Merelakan, apalagi merelakan yang paling di sayang, apapun itu pasti akan sangat sulit. Karena yang di sayang pasti akan memiliki tempat paling istimewa di dalam hati, dan semua yang pernah di alami dengan sesuatu yang tersayang itu pasti akan terkenang dengan sangat apik dalam ingatan, hingga akan sangat sulit untuk di relakan dan di lupakan. Mungkin, akan ada banyak waktu yang terbuang untuk menyisihkan dan menggantinya dengan yang baru, karena menyisihkan kenangan lama tidak semudah menghapus data.
“Sayang, maafkan Kak Hasan ya, sebenarnya Bunda sama seperti Umma mu, Bunda ingin kalian bersama meskipun usia kalian terpaut cukup jauh, hanya saja Bunda tidak bisa melakukan apa – apa saat Hasan sudah menentukan pilihannya” ujar Risa, sambil menggangam tangan Maryam yang saat itu ada di dekatnya.
“Sejak masih remaja, Hasan sangat jarang bahkan nyaris tidak pernah menceritakan tentang kesulitan, kesedihan, dan apa yang dia inginkan, sekarang setelah sekian lama dia baru mengatakan jika dia ingin melamar seorang perempuan, jadi Bunda pikir jika dia bisa memilih, mungkin perempuan itulah yang sudah berhasil membuat dia nyaman, terlebih Natasya adalah teman masa kecil Hasan yang usianya memang hanya berbeda beberapa tahun saja dengan Hasan” lanjut Risa, sambil memandang wajah Maryam.
“Ikhlaskan rasa cinta di hati mu, dan Insya Allah nanti Allah akan memberikan pendamping yang jauh lebih baik dari Hasan untuk kamu” ujar Risa, sambil membawa Maryam ke dalam dekapannya.
Mencintai, itulah yang selalu terlintas dalam benak Risa setiap kali melihat Hasan dan Maryam. Sudah sejak lama ibu dari Hasan itu tahu jika gadis yang saat itu ada dalam dekapannya menyimpan sebuah perasaan istimewa terhadap putranya. Awalnya, Risa bahagia saat menyadari fakta itu, hanya saja dia sadar semua tidak bisa berjalan sesuai yang dia pikirkan saat dia sadar putranya mempunyai pilihan yang lain.
“Bunda kenapa bilang begitu, aku menyayangi Kak Hasan seperti Kakak ku sendiri, aku bahagia akhirnya Kak Hasan sudah menemukan belahan jiwanya, dan aku harap perjalanan kisah mereka bisa segera sampai ke pelaminan dan mereka bisa hidup bahagia bersama anak – anak mereka juga nantinya” ujar Maryam, sambil mendongakan kepala tanpa melepas pelukannya pada tubuh Risa.
Sesaat, Risa tersenyum, kemudian mendaratkan satu kecupan hangat di dahi Maryam. “Bunda tahu sayang, cinta mu untuk putra Bunda itu lebih dari sekedar cinta seorang adik, dan itu tidak apa – apa, hanya saja maafkan putra Bunda yang tidak peka itu, dan Bunda harap kamu bisa lebih ikhlas membiarkan dia menikah bersama perempuan lain” ujar Risa, membuat Maryam sesaat terdiam sambil memandang Risa tepat di bagian matanya.
“Maaf Bunda, aku tidak bisa menahan perasaan ku, dan sebisa mungkin aku akan berusaha ikhlas Kak Hasan bersama Kak Natasya meskipun aku harus menelan bulat – bulat rasa sakit setiap melihat mereka bersama” ujar Maryam, sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Risa.
Terluka dan sakit, itu adalah hal yang pasti akan di rasakan Maryam, selama cinta itu masih hidup di dalam hatinya rasa sakit itu pasti akan selalu ada, dan Maryam terpaksa harus berteman dengan semua kesakitan itu.
Selama ini dia selalu bersembunyi di balik senyumannya, berharap semua orang tidak akan ada yang tahu tentang sebuah rasa yang berusaha dia sembunyikan dari banyak orang, tapi ternyata Risa bisa dengan mudah melihat semua cinta yang dia miliki untuk Hasan.
“Dan untuk Alin, kamu jangan kesal lagi sama Kak Hasan ya sayang, dia itu sayang sama kamu, sayang sekali, bahkan Ayah sama Bunda baru tahu kalau dia mendirikan sebuah rumah sakit ibu dan anak yang di beri nama Rumah Sakit Alina Sihiya, yang artinya dalam bahasa Turki Sihiya itu sehat, saat Bunda tanya kenapa dia memberi nama rumah sakit itu Alina Sihiya, kamu tahu jawaban apa yang Kakak mu sampaikan sayang ?” tanya Risa, dengan sebelah tangan yang masih dia gunakan untuk memeluk Maryam dan sebelah tangannya lagi dia gunakan untuk memeluk Alina yang sejak tadi memang ada di dekat mereka.
“Karena dia pernah melihat kamu untuk yang pertama kalinya di layar monitor saat pertama kali kamu ada dalam rahim Bunda, setelah itu dia bekerja keras di sela sekolah untuk menghidupi Bunda yang sedang mengandung kamu, dia pernah ada di fase merasa takut kehilangan saat melihat Bunda akan melahirkan kamu, hingga akhirnya semua yang dia rasakan dan lakukan bisa berbuah manis dengan melihat kamu tumbuh baik dan sehat, dan dia berharap ibu – ibu di luar sana juga bisa melahirkan di rumah sakitnya dan melihat anaknya tumbuh dengan sehat, dia berharap berdirinya Rumah Sakit Alina Sihiya itu bisa membawa kebaikan untuk anak – anak yang tidak sehat di luar sana” ujar Risa, sambil membelai kepala Alina yang tertutup kerudung.
“Ketika kamu memutuskan pulang dari rumah sakit saat Kak Hasan di rumah sakit, dia terlihat sedih hanya saja di hadapan kami dia berusaha untuk selalu tersenyum, percayalah sayang, Kak Hasan sangat menyayangi mu lebih dari apapun” ujar Risa, sambil tersenyum sambil menatap Alina tepat di bagian matanya.
“Bahkan, meskipun setelah Ayah datang dan kembali bersama kita, Kak Hasan masih belum sepenuhnya percaya kepada Ayah, dia masih sering di landa perasaan takut jika suatu hari Ayah menyakiti hati Bunda dan kamu, dia bekerja keras mengumpulkan uang untuk berjaga – jaga jika suatu hari kita harus terpaksa pergi lagi, maka dia sudah punya uang untuk memberikan kita kehidupan yang layak, semua pengakuan itu baru Kakak mu sampaikan saat dia di rumah sakit” ujar Risa, yang berhasil membuat perasaan Alina merasa tersentuh mendengar semua cerita tentang kakaknya.
Alina langsung memeluk bundanya dengan air mata yang tanpa sadar jatuh membasahi pipinya. Alina sadar selama ini Hasan sangat begitu menyayangi dan menjaganya, dia sering kali mengalah demi kebahagiaannya. Namun, Alina juga sadar, jika selama ini dia justru sering kali bersikap tidak baik kepada Kakaknya, dia sering marah tanpa alasan, yang dia yakin hal itu pasti akan membuat perasaan Hasan merasa terluka tanpa sengaja.
Suara nada tanda ada sebuah pesan yang masuk dari ponsel Risa berhasil membuat mereka langsung kembali sadar dan tidak lagi tenggelam dalam cerita haru yang baru saja di sampaikan Risa.
“Bunda pulang dulu ya Kak Hasan sudah jemput, kalian baik – baik di sini, maaf Bunda belum bisa menemani kalian menginap di sini” ujar Risa, sambil mencium dahi kedua putrinya dengan penuh kasih sayang.
Namun, baru saja Risa hendak beranjak bangkit, tiba – tiba Alina mengatakan jika dia ingin bertemu dan bicara lebih dulu dengan Kakaknya. Melihat anggukan kepala Risa, Alina lansung bangkit dari posisinya dan berjalan sedikit tergesa menuju teras depan rumah Maryam. Sesaat, dia hanya diam memandang tubuh Hasan yang saat itu sedang berdiri membelakanginya, matanya tiba – tiba kembali memanas saat dia teringat cerita yang baru Risa sampaikan tentang Hasan kembali terngiang di telinganya.
“Alin, kamu kenapa ? ko nangis ?” tanya Hasan, sambil menangkup pipi adiknya ketika dia berbalik dan menemukan Alina yang sedang berdiri sambil menatapnya.
“Kamu kenapa nangis ? sakit ?” tanya Hasan lagi, saat Alina hanya diam tidak memberikan jawaban.
Kemudian, Alina langsung memeluk Hasan hingga membuat laki – laki itu sesaat terdiam karena merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Alina. Namun, sesaat kemudian Hasan tetap membalas pelukan adiknya, berusaha membuat dia tenang tanpa bertanya lagi.
“Makasih ya Kak, Kakak selalu menjadi Kakak yang terbaik buat aku, aku sayang banget sama Kakak” ujar Alina, dengan air mata yang belum berhenti keluar dari pelupuk matanya.
“Iya, Kakak juga sayang banget sama kamu” jawab Hasan, sambil membelai kepala Alina dengan penuh kasih sayang.
Hasan sangat menyayangi Alina, itu sudah pasti, karena sejak Alina masih bertumbuh di dalam kandungan dialah yang selalu berjuang dan berusaha melakukan yang terbaik agar Alina bisa mendapat yang terbaik. Alina menyayangi Hasan, itu juga sudah jelas, karena saat Alina di lahirkan kumandang suara adzan Hasanlah yang pertama kali Alina dengar, Hasan dalam hidup Alina sudah seperti Ayah pertama yang dia kenal sebelum dia mengenal ayah kandung dia yang sebenarnya.
“Kakak senang kamu mau peluk Kakak lagi” ujar Hasan, dengan senyum tulus yang terlukis di bibirnya saat mereka masih dalam posisi berpelukan.
Perkataan sederhana yang baru saja Hasan katakan, berhasil menyentil perasaan Alina, dia merasa sangat bersalah kepada Kakaknya. Karena, selama ini dia sangat sering menuntut kepadanya, dia sering meminta Hasan meluang waktu untuknya hingga laki – laki itu benar – benar meluangkan waktu untuknya dan menggantinya dengan lembur di malam harinya atau lembur pada keesokannya, dia sering marah tanpa sebuah alasan yang jelas tapi Kakaknya tidak pernah membalas. Bahkan, setelah banyak hal yang kakaknya berikan, dia bisa bahagia hanya dengan pelukan saja.
“Mulai sekarang aku akan sering peluk Kakak” ujar Alina, membuat senyuman semakin merekah lebar dari bibir Hasan.
“Nah gitu dong, pada akur anak – anak Bunda,” Alina dan Hasan langsung merenggangkan pelukan mereka saat sadar ada Risa dan Maryam di dekat mereka, tangan Hasan menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Alina.
Risa, tersenyum melihat keharmonisahan hubungan putra dan putrinya. Mereka memang selalu bersikap manis dengan kasih sayang satu sama lain, dan Risa sangat bersyukur di karuniai dua orang anak yang sangat baik.
“Bunda dan Kak Hasan pulangnya hati – hati ya, tapi maaf aku harus masuk dulu karena ada hal yang harus aku selesaikan” ujar Maryam, sambil mencium tangan Risa dan hendak berbalik pergi.
“Maryam ..,” panggilan itu, berhasil membuat tubuh Maryam seketika terdiam, kemudian dia kembali berbalik menatap kearah Hasan yang baru saja memanggilnya.
“Bisakan kita bicara sebentar ?” tanya Hasan, tenang.
“Ada sesuatu yang harus Kakak pastikan” ujar Hasan, mendahului Maryam yang saat itu sudah membuka mulutnya berniat menjawab Hasan dengan penolaknya secara halus.
Maryam menoleh kearah Risa, seakan gadis itu meminta persetujuan sekaligus pertolongan agar tidak membiarkannya bicara bersama Hasan. Namun, anggukan kepala Risa saat itu berhasil membuat kepala Maryam ikut mengangguk menyetujui permintaan Hasan untuk bicara bersamanya.
Halaman belakang, adalah tempat yang Hasan pilih untuk pembicaraannya bersama Maryam. Hanya saja, setelah beberapa saat mereka duduk di halaman belakang belum ada yang memulai pembicaraan.
“Maryam, kamu adalah adik Kakak, kebahagiaan kamu, kenyamanan kamu, dan ketenangan kamu akan menjadi kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan Kakak juga” ujar Hasan, memulai pembicaraan.
“Sebentar lagi, Kakak Insya Allah akan menikah, dan Kakak harap sebagai adik kamu menyetujui seseorang yang Kakak pilih, Kakak juga berharap semoga tidak ada perasaan apapun dan hal apapun yang mengganjal di antara kita yang menjadikan hubungan kita menjauh” ujar Hasan, sambil menoleh kearah Maryam.
“Kakak menyayangi kamu …” ujar Hasan, menjeda ucapannya. “seperti adik Kakak sendiri” lanjut Hasan, berhasil membuat Maryam menoleh dan tanpa sengaja membuat mata mereka saling bertatapan.
Tatapan yang Maryam tunjukan saat itu, sama dengan tatapan yang dia lihat dari Maryam tepat di pertemuan terakhir mereka di rumah sakit. Tatapan yang terlihat memancarkan sakit dan terluka, dan Hasan tidak menyukai tatapan itu ada di mata Maryam.
“Aku, adalah salah satu orang yang paling bahagia atas kabar pernikahan Kak Hasan, dan aku juga akan selalu menyayangi Kak Hasan sebagai Kakak terbaik yang pernah aku miliki” ujar Maryam, yang sudah memutuskan kontak matanya.
Bohong, tentu saja bohong adalah cara terbaik yang bisa Maryam lakukan agar hubungannya bersama Hasan tetap baik – baik saja. Karena, setelah mendapat penolakan secara halus dari Hasan, penolakan yang tanpa sadar laki – laki itu sampaikan dengan mempertegas jika dia hanya menganggap Maryam adik, Maryam sadar jika mengikhlaskan akan menjadi cara terbaik untuk mengobati hatinya yang patah.