Terluka dan sakit, itulah yang Maryam rasakan setelah apa yang terjadi antara dia dan Hasan, memilih diam dan merahasiakannya sendirian, adalah cara yang Maryam pilih untuk melindungi hatinya agar jangan terlalu berharap pada pertanggung jawaban Hasan, dan melindungi Hasan dari rasa bersalah atas apa yang sudah terjadi. Jadi, berpura – pura seakan tidak terjadi apa – apa itulah yang Maryam lakukan ketika dia membangunkan Hasan untuk mandi dan melaksanakan shalat Subuh.
“Apa semalam benar – benar tidak terjadi sesuatu ?” tanya Hasan, saat Maryam datang mengantarkan sarapan untuknya yang saat itu baru saja terbangun setelah memutuskan tidur kembali selepas melaksanakan shalat Subuh, karena tubuhnya terlalu lemah dan kepalanya terlalu sakit.
“Memang apa yang terjadi Kak, semalam Kakak datang kemudian aku tidur di kamar Umma dan kakak tidur di kamar ku” ujar Maryam, sambil menyerahkan semangkuk bubur tanpa berani menatap kearah Hasan.
Hasan terdiam setelah menerima bubur yang Maryam berikan, pemuda itu tidak kunjung memberikan komentar apapun saat Maryam sedang memeriksa suhu tubuhnya, bahkan bubur yang Maryam berikan belum dia makan, karena saat itu dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Suhu tubuh Kakak 39 derajat, ini sangat tinggi, Kakak mau aku antar ke rumah sakit setelah sarapan ?” tanya Maryam, tanpa berani memandang Hasan yang saat itu masih terlihat sibuk merenung.
Kemudian, Hasan menggelengkan kepalanya sebagai tanda jika dia tidak ingin pergi ke rumah sakit. “Kalau begitu, biar aku suapi ya setelah itu aku akan mengambil kompresan, semoga dengan kompres demamnya akan sedikit turun” ujar Maryam, sambil mengambil alih kembali semangkuk bubur yang sempat dia berikan kepada Hasan.
Namun, tepat ketika Maryam hendak menyuapkan sesuap bubur kepada Hasan, tiba – tiba seseorang datang merebut mangkuk dan sendok yang sedang di pegang Maryam. Selama beberapa saat, tiga manusia itu hanya diam. Hasan dan Maryam fokus menatap sosok yang baru saja hadir diantara mereka, sedangkan sosok yang baru saja datang itu fokus menatap kearah Maryam. Keheningan yang tercipta diantara mereka, berhasil membangun sedikit suasana tegang.
“Boleh kamu izinkan agar aku saja yang menyuapi dia makan ?” tanya Natasya, sosok yang saat itu baru saja datang dan menatap Maryam dengan tatapan yang terlihat begitu dingin.
Maryam menganggukkan kepalanya sambil bangkit, setelah itu dia pamit pergi untuk menyiapkan kompresan yang akan digunakan untuk menurunkan demam Hasan. Dalam setiap langkah kaki yang Maryam lakukan untuk meninggalkan Hasan hanya berduaan bersama Natasya, hatinya terasa sakit karena jika dia diperbolehkan jujur, hatinya selalu sakit setiap melihat Hasan bersama perempuan lain.
Sementara Hasan, laki – laki itu masih tampak diam sambil menatap kepergian Maryam, karena saat itu Hasan merasa masih ada yang mengganjal di dalam hatinya, dia merasa jika apa yang Maryam katakan mengenai kejadian semalam yang katanya tidak terjadi apa – apa di antara mereka hanyalah sebuah kebohongan, karena nyatanya dia merasa semua bukan mimpi tapi benar – benar nyata.
Maryam yang sempat meninggalkan Hasan bersama Natasya untuk mengambil kompresan tidak lama sudah kembali, hanya saja langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu ketika tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara Hasan dan Natasya.
“Ini yang selalu membuat aku ragu sama kamu” ujar Natasya, sambil menyimpan mangkuk bubur ke atas nakas setelah Maryam berlalu pergi, tapi Hasan masih terpaku menatap kepergiannya.
“Kamu selalu mengutamakan perempuan itu dari pada aku, kamu dan dia lebih terlihat seperti sepasang kekasih di mata ku, bahkan semalam apakah kalian hanya tinggal di rumah ini berdua saja ?” tanya Natasya, sambil menatap Hasan dengan tatapan tidak suka.
