Ini apa lagi coba?. Mas mas yang berada di hadapanku dan mengaku suamiku, yakan kalo ngaku mantu ayah berarti suamiku, anak ayah cuma aku. “Berapa hutang mertua gue?” ulangnya sambil mendekat padaku. Belum rapi debar jantungku, harus banget melihat wajah kecehnya sedekat ini. “Emang elo bisa bayar?” tanya centeng rentenir tepat dia berdiri di dekatku. Walaupun aku belum tau, maksud masnya apa, tapi ada rasa lega mengetahui dia berniat membantuku. “Bukan itu pointnya kalo bicara hutang, tapi ada niatan bayar apa gak” jawabnya. Benar itu!!. Niat untuk bayar. “Tau lo!!!,kan gue bayar tuh utang” semburku meringsek ke depan. Ke empat centeng rentenir itu tertawa mengejek dan membuatku mengepalkan tanganku. “Mau kapan lunas kalo nyicilnya sebulan sekali, bos gue udah gak sabar, kelamaan

