Kadang aku berfikir,
Aku dan kamu itu bagaikan langit dan bumi
Lalu, apakah pantas dan mungkin kita akan menyatu?
Rasanya tidak, mungkin kita tidak akan pernah menyatu
Walaupun langit dan bumi menyatu nanti,
Pasti akan menimbulkan kehancuran besar
Tapi, mau bagaimana lagi?
Rasa cinta ini sudah terlalu buta untuk melihat perbedaan kita
Ikuti saja alurnya,
Jika waktu menginginkan kita berpisah
Maka kita akan berpisah,
Walaupun rasa sakit itu pasti ada,
Dan akan mendominasi hati pastinya.
~Alexa Jemia Queen Anderson
*****
Hari ini semua murid kelas 12 SMA Angkasa tampak cantik dan tampan dengan balutan kebaya dan jas formal yang mereka kenakan. Para wanita juga tak luput dari polesan make up di wajah mereka. Tampilan ini membuat mereka lebih terlihat anggun dan berwibawa.
Acara demi acara dilewati dengan hikmat. Dan kini tiba saatnya acara pribadi foto bersama.
"Alexa, ayo kita foto disana, di depan papan bunga," ajak Daniel pada Alexa.
"Emang harus disana ya? Sini aja deh, Daniel," saat ini Alexa memang benar-benar mager.
"Aku mager," ujarnya kemudian.
"Apaan sih? Kok mager-mageran segala."
"Ayo, berdiri. Kita foto bersama disana. Untuk kenang-kenangan nanti di masa depan. Emang kamu gak mau apa punya dokumentasi bareng sama aku?" Daniel menarik tangan Alexa untuk pergi ke dekat papan bunga.
"Kamu kok dari tadi diam aja sih? Kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya Daniel.
Alexa menghela nafasnya kasar, "Enggak kok, aku gak apa-apa. Itu kan cuma perasaan kamu aja," jawabnya dengan sedikit ragu.
Daniel memicingkan matanya curiga, "Please, Alexa. Jangan selalu nutup-nutupin semua masalah kamu. Aku tau gimana raut wajah kamu saat gembira, saat sedih, dan bahkan saat kecewa. Kamu salah orang untuk memulai drama kamu. Aku yang paling faham dengan kamu. Jadi, ayo cerita sama aku. Aku tau kok, sejak tadi raut wajah kamu itu murung aja. Gak ada gitu manis-manisnya, senyum-senyumnya. Ayo, sekarang cerita sama aku," Daniel tak jadi membawa Alexa pergi ke tempat papan bunga, Daniel malah membawa Alexa duduk di dekat papan bunga.
"Nah, udah kan. Uda duduk. Ayo, sekarang kamu cerita semuanya sama aku. Ini tempatnya lagi mendukung banget. Hanya kita berdua disini, semuanya sedang sibuk dengan foto-foto sendiri," Daniel mencoba untuk membujuk Alexa agar mau bercerita.
Alexa menghela nafasnya kasar, "Aku gak apa-apa kok, Daniel. Kamu percaya deh sama aku. Aku hak kenapa-kenapa," Alexa masih berusaha berakting kuat di depan Daniel.
Daniel menatap Alexa dengan wajah seriusnya, "Kamu masih mau berbohong sama aku? Kamu masih mau menutupi semaunya dari aku? Iya? Padahal aku tau dan sangat faham loh tentang isi hati kamu. Tapi kamu malah tetap setia dengan akting sok kuat kamu itu," Daniel menyindir Alexa.
Alexa memang tak bisa berbohong dengan Daniel. Bagaimana bisa dia berbohong, jika Daniel mungkin lebih mengerti watak Alexa dari pada Alexa sendiri.
"Jadi Alexa, bagaimana ceritanya? Ceritakan semuanya sama aku. Aku akan menjadi pendengar yang baik dan jika aku mampu, aku akan membantu kamu," Daniel memegang erat tangan Alexa. Menguatkan Alexa agar lebih percaya diri untuk bercerita.
Alexa menghela nafasnya pasrah. Dia tak bisa berkilah lagi. Daniel lebih mengenal dirinya, dan dia tak akan mungkin bisa berbohong lagi.
"Maaf karena aku buat kamu khawatir," ujarnya pasrah.
"Aku sedih, semua orang datang bersama orang tuanya. Semua orang datang dengan keluarganya. Foto bersama, saling tukar canda tawa. Dan aku? Bahkan aku gak punya mama dan papa. Aku hanya anak yatim piatu yang kebetulan nasibnya bagus bisa sekolah disini. Kasian ya aku, kasian banget karena gak punya siapa-siapa. Bahkan aku gak pernah merasakan yang namanya foto keluarga. Benar-benar miris sekali," Alexa mencoba cerita pada Daniel tentang isi hatinya yang saat ini benar-benar down.
Daniel menghela nafasnya. Sudah Daniel duga sejak tadi, kalau ini lah permasalahannya. Daniel paham kalau Alexa merasa sendiri dan tak punya siapa-siapa, Alexa minder karena tak punya satu keluarga pun yangd datang ke acara perpisahan ini.
Daniel mengelus lembut telapak tangan Alexa, "Alexa, aku tau kok kamu itu gadis yang kuat. Aku tau kamu juga pasti selalu tabah dengan keadaan kamu ini. Aku faham, disemua titik kuat manusia, pasti akan ada saatnya titik kelemahan itu muncul. Aku gak mau salahin kamu karena kamu merasa sedih saat ini. Aku faham keadaan kamu gimana. Kalau kamu sedih, ekspresi kan aja. Aku juga akan selalu ada untuk kamu. Aku janji, aku akan selalu menemani kamu disaat suka dan duka. Jangan khawatir ya, ada aku disini, aku selalu ada untuk kamu," Daniel menguatkan Alexa, dia berusaha menjadi yang terbaik untuk Alexa.
Alexa tersenyum, dia balas menggenggam tangan Daniel, " Makasih ya, Daniel. Kamu uda selalu ada untuk aku. Makasih atas semuanya."
"Kalau begitu, ayo kita foto bersama," Daniel menggandeng tangan Alexa, membawa Alexa pergi menuju papan bunga untuk berfoto.
Alexa dan Daniel berfoto bersama. Bukan hanya berdua saja, tapi mereka juga berfoto bersama teman-teman mereka.
"Daniel,"
Daniel menoleh ke arah sumber suara.
"Ehh ... mama, papa. Akhirnya mama papa datang juga," Daniel menarik tangan Alexa menuju mama dan papanya.
Mama dan papa Daniel menatap tak suka pada Alexa.
"Itu siapa, Daniel?" tanya mama dan papa Daniel pada Daniel.
"Kenalin ma, pa, ini Alexa. Pacar Daniel," Daniel memperkenalkan Alexa pada mama dan papanya.
Alexa menyalim tangan mama dan papa Daniel, "Alexa, tante, om," ujarnya dengan senyum ramahnya.
"Anak siapa kamu?" tanya mama dan papa Daniel langsung pada Alexa.
Alexa tersenyum kaku, "Sa-saya anak yatim piatu, om, tante," jawabnya terbata-bata.
Mama dan papa Daniel langsung menatap sinis pada Alexa, "Kamu kerja apa kok bisa hidup sendiri? Kuliah dimana kamu nanti?" tanya papa Daniel dengan to the point.
Alexa benar-benar kaku saat ditanya seperti itu.
"Sa-saya penjual bunga, om, tante. Kadang juga jualan koran, dan kadang juga saya kerja jadi pelayan restoran," jawan Alexa takut-takut.
"Sa-saya juga gak lanjut kuliah, om, tante," jawabnya terbata-bata.
Papa Daniel langsung menatap Daniel serius, "Daniel, apa ini? Kenapa kamu cari pacar yang gak bermutu gini? Putuskan dia, papa gak mau liat kamu bersama dia," ujar papa Daniel dengan tegas.
"Pa, apasih? Kok papa gitu? Alexa ini anak baik, pa," Daniel membela Alexa.
"Papa gak mau liat kamu sama dia, bagaimana dia bisa jadi anak yang baik, sedangkan dia anak gak jelas. Gak tau bibit, bebet, bobotnya, bahkan orang tuanya aja gak ada," ujar papa Daniel dengan sarkas.
Hati Alexa benar-benar sakit saat mendengar kata-kata papa Daniel. Rasanya harga dirinya seperti diinjak-injak.
"Saya permisi dulu ya, om, tante, mari," Alexa langsung pergi meninggalkan Daniel, mama dan papa Daniel.
Daniel yang melihat kepergian Alexa, langsung ingin menyusul Alexa.
"Daniel, jangan kejar dia," mama Daniel menarik tangan Daniel.
"Kalau kamu kejar dia, papa gak akan anggap lagi kamu sebagai anak," ancam papa Daniel dengan tegas.
Daniel bisa apa? Dia tak mungkin melawan mama dan papanya. Perlu diketahui, kalau Daniel itu anak yang benar-benar cinta dan menurut pada orang tuanya. Menurut Daniel, di dunia ini yang harus di patuhi dan diutamakan olehnya adalah mama dan papanya