Melindungi Maryam adalah yang selalu berusaha Hasan lakukan sejak dulu, berusaha menjaga Maryam dengan sebaik mungkin karena luka Maryam akan menjadi lukanya, itulah yang berusaha Hasan tekankan pada dirinya. Dia selalu berusaha melakukan yang terbaik. Karena, bagi Hasan, Maryam salah satu harta paling berharga di dalam hidupnya, dan melihat Maryam berada dalam keadaan tidak baik – baik saja seperti yang saat ini ada di hadapannya adalah hal yang tidak pernah Hasan sukai.
Menangis sendiri, dalam keadaan takut. Hasan benci melihat Maryam berada dalam keadaan itu, sebagai orang yang selalu berusaha menempatkan diri menjadi Kakak bagi Maryam, Hasan merasa sudah gagal dalam menjaga Maryam.
“Maryam kamu baik – baik saja ?” tanya Hasan, sambil menatap Maryam yang saat itu sedang duduk di pojok ruang keluarga.
Mendengar pertanyaan Hasan, tangis Maryam perlahan mulai mereda, dan melihat keadaan Maryam yang sudah jauh lebih tenang, Hasan mengajaknya duduk di sofa. Gadis itu masih terlihat gemetar ketakutan sambil memegang secangkir coklat panas yang sengaja Hasan buatkan untuknya agar merasa jauh lebih tenang. Meskipun, setiap kali ada suara petir, tubuh gadis itu masih sering terhenyak kaget.
“Kamu yakin baik – baik saja, kamu mau pergi ke rumah Kakak saja biar ada Bunda yang bisa memeluk kamu ?” tanya Hasan, berhasil membuat Maryam yang semula hanya diam sambil melamun akhirnya menoleh kearah Hasan.
Sesaat Maryam tampak terdiam, kemudian dia melirik kearah luar dimana masih terdengar suara derasnya hujan, kemudian dia menoleh kearah jam yang sudah menunjukan waktu larut malam. Setelah itu, Maryam menggelengkan kepalanya tanda jika dia tidak ingin pergi ke rumah Hasan untuk bertemu bundanya.
“Bunda pasti udah istirahat, dan ayah juga sedang sakit, aku gak mau ganggu” ujarnya, sambil menundukan kepala.
“Dulu, waktu hujan dan Umma masih ada, dia yang selalu peluk aku sampai aku ketiduran dalam pelukannya Kak, karena pelukan Umma selalu berhasil membuat dunia ku terasa aman, dan senandung shalawat Umma selalu berhasil membuat telinga ku tuli pada suara derasnya air hujan dan kerasnya suara petir” ujar Maryam, dengan matanya yang terlihat berkaca – kaca, dan saat itu Hasan yakin di balik cadar yang dia gunakan Maryam juga sedang tersenyum mengenang sosok almarhum ibunya.
Sesaat, Hasan terdiam sambil memandang wajah Maryam yang saat itu tertutup oleh cadar yang biasa di gunakan. Hasan tahu jika Maryam pasti sedang merindukan sosok ibunya yang sudah pergi, dan jika saja saat itu dia diizinkan oleh aturan hingga tidak ada lagi batasan diantara mereka, Hasan ingin sekali memeluk Maryam, menenangkan dia yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Hanya saja, Hasan sadar ada batasan yang membentengi mereka, dan Hasan harus menjaga batasan itu untuk menghormati Maryam bukan hanya sebagai adiknya tapi juga sebagai seorang perempuan.
“Umma, Insya Allah udah bahagia di surganya Allah, yang harus selalu kamu lakukan sekarang adalah mendo’akannya, karena do’a anak shaleh akan menjadi amalan yang tidak akan terputus” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil berusaha menghibur Maryam yang saat itu Hasan yakin sedang sedih sekaligus merindukan ibunya.
Saat itu, Maryam hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban tanpa menatap kearah Hasan. Setelah itu, keduanya tampak diam tidak membahas topik apapun lagi, sampai akhirnya suara petir yang terdengar sangat kencang berhasil membuat Hasan dan Maryam kaget bukan main, hingga membuat cokelat panas yang saat itu sedang Maryam pegang sedikit tumpah mengenai bajunya karena dia terlalu kaget. Beberapa saat kemudian, Maryam terlihat memagang dadanya, dia juga terlihat kesulitan nafas, dan saat itu Hasan belum menyadari apa yang terjadi pada Maryam.
“Maryam, kamu baik – baik saja ? d**a kamu sakit ? kamu sesak nafas ?” tanya Hasan, setelah beberapa menit berlalu dan melihat Maryam terlihat kesulitan nafas.
Saat itu tidak ada jawaban yang Maryam ucapkan, gadis itu hanya diam sambil berusaha mengatur nafasnya yang mulai terasa sesak. Suara petir yang terus bersahutan membuat Maryam semakin ketakutan sekaligus panik hingga membuat dadanya terasa samakin sakit, nafasnya juga semakin sesak. Hasan, langsung mendekatkan lampu dari handphonenya keasrah Maryam, saat itu dia benar – benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia hanya berdiri sambil berusaha menenangkan Maryam. Karena saat Hasan hendak membantu Maryam pergi ke kamar, gadis itu menolak bahkan sebelum Hasan berhasil menyentuh bajunya.
“Maryam kamu masih bisa tahan ?” tanya Hasan, sambil menatap Maryam yang keadaannya terlihat semakin melemah.
Hanya gelengan lemah dari kepala Maryam yang terakhir kali Hasan lihat sebelum gadis itu akhirnya pingsan. Melihat hal itu, Hasan tentu merasa khawatir, dia berusaha mencari cara untuk bisa menolong Maryam tapi saat itu otaknya seakan tidak bisa berfungsi dengan baik, kemudian Hasan berusaha menghubungi nomor ibunya, hanya saja tidak tahu kenapa signal di handphonnya sangat jelek, dan hal itu berhasil mempersulit tersambungnya koneksi telepon yang dia lakukan kepada ibunya.
“Ya Allah, ampuni aku, aku tidak punya pilihan lain” ujar Hasan, sambil memberanikan diri mengangkat tubuh Maryam yang saat itu sedang dalam keadaan pingsan dan membawanya ke kamar, karena Hasan khawatir Maryam akan kedinginan.
Tepat ketika Hasan berhasil membawa Maryam ke kamar dan hendak membaringkannya diatas ranjang, tiba – tiba kepala Hasan yang semula sudah terasa sakit, semakin terasa sakit bahkan saat itu Hasan merasa matanya terlihat berkunang – kunang. Hal itu berhasil membuat Hasan menjatuh tubuh Maryam keatas ranjang bersamaan dengan tubuhnya yang ikut jatuh karena saat itu dia juga hampir kehilangan kesadarannya. Namun, Hasan ingat jika saat itu dia harus menjaga Maryam, dia berusaha mengatur keadaannya sendiri yang saat itu sedang dalam keadaan tidak baik setelah sempat terkena hujan.
Hasan, memijat kepalanya selama beberapa saat, kemudian dia langsung bangkit dari posisinya saat sadar jika saat itu dia jatuh menimpa tubuh Maryam. Selama beberapa saat, Hasan hanya mampu mengucapkan istigfar sambil memijat kepalanya yang terasa pening sambil duduk di sofa. Dia berusaha menguatkan dirinya sendiri agar bisa terus menjaga Maryam yang dia yakin lebih membutuhkan dirinya.
“Istigfar Hasan, dan lo harus tetap sadar untuk jagain Maryam, dia yang harus elo lindungin bukan sebaliknya” gumam Hasan, kepada dirinya sendiri sambil memukul – mukul kepalanya yang masih terasa pening.
Kemudian, setelah itu Hasan kembali mendekati Maryam, selama beberapa saat Hasan terdiam sambil memandang wajah Maryam yang masih tertutup cadar yang dia cahayai menggunakan senter dari ponselnya. Meskipun Hasan cukup dekat dengan Maryam, tapi jika harus berhadapan dengan keadaan Maryam yang saat itu sedang terjadi, Hasan bingung juga, karena dia tidak bisa leluasa menolongnya, selalu ada batasan yang harus selalu Hasan ingat setiap kali dia mencoba menolong Maryam melebihi kapasitasnya yang bukan mahrom Maryam.
“Maryam, maafkan aku, aku lepas dulu cadar mu ya” ujar Hasan, sambil membuka cadar yang saat itu Maryam gunakan dengan mata terpajam.
Lima belas tahun, Hasan tidak pernah melihat wajah Maryam, karena sejak kecil Maryam sudah memutuskan untuk menggunakan cadar, dan setelah itu Hasan tidak pernah lagi menglihat wajah Maryam selain matanya. Maka, saat Hasan terpaksa harus membuka cadar Maryam agar gadis itu bisa lebih mudah dan lebih leluasa bernafas, Hasan merasa sangat berdosa, karena selama ini Maryam sudah menjaga dan menutupinya dengan sebaik mungkin.
Kemudian, pelan – pelan Hasan mulai memberanikan diri untuk membuka mata, selama beberapa saat dia terdiam memandang wajah Maryam yang baru pertama kali dia lihat lagi setelah 15 tahun berlalu. Tanpa sadar, tangannya terulur hendak menyentuh wajah Maryam yang saat itu terlihat sangat cantik, tapi beberapa saat kemudian Hasan langsung memalingkan wajahnya sambil beristigfar ketika sadar apa yang akan dia lakukan. Sesaat kemudian, Hasan kembali memalingkan wajahnya menatap kearah Maryam sambil memanggil – manggil namanya, hanya saja dengan keadaannya yang mungkin sudah terserang demam, Hasan justru malah membayangkan jika sosok yang saat itu sedang berbaring dihadapannya bukan Maryam, tapi Natasya sosok perempuan yang sangat di cintainya.
“Lo harus kuat Hasan, lo gak boleh pingsan, siapa yang akan jaga Maryam” ujar Hasan, sambil memijat kepalanya yang sangat terasa pening.
Pusing dan tubuhnya terasa panas tapi juga merasa kedinginan, itulah yang Hasan rasakan padahal saat itu dia masih menggunakan baju basah. Sakit, adalah yang pasti terjadi pada Hasan, karena sebelumnya kepala Hasan memang sudah sakit, di tambah hujan yang baru saja mengguyur tubuhnya pasti membuat tubuh Hasan semakin sakit.
“Maryam, kamu bisa dengar Kakak ?” tanya Hasan, dengan sisa kesadaran yang saat itu masih bisa dia pertahankan.
Hasan berusaha mengguncang tubuh Maryam dengan pelan, dia berusaha membuat gadis itu sadar, karena saat itu Hasan merasa keadaannya sedang tidak baik. Sampai akhirnya pandangan Hasan terlihat berkunang – kunang kemudian menghitam, tubuh Hasan benar – benar ambruk tepat di samping Maryam. Saat itu, tubuh Hasan benar – benar demam, dia tidak sadarkan diri karena tubuhnya memang sudah terlalu lelah selalu di porsir untuk bekerja.
Tepat saat tengah malam, Hasan tiba – tiba tersadar, dia melirik kearah sekeliling, dengan keadaannya yang masih demam, laki – laki itu menatap sosok di sampingnya, sosok yang saat itu masih terlelap. Bibirnya tiba – tiba menyunggingkan senyuman, karena demam yang cukup tinggi membuat Hasan menjadi berhalusinasi dan mengira orang yang ada di sampingnya adalah Natasya.
“Ternyata aku tidak salah lihat, ini benar – benar kamu Nat” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil dengan tangannya yang sudah mulai menyentuh pipi Maryam yang Hasan pikir adalah Natasya.
Setelah itu, karena yang ada dalam pandangan Hasan adalah Natasya, Hasan tidak lagi mampu mengontrol dirinya sendiri, saat itu keadaannya yang sedang sakit membuat dia sadar tidak sadar juga melakukan apa yang saat itu dia lakukan. Mungkin, hal itulah yang menjadi alasan paling mendasar kenapa laki – laki dan perempuan tidak boleh berduaan, karena setan akan selalu ada diantara mereka dan membisikan godaan yang membuat mereka melakukan sebuah kesalahan yang berujung dosa.
***
Maryam hanya mampu terisak menangis dibawah guyuran air saat dia terbangun dalam pelukan Hasan dengan keadaan pakaiannya yang sudah tidak lengkap. Saat itu, dia tidak memahami kenapa dia dan Hasan bisa melakukan hubungan terlarang yang membuat dia ternodai. Maryam benar – benar merasa terpukul, dia merasa jiji dengan tubuhnya sendiri, dia merasa kotor atas apa yang sudah terjadi antara dia dan Hasan. Meskipun saat itu Maryam mencintai Hasan, tapi dia merasa tidak ingin tubuhnya dijamah oleh laki – laki termasuk Hasan sebelum dia resmi menjadi suaminya.
“Aku kotor, aku hina, aku jiji pada diri ku sendiri Ya Allah” gumam Maryam, sambil menggosok tubuhnya dengan keras saat dia masih berdiri di bawah guyuran air lengkap dengan pakaian yang masih dia gunakan.
Saat itu, Maryam benar – benar merasa hancur, dia tidak tahu harus berkata apa ketika Hasan sudah terbangun dari tidurnya. Maryam juga merasa tidak mungkin harus mendesak Hasan untuk menikahinya karena Maryam sendiri tahu jika Hasan sangat mencintai Natasya dan dia sedang memperjuangkan cintanya, dan Maryam tidak ingin merusak perjuangan cinta Hasan, karena selama ini Maryam sendiri tahu seberapa kerasnya perjuangan Hasan untuk mendapatkan cinta Natasya.