Matteo datang ke ruangannya pagi itu dengan suasana hati yang tidak terlalu buruk. Setidaknya, belum ada hal yang terjadi di pagi hari ini yang akan membuatnya kesal. “Pagi, Pak Matteo.” Sekretarisnya menundukkan kepalanya dengan sopan dan memberikan dokumen kepada Matteo. “Berikut jadwal rapat yang akan Bapak hadiri hari ini.”
Matteo mengangguk dan membacanya dengan teliti. “Investor lagi? Bukankah kita sudah sepakat dengan desain gedung yang sebelumnya sudah dibicarakan? Apa ada hal yang kurang menurut investor kita?”
Sekretarisnya tampak bingung. Hingga akhirnya sang wanita ingat bahwa Matteo memiliki tamu lain sebagai investor yang akan rapat dengannya. “Pak, sebenarnya investor itu baru bergabung dengan investor sebelumnya.”
“Maksudnya?”
“Perusahaannya merger dengan perusahaan investor Bapak dan beliau ingin ikut serta dalam pembangunan gedung ini.”
Matteo mengeryitkan dahinya. “That is not allowed.” Sekalipun sebenarnya sah-sah saja, jika kliennya meminta untuk ada investor lain yang bergabung, namun Matteo ingin semuanya berjalan sesuai dengan peraturannya, dan kali ini menurut peraturannya hal itu tidak diperbolehkan.
“Tapi, Pak, beliau sudah akan datang kemari.”
“Siapa namanya? Kenapa tidak bertemu denganku dulu sebelumnya, in a proper way. Tidak mendadak seperti ini.” Baru saja Matteo mengatakan dalam hati bahwa paginya sekarang tidak terlalu buruk, namun ternyata dia salah besar.
“Nino Jehan.”
“Apa?” Matteo tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Nino? Hanya ada satu Nino yang ia kenal dan itu adalah suami dari mantan kekasihnya.
Ayolah, menghindari mantan kekasihnya adalah hal yang paling dia inginkan untuk sekarang. Dia tidak ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan wanita itu termasuk dengan orang-orang yang berhubungan dengan wanita itu.
“Maaf saya tidak menguhubungi Bapak sebelumnya, karena mereka memberitahu secara mendadak—”
Pintu ruangan Matteo tiba-tiba terbuka dan membuat atensi dua orang yang berada di sana teralihkan ke ambang pintu ruangan Matteo. Matteo semakin tidak mengerti dan kesal bukan main saat melihat Aya berada di sana. “Halo, Matt. Selamat pagi.” Aya melangkahkan kakinya tanpa dosa dan seolah buta ketika melihat ekspresi Matteo yang jelas-jelas tidak menginginkan dia di sana.
“Aya, apa yang kamu lakukan di sini? Apa lagi yang kamu mau?” tanya Matteo dengan sinis. Melihat suasana yang tidak akan berjalan dengan baik di sekitarnya membuat sekretaris Matteo memilih untuk undur diri dan tidak terlibat dalam permasalahan apapun yang akan dihadapi oleh pria itu dan tamunya.
Aya tersenyum dan duduk di hadapan Matteo begitu saja. Dia menaruh tasnya di meja kerja Matteo seolah dia tidak tahu sopan santun. “Aku mengganggu pagi kamu, ya? Maaf, aku tidak tahu jika suami aku memiliki urusan lain sehingga menyuruh aku untuk menemui kamu cepat-cepat.”
Matteo sungguh tidak mengerti. Bagaimana mungkin mantan kekasihnya yang tiba-tiba menghilang beberapa tahun lalu, kini seolah selalu mencari celah untuk menemuinya? Matteo tidak besar kepala, karena dia tahu memang itu yang terjadi. “Apa yang kamu rencanakan? Apa maksud kamu dengan memasukkan nama suami kamu ke dalam investorku?”
Aya tetap tersenyum kecil. Dia senang melihat keryitan di dahi Matteo, hal itu membuat mata pria itu yang biasanya menatapnya hangat menjadi tajam dan dingin. “Aku suka mata kamu,” ujar Aya tidak tahu malu.
“Aya!” Matteo menaikkan nada suaranya. Aya terlonjak kaget, tentu saja. Namun, hal itu tidak membuatnya untuk menyerah begitu saja. Nyatanya, Aya kembali menatap Matteo dengan berani.
“Matt, tidak baik berteriak di depan tamu kamu. Aku yakin kamu paham tata krama dasar seperti itu, bukan?” Aya tersenyum geli. “Dengar, aku juga tidak tahu bagaimana Nino bersatu dengan perusahaan investor kamu. Aku tidak pernah mengerti apa yang dilakukan suami aku, Matt. Tapi, ketika dia membutuhkan aku untuk bertemu dengan kamu, maka aku sebagai istri yang baik, harus melakukannya, bukan?”
Matteo menahan emosinya. Dia berdecak pelan dan memalingkan wajahnya ke arah lain, Wajah menyebalkan dari Aya adalah hal yang paling tidak ia sukai. “Lalu, apa mau kamu?”
“Kita ada rapat, bukan? Matteo, aku tahu kamu masih tidak menyukai aku atas apa yang terjadi pada kita, tapi kamu tahu sendiri kalau akan lebih baik jika sementara kita memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan, bukan?”
Matteo tidak tahu apa yang direncanakan oleh wanita licik ini, tapi ia tahu apapun yang akan dilakukannya akan sangat berbahaya untuk dirinya sendiri. Aya bukan lagi gadis polos yang dulu Matteo sukai, kini wanita itu berubah menjadi wanita ular yang entah bagaimana bisa membuat Matteo membencinya setengah mati.
“Aya, apapun yang kamu inginkan dariku, tolong jangan seret aku dalam masalah yang kamu hadapi. Kita sudah usai, itu yang harus kamu tahu in the first place.”
***
Matteo harusnya tahu bahwa rapat yang diadakannya dengan timnya dan juga Aya tidak akan berjalan lancar. Sebenarnya, semuanya akan lebih mudah jika dia rapat dengan timnya—seperti yang sudah mereka lakukan seperti biasa, namun kehadiran wanita itu membuatnya sulit.
Matteo paham bahwa wanita itu tidak pernah tahu soal desain ataupun saham. Aya tidak mengerti dengan apapun dengan apa yang mereka bahas kali ini.
Wanita itu hanya mempersulit dirinya saja.
“Jadi, apa semua setuju?”
“Aku—”
“Nyonya Aya, posisi Anda memang sebagai investor di sini, tapi saya yakin yang seharusnya berada di sini adalah suami Anda, jadi seharusnya Anda tidak melakukan banyak protes yang menghambat rapat ini.” Matteo yakin bukan hanya dirinya saja yang kesal akibat Aya yang bersikap semena-mena. Dia tahu para anak buahnya juga menahan diri untuk tidak mengumpat pada wanita itu.
“Tapi, saran dan kritik saya juga patut dipertimbangkan, bukan? Pak Matteo, memangnya sudah berapa lama Anda menjalankan bisnis besar seperti ini? Saya yakin ini bukan kali pertama, dan pasti Anda tahu bagaimana menghargai pendapat dari tamu Anda, bukan?” Matteo berdesis kesal. Dia kembali harus menahan dirinya sendiri agar tidak meluapkan emosinya sekarang. Citranya sebagai pimpinan yang bijak dan baik hati akan hancur lebur jika dia melakukannya.
“Sayangnya, Nyonya Aya, sedari tadi yang Anda utarakan hanya kritik. Saya sama sekali tidak mendengar saran apapun dari Anda. Anda terus saja menyanggah ide dari para rekan kerja saya. Sebagai orang yang dengan hormat menjadi perwakilan dari suami Anda, seharusnya Anda tahu bahwa hal itu tidak sopan, bukan?”
Bukan hanya Matteo saja yang bangga atas dirinya sendiri yang berhasil membalikkan perkataan dari Aya, tapi hampir seluruh timnya di rapat tersebut ingin sekali bertepuk tangan mendengar ujaran Matteo yang telak membungkam Aya. Namun, mereka hanya bisa menyembunyikan senyuman meledek mereka karena tidak ingin membuat keadaan semakin kacau.
“Baiklah, Anda menang, Pak Matteo.” Matteo dapat menangkap maksud lain dari perkataan Aya itu; tunggu giliran kamu setelah ini, Matteo Aarav.
Matteo hanya tersenyum miring. Oke, jika wanita itu memutuskan untuk mengganggu hidupnya sedari sekarang, maka Matteo memiliki seribu satu cara untuk membuatnya lebih malu dan menyesal.
***