Setelah menolak permintaan dari ayahnya, Kalila beruntung karena pria itu tidak lagi mengganggunya. Ayahnya kembali menghilang entah kemana dan untuk kali ini, Kalila tidak peduli. Dia sudah terlanjur sakit hati ketika tahu bahwa ayahnya rela menjual anaknya sendiri pada temannya demi melunasi utangnya.
Bukan salah Kalila ketika ayahnya berutang, tapi kenapa dia yang harus menanggung semuanya? Rasanya tidak adil dan Kalila tidak mau mengorbankan masa depannya untuk p****************g itu.
“Kal, tidak bekerja?”
Atlas menghampirinya dengan dua gelas coklat panas di tangannya. Ah, lelaki ini seolah memiliki insting yang tahu kapan harus menenangkan Kalila di waktu yang tepat. Atlas seolah menjelma menjadi malaikat pelindungnya ketika tahu apa yang dilakukan ayah mereka. Lelaki itu duduk di sampingnya dan menyodorkan gelas minuman itu. “Terima kasih,” ujar Kalila dengan senyuman tipis di wajahnya.
“Aku akan berangkat kerja, tapi tidak sekarang.” Kalila melihat jam dinding di ruangan itu. Masih ada satu jam lagi hingga jadwal masuk kerjanya sebagai barista di klub malam, namun entah kenapa Kalila sedang malas sekali bekerja, walaupun dia tahu dia tidak akan bisa menyambung kebutuhan hidupnya jika dia tidak bekerja.
“Kamu bisa izin jika sedang merasa tidak ingin bekerja, Kal.” Atlas membawa Kalila masuk ke pelukannya dan membuat Kalila menyandarkan kepalanya pada pundak lelaki itu. Gerakan Atlas membuat Kalila terdiam sejenak. Tubuhnya membeku. Dia bingung harus bereaksi seperti apa.
Atlas tidak pernah menghakimi adiknya sendiri ketika tahu Kalila bekerja di sebuah klub, karena dia tahu Kalila tidak akan berbuat macam-macam di sana. Dia hanya menjadi seorang barista, tidak lebih. Namun, ketika tahu bahwa teman ayahnya—yang bermaksud untuk menjadikan adiknya sendiri istri simpanannya—juga mungkin bisa berada di klub yang sama, Atlas menjadi takut.
“Kalila.”
“Hm?” tanya Kalila. Dia memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya dan menatap Atlas tepat di matanya. “Kenapa?”
Tatapan mereka terkunci dan tidak ada salah satu dari mereka yang ingin melepaskannya. Sebelah tangan Atlas dia gunakan untuk mengusap pipi lembut Kalila. “Jika ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman bekerja di sana, tolong beri tahu aku, ya.”
Kalila merasa bahwa Atlas belum pernah bertingkah selembut ini padanya. Atlas bukan pria yang bisa lemah lembut, jadi Kalila sedikit tersanjung dengan sikap Atlas sekarang.
“Pasti.” Kalila menjawab dengan senyuman menghias di wajahnya. Bagaimana dia bisa melupakan perasaannya dengan pria ini jika Atlas terus bersikap lembut padanya?
***
Walaupun enggan, Kalila tetap pergi ke klub itu untuk bekerja. Kini, sudah jam sembilan malam dan semakin banyak pelanggan yang memesan minuman padanya. Kalila lelah, tapi jam kerjanya belum usai. Kembali dia ingat bahwa dia tidak memiliki siapapun untuk ia andalkan, jadi dia harus bekerja keras agar tetap bisa hidup.
“Siapa dia?”
Kalila sedang melayani salah satu pelanggannya ketika seorang pria datang ke meja bar dan menunjuknya. Kalila melirik tidak suka, namun tentu saja dia menahan dirinya. Tidak mungkin dia mengatakan secara langsung kalau dia tidak suka ditunjuk sambil ditatap remeh seperti itu.
“Jasmine?” tanyanya lagi ketika salah satu rekan kerjanya memberitahu namanya.
“Hanya barista?”
Oke, Kalila semakin awas dengan pria-pria yang menanyakan namanya dan menatapnya seolah dia bisa dipakai. Astaga, apakah Kalila harus mengadakan pengumuman untuk mereka bahwa seorang barista, hanyalah barista dan tidak bisa disamakan dengan p*****r yang bisa mereka pesan.
Kalila menghela napasnya ketika pria tadi menggeser tubuhnya untuk duduk di hadapannya. “Senang berkenalan dengan kamu, Jasmine.” Dia mengulurkan tangannya kepada Kalila yang langsung dibalas keryitan di dahi Kalila. “Kamu tidak ingin berkenalan denganku, ya?”
Oh, apa pria ini buta? Bukankah jawabannya sudah dapat ia ketahui dari raut wajah Kalila yang sangat tidak bersahabat sekarang? Kalila tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun pada pria itu.
“Kamu tahu, tidak sopan jika kamu bersikap kurang ajar pada tamu kamu sendiri, bukan?” Bagus. Kini, pria itu mencoba untuk memanipulasinya. Karena tidak ingin dipecat karena perilakunya, dengan enggan Kalila mengulurkan tangannya pada pria itu yang langsung disambut dengan senyuman miring oleh pria tersebut.
“Aku Jack.”
Oh, aku tidak peduli.
“Apa kita bisa berkenalan lebih dalam lagi? Aku bisa menunggu sampai jam kerja kamu selesai.” Tolong, Kalila memiliki trauma dengan p****************g sekarang. Dia tidak mungkin mengiyakan ajakan pria itu karena dia tidak akan mau berada di posisi yang sama seperti ketika dia bertemu teman ayahnya tempo hari.
“Tidak. Aku bekerja sampai pagi,” elak Kalila. Dia kembali berkonsentrasi pada apa yang dia kerjakan sebelumnya.
Pria itu berdecak. “Ayolah, jangan jual mahal.” Tiba-tiba saja pria itu mencekal pergelangan tangannya dan membuatnya tersentak.
“Lepaskan tanganku.”
“Tidak sebelum kamu menjawab aku.”
“Jawabannya tidak.” Oke. Kalila takut. Dia tidak suka dengan sikap pria itu padanya sekarang.
“Aku—”
“Lepaskan tangan Anda, Tuan.” Keduanya sama-sama menoleh ke arah yang sama ketika ada seseorang yang berkata dengan tegas pada pria itu.
“Siapa kamu?”
“Matteo?”
Matteo Aarav. Pria yang ingin sekali Kalila hindari setengah mati. Pria yang menjadi donatur yayasannya. Kini pria itu duduk di samping pria yang mencekal pergelangan tangan Kalila. “Aku hanya pelanggan di sini juga, Tuan. Tapi, aku masih memiliki akal sehat untuk tidak mengganggu barista yang ada di sini.”
Matteo berkata santai dan tersenyum pada pria itu. “Jadi, Anda bisa melepaskan pergelangan tangannya sekarang, Tuan. Anda membuatnya takut.”
Tanpa Matteo sadari, kini aura mengintimidasi keluar dengan sangat jelas darinya. Kalila sendiri sampai gugup melihatnya. Pria itu akhirnya pergi meninggalkan Kalila dan Matteo. Kalila bisa menghembuskan napasnya lega.
“Kamu harus berterima kasih padaku.”
Oh, dan Kalila lupa bahwa ada satu orang lagi yang membuat pekerjaannya terhambat sekarang. Yap, siapa lagi jika bukan Matteo Aarav—pria yang tadi menyelamatkannya, namun juga sangat menyebalkan. Kalila hanya bisa menghela napasnya.
“Apa mau kamu?”
“Kamu tidak ingin berterima kasih padaku karena aku sudah menolong kamu tadi, Kalila?’
Kalila berdecak. “Dengar, selama di sini, panggil aku dengan sebutan Jasmine. Tidak ada yang tahu siapa nama asliku selain kamu, mengerti, Pak Matteo?”
Kalila tidak peduli sekalipun pria ini menganggapnya tidak sopan. Matteo Aarav tetap menyebalkan di matanya.
“Oh, begitu. Apa aku harus memanggil kembali pria itu agar kamu ketakutan sendiri?”
Kalila berdecak dan tertawa kecil—meledek pria itu yang mencoba untuk membuatnya takut. “Jadi sekarang kamu ingin mengancam aku?”
“Dan apa sekarang kamu masih membenci aku?”
Kalila mengeryitkan dahinya. Tidak mengerti kenapa pria ini berbicara melantur. Akhirnya, dia pasrah berdebat dengan Matteo. “Baiklah, apa yang kamu mau?” Matteo tersenyum diam-diam menyadari wanita ini kalah. Dia lalu menyebutkan minuman yang ia pesan.
Matteo terdiam sambil sesekali menengguk minumannya dan Kalila kembali melayani pelanggan yang lain. Namun, beberapa kali Kalila melirik ke arah pria itu. Matteo memang menyebalkan, tapi Kalila merasa ada yang salah dengan pria itu malam ini.
Apa dia sedang ada masalah juga?
***