Siang itu semua berkumpul penuh suka cita di ruang keluarga, terkecuali Sinta. Mereka mengira Sinta masih tertidur pulas, sehingga tidak mendengar obrolan mereka di ruang keluarga. Namun tiba-tiba, Anisa mulai menyadari ada yang tidak beres, karena ia merasa tiba-tiba gelisah, saat mengingat Sinta yang sejak tadi belum ada keluar kamar sama sekali. “Mas, kok Sinta belum juga bangun, ya? Keenakan tidur, atau bagaimana? Perasaan Anis jadi tidak enak.” “Tidur di mana Sinta, Dek? Biar Mbak tengok,” sela Mita yang sudah beranjak dari sofa. “Di kamar tamu, Mbak,” sahut Anis seraya menunjuk arah ke kamar depan. Mita pun berjalan menurut petunjuk adik iparnya itu. Sesampainya di bibir pintu, ia gegas menarik hendel pintu, dan membukanya perlahan, bermaksud tidak membuat Sinta kaget. “Asta