Melihat hal itu, sesaat Hasan hanya mampu menghela nafasnya, karena saat itu Hasan sadar akan ada perdebatan baru ketika dia mengakui jika semalam dia hanya berduaan bersama Maryam, terlebih jika Hasan menyampaikan apa yang sejak tadi dia pikirkan tentang kejadian semalam. Selain itu, Hasan juga tidak mengerti karena alasan apa dia tidak pernah bisa berkata tidak kepada Maryam, setiap apa yang Maryam ucapkan dan inginkan Hasan selalu ingin menuruti dan mengabulkannya, jika itu dinamakan cinta tapi sudah sejak lama Hasan mengakui jika cintanya sudah menjadi milik Natasya, bahkan Hasan masih berjuang untuk bisa menikahi Natasya.
“Nat, kamu tahukan seberapa keras aku berjuang untuk kebersamaan kita, seberapa keras aku berusaha tampil lebih unggul dari calon yang Papah kamu pilih, apakah perlu kamu masih mempertanyakan hal tidak berguna seperti ini ?” tanya Hasan, sambil menatap Natasya yang saat itu masih terlihat merajuk.
“Maryam, sudah aku anggap serperti adik ku sendiri sama seperti Alina, kamu tahukan bagaimana aku kepada Alina, seperti itulah aku memperlakukan Maryam juga” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil berusaha membujuk Natasya.
Kemudian, Hasan mengelus pundak Natasya. Mendengar perjelasan Hasan, perempuan bernama Natasya itu hanya memasang wajah tidak sukanya, dia seakan sedang menyampaikan ketidaksetujuannya atas jawaban Hasan yang baru saja dia dengar.
“Tapi, dia bukan adik kamu, jadi kamu harus paham batasan, karena saat cinta datang diantara kalian, kamu tidak akan bisa mencegahnya lagi !” jawab Natasya, sedikit meninggikan suaranya kepada Hasan.
“Tidak, rasa cinta ku kepada Maryam hanya sebatas rasa sayang dan cinta seorang kakak kepada adiknya, begitu juga sebaliknya” ujar Hasan, terdengar begitu tegas.
Maryam hanya mampu tersenyum kecil dengan mata yang sudah terlihat berkaca – kaca saat dia mendengar semua perkataan Hasan. Tidak tahu kenapa, pengakuan jika dia hanya dianggap sebagai adiknya saja, selalu berhasil membuat perasaan Maryam merasa tercubit, dia merasa tidak puas mendengar jawaban itu. Apalagi, ketika melihat Hasan mengatakan semua kalimat itu dihadapan Natasya, rasanya saat itu Maryam ingin sekali langsung berlari dan meminta Hasan untuk mengacabut semua ucapannya. Namun, saat itu Maryam berusaha untuk sadar posisi, karena mamang posisi adiklah yang dia dapatkan dalam hidup Hasan.
“Sampai kapanpun aku memang hanya akan menjadi adiknya tidak lebih, karena cintanya hanya akan menjadi milik kak Natasya” gumam Maryam, dengan air mata yang tanpa sadar sudah jatuh membahasahi kedua pipinya.
Kemudian, Maryam langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengantarkan kompresan yang bisa digunakan oleh Hasan. Saat itu, tidak ada satu katapun yang Maryam ucapkan, tapi kehadirannya berhasil menghentikan perbincangan Hasan dan Natasya.
“Ini kompresan untuk Kak Hasan, kalau begitu aku permisi” ujar Maryam, sambil tersenyum kecil kemudian berlalu pergi.
Dalam setiap langkah kaki yang mengiringnya menuju kamar ibunya, air mata sudah mulai berjatuhan membasahi kedua belah pipinya. Hatinya selalu merasa sakit setiap kali dia melihat kebersamaan antara Natasya dan Hasan, karena nyatanya sampai kapanpun Maryam memang tidak akan pernah bisa membohongi hatinya sendiri yang sudah memilih Hasan untuk pelabuhan cintanya.
Tangis Maryam benar – benar tumpah tidak tertahan tepat setelah dia masuk ke dalam kamar ibunya, dia membiarkan air mata dan tangis yang sejak tadi dia tahan tumpah dalam kamar seseorang yang biasanya menjadi teman Maryam berbagi cerita, dan ketika orangnya sudah tidak ada Maryam selalu menghabiskan waktu di kamarnya ketika sedang sedih.
