*Membaca Al-Qur'an lebih utama*
kemala Sari sosok gadis periang dan juga blak-blakan dalam berbicara, ia paling malas jika berurusan dengan orang yang manis di depan tapi busuk di belakang. Namun apa yang bisa ia lakukan, dalam dunia ini pertemanan tidak selalu mulus. Terkadang orang yang dianggap tulus sekalipun memiliki maksud lain dengan diri kita sendiri. Terlebih ketika Kemala sendiri memiliki sifat over thingking di mana semua permasalahan atau omongan orang akan selalu ia pikirkan sampai semua nya selesai.
Seperti yang terjadi pada saat ini, ia pikir permasalahan nya dengan Ana sudah selesai. Ternyata sama sekali tidak, malah semakin parah ketika terjadi penyindiran di w******p khas seorang pecundang.
Awalnya Kemala tidak mengerti siapa yang Ana maksud, akan tetapi setelah beberapa rekan penulisnya memberitahu apa yang dimaksud, langsung membuat Kemala darah tinggi sebab selama ini ia sama sekali tidak ada menyenggol Ana yang notabennya bisa di katakan sebagai penolong nya juga di awal masuk.
"Beneran ini yang dimaksud Kemala?" Tanya Kemala yang sedang terhubung via telpon dengan Adi.
"Gak tau sih, tapi beberapa orang nyimpulkan itu. Aku udah tanya orang Mak Shila katanya mengarah ke kamu, eh gak lama dia nyebut nama kamu secara langsung di grup. " Jawab Adi dengan mata yang menatap Kemala instens.
Kemala hanya bisa menghela nafas panjang. Entah apa salahnya dengan Ana. Perasaan sedari masuk mereka baik-baik saja, tidak ada cek cok seperti ini. Malah ana terlihat sangat manis sekali bersikap dengan dirinya, ternyata malah busuk.
"Mala gak punya salah, gak cari masalah juga. Kenapa ini anak cari perkara terus sama Kemala? Mantap mas yah?" Tuduh kemala ke arah Adi. Karena sangat tidak mungkin secara tiba-tiba Ana membencinya tanpa alasan yang jelas.
Dan satu lagi yang mengejutkan, beberapa hari kemarin Ana ternyata sudah mengetahui mengenai hubungan nya dengan Adi. Yang tadinya melarang dirinya untuk memakai akun Ana lagi, malah setelah mengetahui ia memiliki hubungan dengan Adi, ana meminjam kan nya lagi dengan dalih jangan ada yang tahu.
Awalnya Kemala senang, tetapi ketika Adi mengucap sebuah kalimat yang langsung membuat Kemala tersentak kaget dan berusaha menjauhi Ana. Dan hanya berteman sekedarnya saja.
"Mala salah apa sama Ana coba, Mas? Capek banget rasanya masalah sama dia Mulu." Lirih Kemala membuat adi di seberang sana merasa tidak tega.
"Yaudah, nanti pake punya orang yang aku pinjem juga nanti aku bilang."
"Gak papa itu kan? Gak kayak ana itu kan?" Tanya Kemala takut. Ia ingin tenang menulis ini, kenapa ana selalu mencari perkara dengannya?
"Enggak, yang ini enggak. Baek kok." Jawab Adi meyakinkan Kemala untuk pindah meminjam akun di samping Kemala membebaskan akunnya dari penahanan.
Kemala hanya bisa menuruti keinginan Adi paling tidak kekasihnya ini sudah mengetahui cukup lama siapa-siapa saja yang bisa dijadikan teman dan yang perlu dihindari. Sedari kabar ini diberitahukan kepadanya, ia masih terus memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi apabila Ana terus mencari perkara. Terlebih ketika gadis itu sudah masuk ke dalam grup yang awalnya hanya mereka gunakan untuk curhat sesama perempuan, begitu ana masuk langsung berubah menjadi grup ajang ghibah antar penulis yang entah mengapa Ana selalu mengetahui siapa yang bermasalah meskipun itu dari editor yang lain.
Dan salah satu yang masuk ke dalam obrolan ghibah itu adalah Adi kekasihnya sendiri. Dan mungkin setiap hari akan ada aja yang menjadi target ghibah seorang ana.
"Kamu masih satu grup sama Ana?" Tanya Adi dan langsung diangguki oleh Kemala lantaran dirinya masih berada di grup yang baru terbentuk, grup itu juga terbentuk lantaran salah satu anggota yang sejatinya merupakan pendiri grup tersebut terkena masalah dengan editor, dan dengan tidak ada akhlaknya Ana beserta antek-antek nya membuat grup baru khusus membicarakan kesalahan rekan penulisnya tersebut.
"Kalau bisa keluar aja, itu pertemanan gak baik."
Kemala menyetujui nya, memang pertemanan yang dijalani Ana bukan jenis pertemanan yang baik. Tapi ia ingin berada di grup itu untuk melihat sejauh apa Ana bertingkah, paling tidak ia mengetahui penulis yang telah Ana ghibahi .
"Berarti Mala jadi korban lah ini kan yah?" Tanya Kemala.
Adi tertawa ngakak melihat wajah frustasi kekasihnya yang sangat tampak sekali. "Yah lagian dari kemarin kan udah aku bilangin, kamu nya jangan terlalu Deket sama dia, lah kamunya keras kepala, degil. Jadi nya yah kayak gini."
"Kemala mana tau kalau itu dia nya jahat, di awal dia baik banget bantu Mala kok. Lah tiba-tiba jadi begini."
Kemala sebenarnya tidak habis pikir, apa yang dicari oleh ana? Kalau soal terkenal malah Ana lebih terkenal, pembacanya sudah ratusan ribu, pendapatan mungkin juga sudah besar, terus kenapa mengusik penulis lain? Kurang kerjaan saja.
"Udah lah gak usah bahas, by the way... Aku mau ke sana bulan Oktober kalau gak ada halangan, ikut saudara yang mau antar getah ke pabrik."
Deg!
Jantung Kemala terasa berdetak dengan tidak normal, baru seperti ini saja dirinya sudah gemetar, bagaimana jika bertemu beneran? Pingsan kali yah?
"Serius? Mau ke sini?"
"Yah tepatnya di pabrik daerah Siantar gitu katanya, dari Siantar ke tempat kamu berapa lama?"
Kemala sedikit berfikir, menghitung perkiraan waktu yang harus ditempuh Adi jika dari Siantar menuju ke kabupaten nya.
"Kira-kira 10-9 jam lagi gitulah, Mas. Lumayan jauh juga soal nya."
"Lumayan juga yah, tapi doain aja jadi deh biar bisa ke sana."
Mendengar ucapan Adi entah mengapa membuat Kemala merasa senang paling tidak Adi memiliki niat untuk serius dengan dirinya meskipun kita tidak akan pernah tahu bagaimana ke depannya nanti.
"Paling kalau gak jadi, aku ke sana sambil Bawak keluarga, gak papa kan?"
Kemala terdiam, ia masih mencerna informasi yang baru saja dikatakan oleh Adi yang sesungguhnya membuat ia takut, cemas dan perasaan bimbang lainnya. Bukan karena tidak suka atau pun tidak mau, hanya saja diri nya masih ada tanggung jawab dengan kedua orang tuanya yaitu harus sampai dengan gelas sarjananya baru ia menikah. Jika sudah membawa orang tua, kemungkinan nikah cepat pun pasti terjadi, dan itu sangat membuat Kemala merasa bersalah nanti nya kepada kedua orang tuanya yang sudah bersusah payah menyekolahkan dirinya sampai ke jenjang universitas tapi harus melihat anaknya menikah di tengah jalannya perkuliahan semester akhir.
"Gimana kalau kita tunangan dulu?"
"HAH?" Teriak Kemala dengan kerasnya bahkan membuat Adi di seberang sana tertawa ngakak. Kepala Kemala.terasa berdenyut seketika, memikirkan untuk pertama kalinya seorang pemuda datang ke kediaman orang tuanya langsung membawa keluarga dan melakukan pertunangan. Well semua akan mengejutkan tetangga nya kalau begini mah.