“… aku sedikit bersyukur tadi Pak Matteo mau menentangnya …”
“… dia tidak tahu malu, bukankah memang seharusnya suaminya yang datang kemari hari ini?”
Aya sudah berada di luar ruangan rapat dan mendengar desas-desus tentang dirinya sendiri dari peserta rapat tadi. Dia hanya bisa tersenyum masam sambil berdiri di samping pintu ruangan itu, menunggu Matteo untuk keluar dari sana. Ketika Aya menoleh, tepat saat itu juga Matteo melangkahkan kakinya melewati pintu itu. “Matteo!” serunya dengan ceria, seolah dia lupa bahwa beberapa menit yang lalu, dia berhasil membuat Matteo kehilangan kesabarannya sendiri.
Matteo menatapnya malas dan memutar bola matanya. Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan wanita ini, tapi sepertinya Aya tidak memiliki kegiatan lain selain mengganggunya. “Ada apa?” tanya Matteo sambil berjalan melewati wanita itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam masing-masing saku celananya.
Aya kesulitan menyesuaikan langkah kakinya dengan Matteo. Pria itu seolah ingin menghindarinya setengah mampus. “Apa kita bisa makan siang bersama? Aku tidak memiliki jadwal apapun setelah ini, dan akan sangat menyedihkan untukku jika harus makan siang sendiri.”
Matteo mendengus dan tersenyum kecil pada wanita itu. “Apa kamu ingin makan siang denganku?” Matteo melirik wanita yang mencoba untuk mensejajarkan langkah dengannya dan hanya bisa menatapnya meremehkan. Dia melihat binar senang di kedua mata wanita tersebut.
“Iya! Akan sangat bagus jika kamu mau menemani aku makan siang.”
Matteo mengendikkan bahunya. “Well, aku tidak tahu.”
“Aku memaksa.”
Matteo bertanya-tanya, apakah ada wanita lain yang lebih tidak tahu malu dibandingkan wanita yang disampingnya sekarang? Rasanya, Matteo ingin sekali menyadarkan Aya bahwa dia tidak ingin bertemu lagi dengannya.
“Apa yang mengharuskan aku untuk mengiyakan ajakan kamu, then?”
Aya memperlambat langkahnya dan menatap Matteo dalam diam. Hal itu membuat Matteo mengangkat sebelah alisnya dan ikut menghentikan langkahnya. “Hm?” gumamnya kembali bertanya pada wanita itu.
“Bukankah kita memiliki masalah yang belum selesai, Matteo Aarav? Kamu tidak ingin mendengar apa yang terjadi setelah kita berpisah? Aku ingin menjelaskan semuanya, Matteo. Kamu salah sangka sejak dulu dan aku ingin meluruskannya sekarang juga.” Aya bersikeras. Dia mengepalkan sebelah tangannya demi menahan gejolak keinginan menarik Matteo untuk ikut dengannya.
Matteo hanya bisa mencemooh dalam hati. “Oke, tapi biar aku perjelas terlebih dahulu. Kita tidak berpisah, tapi kamu-lah yang lebih dulu meninggalkan aku. Dan ingat, makan siang kita ini akan menjadi yang terakhir.”
Aya mengangguk setuju. Mungkin Matteo bisa mengatakan itu, tapi Aya yakin, tidak akan ada yang bisa menghentikannya untuk menemui Matteo di kemudian hari, walaupun pria itu tidak menginginkannya.
Matteo berakhir bersama Aya di kafe yang tidak jauh dari kantor Matteo. Pria itu duduk di hadapan Aya yang sibuk memilih-milih menu makan siang untuknya. “Sama-kan saja dengan dia,” ujarnya pada akhirnya berbicara kepada pelayan yang menunggu mereka sejak tadi. Matteo mendengus sebal. Ternyata, bukan hanya saat meeting saja wanita itu sungguh menyulitkan, namun ketika sedang memesan makanan juga, wanita itu sangat menyusahkan.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”
Aya tersenyum. “Jangan terburu-buru, Matteo. Kita sudah lama tidak bertemu, apa kamu tidak ingin menanyakan kabarku untuk sekadar berbasa-basi? Aku rasa, hal itu akan lebih menyenangkan.”
Matteo melipat kedua tangannya di depan tubuhnya sambil mengendikkan bahunya. “Aku melihat kamu sekarang dan kamu baik-baik saja. Aku tidak suka berbasa-basi, apalagi dengan orang yang membuang waktuku secara sia-sia.”
Aya hanya menghela napas. “Aku dan suamiku dijodohkan, Matteo.” Aya berkata dengan tenang. Namun, pandangannya menghindari tatapan Matteo.
Matteo sendiri tidak paham kenapa hal itu yang membuat Aya harus mengobrol dengannya, karena Matteo tidak melihat bahwa topik soal pernikahan Aya dengan suaminya sekarang sangatlah penting dan berhubungan dengannya. “Lalu?” Matteo mencoba untuk bersabar. Dia menahan diri untuk tidak bangkit dari duduknya dan meninggalkan Aya sendirian di sana.
Walaupun wanita di hadapannya ini sangat menguji kesabarannya, tapi Matteo masih memiliki hati nurani untuk tidak membuat wanita itu malu.
“Aku tidak mencintainya, Matteo. Dia dan keluargaku memiliki perjanjian yang tidak aku mengerti sehingga aku harus menerimanya sebagai suamiku entah aku mau apa tidak. Aku tidak pernah mau menghabiskan sisa hidupku bersamanya.” Aya tiba-tiba saja menjadi lebih emosional. Matanya berkaca-kaca dan nada suaranya menjadi serak. Matteo beberapa kali berdehem dan melirik ke sekitarnya. Gawat jika orang-orang di kafe itu berpikiran bahwa dia-lah yang sudah membuat Aya menangis.
“Aya, apa hubungannya denganku? Aku rasa, kita tidak sedekat itu hingga kamu harus menceritakan semua ini padaku begitu saja.”
Aya menghela napas. “Aku tidak pernah memiliki tempat untuk bercerita. Aku tidak punya teman, kamu tahu itu. Dan … itu juga yang membuat aku terpaksa untuk meninggalkan kamu beberapa tahun yang lalu.”
Matteo menyipitkan kedua matanya. Sudah lama Aya meninggalkannya hingga Matteo sendiri lupa kapan tepatnya mereka berpisah. Rasanya sedikit tidak mungkin jika Aya meninggalkannya karena dia harus dijodohkan dengan suaminya sekarang. “Jika kamu mau berbohong, Aya, tolong pertimbangkan dulu. Sekarang kebohongan kamu terlihat jelas.” Matteo hanya tersenyum miring karena berhasil membuat Aya mati kutu di tempatnya.
“Tidak, Matteo. Aku tidak berniat untuk berbohong pada kamu. Aku memang melakukannya karena orang tua aku sudah terlebih dahulu memiliki perjanjian dengannya. Mereka tidak ingin aku berhubungan dengan kamu lagi, Matteo, itu masalahnya.”
“Dan kamu menjelaskan semua ini untuk?” Matteo menggantungkan ucapannya. “Aku tidak tahu kenapa kamu mengatakannya, Aya, karena itu sama sekali tidak akan mengubah apapun soal kita.”
“Matt, I still love you.” Aya berujar dengan air mata yang mengalir pada pipinya. “Aku masih mencintai kamu sampai sekarang.”
Matteo menggelengkan kepalanya. Wanita ini gila—karena mau seberapa banyak pun Aya mengatakan kalau dia mencintai dirinya, Matteo tetap tidak akan kembali.
“Kamu semakin melantur.” Matteo tidak kuat duduk di hadapan Aya dan dia akan bangkit untuk meninggalkan wanita itu, namun Aya langsung mencegahnya.
“Apa kita tidak ada kesempatan, Matt? Apa kamu akan membiarkan aku terjebak dalam pernikahan yang tidak aku inginkan?”
Matteo menghela napas. “Sayangnya, aku tidak peduli. Aku tidak lagi mencintai kamu ataupun mengkhwatirkan kamu, Aya, itu masalahnya.” Matteo berujar dengan serius. Dia tidak ingin hidup tenang-nya diganggu oleh kehadiran wanita itu. Jika bisa memutar waktu, Matteo tidak ingin hadir ke pernikahan Aya tempo hari—karena ini semua berasal dari sana.
“Matt, kamu tidak bisa menghindar dari aku.”
Matteo tertawa. “Kamu pikir kamu siapa, Aya? Bagaimana bisa kamu memiliki keberanian untuk menghalangi dan mengatur-atur aku?”
“Kita akan sering bertemu, Matt. Kamu harus mempersiapkan diri kamu sendiri bahwa aku tidak akan menyerah sekalipun statusku sudah menjadi milik orang lain. Aku tidak mencintai suamiku dan itu yang harus kamu tahu. Aku akan mendapatkan apa yang aku mau.”
Matteo menggelengkan kepalanya pelan. Lama-lama dia bisa beprikir bahwa Aya gila. Kasihan sekali wanita itu.
***