***
Mencoba fokus pada apa yang saat itu sedang dia lakukan, dan berusaha terus sadar dengan siapa saat itu dia berada adalah yang sedang berusaha Hasan lakukan setelah Maryam keluar dari dalam kamar yang sedang di tempatinya, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan kamar Maryam sendiri. Namun, sekeras apapun Hasan mencoba, semuanya tetap tidak bisa karena Hasan merasa ada sesuatu antara dia dan Maryam, tapi Hasan sendiri tidak tahu itu apa.
“Kamu kenapa sih ? lagi mikirin apa ? mikirin dia lagi ?” tanya Natasya, yang saat itu sedang mengopresi dahi Hasan karena memang panasnya belum kunjung turun dan Hasan tidak mau di periksa atau di bawa ke rumah sakit.
“Kamu dari tadi aneh tahu, gak biasanya kamu kaya gini, biasanya selalu ada topik yang kamu bahas setiap bersama ku, tapi sekarang tidak, sikap kamu ini semakin membuat aku merasa ragu” ujar Natasya, sambil memalingkan wajahnya dan berhasil membuat Hasan langsung menatap kearahnya.
“Papah pernah menjodohkan aku dengan Alex, tapi dia memutuskan tali perjodohan itu karena dia merasa kamu lebih pantas untuk aku, tapi melihat kamu yang seperti ini membuat aku merasa ragu melanjutkan rencana pernikahan kita, bahkan mungkin jika apa yang aku takutkan benar – benar terjadi aku akan kembali di jodohkan dengan Alex, dan saat itu aku tidak akan bisa mengelak lagi” lanjut Natasya, tanpa menatap kearah Hasan.
Mendengar perkataan Natasya, Hasan langsung bangkit dari posisi berbaring. Matanya masih belum lepas menatap kearah Natasya yang saat itu Hasan tahu sedang menghindari tatapan matanya.
Natasya, adalah perempuan yang Hasan pikir menjadi cinta pertamanya, jadi dia merasa tidak bisa jika membiarkan Natasya menikah bersama laki – laki lain. Sehingga, saat mendengar perkataan Natasya yang seakan tidak akan membiarkannya kembali berjuang, Hasan merasa itu tidak adil untuknya, karena Hasan sendiri sebagai seorang laki – laki bisa merasakan jika Natasya juga mencintainya, hanya saja ada perjodohan yang di lakukan ayahnya yang menghalangi Natasya mengakui perasaannya kepada Hasan.
“Jangan pernah berkata hal seperti itu lagi Nat, aku gak suka, sampai kapanpun aku pasti akan selalu memperjuangkan kebersamaan kita, gak peduli sebesar dan sekeras apapun aku harus berjuang, gak peduli apapun yang harus aku tinggalkan asal jangan keluarga ku, agar aku bisa bersama kamu” ujar Hasan, sambil memegang bahu Natasya, kemudian pelan – pelan membalik tubuhnya sehingga membuat posisi mereka jadi saling berhadapan.
“Tolong, jangan pernah meragukan aku seperti itu lagi” ujar Hasan, sambil menatap mata Natasya selama beberapa saat kemudian memutuskan tatapan mata mereka lagi.
Selama beberapa saat Natasya terdiam sambil menatap Hasan dengan tatapan yang sangat sulit di definisikan. Sesaat, Natasya menghela nafasnya kemudian dia menghembuskannya lagi sambil menundukan kepala. Melihat hal itu, Hasan lebih memilih diam menunggu jawaban yang akan Natasya katakan sambil menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang.
“Aku gak akan meragukan kamu, asal kamu janji gak akan pernah menemui Maryam apapun yang terjadi, kalau kamu gak bisa menerima perjanjian itu berarti kita selesai sampai di sini dan kamu gak perlu melakukan apapun lagi untuk melanjutkan rencana pernikahan kita, dan kamu juga gak perlu repot membuat Papah yakin lagi” ujar Natasya, berhasil membuat Hasan langsung menegakan tubuhnya dan menatap Natasya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Meninggalkan Maryam, adalah hal yang tidak akan pernah Hasan lakukan, karena sesibuk apapun dia ketika Maryam membutuhkannya pasti Hasan akan mendahulukannya. Jadi, ketika Natasya memberikan pilihan, Hasan merasa tidak tahu karena baginya Natasya dan Maryam memiliki tempat istimewa masing – masing di dalam hatinya.