SADDAM

2008 Words
Olivia menatap keluar pintu jendela, menatap semua yang terlihat dimatanya, terpancar senyum manis yang terlihat samar – samar di wajahnya seakan sedikit ia tahan. Hari – hari kelam yang ia lewati seakan berganti dengan hari – hari bahagia. Ia ingat saat pertama kali ia menginjakkan kaki di negara ini, saat dirinya pertama kali masuk ke sekolah baru dimana rasa trauma akibat kejahilan teman – teman sebelumnya membuat Via merasa khawatir akan di perlakukan lagi seperti apa yang pernah ia alami, tapi saat ia memasuki kelasnya terlihat sosok remaja yang tersenyum manis padanya, remaja itu yang mengenalkan Via ke teman temannya, membawa Via mengelilingi sekolah barunya, dan terpenting remaja itu meminta Via menjadi sahabatnya. Remaja itu adalah Saddam Alexander remaja blasteran Indonesia – Belanda. Saddam sangat fasih dalam berbahasa Indonesia membuat Via sangat senang berteman dengan Saddam, karena saat itu Via masih sangat buruk dalam berbahasa Belanda. Saddam banyak menghabiskan waktu dengan Via, ia membantu Via dalam berbahasa, membantu Via dalam menghilangkan trauma nya terhadap teman dan tempat baru. Ia juga yang selalu memotivasi Olivia untuk hidup sehat. Saddam sangat menjaga kesehatannya di usianya yang remaja dia sudah memiliki tubuh atletis, dia menyukai olahraga dan hidup sehat. Olivia sangat bersyukur memiliki teman seperti Saddam dari awal hingga saat ini Saddam selalu ada untuk Olivia terkadang setiap orang yang melihat mereka, mereka akan mengira Via dan Saddam seperti kekasih yang sangat sempurna. Olivia sih berharapnya begitu dia mulai jatuh cinta saat duduk di senior high school, tapi Via tak sanggup mengutarakan isi hatinya, bagaimana Via bisa mengutarakan isi hatinya sedangkan Saddam sangat mengenal Via hingga kebobrokan dan saat tubuhnya gemuk dan seperti tidak di urus dan berkat berteman dengan Saddam dia bisa berubah seperti sekarang. Apa mungkin Saddam menyukai nya sebagai laki – laki dan perempuan. Olivia takut jika dia mengutarakan hatinya Saddam akan menjauhinya dan pertemanan mereka pasti tidak akan seperti semula. Olivia tidak akan sanggup jika itu terjadi, ke mana lagi dia akan curhat atau sekedar berolahraga jika Saddam menjauhinya. “Hei melamun saja kamu, hayo kamu pasti berkhayal yang jorok – jorok ya?” Ledek Saddam yang membuat Via tersadar dari lamunannya sedari tadi. “Kamu itu yang suka berpikir hal – hal m***m” “ Ha ha ha mana ada maling ngaku” “Saddam... Emang aku seperti kamu yang m***m, sudah ah kamu berisikkk banget” “Sekarang Via ku sudah tumbuh besar ya, dan itu menggemaskan” Saddam sambil mengusap kepala via dan mengacak rambutnya, membuat Hati Via berdegup kencang dan wajahnya yang memerah menahan hatinya yang seakan akan bergejolak ingin keluar. “Saddam... Kau merusak rambut ku ih... Rusuh deh kamu” Via berusaha menyembunyikan hatinya yang berdegup kencang. Rasanya ingin sekali langsung memeluk orang di depannya ini. Sambil melumat bibirnya, ya ampun Via ciuman pertama saja belum pernah malah ingin melumat bibir Saddam yang merah merona merekah membuat ingin langsung melumatnya. ‘Sadar Via sadarrr’ berbisik di dalam hati berusaha menyadarkan diri yang mulai gila karena Saddam. Bis berhenti di seberang kampus yang terlihat jelas kemegahannya dan bangunan yang sangat mempesona mata Via dan Saddam, menghilangkan sedikit pemikiran liar Via yang sedari tadi menahan diri karena ulah Saddam yang menggodanya. “wow Via lihat disini kita akan dewasa, disini kita akan memulai hidup baru kita dan kita akan menjadi mahasiswa yang liar” Saddam bersemangat sekali membuat Via malu karena di lihat orang – orang di sekelilingnya yang melihat tingkah Saddam yang seperti orang udik tapi tampan. “Saddam jaga tingkah mu, jangan malu – maluin di hari pertama kita disini! Semua orang melihat tingkah konyol mu!!!” Via yang berusaha menyadarkan Saddam yang terlihat sangat konyol karena kesenangannya. Mereka berdua sudah sampai di bagian pendaftaran. Menyelesaikan semua yang harus diserahkan kepada pihak kampus. Mondar mandir menyelesaikan urusan pendaftaran membuat Via dan Saddam sedikit lelah dan senang. Senang karena selesai kewajiban mereka tapi meninggalkan lelah. “Via aku lapar, makan di kafe seberang bis tadi yuk. Aku lihat tempatnya nyaman” “iya aku juga haus dan lelah, ya sudah kita duduk disana saja” Olivia dan Saddam keluar dari bangunan kampus dan berjalan ke seberang jalan menuju kafe yang di tunjuk Saddam. Mereka duduk dan memesan makanan, bercanda gurau sambil menikmati makanan yang sudah ada di depan mata. Sekitar 1 jam bercengkerama di dalam kafe. Mereka memutuskan untuk kembali pulang. Karena membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke daerah mereka, sehingga Tidak mungkin untuk berlama – lama lagi di sana. Kota Amsterdam yang begitu indah, bangunan – bangunan bata merah dan klasik membuat kesan romantis dan hangat. Menyusuri jalan yang di lewati bis tidak terlewat sedikit pun di mata Via yang melihat takjub akan keindahan kota ini. Tiba – tiba bahu Via terasa berat, seperti ada yang tertidur di bahunya. Benar saja kepala Saddam sudah berada di bahu Via. Jantung Via berasa berdegup kencang, tubuhnya seakan akan memanas. Ingin sekali dia membangunkan temannya ini karena membuat dirinya tidak nyaman karena menahan perasaannya, tapi saat melihat wajah Saddam yang tertidur pulas karena kelelahan mengurung niat Via untuk membangunkannya. Sesekali kepala Saddam merosot ke arah d**a Via membuat Via merasa jantungnya seperti akan copot. ‘ bisa mati kena serangan jantung aku di buat Saddam, ya tuhan seandainya saja dia tahu perasaan ku padanya apa dia akan seperti ini terus padaku’ di dalam batin via menanyakan tentang perasaannya terhadap Saddam sambil menahan kepala Saddam agar tidak merosot ke d**a Nya. **** Malam Prom Harini hari yang di nantikan bagi beberapa murid atau bagi semua murid yang ingin memulai mencoba memasuki dunia perkuliahan. Ya malam prom tinggal beberapa jam lagi. Tampak Via yang juga mulai bersiap – siap untuk menyambut pesta terakhir di masa high school. Waktu menunjukkan pukul 6.00 sore Via baru keluar dari kamar mandi berjalan menuju lemari gaunnya. Dipilihnya gaun hitam panjang yang di sebelah sisi pahanya terbuka sehingga melihatkan sebagian sisi kaki jenjang Via yang mulus, dengan tali satu yg tipis membuat bagian leher Via terekspos keindahannya, Via memadukan aksesoris kalung yang simpel bertatahkan swarovski di setiap sisinya, menggunakan anting – anting yang menjuntai senada dengan kalungnya membuat Via terlihat sangat elegan dan seksi, dengan dandanan tipis tapi membuat kesan cantik dan manis di wajahnya. “apalagi ya yang kurang, hmmm seperti nya sudah sempurna” Bicara dengan dirinya sendiri yang timbul di balik kaca lebar di kamarnya sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. “Via... Saddam sudah di depan tuh, cepat turun jangan biarkan dia menunggu mu terlalu lama” teriakan mama sangat jelas di kamar Via. Membuat Via bergegas untuk turun menghampiri mama dan Saddam yang sudah menunggu dirinya di bawah. Via berjalan menyusuri anak tangga, turun dengan perlahan karena terhalang gaun panjangnya yang membuat sedikit ruang gerak. Di bawah Saddam melirik ke arah anak tangga, di lihatnya Via yang perlahan menuruni anak tangga. Sadam takjub untuk pertama kali , Saddam melihat Via berdandan dan menggunakan gaun formal dan itu membuat Olivia terlihat sangat anggun dan cantik. “Kau sangat cantik Via, Malam ini semua mata akan tertuju hanya padamu” ucap takjub Saddam ke arah via sambil menyodorkan tangannya sebagai tumpuan Via menuruni anak tangga. “Kau juga sangat tampan menggunakan jas hitam itu Sadd” Via pun takjub melihat Saddam yang sangat cocok menggunakan jas hitam di padukan sepatu kulit klasik yang digunakan Saddam. “Mama foto kalian dulu ya, ayo merapat sedikit, ini akan jadi momen terindah dalam hidup kalian” ucap mama yang sedari tadi takjub dengan mereka berdua. Sebenar nya mama senang dengan Saddam. Karena selama berteman dengan Saddam Via jadi bersemangat, jadi lebih cantik dan yang pasti bagi mama adalah Via bahagia. Tapi karena mama tidak mau mencampuri kehidupan pribadi anaknya. Mama tidak pernah membicarakan mengenai Saddam. Setelah beberapa kali berfoto akhirnya Via dan Saddam pergi menuju aula. Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Murid – murid pun sudah banyak memasuki gedung aula yang sudah di sulap seperti club yang mewah. Banyak pasang mata yang takjub melihat Via dan Saddam. Mereka seperti Putri dan Pangeran. Hanya ada kata sempurna dan serasi. Saddam yang berjalan sambil menggandeng tangan Via terlihat sangat tampan dan berwibawa padahal usianya baru 19 tahun hanya terpaud 1 tahun di atas Via. Tetapi pesonanya sangat memikat lawan jenisnya. Mereka berjalan memasuki aula yang sudah penuh dengan murid. “Mau berdansa dengan ku Via?” ucapan yang tiba – tiba keluar dari mulut Saddam membuat via menahan untuk tidak bersorak kesenangan. “Hmmm... Mau enggak ya?!” pura – pura jual mahal ya via, hadeuuh “harus mau, karena aku sahabat mu” senyum licik yang keluar dari mulut Saddam membuat via merona. Mereka berjalan menuju lantai dansa yang sudah di siapkan panitia acara. Entah mengapa lagu yang tadinya bernada riang menjadi slow dan romantis, seakan-akan musik ini tau isi hati Via. Mereka berdansa mengikuti alunan musik menari bak sepasang pangeran dan putri, semua murid yang tadinya menari bersama tiba – tiba terdiam dan semua fokus melihat Via dan Saddam sambil berbisik – bisik mengisyaratkan mengagumi mereka berdua yang sedang asyik berdansa tanpa sadar jika hanya mereka berdua yang berdansa, semua murid hanya fokus melihat mereka. Olivia sangat pandai menari, tarian baginya seperti jiwa yang menyatu, semua jenis tarian ia kuasai, walaupun dia hidup di negara orang, Via tidak lupa dengan budaya nya, tarian daerah pun semua dia pelajari karena kecintaannya pada tari. Via dan Saddam masih terlena dengan alunan musik, mereka menari seperti ada yang merasuki, tarian mereka sangat memukau sensualitas nya pun sangat terpancar sampai akhirnya musik berhenti dan di iringi dengan tepuk tangan dari semua murid. Via yang tersadar sangat malu pipinya merah merona sangat terlihat di mata Saddam. “Kau sangat cantik malam ini Via” “Hah apa?” Via yang tiba - tiba jadi lemot gara -gara pujian dari Saddam. “ha ha ha kau sangat lucu Via” Sadam yang menyadari Via tersipu malu dan membuatnya merasa senang. “Sadam aku haus” mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan topik pembicaraan, Via yang ingin beranjak dari tempatnya menuju ke arah pelayan yang sedang berkeliling menawarkan jus dan air tertahan karena jam tangan Saddam yang tersangkut di bagian gaun Via. “jangan mengalihkan ku, ini yang ter jadikan kau tersangkut di tangan ku” ucap Saddam di telinga Via yang entah mengapa seperti aliran listrik yang tersetrum ke tubuh Via. Via terdiam sejenak sambil menelan salivanya. Entah mengapa perasaannya terhadap lelaki di depan nya ini semakin hari semakin bertambah. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter membuat jantung Via berdegup sangat kencang, Via berusaha menahan jangan sampai Saddam mendengar suara degupan jantungnya. Akhirnya Saddam bisa melepaskan benang yang tersangkut di gaun Via mungkin mereka menari sangat ekspresi sampai – sampai gaun tersangkut pun tak langsung sadar. “Via sudah lepas nieh” “hah oh iya, maaf” ucapan salah tingkah Via membuat Saddam tertawa bahagia. Akhirnya mereka pun menuju prasmanan, untuk makan dan minum. Acara sangat meriah semua berpesta dan menikmati semua bagian acaranya sampai berakhir. Sekarang menunjukkan waktu pukul 10.00 malam. Saddam mengajak Via untuk meninggalkan acara dan pulang, karena sudah berjanji dengan mama Via pulang pukul 10.00 malam. Mereka pun bergegas keluar dari aula dan menuju ke rumah Via. Sekitar 20menit Via sudah sampai dirumah. “Terimakasih ya Sadd, sudah sampai, kamu langsung pulang ya Sadd” “iya, kamu juga langsung istirahat ya, bye” ucap Saddam sambil meninggalkan Via, Via pun beranjak dari saat dia berhenti menuju ke dalam rumahnya. hari yang sanggat penuh kebahagian bagi Via, bibirnya tak henti - hentinya tersenyum membayangkan setiap momen saat bersama Saddam. 'Ku rasa aku sudah gila, aku sudah tergila - gila dengan sahabat ku sendiri, sadar Via sadar' via yang berusaha untuk mengalihkan pikiran nya tentang Saddam dengan berusaha untuk tidur. waktu juga sudah menunjukkan pukul 12 malam jarang Via tidur selarut ini, karena dia sangat menjaga untuk tidur yang cukup agar esok harinya bangun pagi untuk sholat subuh dan di lanjut olahraga, paling di hari libur Via bermalas malasan di kamar. Rasa kantuk pun mulai menyerang dirinya karena lelah seharian bersenang - senang dan juga karena sibuk memikirkan Saddam membuat nya sangat lelah seharian ini dan dengan mudah untuk tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD