10~ Ada Apa Dengan Yeni?

678 Words
Adam menatap bingung kendaraan roda empat yang berlalu menjauh itu. Tetapi kemudian abai. Yang ia tahu, Yeni memang sibuk dengan banyak kegiatan di sore hari karena jika pagi harus menjaga Sagara. "Nak Adam!" Sang pemilik nama menoleh dan tersenyum saat mendengar suara seorang wanita memanggil. "Assalamualaikum. Selamat sore, Bu Nina." "Waalaikumsalam." Nina menoleh ke arah mobil yang tadi ia lihat meninggalkan rumahnya."Ke sini sama siapa? Kayaknya tadi saya lihat Nak Adam gak sendiri ke sininya." "Oh, iya, Bu. Tadi saya datang ke sini bersama ibunya Pak Ervan. Tapi Beliau ada urusan. Tadinya sengaja ikut karena mau ketemu dengan Bu Aluna." "Oh." Nina menjawab singkat. Mata kembali menatap ke ujung jalan tempat mobil berwarna putih tadi menghilang. "Bu Aluna, ada?" Nina mengalihkan tatapan. "Aluna lagi keluar. Tapi ASI-nya udah disiapkan. Tunggu sebentar, saya ambilkan. Duduk dulu, Nak Adam." "Iya, Bu. Terima kasih." Adam mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Duduk menunggu di kursi yang ada di teras sementara Nina masuk ke dalam rumah. "Ini, Nak Adam." Ibunda Aluna kembali dengan membawa tempat membeku yang bisa dibawa ke mana-mana. "Oh, iya, Bu. Tempat yang kemarin ada di bagasi. Sebentar saya ambilkan dulu." Adam menerima barang dari tangan Nina kemudian berlalu. Tak nama ia kembali. "Ini, Bu." "Makasih, Nak Adam." "Saya yang harusnya berterima kasih," sahut Adam, "Oh iya, Bu. Apa Bu Aluna ada cerita ke Ibu soal pembayaran? Pak Ervan tanya saya. Tapi saya bingung karena Bu Aluna tidak menjawab saat saya bahas soal pembayaran." "Gak ada. Aluna gak bicara apa-apa soal itu." Adam menghela napas panjang. Bingung karena Aluna tidak bersedia menerima bayaran atas ASI yang diberikan. Tetapi di sisi lain Ervan juga tidak ingin menerima dengan cuma-cuma. Alasannya tidak ingin memiliki hutang budi. "Nanti coba saya bicara sama anak saya." Nina seakan mengerti isi kepala pria muda di depannya tersebut. Adam tersenyum penuh rasa terima kasih. Wanita itu memang baik dan pengertian. "Terima kasih, Bu. Kalau begitu saja permisi." Nina mengangguk. "Lain kali ajak bayinya ke sini kalau udah bisa dibawa keluar rumah. Saya mau ketemu." "Insyaallah saya bicarakan nanti dengan Pak Ervan, Bu," angguk Adam. Nina mengangguk tanda mengerti. *** "Kenapa Mama di sini?" "Ini kan rumah mama." "Maksud aku, 'kan tadi katanya Mama mau pergi ketemu Aluna, ikut sama Adam. Kenapa malah di sini sekarang? Adamnya waktu aku hubungi masih di rumah orang tua Aluna. Katanya Mama tadi pulang duluan sebelum sempat ketemu Aluna." "Mama ada janji dengan Tante Rita. Baru ingat pas udah sampai sana. kamu tahu sendiri Tante Rita kayak apa, harus selalu on time."' Ervan tidak lagi menanggapi. Pergi ke dapur untuk menyiapkan ASI. "Saga udah mandi?" "Udah aku lap. Ini mau aku buatkan sussu," jawab Ervan yang sudah begitu cekatan mengurus dan menyiapkan segala keperluan putranya. Pria itu menunggu ASI siap sambil melamun. "Aku gak habis pikir. Kenapa dia memilih kerja? Kenapa nggak terima aja uang yang aku tawarkan sebagai pengganti ASI. Itu lebih besar daripada gajinya bekerja di sana. bahkan bisa puluhan kali lipat yang dia dapat perbulan," gumamnya. "Kenapa aku jadi peduli sama dia? biarin aja lah dia mau kerja atau apapun." Sisi lain pria itu. "Tapi masalahnya, kalau begini 'kan aku jadi ngerasa punya hutang Budi sama dia. gak bisa ini nggak bisa dibiarin. Bagaimanapun caranya aku harus membuat dia mau menerima uang sebagai ganti ASI yang dia kasih untuk Saga." "Atau jangan-jangan dia sengaja membuat aku merasa berhutang Budi. Terus nanti habis itu dia minta yang aneh-aneh." "Kamu ngapain ngomong sendiri di sini. Itu susunya udah siap." Yeni menepuk pundak putranya. "Oh iya, Ma. Mama nanti kalau ketemu Aluna, sekalian dong tolongin bujuk dia biar dia mau terima uang yang aku kasih." Ervan sepertinya bisa mengandalkan sang ibu yang pandai membujuk dalam hal ini. "Mama gak berniat ketemu sama dia. Bukannya kamu sendiri yang bilang buat apa mama ke sana." Yeni berlalu begitu saja. Ervan mengernyit. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba jadi penurut? Kayaknya dari kemarin-kemarin mama semangat banget mau ketemu Aluna," gumamnya dengan kening berkerut. Tak lama Ervan beranjak menyusul ibu. Ia Harus tahu apa yang terjadi hingga wanita itu berubah pikiran dalam waktu sekejap. Yakin ada sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD