#R – Ketakutan Dalam Gelap

1897 Words
         Menghindar, adalah cara yang Maryam pilih untuk melindungi hatinya agar tidak terluka semakin dalam oleh sebuah rasa yang perlahan mengiris hatinya dan kini irisannnya sudah sampai pada dasar hingga Maryam sudah hampir tidak mampu menahan sakitnya. Dia yang dulu sangat suka bermanja kepada Hasan, menggantungkan hidupnya kepada Hasan, kini lebih suka melakukan semuanya sendirian, dia berusaha membiasakan hidupnya untuk tidak bergantung kepada Hasan lagi.            “Maryam, mau pulang bareng Kakak ? nanti malamkan di rumah sendiri bagaimana jika kamu menginap dirumah Kakak biar ada Bunda, malam ini Bunda pasti tidak bisa datang untuk menemani kamu karena ayah sedang sakit” ujar Hasan, sambil menatap Maryam yang saat itu sudah akan berbalik setelah mengantar keberangkatan Alina di Bandara, karena gadis itu harus berangkat ke kota Medan untuk melanjutkan perjuangannya mengikuti lomba yang sebelumnya berhasil dia menangkan di tahap sebelumnya.            “Tidak usah Kak, aku tadi datang ke sini di temani Om Adrian, jadi aku akan pulang lagi bersama Om Adrian, dan untuk nanti malam aku bisa tidur di rumah sendirian, aku tidak ingin merepotkan Bunda, dan mungkin besok pagi aku akan ke rumah Kakak untuk menjenguk Ayah” ujar Maryam, dengan kepalanya yang sedikit tertunduk berusaha menghindari kontak mata dengan Hasan.            “Aku pulang dulu ya Kak, Kakak hati – hati juga pulangnya, wajah Kakak pucet kayanya sakit, jangan lupa minum obat, Assalamu’alaikum” ujar Maryam, sambil berbalik pergi meninggalkan Hasan yang hanya bisa menatap kepergiannya dalam diam.            “Wa’alaikumussalam Warahmatullah” jawab Hasan, sambil memijat pelipisnya karena saat itu kepalanya memang sedang terasa pening.            Saat itu, Hasan sadar jika Maryam sedang berusaha menghindarinya, gadis itu sedang berusaha menciptakan jarak antara dirinya, dan Hasan tidak suka hal itu terjadi pada hubungan dia dan Maryam. Hasan tidak ingin hubungan yang sudah sangat erat yang terjalin antara dia dan Maryam sejak gadis itu bahkan masih bayi merenggang, dia tidak akan merasa tenang jika hal itu sampai terjadi.            Hasan, menyentuh bagian dadanya yang saat itu terasa kosong. Dia merasa sepi dan kosong saat Maryam perlahan menjauh darinya, padahal saat itu seharusnya Hasan tengah bahagia mempersiapkan pernikahannya bersama Natasya. Hanya saja Hasan merasa perasaan sepi dan kosong itu telah berhasil menyingkirkan rasa bahagia itu hingga membuat dia berada dalam kegamangan atas sesuatu yang sudah dia putuskan, dia merasa hatinya pernah salah menjatuhkan pilihan tapi tidak tahu pada apa. ***            Maryam menatap indahnya langit malam dalam diam, menikmati taburan bintang di atas gelapnya langit malam mebuat hatinya sedikit merasakan ketenangan. Bibirnya tiba – tiba melukiskan senyuman saat dia teringat pada sebuah kenangan manis, kenangan yang membuatnya selalu ingin berada di masa itu, masa dimana dia bisa bebas dekat dengan seseorang yang sangat dia sayangi tanpa beban rasa cinta yang dia miliki untuk orang tersebut.            “Kak Hasan, bintangnya banyak sekali ya, ngomong – ngomong kalau bintang punya nama kaya manusia juga enggak ya, tapi kalau enggak nanti gimana mereka manggil satu sama lain ya” ujar Maryam kecil, sambil menatap langit malam yang saat itu terlihat cerah dengan taburan bintang di atasnya.            Hasan terkekeh mendengar perkataan Maryam yang saat itu terdengar sangat polos, tangannya mencubit pipi Maryam yang sudah tertutup cadar. “Tentu dong, bintang juga punya nama satu sama lain” ujar Hasan, sambil memangku Maryam yang saat itu baru berusia 4 tahun untuk duduk di bangku yang saat itu sedang dia duduki juga.            “Jadi, bintang – bintang itu ada yang bernama bintang Sirius, dia adalah bintang yang paling bersinar di langit malam. Ada juga yang namanya Conopus, dia adalah bintang paling terang kedua di atas langit malam. Lalu ada juga bintang yang bernama Arcturus, dia adalah bintang ketiga yang paling bersinar di langit malam. Kemudian …”            “Kak Hasan, apakah ada bintang yang bernama Alaric, bintang Ayah, bukankah Ayah juga sudah berada di langit dan selalu memperhatikan Maryam di sini ?” tanya Maryam, sambil memandang Hasan.            Sesaat, Hasan terdiam memandang mata Maryam, hatinya merasa tersentil mendengar perkataan Maryam, sebagai orang yang pernah jauh dari sosok ayahnya, Hasan sadar Maryam pasti sangat merindukan sosok Alaric, sosok ayah yang bahkan pergi bersamaan ketika dia di lahirkan.            “Iya sayang, Ayah ada di atas sana dan selalu memperhatikan Maryam, dia akan selalu tersenyum bahagia saat melihat Maryam yang sudah tumbuh dan menjadi anak yang shalihah” ujar Hasan, sambil merengkuh pundak kecilnya.            Maryam tersenyum dengan mata yang dia biarkan terpejam saat dia teringat tentang kisah yang pernah dia lalui bersama Hasan. Sebuah kenangan sederhana yang penuh kesan. Namun, sesaat kemudian senyuman hangat Maryam berubah menjadi senyum getir saat dia sadar kini dia tidak bisa bersikap sedekat itu kepada Hasan, karena saat itu dia harus menjaga hatinya, dia harus melindungi hatinya yang akan kembali terluka jika dia kembali mendekat kepada Hasan.             Perlahan, Maryam membuka matanya yang sejak tadi dia pejamkan, matanya menatap satu bintang yang saat itu terlihat bersinar sangat terang. “Ayah, Umma, aku rindu, aku ingin pelukan kalian” batin Maryam, dengan mata yang sudah berkaca – kaca bahkan sudah siap meneteskan air mata.            Namun, air mata yang semula masih mengenang dipelupuk mata Maryam, berubah menjadi air mata deras dengan rasa panik yang mendominasi dalam tubuhnya, karena saat itu lampu kamarnya tiba – tiba mati, dan Maryam paling takut dengan kegelapan, dia bahkan bisa mengalami sesak nafas ketika berada dalam kegelapan. Namun, saat itu sebisa mungkin Maryam berusaha untuk tetap tenang, perlahan Maryam berjalan menuju keluar kamar, berharap lampu  selain di kamarnya masih menyala, karena saat itu dia hanya sendirian di rumah. Mbak Lili sedang pergi pulang kampung karena orang tuanya sakit. Jadi, Maryam benar – benar akan sangat ketakutan jika dia harus berada dalam kegelepan dalam waktu yang lama.            “Ya Allah gelap” gumam Maryam, dengan suaranya yang terdengar bergetar karena ketakutan.            Perlahan, kakinya berjalan menuruni tangga dengan sangat pelan, saat itu dia berniat untuk pergi keluar berharap di luar rumah tidak gelap. Namun, saat Maryam sedang mengintip melalui kaca jendela, dia melihat dua orang laki – laki di depan rumahnya, dan sesekali mereka menatap kearah rumah seakan sedang mengintai. Hal itu, membuat Maryam seketika langsung duduk bersembunyi di pojok ruang tamu sambil membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak terdengar.            “Om Adrian, tolong angkat panggilannya, aku takut, mereka ada di sini” gumam Maryam, dengan suara isak tangis yang saat itu berusaha dia hentikan tapi jutsru malah semakin tidak bisa berhenti.            Maryam, terus berusaha menghubungi Adrian, karena saat itu hanya dialah tempat paling aman Maryam meminta pertolongan. Hanya saja, tidak seperti biasanya saat itu Adrian sangat sulit di hubungi, padahal biasanya dia selalu siap siaga. Kemudian, dalam keadaan takut sekaligus panik yang saat itu dia rasakan, dia mencoba berpikir mengenai siapakah yang bisa dia hubungi untuk di mintai pertolongan.            Namun, saat itu dia benar – benar tidak tahu harus menghubungi siapa, dia merasa ragu jika harus menghubungi Hasan, dia juga tidak mungkin menelpon Risa karena dia tahu wanita itu sedang menjaga Angga yang sedang sakit.            Maryam, langsung membekap mulutnya saat dia mendengar pintu di ketuk dari luar. Maryam yakin mereka pasti dua orang yang tadi memperhatikan kearah rumahnya, dan saat itu Maryam benar – benar sangat ketakutan, dia tidak berani sedikitpun untuk berdiri dari posisinya. Hingga akhirnya, setelah bunyi ketukan itu menghilang Maryam benar – benar menghubungi Hasan, karena dia merasa saat itu hanya dialah yang bisa Maryam mintai pertolongan.            “Kak Hasan, tolong aku takut, di sini gelap, dan mereka ada di sini, aku takut …” ujar Maryam, dengan isak tangis tertahan karena dia takut orang – orang itu masih ada di depan rumahnya.            “Kamu tenang, jangan takut, sebentar lagi Kakak sampai,”  hanya jawaban itu yang Maryam dapat setelah dia menelpon Hasan.            Sambil menunggu kedatangan Hasan, Maryam hanya bisa diam di pojokan sambil memeluk tubuhnya sendiri. Sesekali matanya menatap sekeliling saat dia mendengar suara petir pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Saat itu, Maryam benar – benar tidak berani beranjak kemanapun karena dia benar – benar sangat takut. ***            Dalam perjalanan menuju ke rumah Maryam, Hasan benar – benar merasa tidak tenang, terlebih setelah dia mendapat panggilan telepon dari Adrian, kemudian di tengah perjalanan yang sebanarnya saat itu dia sudah jalan ke rumah Maryam dia mendapat telepon dari Maryam yang ketakutan karena rumahnya gelap dan ada dua orang yang kemungkinan suruhan kakeknya sedang mengintai rumah, di tambah, saat itu hujan juga perlahan mulai turun di sertai suara petir yang terdengar bersahutan cukup kencang. Hasan merasa khawatir pada keadaan Maryam takut dengan kegelapan dan suara petir.            “Astagfirullah, ini mobil kenapa lagi” ujar Hasan, sambil memukul stir mobilnya karena merasa kesal mobilnya tiba – tiba mogok.            Akhirnya, terpaksa Hasan harus keluar dari mobil dan mengecek mobilnya yang saat itu tiba – tiba mogok. Hasan yang saat itu turun tanpa payung membuat tubuhnya langsung basah kuyup, padahal saat itu keadaan dia sedang tidak enak badan.            Saat itu, Hasan berusaha membetulkan mobilnya semampu yang dia bisa, hanya saja mobilnya tetap tidak mau menyala. Kemudian, dia menatap kearah jalan, jarak mobilnya mogon dengan rumah Maryam cukup dekat, jadi dia memutuskan untuk membawa handphonenya dan memilih berlari menuju rumah Maryam, karena dia tidak mungkin terus menunggu mobilnya yang mogok dan membiarkan Maryam menunggu lebih lama lagi.            “Dikit lagi , lo harus bisa , jangan pingsan Hasan” ujar Hasan, pada dirinya sendiri saat dia merasa tubuhnya sudah sangat kedinginan dan juga terasa lemas, di tambah kepalanya juga terasa pusing.            Hasan langsung kembali berlari, menuju rumah yang hanya terlahang beberapa rumah lagi. Tepat saat dia sudah sampai di depan pagar rumah, Hasan menatap sekeliling berusaha memastikan jika tidak ada orang yang sedang memperhatikannya. Beruntungnya saat itu Hasan tidak melihat siapapun, mungkin mereka sudah pergi karena hujan turun sangat deras.            “Semoga mereka gak beneran datang malam ini, tenaga gue gak akan kuat lawan mereka buat malam ini” gumam Hasan, sambil membuka pagar dan masuk.            Perlahan, tangannya mengetuk pintu rumah, berharap saat itu Maryam membuka pintu dengan keadaan baik – baik saja. Namun, beberapa kali Hasan mengetuk pintu, tidak ada respon dari dalam. Kemudian, Hasan mencoba membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang dia miliki, karena saat itu dia sangat khawatir dengan keadaan Maryam.            “Maryam …” panggil Hasan, sambil menyalakan lampu senter dari handphonenya.            Sesaat Hasan berdiri mematung saat samar – samar dia melihat Maryam sedang duduk di pojok ruang tamu dengan tubuh yang terlihat bergetar dengan tangis dalam diam. Perlahan Hasan berjalan mendekatinya, mendekatkan cahaya dari ponselnya, kepalanya mulai terangkat, menatap Hasan yang sedang berjongkok di hadapannya.            “Jangan takut, Kakak ada di sini untuk melindungi kamu” ujar Hasan, sambil tersenyum menenangkan.            Sesaat, Maryam terdiam memandang wajah Hasan dengan tatapan yang masih menunjukan rasa takut, kemudian tangis gadis itu justu malah terdengar sedikit kencang tidak lagi menangis dalam diam. Hal itu membuat Hasan sadar, jika tangis itu adalah bentuk ungkapan rasa lega yang Maryam rasakan setelah melihat keberadaannya.            “Jangan pergi Kak,” perkataan itu berhasil membuat Hasan terdiam selama beberapa saat.            Tidak tahu kenapa saat itu, kalimat yang baru saja Maryam ucapkan terasa membuat hatinya menghangat, selain itu melalui kalimat yang baru Maryam katakan, seakan tersirat sebuah pesan yang harus Hasan terjemahkan.            “Kakak akan selalu ada di sini di samping kamu, jadi jangan takut lagi” ujar Hasan, sambil membelai kepala Maryam dengan senyum menenangkan.            Ketenangan, mungkin itulah yang Maryam rasakan setelah mendengar perkataan Hasan, karena rasa takut yang saat itu dia rasakan perlahan berkurang meskipun tidak seluruhnya setelah dia melihat keberadaan Hasan, karena sejak dulu dan mungkin sampai kapanpun, kehadiran Hasan, berada di dekat Hasan selalu membuat Maryam merasa aman. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD