Aluna diam sejenak, mencerna perkataan ibunya. "Ma-maksud Ibu apa? Ervan siapa?" Berdebar menunggu jawaban pasti sang ibu. Siapa tahu saja wanita itu hanya salah bicara atau ia yang salah mendengar. Atau mungkin juga Ervan lain yang dimaksud. Bukankah nama itu cukup pasaran? "Orang yang sama seperti yang kamu pikirkan,'' jawab Nina. Aluna menelan saliva dengan susah payah. Tentu saja tidak pernah menduga sedikit pun. Hati ini seharusnya ia yang menikah. ''Kamu jangan marah kalau Ervan tetap menikah meskipun kamu sudah membatalkan pernikahan kalian. Dia dan keluarganya bukan orang sembarangan. Pasti nggak mau nama baik mereka tercoreng gara-gara pernikahan yang batal." "Di-dia nikah sama siapa?" tanya Aluna. Nina mengeleng. "Ibu gak tau sih siapa calonnya." Menoleh pada suami. "Apa mun

