Egois

1100 Words
"Daniel, gue mau ngomong sama lo. Temui gue di lampu merah sekarang," Alexa mengirim pesan yang sudah diketiknya itu pada Daniel. Tak berapa lama, Daniel langsung membalas pesan Alexa. "Gue mau ada janji sama Mawar, gak bisa lama-lama ketemuan sama lo. Buruan, gue uda jalan." Alexa yang sejak tadi ada di persimpangan jalan, langsung bergegas mengayuh sepedanya menuju lampu merah. Dia mengayuh sepeda dengan cepat, agar tak membuat Daniel menunggu dirinya. Alexa sengaja menyuruh Daniel ketemuan di lampu merah. Sebab, Alexa tau kalau di lampu merah itu sunyi dan juga sangat jarang di lalui orang. Beberapa menit Alexa mengayuh sepedanya dengan cepat, dan saat ini dia sudah berada di lampu merah, tempat mereka janjian tadi. "Dimana Daniel? Kayaknya belum datang," Alexa melihat ke sekitar, tak ada terlihat mobil Daniel disekitarnya. Sekitar 5 menit Alexa menunggu, akhirnya mobil Daniel terlihat mendatangi tempatnya berdiri. Tinn ... tinn .. tinnn ... Daniel mengklakson Alexa yang berdiri di pinggir jalan. Daniel membuka kaca mobilnya, "Ada apa? Ada hal penting apa yang mau lo bicarakan sama gue? Gue gak punya waktu lama," tanya Daniel to the point, tanpa turun dari mobil. "Turun dulu Daniel, gimana mau ngobrol yang enak kalau lo ada di dalam mobil dan gue ada di sini," Alexa meminta Daniel untuk turun. Daniel menggeleng, "Enggak, gue gak mau turun, panas banget. Nanti gue gosong," Daniel menolak mentah-mentah permintaan Alexa. Alexa tersenyum, "Kalau begitu buka pintu mobilnya, biar gue yang masuk ke dalam mobil. Gue mau bicarain hal yang penting sama lo," pinta Alexa pada Daniel. Daniel menaikkan sebelah alisnya, "Lo mau masuk ke dalam mobil gue?" tanya Daniel. Alexa mengangguk cepat, "Iya lah, biar ngobrolnya nyaman," jawab Alexa dengan mantap. Daniel langsung menggelengkan kepalanya cepat, "Enggak! Enggak boleh, lo gak boleh masuk ke dalam mobil gue," Daniel menolak permintaan Alexa. Alexa mengerutkan dahinya bingung, "Loh, kenapa? Kenapa gue gak boleh masuk ke dalam mobil lo?" tanya Alexa bingung. "Ya enggak boleh lah. Liat penampilan lo itu." Alexa langsung melihat penampilannya dari atas sampai bawah. "Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Alexa bingung. "Kenapa, lo tanya? Liat tuh penampilan lo, lusuh banget. Kotor dan juga bau pastinya. Jorok banget, jijik gue. Nanti gue mau jemput Mawar, Mawar gak akan suka kalau tempat duduknya itu kotor dan bekas anak jalanan. Jadi lo gak usah masuk ke dalam mobil gue. Kalau mau bicara, lo bicara aja dari luar." Alexa langsung diam, rasanya moodnya benar-benar hancur saat ini. Hal apa lagi yang paling menyakitkan selain ditolak dan dihina oleh kekasihnya sendiri. "Woy!!! Buruan dong, ayo cepat bicara. Lo buang-buang waktu gue aja kalau diam lama-lama gini," Daniel mendesak Alexa. Alexa tersenyum miris, "Gue cuma mau bicara tentang hubungan kita," ujar Alexa dengan raut wajah muramnya. Daniel menaikkan sebelah alisnya, "Hubungan kita? Hubungan kita yang mana? Emang hubungan kita kenapa? Ada apa?" tanya Daniel bingung. "Hubungan kita yang mana? Hubungan kita sebagai kekasih lah. Apa lo uda gak ingat itu? Lo itu pacar gue, dan gue juga pacar lo," Alexa menjelaskan dengan geram. "Ingat, gue ingat itu. Terus apa yang salah dengan itu? Perasaan kita gak punya masalah kok," balas Daniel dengan entengnya. Alexa mengelus dadanya, lalu menghela nafasnya kasar, "Gak punya masalah lo bilang? Terus saat ini hubungan kita dalam fase apa? Lo masih anggap gue pacar, tapi lo juga punya gebetan dimana-mana. Lo gak pernah memperlakukan gue sebagai pacar, lo gak pernah mengistimewakan gue, lo gak pernah anggap gue spesial!! Tapi kalau perempuan lain yang lo anggap gebetan itu, lo memperlakukan dia seperti ratu!! Apa-apa yang diminta dia lo kasih!! Maksud lo apa sih??! Gue bukan mainan yang selalu lo mainin sesuka lo!! Lebih baik lo lepasin gue!! Hubungan kita berakhir sampai disini aja!!!" Alexa sudah tak tahan, emosinya yang sudah dipendam-pendamnya akhirnya meluap dengan air mata yang bercucuran. Hatinya sakit, semua perlakuan Daniel hanya menambah luka hatinya saja. Bahkan sedikit pun Daniel tak pernah berniat mengobati lukanya itu. Daniel menatap Alexa tajam. Dia tak suka melihat Alexa menangis, apalagi mendengar kata-kata Alexa yang ingin hubungan mereka berakhir. Daniel benar-benar benci itu. "Maksud lo apa? Lo minta kita putus?" tanya Daniel dengan tatapan tajamnya. Alexa menarik nafasnya dalam-dalam, lalu dia menghembuskan dengan kasar. "Iya, gue mau hubungan kita putus dan berakhir sampai disini," jawab Alexa dengan tegar. Dada Daniel naik turun, nafasnya memburu kencang, "Enggak!!! Enggak akan!! Gue akan melepaskan lo! Bagaimana pun itu, gue gak mau kalau hubungan kita putus!!!" Daniel menolak dengan tegas. Alexa memejamkan matanya, tangisannya tak bisa berhenti lagi. Tubuhnya bergetar hebat, tangisannya pilu penuh senggugukan. "Terus mau lo apa?" tanya Alexa pelan dengan tangisan pilunya. "Gue gak bisa berada dihubungan seperti ini terus. Hati gue sudah terlalu sakit karena lo. Hati gue benar-benar hancur setiap kali lo kenalin wanita-wanita lain ke gue dengan sebutan sebagai gebetan lo. Hati gue sakit saat lo memperlakukan wanita lain dengan istimewa dan lo mengabaikan gue. Apa alasan itu masih kurang cukup untuk gue memutuskan hubungan kita? Apa alasan itu belum cukup kuat bagi lo?" tanya Alexa dengan tangisan senggugukannya. Tangisan Alexa tak membuat hati Daniel luluh. Tangisan Alexa malah membangkitkan gejolak emosi di hati Daniel. "Enggak!!! Gue bilang enggak ya enggak!! Lo gak akan putus dari gue!! Lo harus tetap jadi pacar gue!! Mau bagaimana pun perilaku gue ke wanita-wanita lain dan ke lo, itu adalah urusan gue. Lo harus terima apa pun yang gue buat!!" Daniel benar-benar egois. Dia tak ingin keputusannya diganggu gugat. Tangisan Alexa semakin pecah saat melihat keegoisan Daniel. "Please ... gue mohon Daniel. Tolong jangan egois. Di sini gue yang sakit. Di sini gue yang tersakiti, bukan lo." "Apa lo pernah anggap gue sebagai pacar lo? Apa lo pernah ajak gue jalan? Apa lo pernah manggil gue sayang?" tanya Alexa. "Lo memang pacar yang hebat dan selalu diidam-idamkan sama semua wanita. Lo memang pacar yang selalu gue banggakan," "Tapi itu dulu, diwaktu masa-masa SMA kita. Semuanya berubah semenjak orang tua lo gak setuju dengan hubungan kita karena gue orang miskin. Lo masih sadar itu kan?" tanya Alexa lagi. "Lo harus sadar dan terima kenyataan. Kita itu gak cocok, kita ditakdirkan untuk berpisah. Dan ini saatnya kita berpisah. Bahkan dunia, waktu, suasana dan lo sendiri aja gak pernah mendukung dan menghargai gue. Apalagi yang harus dipertahankan? Gue mau hubungan kita berakhir sampai sini," lagi-lagi Alexa melontarkan kata-kata pisah pada Daniel. Brakk!!!! Daniel membanting ponselnya dengan kuat. "Gue bilang enggak ya enggak!!! Lo tetap jadi pacar gue!!!" Setelah mengatakan itu, Daniel langsung menancapkan gas mobilnya. Dia pergi meninggalkan Alexa dipinggir jalan begitu saja. Melihat kepergian Daniel, Alexa kembali menangis. "Sebenarnya gue ini pacar apa sih? Pacar mainan?" tanya Alexa pada dirinya sendiri. "Lo benar-benar egois, Daniel," ujar Alexa dengan tangisan mirisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD