8~ Butuh Donor ASI, Bukan Pengasuh

675 Words
"Ya ampun ... lucu banget. Ini anaknya, Lun?" Devi manatap layar ponsel yang ada di tangannya. Aluna mendelik. "Mana aku tau. Kamu rebut handphone sebelum aku sempat lihat." Devi tersenyum meringis sambil menyodorkan gawai pintar itu pada temannya. "Dia minumnya lahap banget deh. lihat. Lucu 'kan? Aku jadi penasaran. Ibunya kira-kira ke mana, ya?" "Aku gak tau," sahut Aluna. Tersenyum samar saat menatap layar ponsel yang menampilkan seorang bayi laki-laki yang sedang minum ASI dari botol. "Aku gak habis pikir deh. Kok ada ya ibu yang tega ninggalin anaknya," komentar Devi. "Belum tantu pergi. Siapa tahu meninggal." "Kalau meninggal, pasti dibilang meninggal, bukan pergi," balas Devi. Aluna diam. Mungkin temannya benar. Tetapi itu bukan urusan mereka. Ia hanya mengambil tugas untuk memberi anak laki-laki itu makan. Selebihnya tidak ingin tahu. "Luna!" "Hem." "Kenapa kamu gak minta anak itu buat tinggal sama kamu?" Devi menatap temannya, serius. "Ngoco kamu!"" "Loh? Kok ngaco sih? Gak apa-apa dong. Dia butuh ASI, kamu juga bisa jadi ibu asuh buat dia. Setidaknya kamu gak kesepian, Lun. Kamu bisa menyibukkan diri dengan mengurus anak itu." "Dia cuma butuh donor ASI, bukan butuh pengasuh. Lagian aku gak berminat jadi pengasuh. Aku mau kerja buat ngisi waktu luang aku." "Kerja?" "Iya. Aku rasa aku harus punya kegiatan," angguk Aluna tersenyum getir. Berada di rumah terus menerus, membuatnya selalu terbayang tentang anak dan suami. Tidak bermaksud melupakan mereka, tetapi hidup harus tetap berjalan. Meratapi nasib pun tak akan membuat mereka kembali. Terdengar mudah memang saat berucap, pada kenyataannya, semua tak semudah itu. Ke mana pun pergi, bayang-bayang anak dan suami selalu mengikuti. "Gimana kalau kerja di toko kue aku? Yang cabang baru buka itu. Kamu pasti bisa jadi manager. Di kantor dan toko kue sama aja 'kan? Malah di toko kamu bisa bertemu banyak orang. Kamu juga bisa menyalurkan hobi masak kamu. Gak harus seharian ada di kantor. Gimana?'' usul Devi. "Lihat nanti aja. Aku baru kepikiran buat kerja, tapi belum mikirin kerja di mana," balas Aluna. "Ya udah. Nanti hubungi aku kalau kamu mau kerja di tempatku." Aluna mengangguk. Kembali menatap layar ponsel. Sekali lagi mengulang video yang dikirim Adam. Rindu pada putri kecilnya sedikit terobati. *** "Kamu dapat ASI dari mana, Van?" "Ada donor ASI," jawab Ervan. "Kamu jangan sampai kehilangan kontak sama dia kalau Sagara udan besar nanti. Biar bagaimanapun, Sagara dan anak-anak wanita itu saudara sepersusuan. Mereka gak bisa menikah. Itulah kenapa donor ASI harus jelas asal usulnya," ujar Yeni. "Iya, Ma." "Dia punya anak?" "Tadinya punya." "Tadinya?" Wanita paruh baya itu mengernyit. "Iya. Tapi anaknya meninggal karena kecelakaan," angguk Ervan. "Innalilahi." Yeni menyentuh dadda. Bisa merasakan bagaimana beratnya rasa kehilangan seorang ibu. Apalagi anak yang masih berusia balita. Meski tidak tahu pasti umurnya, tetapi yakin masih di usia minum ASI. Karena itu bisa menjadi donor. "Kenapa kamu gak minta tolong dia buat jagain Sagara sekalian?" tanya Yeni lagi. "Aku cuma butuh donor ASI. Gak butuh suster. Kalau mama keberatan jaga Sagara, aku bisa jaga sendiri." "Bukan gitu. Mama gak keberatan. Kamu ini baperan banget sih. Maksud mama, ya siapa tahu aja dengan begitu, dia jadi terhibur atas kehilangan anaknya. Saling bantu aja. Kalau dia senang itu bagus buat kwalitas ASI." Ervan diam. Sebenarnya apa yang dikatakan ibunya. Tetapi apa Aluna bersedia? Wajah saja selalu kecut saat bertemu dengannya. Ia sendiri tidak tahu apa yang salah dan bikin Aluna setidak suka itu. "Dia belum tentu mau. Kita lihat saja nanti," sahutnya kemudian. "Tapi, Sayang. Mama khawatir dengan Oliva." Ervan mengernyit. "Khawatir? Apa yang Mama khawatirkan? Dia tampak bahagia. Dia juga pergi karena keinginannya." "Bukan itu!" gemas Yeni sambil memukul pelan lengan putra yang duduk di sampingnya. "Mama khawatir dia nuntut buat ambil Sagara suatu hari nanti." "Mama gak usah khawatir soal itu. Mama tau dia udah sepakat untuk beberapa poin dalam surat perjanjian sebelum kami bercerai." "Mama tau. Tapi dia bisa aja cari cara buat nuntut. Apa lagi posisi kamu kerja dan gak ada yang merawat Sagara selain mama yang udah tua ini. Bisa aja itu jadi celah," balas Yeni, "pokoknya mama gak mau kalau sampai Sagara diambil sama ibunya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD