Kalila duduk dengan gugup. Dia menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan takut. Pria itu terlihat seperti p*****l untuk Kalila. Apalagi tatapannya yang seolah menjadikan Kalila fantasi terliarnya. Kalila takut!
“Apa kamu tahu kenapa Ayah kamu ingin kita bertemu?”
Kalila diam saja. Dia tidak memiliki keinginan untuk menanggapi pria itu sama sekali.
“Kalila Beatrice. Itu nama kamu, bukan?”
Kalila terpaksa mengangguk karena dia sempat melirik pria itu dan terlihat bahwa pria itu sedang mengancamnya. Mungkin, dia tidak suka ketika Kalila diam saja. “Kalila, dengar baik-baik, Ayah kamu dilanda masalah karena dirinya sendiri. Dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya dan kini sedang dalam keadaan mendesak. Aku, sebagai orang yang meminjamkan uang kepada ayah kamu, ingin utangnya segera dilunasi.” Pria itu tersenyum miring. “Aku sudah memberikan banyak waktu untuknya membayar, Kalila, tapi dia membiarkannya terlewat begitu saja. Jadi, bukan salahku jika aku ingin mendapatkan apa yang seharusnya sudah menjadi hak aku, benar?”
Kalila menengguk ludahnya sendiri dengan gugup dan kasar. Sial, pria ini benar-benar membuatnya takut. “I-iya,” jawab Kalila tergagap.
“Kamu tahu, dia memberikan aku satu solusi yang aku anggapa akan sangat membawa keuntungan untukku.”
Kalila memberanikan diri untuk mendongak dan menatap pria itu tepat di depan matanya. “Kamu … yang mau … menjadi simpananku.”
Mata Kalila membola. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengumpat di depan pria itu. Tunggu, ini sebenarnya dia yang terlalu naif dan bodoh atau ayahnya yang memang terlalu b***t?!
Kalila mengerti bahwa pria ini membutuhkannya sedari awal. Tapi, dia tidak menyangka bahwa dia akan dijadikan istri. Maksudnya, awalnya Kalila berpikir bahwa dia hanya akan bekerja untuk pria itu. Bekerja dalam artian sebenarnya dan bukan yang macam-macam.
Sial!
Kalila dibodohi.
“Apa Bapak berpikir aku akan langsung menerimanya?” Kalila menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya. “Simpanan? Ketika aku saja masih memakai seragam sekolah? Shame on you!” Kalila tidak mau iya-iya saja ketika dia tahu bahwa dia sekarang dijadikan objek oleh lelaki hidung belang.
“Sayangnya, hanya itu yang aku inginkan agar ayah kamu sendiri terbebas dari utang yang melilitnya.” Pria itu bersandar dengan tenang sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Tidak mengindahkan Kalila yang kini sudah emosi. Tangan gadis itu mengepal erat di atas meja.
“Tidak! Aku tidak akan menerimanya. Jika memang Bapak ingin menagih utang pada ayahku, silakan tagih sendiri dan jangan melibatkan aku.”
Pria itu hanya tertawa, seolah emosi yang dikeluarkan oleh Kalila bukanlah apa-apa. “Kamu masih kecil, tapi kamu berlagak seolah kamu bisa menghidupi kebutuhan kamu sendiri.”
“Oh, untuk Bapak ketahui saja, aku memang sudah hidup sendiri sejak empat tahun lalu. Jika Bapak ingin men-cap aku sebagai anak durhaka, tolong lihat dulu bagaimana Ayahku memperlakukan aku selama ini dan mungkin Bapak akan mengetahui jawabannya.” Kalila memutuskan untuk pergi dari sana sebelum dia menumpahkan minumannya ke wajah m***m pria itu.
Sial.
Yang benar saja? Menjadi simpanan?
Kalila tahu ayahnya memang sangat berengsek, tapi ia tidak tahu kalau dia akan dijadikan simpanan.
“Kal?” Oh ternyata Si Berengsek itu berada di luar restoran, menunggu keputusannya sambil merokok dengan santai. Jika Kalila tidak ingat bahwa pria itu adalah ayahnya, mungkin dia sudah menampar pria itu.
“Apa? Ayah ingin bertanya apakah aku bersedia dijadikan simpanan hanya untuk melunasi utang Ayah, well, jawabannya tidak. Sedari awal harusnya aku tahu maksud dari berkenalan menurut Ayah adalah menjadikan aku simpanan.” Kalila berdesis dengan penuh kekesalan yang ditahannya, karena jika tidak, dia mungkin akan melakukan kekerasan pada ayahnya sendiri di tempat umum.
“Kalila, apa maksud kamu? Kamu tidak mau membantu Ayah?”
“Dan apa maksud Ayah? Ayah ingin menjual aku pada teman Ayah dan menjadikan aku simpanan dia? Aku tidak mengerti bagaimana Ayah masih memiliki harga diri untuk menunjukkan wajah Ayah di depanku.” Kalila menggelengkan kepalanya. “Aku berharap tidak lagi bertemu dengan pria seberengsek Ayah di kehidupanku selanjutnya.”
Kalila bisa saja melaporkan tindakan Ayahnya sendiri dan teman Ayahnya itu kepada kepolisian, namun hal pertama yang harus ia lakukan sekarang adalah menjauh dari ayahnya sendiri.
***
“Apa?!”
Ini pertama kalinya Kalila melihat kemarahan Atlas. Kakak laki-lakinya itu mengepalkan tangannya dengan erat dan berdesis kesal ketika mendengar apa yang baru saja Kalila katakan padanya.
Kalila hanya bisa menatapnya sendu. “Memangnya, aku tidak seberharga itu, ya, Atlas? Aku memang tidak berguna hingga ayahku berpikir kalau menjadikan aku sebagai simpanan guna melunasi utang-utangnya adalah hal yang benar?”
Atlas menggeleng. Dia menyentuh dagu Kalila agar gadis itu mau menatapnya. “Kal, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak pernah melihat kamu begitu, Kalila, kamu berharga untukku.”
Jangan sampai keadaan Kalila yang sedang terpuruk ini membuat perasaannya pada Atlas semakin tumbuh tidak terkendali. Bisa-bisa, Kalila hanya akan kembali terpuruk karena tidak bisa lepas dari Atlas. “Kal, Ayah kita memang berengsek, tapi jangan sampai dia membuat kamu berpikir kalau kamu tidak berharga.”
Atlas tidak terima ketika Kalila menceritakan apa yang baru saja ia alami. Dia juga sedikit kesal dengan Kalila yang entah memiliki hati yang terlalu baik, atau memang gadis itu tidak tega pada ayah mereka sekalipun pria tersebut sudah menelantarkan mereka sejak lama. “Kamu tahu siapa nama pria itu?”
Kalila menggeleng. Dia tidak sempat memikirkan nama pria itu karena satu-satunya hal yang dia inginkan adalah kabur dari sana.
Atlas berdecak. Andai saja dia tahu, mungkin dia akan mencari pria itu dan menghajarnya habis-habisan. Gila saja, p****************g itu ingin menjadikan adik satu-satunya sebagai istri simpanannya? Tolong langkahi dulu mayatnya sebelum pria itu melakukannya.
“Atlas.”
“Hm?”
Kalila memberanikan diri mendekat ke arah Atlas dan menggenggam tangan lelaki itu. “Terima kasih sudah menenangkan aku.”
Tanpa Kalila sangka, lelaki itu malah memeluknya dengan erat. Sangat erat hingga Kalila tidak percaya bahwa sekarang dia berada di dekapan kakaknya sendiri. Andai jika Kalila tidak memiliki perasaan aneh ini pada Atlas, mungkin dia akan membalas pelukannya tanpa ragu.
“Kal, kamu adik aku satu-satunya dan keluarga yang paling dekat denganku. Tidak mungkin aku membiarkan kamu kesusahan dan sedih sendirian.” Lelaki itu meregangkan pelukannya dan membuat Kalila merasa kehilangan.
“Kamu tahu kalau kamu selalu bisa mengandalkan aku dalam hal apapun, bukan?”
Kalila mengangguk. Dia bersyukur, setidaknya, ada Atlas di sisinya yang akan membuatnya lebih tenang. Kalila tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia menghadapi ini semua sendirian. Karena pada akhirnya, Kalila menyadari, bahwa dia kuat selama ini menghadapi kehidupannya yang sulit dengan Atlas di sisinya.
Lelaki itu yang menguatkannya.
Sayangnya, perhatian Atlas diterima secara berbeda oleh Kalila. Andai jika Kalila tidak memiliki perasaan itu, semuanya akan menjadi lebih mudah, bukan?
Kalila tidak tahu sampai kapan dia bisa menahan diri untuk tidak mengutarakan perasannya pada Atlas. Tapi dia tahu, dia harus menahannya selama mungkin—sampai setidaknya dia yakin bisa hidup sendiri. Benar-benar sendiri dengan kedua kakinya.
***