampai-sampai tidak bisa melihat pengantin wanitanya dengan jelas. Tapi sepertinya aku kenal sama wanita itu. Aku meraih hp ku yang kumatikan sejak kemaren. Aku menimbang nimbang, apakah aku harus menyalakan hp ku atau tidak. "Apa Mas Arya ada menghubungiku tadi ya? Siapa tau dia mau menjelaskannya." gumamku pelan. 'Ya udah! Aku coba nyalakan aja. Siapa tau Mas Arya tadi telfon. Atau paling ngak dia pasti chat aku. ' Dengan hati yang berdebar debar aku menyalakan hp ku. Setelah itu, aku membuka aplikasi yang berwarna hijau, yang selalu kami pakai untuk sekedar bertanya kabar. Ada banyak pesan yang masuk. Dari sekian banyak pesan yang masuk, ada 1 pesan dari Mas Arya. Dengan tangan bergetar aku menguatkan hatiku untuk membuka pesan tersebut. Saat jariku baru saja ingin menyentuh pesan tersebut, tiba-tiba ada panggilan video dari Karin, sahabatku. Dengan cepat aku menjawab panggilan itu. "Key... Kamu ke mana aja sih? Dari kemaren dihubungi koq ngak aktif? Eh... Wait.. Wait.. Kamu di mana? Koq kayanya dikamar dirumahmu sini? Kamu udah pulang? Kapan pulang? Koq ngak ngabarin? " tanya Karin bertubi-tubi sambil celingak celinguk. Memperhatikan keadaan dikamarku lewat video call. "Aduh, Karin... Nanyanya satu-satu boleh ngak? Aku pusing jawabnya yang mana dulu, " "Iya, iya.. Habisnya kamu sih, nomornya pakai ngak aktif segala.. Kamu dimana? " tanyanya lagi. "Aku dirumah." jawabku singkat. "Ya di rumah mana Keyyyy??" tanyanya kesal. "Di rumah papah lah. Kan tadi kamu udah tau tadi. " "Kapan pulangnya? Koq ngak ngabarin? " tanyanya lagi sambil memonyongkan bibirnya. "Semalam. Sampai disini udah malam. Jadi ngak sempat ngabarin. " jawabku lagi. " Terus kenapa ngak ngabarin tadi siang? Aku kuatir tau. Dari kemaren ngak bisa hubungi kamu. Untung aja tadi aku buka WA. Trus liat kamunya lagi aktif, " "Ini baru hpnya aku nyalain. Baru mau chat kamu juga sih. Tapi udh keduluan kamu yang VC. " jawabku lagi. "Ouh.. Ya udah.. Kamu koq kayanya ngak semangat gitu? Ngak kaya biasanya deh." katanya dengan pandangan menyelidik. Tiba-tiba mataku terasa panas. Dengan sekuat hati aku menahan air mataku untuk keluar. "Key, kamu kenapa? " tanya Karin lagi. Tapi suaranya sudah tidak sekeras tadi. "Mas Arya, Rin" jawabku dengan sesegukan. Air mata yang sudah kutahan dari tadi tidak bisa lagi tertahankan. "Kenapa sama Arya?" tanyanya lagi. "Kamu ke sini aja besok. Besok aku ceritain. Sekarang aku mau istirahat dulu. " "Ya udah. Kamu istirahat aja. Besok aku sama Erick ke sana." katanya. "Iya. Aku tunggu ya." kataku tersenyum sambil menghapus air mataku. Setelah panggilan Video dimatikan, aku kembali ingin membuka pesan tadi. Sambil menghapus sisah air mataku tadi, aku menekan nama Mas Arya untuk membuka pesannya. Saat pesan Mas Arya terbuka, sontak aku membulatkan mataku setelah membaca pesan darinya. Kembali aku membaca ulang lagi pesan tersebut. Aku benar-benar tidak menyangka Mas Arya bisa setega ini sama aku. Air mataku kembali mengalir lagi. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD