Alexa mengerjap pelan saat ingatan masa lalunya kembali terngiang di kepalanya. Entah karena apa, tapi yang jelas Alexa membenci hubungannya dengan Daniel saat ini. Sepertinya dia hanya sebuah mainan saja, mainan yang sayang untuk dilepaskan, tapi tak pernah di perhatikan.
"Apa sih salah gue? Apa karena gue orang miskin, makanya mereka gak suka sama gue?" tanya Alexa pada dirinya sendiri.
Saat ini Alexa sedang duduk diatas kursi makannya. Kursi plastik dan meja kayu yang sudah keropos. Diatasnya hanya ada tudung saji berwarna hijau, ceret air minum dan juga beberapa gelas saja.
"Ini kan bukan kemauan gue. Gue juga gak mau jadi orang miskin kali. Seharusnya sesuai nama gue, Alexa Jemia Queen Anderson, gue itu ratu. Nama gue keren, gak tau entah siapa yang buat nama gue itu, tapi yang pasti nama gue kayak nama orang-orang kaya, dan nyatanya semuanya cuma cuma merk doang, aslinya juga gue susah. Hidup miskin, susah, harus cari duit sendiri, dan gak pernah senang," Alexa mengeluh dengan kehidupannya saat ini.
"Rasanya gue pengen balik ke masa SMA. Dimana Daniel memperlakukan gue seperti ratu," Alexa tersenyum miris.
"Tapi semuanya sudah berubah total, Daniel bahkan gak pernah mentingin gue lagi. Semenjak orang tuanya Danie melarang Daniel buat berhubungan sama gue, Daniel benar-benar berubah sekarang."
Alexa menghela nafasnya kasar, "Hufttt ... udah lah, buat apa juga mikirin si Daniel kurang ajar itu. Dia juga gak pernah mikirin gue kan."
Alexa membuka tudung saji, lalu melihat menu makanannya yang tersedia diatas meja.
"Hanya ada nasi, dan juga mie instan. Itu juga mie instan tadi malam, yang uda membengkak kayak gajah gitu," Alexa tak berselera makan saat melihat isi tudung sajinya.
Alexa menghela nafasnya, "Tapi gimana lagi coba? Kalau gue gak makan, bisa-bisa tepar nanti gue pas jualan bunga."
Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Alexa memakan nasi bersama mie instan yang sudah membengkak itu. Dia tau, kalau pekerjaannya itu berat, jadi butuh tenaga. Jika dia tidak makan, mungkin aja dia akan pingsan di jalan.
Alexa memakan makanannya dengan wajah yang ditekuk.
Selesai makan, Alexa langsung bergegas menjual bunga-bunga dan koran dengan sepedanya.
Alexa berjalan dengan menuntun sepedanya. Sepanjang jalan, Alexa terus menawarkan koran dan juga bunga-bunga yang dijualnya. Tapi baru dua orang yang membeli dagangannya.
Alexa mengelap peluh di dahinya, "Ya ampun, gue benar-benar uda capek plus kepanasan. Tapi yang beli dagangan gue cuma dua orang doang. Astatang, pusing pala Barbie." Alexa terus saja berjalan menuntun sepedanya.
"Apa gue tawarkan koran ini ke kafe itu ya," Alexa menatap ke arah kafe di depannya.
"Siapa tau kafe itu setuju dan mau jadi langganan koran gue. Kan mayan, gak usah capek-capek ngider koran, uda ada langganan tetap."
Alexa memberanikan diri untuk masuk ke dalam kafe itu. Sepedanya ia parkirkan di parkiran paling pojok, dia sadar sepedanya buruk rupa. Lebih baik tak terlihat, daripada mengganggu pemandangan.
"Permisi, mbak," Alexa menemui mbak-mbak di meja kasir.
Kasir itu tersenyum ramah, "Iya, mbak, ada yang bisa saya bantu? Mau pesan makanan apa, mbak?" tanya kasir itu to the point.
"Bukan pesan makanan mbak," jawab Alexa dengan sedikit malu.
"Saya kesini mau nawarin koran, mbak. Maksudnya saya bisa enggak jadi pengantar koran tetap di kafe ini, mbak?" tanya Alexa sedikit ragu.
"Ooh ... kebetulan sekali kalau gitu, mbak. Pengantar koran kami yang biasa sedang kena musibah di sruduk kambing bandot, jadi pinggangnya patah dan gak bisa mengantar koran. Mbak bisa loh jadi pengganti mas koran itu." Tanpa diduga Alexa, ternyata kafe ini juga sedang membutuhkan pengantar koran.
Alexa tersenyum lebar, "Ya ampun ... gile, demi apa nih? Emang dasar rezeki anak sholeha mah beda," Alexa berteriak girang dalam hati.
"Wahhh ... memang ini yang dinamakan kalau rezeki gak kemana, mbak. Kalau begitu bisa dong mulai hari ini saya antarkan koran ke sini?" tanya Alexa dengan percaya dirinya.
"Ooh ya tentu boleh lah, mbak. Silahkan," kasir itu langsung mempersilahkan Alexa dengan senang hati.
Alexa tersenyum lebar, "Ditaruh dimana ini ya, mbak?" tanya Alexa.
"Taruhnya di dalam ruangan bos aja, mbak. Mbak lurus noh, nanti belok ke kanan, ada ruangan besar, nah itu ruangan bos, mbak," kasir itu menjelaskan pada Alexa.
Alexa mengangguk tanda mengerti.
"Terimakasih ya, mbak. Kalau gitu saya mau antar korannya dulu. Dadaaa mbakk ...," Alexa tersenyum senang, lalu melambaikan tangannya pada kasir saat dia berjalan menuju ruangan bos.
Alexa berjalan riang dengan berlompat-lompat sambil memegang koran.
"Yee ... yeee ... yee ... yeee ... yeee ..., dapat pelanggan baru. Dapat pelanggan baru. Asek-asek joss!!" Alexa berhenti sebentar hanya untuk menggoyangkan pinggulnya.
Sesampainya di depan ruangan bos, Alexa sedikit mengerutkan dahinya bingung, "Ini bukan ya ruangan bosnya?" tanya Alexa pada dirinya sendiri.
"Ahh ... iya kali ya, ini juga ruangan yang paling besar disini," Alexa memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Tokk ... tokk ... tokkk ...
"Permisi ...," Alexa mengetuk pintu ruangan itu.
"Iihh ... kok gak ada yang jawab sih?" tanya Alexa sedikit kesal.
Tokk ... tokk ...tokk ...
Alexa kembali mengetuk pintu ruangan itu. Tapi nihil, tak ada sahutan sama sekali.
"Uda lah masuk aja. Gue kan gak mau nyolong, gue cuma mau antar koran doang."
Ceklekk ...
Alexa membuka pintu ruangan itu. Dengan cepat dia langsung menaruh korannya diatas meja.
Setelah menaruh koran, Alexa langsung memperhatikan ruangan itu dengan detail.
Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Wahhh ... gila sih ini. Ini beneran keren banget ruangannya. Enggak terlalu besar, cuma benar-benar mewah dan juga rapih." Mata Alexa tak berhenti memandang, mulutnya tak berhenti memuji.
"Astaga, gue kan baru jual dikit, gue harus kebut jualan nih, biar gue bisa beli makan buat besok," Alexa tersadar, lalu dia langsung pergi dengan cepat meninggalkan ruangan itu.
Alexa berjalan cepat, yang difikirkan Alexa saat ini hanyalah target penjualannya. Kalau yang dijualnya sedikit, jangan kan makanan, beras mentah saja dia tidak bisa beli nantinya.
"Alexa!!!"
Alexa yang sedang berjalan cepat langsung memberhentikan langkah kakinya saat namanya dipanggil.
"Siapa yang manggil gue?" Alexa menatap ke kanan dan ke kirinya.
"Enggak ada kok. Mungkin bukan Alexa gue kali ya," Alexa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ahh ... bukan gue kali," Alexa kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!!" Alexa berhenti saat tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang.
Alexa yang penasaran pun langsung menolehkan kepalanya ke belakang.
"Hayy ...," sapa seorang pria dengan senyum lebarnya.
Tatapan Alexa langsung berubah menjadi tatapan terkejut dan bahagia. Dengan semangat kebahagiaan, Alexa pun bertanya, "Lo? Ngapain lo disini?" tanya Alexa pada Daniel dengan senyum lebarnya. Ya, pria yang memanggil Alexa tadi adalah Daniel, pacar Alexa.
"Asikk ... pasti Daniel mau ajak gue makan di sini. Itung-itung jalan bareng," ujar Alexa dalam hati dengan kegirangan.
"Kok lo nanya gue sih? seharusnya gue yang nanya lo. Ngapain lo ada di kafe mahal ini?" tanya Daniel pada Alexa.
"Kafe mahal ini," ulang Alexa dalam hati. Ekspresi bahagianya perlahan pudar saat mendengarkan pertanyaan Daniel barusan.
"Woy!! Kok diam aja sih? Lo ngapain disini?" Daniel sedikit menepuk pundak Alexa yang diam melamun.
"Ehhh ... enggak, gue cuma ngantar koran di kafe ini kok," jawab Alexa seadanya.
Daniel manggut-manggut, "Ooh ... ngantar koran toh, pantas aja lo kesini."
"Yuk ikut gue kesitu," Daniel menarik tangan Alexa menuju mejanya.
Alexa hanya menundukkan kepalanya saja. Dia malu, penampilannya dengan Daniel benar-benar sangat berbeda 180 derajat.
"Duduk," Daniel mempersilahkan Alexa duduk. Alexa yang sejak tadi hanya menunduk pun langsung mendudukkan dirinya diatas kursi.
"Ini siapa, Daniel?" tanya seseorang pada Daniel.
Alexa yang mendengar suara wanita di depannya pun langsung segera mengangkat kepalanya.
"Dia siapa? Apa teman kuliahnya Daniel?" tanya Alexa dalam hati.
"Mawar, kenalin, ini Alexa pacar aku," Daniel mengenalkan Alexa pada Mawar.
Dengan ogah-ogahan Mawar terpaksa mengulurkan tangannya pada Alexa.
Alexa tersenyum lebar. Rasanya hatinya benar-benar bahagia saat dikenalkan sebagai pacar Daniel. Itu berarti dirinya masih diakui oleh Daniel.
Dengan cepat Alexa langsung membalas menjabat tangan Mawar.
"Al-"
Omongan Alexa terpotong dengan suara Daniel.
"Alexa, kenalin dia, dia Mawar, gebetan aku saat ini. Dia itu wanita yang selalu ada disamping aku saat ini," Daniel memperkenalkan Mawar dengan senyum merekah.
Dengan perasaan sombongnya, Mawar langsung tersenyum lebar. "Mawar, gebetan Daniel, yang bakalan jadi kandidat calon istrinya nanti," Mawar memperkenalkan dirinya dengan angkuh.
Daniel terkekeh kecil, lalu dia langsung mengecup pipi Mawar singkat.
"Duhh ... gemesin banget sih kamu," ujar Daniel dengan manis.
Hati Alexa benar-benar mencolos saat menyaksikan interaksi antara Daniel dan Mawar di hadapannya ini. Jika dibilang, keadaan hati Alexa saat ini benar-benar sakit. Seperti ada ribuan pisau yang menusuk hatinya.
Mata Alexa pun memanas, rasanya air mata yang berusaha ia tahan saat ini, tak akan bertahan lama dan akan tumpah.
"Sayang ... yukk kita ke mall. Aku mau shopping."
Itu bukan suara Alexa, melainkan suara Mawar yang sedang bergelayut manja di lengan Daniel.
"Kamu mau belanja lagi?" tanya Daniel.
"Iya dong, sayang. Aku mau beli tas baru yang harga 250 juta itu. Beliin ya," pinta Mawar dengan ekspresi memohonnya.
Daniel tersenyum manis, lalu Daniel menjawil hidung Mawar pelan. "Iya, sayang. Tenang aja, aku beliin kok. Apa sih yang enggak untuk kamu," Daniel memeluk Mawar mesra.
"Yaudah yuk, kita pergi. Aku uda gak sabar," ajak Mawar yang langsung berdiri.
Daniel juga ikut berdiri, "Yukk ... kita jalan sekarang," Daniel merangkul Mawar mesra dan membawa Mawar untuk pergi dari tempat itu.
"Eittss ... tunggu dulu dong, sayang. Pamit dulu gih sama pacar kamu," Mawar mencegah Daniel.
Daniel memukul jidatnya pelan, "Astaga ... aku benar-benar lupa kalau ada Alexa," ujar Daniel dengan tawa kecilnya.
"Habisnya Alexa diam aja sih, kayak batu," sambung Daniel kemudian.
"Lahh ... lo pikir sejak tadi gue ngapain, hah? Lo dan si pelakor itu yang sejak tadi ngacangin gue!" Alexa menggerutu dalam hatinya.
"Yaudah ya, Alexa. Gue mau nganterin mawar ke mall dulu. See you next time," Daniel merangkul Mawar, lalu langsung membawa Mawar pergi keluar dari kafe.
"Sakit banget hati gue, gue yang pacarnya. Tapi orang lain yang dipanggil sayang, orang lain yang disenengin. Terus gue lo anggap apa, Bambang?" Alexa menahan tangisnya. Kepalanya mendongak ke atas agar air matanya tak tumpah
"Pacar yang tak dianggap. Kasihan banget sih hidup lo, Alexa," Alexa mengerjapkan matanya.
Air mata Alexa benar-benar sudah ingin tumpah, Alexa sebentar lagi tak akan sanggup menahannya. "Malu gue kalau nangis disini. Mendingan gue nangis dipinggir jalan aja," dengan cepat Alexa langsung pergi keluar dari kafe itu, sambil menahan tangisnya.