Semua Baru Di Mulai

2279 Words
Setelah menunggu beberapa pekan akhirnya hasil pengumuman telah keluar, ya seperti harapan Olivia dan Saddam di terima di kampus impian mereka, lebih tepatnya sih impian Via. Bahagia penuh rasa syukur yang Via rasakan saat ini, perjuangannya untuk masuk terasa tidak sia – sia. Ia bertekad tidak akan menyia – nyiakan kesempatan yang sudah Allah berikan pada nya saat ini. Sujud syukur tak henti – hentinya iya panjatkan. ‘ Semoga ini harapan baru untuk ku, dan dunia baru yang tidak akan aku sia – siakan kesempatan ini. Semoga aku bisa sukses ya Allah’ hatinya sangat bersemangat dunia yang selalu menjadi keinginan nya sebentar lagi di depan mata nya. Tap.. Tap... Tap... Suara langkah yang diiringi ketukkan pintu. Tok.. Tok.. Tok... “Via, mama masuk ya nak?” “masuk ma, enggak Via kunci pintunya” “bagaimana ? Kamu diterima enggak?” tanya mama yang masih belum tau hasil tes dari kampus. “hummm.... Gimana ya ma, menurut mama aku pantas masuk enggak ?” kejahilan Via dimulai untuk menggoda mama yang penasaran dengan hasil tes anaknya. “Yeeehh... Ditanya kok balik nanya, gimana sih kamu, sudah ah jangan jahil sama mama, bagaimana hasilnya nak?” “hasilnya jeng.. Jeng... Jeng...” Via masih menggoda mama nya yang mulai sebel karena anak semata wayangnya. “Via, ihhh kamu nieh ya sudah besar juga, masih saja jahil seperti anak kecil ! Bagaimana hasil nya ? Kamu di terima enggak ?” “Ha.. Ha.. Ha.. Mama nieh yaa sensi saja rileks sedikit kenapa, iya aku lulus donk kan aku anaknya siapa dulu” “Alhamdulillah... Selamat ya sayang mama yang jahilnya enggak ketulungan ini” mama mencium pipi Via dan memeluknya sebagai tanda syukur atas keberhasilan anaknya. Dari luar terdengar suara bel yang berbunyi, mama dan Via langsung menuju ke bawah untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. Yaa siapa lagi sih pasti anak lelaki itu, bagaimana tidak mungkin dia. Via hanya tinggal dengan mama dan tidak ada sanak saudara di sini. “wie is er buiten?*” via bertanya dari dalam rumah, sambil membuka pintu. *siapa di luar. “Ini aku” suara yang sangat familiar di telinga Via, yang tiba – tiba membuat hatinya seperti penuh dengan kupu - kupu beterbangan. “Ada apa Sadd sepagi ini sudah ke rumah ku” “Mau sarapan disini dan bersantai disini” Saddam senyum tipis sambil menghampiri mama Via. “ Tan, Saddam mau sarapan disini kangen masakan tante, boleh ya?” Saddam tersenyum sambil membuat wajah memohon. “Ya ampun kamu ini. Ya boleh lah, tante juga kangen sudah lama kamu tidak makan bareng tante dan Via” “yeaay asyikkk tuhh Via tante mengizinkan ku untuk seharian disini” ledek Saddam menunjukkan kemenangannya. Olivia menutup pintu dan berjalan mendekati mama dan Saddam. “huu dasar cowo gratisan” “yeay biarin tapi kamu suka kan berteman sama si cowo gratisan ini” ‘bukan hanya suka Sadd tapi aku sudah jatuh cinta sama kamu’ dalam hati Via mengutarakan cintanya sambil berusaha tenang di mata Saddam. “Kalian berdua ini ya seperti kucing dan tikus enggak bisa akur tapi saling mencari” ledek mama. “Via ya tan yang suka mencari aku” Saddam meledek Via sambil tersenyum jahil menatap Via. Via berusaha untuk tidak meladeni ucapan Saddam malah membuat hal konyol, otak dan pikirannya yang enggak sinkron, niatnya mau duduk di kursi makan malah belum sempat duduk via malah jatuh dari kursinya yang membuat bokongnya mendarat mencium lantai. Gubraaaakkkkkkkkk “astagaaa Via, kamu kenapa duduk saja sampai jatuh” mama terkaget dengan suara yang dihasilkan dari badan dan kursi yang jatuh terbalik. “Ha... Ha... Kamu itu yaa kalo mau duduk dilihat kursinya, kasihan kan kursinya” sambil mengangkat kursi yang jatuh tergeletak di sebelah Via. “Sadd aku yang jatuh kenapa kursi yang kasihan, nih p****t ku sakit tau!” “Ha.. Ha.. Haa... Kamu jatuh wajah mu lucu enak dilihatnya” “Sadddddd!!!!!!!!” “iyaaaa oliviaa zeinn yang manis tapi bawel tapi gemes tapi aku sekarang lapar dan ga minat untuk memuji nona di depan ku ini” “tan, Saddam laper, tante masak apa harini, harumnya membuat perut Saddam keroncongan nieh” Saddam yang mengalihkan agar suasana berubah, entah mengapa saat meledek Via dengan memuji gadis itu hati Saddam seperti merasa ada yg menggelitik, sebenarnya Saddam ingin mengangkat tubuh Via yang terjatuh dari kursinya tapi entah mengapa Saddam merasa perasaannya berubah saat melihat Via terjatuh seperti ada rasa lain yang selama ini tidak pernah ia rasakan, dan entah mengapa Saddam jadi salah tingkah malah membuat dirinya terlihat konyol dan usil, hanya untuk menutupi perasaan aneh itu. Mama yang menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi nasi goreng udang dengan telur mata sapi di atasnya, jus jeruk dan buah apel yang sudah di potong. “Nah sudah jadi ini ayo kita sarapan, tante enggak tau kalau Saddam mau datang, jadi tante enggak ada masak apa – apa seadanya ya sadd” “ Wahh tan ini saja sepertinya spesial banget, wangi nya saja sudah menggoda untuk langsung aku santap ini tan” puji Saddam. Memang mama Via selalu bisa memasak apa pun itu menjadi makanan yang lezat dan enak. “Tan kok Cuma 2 piring?” “oh ini nasi goreng buat kita saja Sadd, mana mau si Via makan jam segini, tuh lihat dia badannya sudah kayak lidi sekarang” ledek mama sambil menatap anak gadisnya yang sekarang beratnya hanya 48kg enggak boleh lebih, Via akan histeris dan bisa – bisa berpuasa biar berat badannya tetap stabil. “Aku mau hidup sehat enggak kayak dia baru juga jam 8 pagi tapi sudah kelaparan dirumah orang” Lirik sinis Via ke arah Saddam yang membuat Saddam tertawa geli sambil berdiri. “Siapa bilang aku enggak hidup sehat. Lihat nih sixpack ku” sambil membuka sedikit baju ke atas Saddam memamerkan tubuh atletisnya. “ishhh tutup ! Sok bangett sihhh kamu Sadd baru segitu saja paling nanti perut mu bakal buncit, aku sumpahin bakal buncit” histeris Via. Sebenarnya Via menahan pipinya yang sudah memerah melihat bagian tubuh Saddam yang paling di sukai banyak wanita dewasa. Saddam yang balik duduk sambil senyum menyeringai di wajahnya. “Kalian ini ya dari tadi ada saja! Ayo makan sekarang! Via kamu juga jangan Cuma minum jus saja buah nya juga di habiskan!” “iya ma, bawel deh” Mereka menyantap sarapan mereka dengan tertawa dan sedikit kejahilan antara Saddam dan Olivia. Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang, Saddam masih di rumah Via mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga menonton tayangan yang ada di televisi, sedangkan mama baru beranjak ke dapur hendak memasak untuk makan siang. Suasana sempat hening sebentar sebelum Saddam memulai bertanya ke Via. “Vi minggu depan kan kita sudah kuliah, kamu sudah dapat kamar untuk tinggal di student residences ?” “humm.. Sudah aku ambil yang single room unfurnished.” “kenapa yang kosongan?” “aku ingin bikin kamar ku nyaman jadi aku mau mendandani nya sendiri, kamu sendiri bagaimana?” “sepertinya aku juga akan pindah ke asrama tapi mungkin aku akan cari yang shared room. Pasti akan bosan berada di kamar sendiri” “terus kapan kamu pergi berbelanja kebutuhan mu dan kamar mu?" “besok aku sama mama akan ke Ikea, beli kasur lemari meja dan beberapa pernak pernik yang aku butuhkan, mungkin mulai besok aku sudah mulai tinggal disana untuk merapikan kamar ku dan mulai beradaptasi sebelum memulai kuliah” “ooh, aku juga sepertinya besok juga mulai mempersiapkan semua, aku sudah tidak sabar, masuk kuliah vi, aku sudah menantikan masa ini, oh ya jurusan kita berberda pasti akan menyita waktu untuk kita bermain dan itu sedikit membuat ku sedih sih” via yang mendengar perkataan Saddam yang merasa sedih jika nanti mereka akan jarang untuk bertemu seketika membuat wajah memerah di pipinya dan terpancar untuk dilihat oleh orang lain. “kau kenapa? Muka mu memerah? Kau sakit Via?” Saddam yang melihat wajah Via memerah langsung meletakkan tangan nya di kepala Via mengecek apakah temannya ini sakit. “Sadd awas tangan mu! Menghalangi aku nonton! Aku enggak sakit ! Udah ah” Via berusaha untuk santai dan meredakan wajahnya yang memerah menahan isi dadanya yang berdegup kencang. Tak lama mama datang menghampiri merka berdua mengajak untuk menyantap makan siang. Setelah makan siang Saddam pun kembali ke rumahnya karena mulai esok mereka berdua akan mulai sibuk dengan dunia baru. Dunia perkuliahan. ***** Hari ini mama dan Via sudah berangkat menuju Ikea untuk mengisi kamar yang akan di tempati Via selama kuliah nanti. Ya Via harus tinggal di student residences untuk menghemat waktu dan juga biar lebih dekat dengan kampus jika ada kuliah atau kegiatan di kampus bisa dengan mudah datang dan pergi. Mereka menghabiskan seharian untuk memilih kasur, lemari, kursi, perlengkapan dapur dan juga kamar mandi. Setelah selesai memilih mereka pergi untuk makan malam dan kemudian kembali ke kamar Via, yang sudah dia pilih sebelumnya. “Ma kita bikin kasur dulu saja kali ya ma buat kita istirahat?” “besok saja lah Vi, malam ini kita di hotel saja, mama sudah lelah banget” “ya sudah ma kita ke hotel untuk malam ini" Via dan mama yang sudah lelah seharian berbelanja akhirnya memilih untuk menginap di hotel. Harini terasa menyenangkan untuk dia, bangun lebih awal sholat subuh dan langsung pergi untuk mandi, seakan – akan tidak mau kehilangan waktu sedikit pun. Via yang sudah 15menit berada di kamar mandi sekarang suda keluar dan bergegas mengganti handuk dengan pakaian yang sudah dia siapkan sebelum mandi. Kaos putih bertuliskan happy dan di padukan dengan jeans sobek sobek kesukaan Via. Entah mengapa Via bergaya ala cewek tomboi saja cantiknya tetap terpancar seakan – akan bajunya memiliki aura saat di gunakan Via. Rambut yang di uwel ke atas dengan kesan sedikit berantakan tapi terlihat manis, Via hanya menggunakan sunblock di wajah dan lippgoss di bibirnya agar tidak terlihat pucat. Sudah memancarkan kecantikan dari wajahnya, ya kesehariannya Via jarang ber makeup dia lebih suka menjaga kulitnya dengan perawatan dari pada harus menutup dengan berdandan yang tebal. Mama yang juga sudah bersiap mengikuti anaknya yang terlihat sudah ingin cepat keluar dari hotel menuju student room nya. Mereka sudah selesai merapikan diri dan bergegas untuk keluar kamar menuju restoran hotel untuk sarapan dan kemudian langsung pergi menuju student room anaknya. Setelah sarapan selesai mereka langsung berangkat dan menghabiskan waktu untuk merapikan kamar Via. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, kamar Via pun sudah tersusun rapi, kasur yang menghadap ke jendela, membuat kesan nyaman, kamar via yang terletak di lantai 2 menghadap ke arah kota. Dari jendela Via bisa melihat hiruk pikuk jalanan kota dan tepat di seberangnya terlihat kampus yang jika pagi di penuhi mahasiswa yang berlalu lalang di sekitar kampus. “Vi mama lapar, kita keluar makan yuk?” “iya ma, via juga laper, oh ya ma, aku sama Saddam pernah makan di kafe yang dekat dengan halte tadi, kita makan disitu saja bagaimana?” “dimana saja lah, mama juga kurang tau daerah ini” Sejenak mereka bersiap untuk keluar menuju kafe dan menyantap makan malam disana, dan kembali ke kamar Via untuk menghabiskan waktu malam bersama. ****** Hari Pertama Di Kampus Via tengah bersiap – siap karena hari ini hari pertamanya untuk kuliah, sudah tidak sabar baginya untuk menuju ke kampus. Mama yang sudah 2 hari lalu kembali ke rumah meninggalkan Via sendiri di sana. Sudah pukul 7.30 hari ini ada kelas pagi pukul 8, karena tempat via tinggal tidak jauh dari kampus Via hanya cukup berjalan kaki beberapa menit untuk menuju kampusnya, sudah hampir seminggu dia tidak bertemu dengan Saddam dan sudah hampir 4 hari Saddam tidak menghubungi sekedar menggoda. Via sedikit merasa kesepian selama Saddam tak di sampingnya ditambah lagi tak menghubungi nya. Via berjalan dari pintu utama menuju lobby kampus yang di sebelah kiri terdapat kantin, jalan kedepan menuju aula kampus, dan di sebelah kanan tangga menuju ruang – ruang kelas. Via menyusuri anak tangga dan mencari kelas. Dubraaakkkkk.... Via menabrak badan seseorang di depannya. Hampir mau terjatuh ke belakang, punggung Via di tahan oleh tangan seseorang dan mengangkat tubuh Via untuk berdiri. “Kalau jalan matanya di pake” suara itu membuat via tersadar dari syoknya. “Saddammm...” “iya kenapa? Kayak lihat hantu saja kamu Vi. Untung kamu menabrak ku dan aku masih bisa menahan badan mu, coba saja orang lain mana mau menahan badan mu yang berat itu” ledek Saddam, padahal untuk menggendong Via saja sebenarnya Saddam mampu. “ngapain kamu disini? Kamu enggak ada kuliah?” “yah aku kesini untuk kuliah, apa kamu kira aku kesini untuk menemui mu?” Entah kenapa ucapan Saddam membuat hati Via berdegup kencang. Sudah seminggu mereka tak bertemu dan sudah membuat rasa rindu di hati Via. “pede banget sih kamu, ya kan kamu ga ambil seni kenapa ada di jurusan ku?” “oh itu, aku ngambil kelas seni teater untuk kelas tambahan ku, dan ini aku lagi mencari kelas dan berpapasan dengan mu, eh enggak deh di tabrak kamu lebih tepatnya” senyum ledekan Saddam yang menjengkelkan tapi membuat hati Via meleleh. “ Huuuh masih aja jahilnya ga ilang, oh gitu, hari ini aku juga kelas seni teater, berarti kita satu kelas ya, yasudah yuk cari kelas bareng” mereka pun menemukan kelas dan duduk di bagian tengah enggak terlalu dekat dengan dosen juga enggak terlalu jauh melihat ke papan tulis. Hati Via sangat bahagia, dia enggak menyangka Saddam akan mengambil 1 kelas bersama dengannya. Dan kelas ini juga melibatkan mahasiswa untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain. Bahagia hari pertama dengan orang yang kau sukai mungkin itu yang ada di perasaan via, seharian di kampus sama sekali tidak membuat dirinya lelah malah selalu bersemangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD