Semenjak hari itu aku berusaha melupakan rasa kecewa yang terus menggelayuti d**a. Sampai akhirnya aku menerimanya dengan lapang. Tak seharusnya berlarut menyimpan kesedihan. Lagipula, Zia sudah menceritakan semuanya. Apa yang direncakan, tidak sepenuhnya salah, mungkin saja Pak Anto sudah mempertimbangkan semuanya. Entahlah, apa pun di balik itu, aku tak perduli lagi. Hari-hariku kembali berkutat dengan pistol, kuda, senapan, arena bela diri, busur, dan buku-buku pelajaran. Aku tidak sekolah, jadi aku belajar sendiri di rumah meski kini usiaku sudah dewasa. Hal paling meresahkan adalah, terdengar kabar bahwa Tuan Liu Xingsheng mendadak jatuh sakit. Sementara bisnis dan perusahaannya yang dijalankan oleh Kim semakin kacau. “Gimana bisa gitu?” Aku menyeruput teh hangat saat kami bertiga

