Hancur, itulah yang Hasan rasakan setelah semua berlalu. Hubungannya bersama Maryam semakin merenggang setelah malam dimana dia menginap hanya berdua di rumah Maryam, gadis itu seakan selalu berusaha menciptakan sebuah jarak untuk hubungan mereka, dan hal itu semakin membuat Hasan merasa yakin jika sudah terjadi sesuatu antara dia dan dirinya pada malam itu, hanya saja setiap kali Hasan bertanya, selalu kata tidaklah jawaban yang Hasan dapatkan.
“Kamu jangan begini dong, kamu gak inget gimana perjuangan kita untuk bisa sampai di titik ini Nat, kita udah berjuang hingga sejauh ini, jatuh bangun kita lalui bersama, dan sekarang kamu memilih mundur hanya karena aku gak mau menyetujui keinginan kamu yang meminta aku untuk menjauhi Maryam” ujar Hasan, saat untuk yang kesekian kalinya Natasya mengeluhkan hubungan mereka dan berniat mengakhiri semuanya.
“Nat, Maryam itu adik ku, sejak dia kecil hingga saat ini dia sudah tumbuh dewasa aku selalu menamaninya, apakah pantas sekarang aku pergi meninggalkannya sendirian saat aku sudah memiliki kamu, calon istri ku, tolong mengertilah Nat” lanjut Hasan, sambil menggenggam tangan Natasya yang saat itu masih diam belum memberikan respon apapun.
Selain hubungannya bersama Maryam yang merenggang, hubungan Hasan bersama Natasyapun perlahan menjadi berantakan, terlebih Natasya yang sering kali berusaha meminta untuk mengakhiri hubungan mereka saja, membuat Hasan benar – benar tidak mengerti pada keadaan yang sedang dihadapinya. Meskipun Natasya masih bisa Hasan bujuk, tapi Hasan sadar sudah ada keraguan yang tertanam di dalam hati Natasya kepadanya, dan hal itu tentu akan memberi pengaruh pada hubungan mereka. Parahnya, Hasan sendiri merasakan keraguan yang sama, keraguan pada cintanya yang akhir – akhir ini selalu membuat dia berpikir apakah dia tidak salah menyatakan cintanya.
“Aku hanya tidak mau apa yang selama ini aku pikirkan akan menjadi kenyataan, aku melakukan semua ini untuk menyelamatkan diriku agar tidak terluka semakin dalam, dan untuk menyelamatkan kamu dari sebuah rasa penyesalan” jawab Natasya, sambil menatap Hasan tepat dibagian matanya.
“Aku hanya tidak ingin kamu salah mengartikan perasaan kamu sendiri, aku hanya takut kata cinta yang selama ini kamu katakan padaku hanya sebuah kenyamanan saja, sedangkan sayang yang kamu katakan kepada Maryam yang kamu anggap hanya adik itu justru cinta yang sebanrnya” ujar Natasya, membuat Hasan sesaat terdiam.
“Aku, akan memberikan kamu waktu sampai dua bulan kedepan, tepat hingga satu minggu sebelum pernikahan kita untuk memikirkan ulang semuanya, tanyakan sama hati kamu sendiri, jujur pada diri kamu sendiri, jangan pernah menyangkal apapun yang sudah hati mu katakan” lanjut Natasya, sambil tersenyum mengelus pipi Hasan.
Hasan, mengacak rambutnya frustasi saat dia tidak lagi mampu mencegah Natasya yang saat itu memilih pergi, dia benar – benar tidak paham dan mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Di satu sisi dia mencoba terus bertahan dan melanjutkan rencana pernikahannya bersama Natasya, tapi di sisi lain ada bagian hatinya yang lain yang seakan terus berusaha meronta seakan melakukan perlawanan saat dia sedang mencoba meyakinkan diri untuk terus maju dengan rencananya, terlebih di saat Maryam yang semakin jauh darinya.
Kemudian, terdengar suara dering panggilan telepon dari ponselnya. Melihat nama yang tertulis di layar ponselnya, Hasan tentu langsung mengangkatnya tanpa perlu berpikir dua kali.
“Oke, saya ke sana sekarang” jawab Hasan, pada seseorang di sebrang telepon.
Hasan, langsung bergegas pergi, dia harus berusaha sampai secapat mungkin ke tempat seseorang yang saat ini pasti sangat membutuhkan pertolongannya. Khawatir, adalah hal yang sedang Hasan rasakan, jadi melihat dan memastikan sendiri bagaimana keadaannya adalah hal yang harus Hasan lakukan untuk mereda ke khawatirannya.
***
Hasan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, mencari sosok yang sejak tadi membuat dia merasa khawatir. Namun, sesaat Hasan justru terdiam saat dia melihat sosok yang sedang di carinya sedang berdiri di depan wastafel sambil memuntahkan isi perutnya. Sesaat, Hasan masih belum juga melakukan pergerakan saat dia melihat sosok itu berbalik dan menatapnya.
“Kamu, baik – baik aja ? Mbak Lili bilang kamu sakit” ujar Hasan, sambil menatap Natasya yang saat itu berjalan melewatinya menuju kamar.
“Mas Adrian gak bisa di hubungi Non, sejak tiga minggu lalu saya pulang dari kampungpun Mas Adrian belum terlihat datang ke sini, jadi karena saya tadi khawatir sama keadaan non Maryam jadi saya telepon Mas Hasan buat datang” ujar Mbak Lili, saat melihat Maryam berbalik menatap kearahnya.
Saat itu, Maryam hanya menganggukan kepalanya, dia sadar jika dia tidak bisa menyalahkan Mbak Lili, karena Maryam tahu Mbak Lili hanya mengkhawatirkannya, jadi dia terpaksa menghubungi Hasan meskipun Maryam sempat melarangnya. Kemudian, tanpa mempedulikan Hasan, Maryam pamit menuju kamarnya karena memang saat itu kepalanya terasa sakit, tubuhnya juga terasa lemas.
“Kakak pulang aja, keadaan ku sudah jauh lebih baik, anggap saja aku baik – baik saja, jadi Kakak gak perlu repot – repot datang ke sini” ujar Maryam, berniat masuk ke dalam kamarnya.
Namun, belum sempat pintu kamar Maryam tertutup, Hasan menahan pintu itu agar tetap terbuka. Maryam, kemudian membiarkannya begitu saja, dia memilih melanjutkan langkahnya ke dalam kamar karena saat itu tubuhnya sudah terasa sangat lemas, kepalanya juga sudah terasa sangat pusing.
“Ada apa ? kenapa sejak terakhir kali Kakak menginap di sini menamani kamu, sikap kamu terkesan seperti selalu menghindari Kakak, tolong jangan seperti ini, hati Kakak sakit melihat tatapan dingin kamu, hati Kakak sedih setiap kamu berusaha melakukan semuanya sendiri, Kakak ingin kamu seperti dulu lagi, Kakak ingin kamu tetap menjadi Maryam adik Kakak yang ceria, manis, yang manja” ujar Hasan, sambil memandang Maryam yang saat itu sedang duduk di kursi meja belajarnya.
“Tolong bilang sama Kakak, kenapa kamu jadi seperti ini ? apa yang harus Kakak lakukan agar kamu kembali menjadi Maryam adik Kakak seperti dulu” ujar Hasan, sambil memandang punggung Maryam yang saat itu sedang duduk membelakanginya.
Tidak ada jawaban yang Maryam berikan, gadis itu memilih untuk diam, karena nyatanya apa yang Hasan katakan memang benar. Dia menghindari Hasan, dengan alasan untuk melindungi hatinya sendiri, membiasaan hidup tanpa bergantung kepada Hasan, dan yang terakhir alasan paling kuat Maryam berusaha menghindari Hasan adalah karena dia tidak ingin terus menerus dianggap menjadi benalu yang berada di tengah – tengah hubungan Hasan bersama Natasya.
“Pergi, aku ingin Kakak pergi dan jangan pernah temui aku lagi, setidaknya itu adalah pilihan terbaik untuk kita Kak, lanjutkan hubungan Kakak bersama Kak Natasya tanpa harus ada aku lagi di dalam kehidupan Kakak, dan aku akan melanjutkan hidup ku sendiri, mulai hari ini aku merasa jika aku akan jauh lebih tenang hidup tanpa harus berhubungan dengan Kakak lagi” ujar Maryam, tanpa mengubah posisinya yang saat itu sedang membelakangi Hasan.
Bohong, itulah fakta yang sebenarnya tentang apa yang baru saja Maryam katakan. Pergi jauh dari Hasan adalah hal yang tidak pernah ingin Maryam lakukan, karena nyatanya sejak kecil hingga dia tumbuh dewasa Hasan adalah sosok yang selalu berperan besar memberikan kehidupan penuh warna dalam hari – harinya. Laki – laki itu berhasil membuat Maryam bergantung kepadanya.
“Pergi dan jangan menoleh ke belakang lagi, karena nyatanya aku akan sangat baik bila Kakak pergi” lanjut Maryam, sambil menundukan kepala, berusaha menahan kepedihan yang hatinya rasakan.
Hasan, terdiam selama beberapa saat sambil memandang punggung Maryam yang saat itu masih duduk membelakanginya. Kemudian, dia melangkahkan kakinya mendekati Maryam, laki – laki itu masih belum percaya, sosok Maryam yang dulu begitu lengket dan manja kepadanya bisa berkata jika dia ingin dirinya pergi.
“Kenapa ? Kesalahan apa yang Kakak lakukan hingga membuat kamu jadi seperti ini, Kakak sayang sama kamu, Kakak mencintai kamu setulus hati Kakak, kamu bagian dari hidup Kakak, mana mungkin Kakak bisa pergi meningglakna kamu begitu saja, bahkan saat Mas Adrian orang yang paling Kakak percaya tiba – tiba menghilang” ujar Hasan, sambil menatap Maryam yang saat itu masih belum berani menatapnya.
“Berhenti Kak, ungkapan Kakak itu justru selalu membuat aku terluka, pengakuan Kakak menyayangi ku, mencintai ku, itulah adalah pengkuan yang membuat ku merasa sakit, karena nyatanya Kakak hanya mencintai ku sebatas seorang adik, sedangkan aku …” ujar Maryam, sambil bangkit dan menunjukan dirinya sendiri.
Kemudian, bibirnya tiba – tiba melukiskan senyuman, senyuman kecut yang akan membuat semua orang paham jika senyuman itu muncul bukan karena kebahagiaan, tapi untuk menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan.
“Aku, terjebak dalam rasa yang seharusnya tidak aku miliki, aku menyayangi dan mencintai Kakak lebih dari seorang adik yang mencintai Kakaknya, aku mencintai Kakak sebagai seorang laki – laki, dan aku sadar di sini aku yang salah jadi biar aku sendiri yang menanggung semuanya” ujar Maryam, saat dia merasa tenggorokannya terasa kering.
Menanggung semua resiko atas rasa yang tumbuh di dalam hatinya itulah yang memang harus Maryam lakukan, termasuk menanggung resiko atas malam terlarang yang pernah terjadi antara dia dan Hasan. Biarlah semua luka itu dia terima, karena Maryam percaya luka – luka itu seiring perjalanan akan mengering kemudian sembuh, biarlah Maryam yang menyimpan semua memori tentang kenyataan jika dia dan Hasan pernah melewati malam terlarang tanpa harus laki – laki itu ketahui.
“Jadi, pergi dan jangan pernah menengok ke belakang lagi !” ujar Maryam, tegas tapi suaranya terdengar sedikit bergetar.
Sementara Hasan, masih berdiri mematung di tempatnya, dia masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pengakuan cinta dari Maryam, hal itu bagaikan sebuah mimpi bagi Hasan, tapi di sisi lain tidak tahu kenapa hati Hasan justru merasakan suatu getaran aneh yang membuat hatinya merasakan debaran yang terikat satu sama lain. Namun, Hasan sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya saat itu, dan saat itu dia juga masih belum mampu berpikir dengan baik, karena dia masih terlalu kaget.
“Kak, ditunggu Ayah di ruang tamu,” Hasan langsung menoleh saat dia mendengat suara Risa yang memang sudah ada di sana.
Sesaat, Hasan terdiam kemudian dia menoleh kearah Maryam, lalu dia mencium tangan ibunya setelah itu dia berlalu pergi menuju ruang tamu untuk menemui ayahnya. Setelah kepergian Hasan, Risa berjalan menghampiri Maryam yang dia yakin sedang menangis dalam diam, kemudian Risa membawa Maryam ke dalam dekapannya, berusaha memberi gadis itu ketenangan, karena Risa paham apa yang saat itu Maryam rasakan, terlebih saat dia baru saja datang tanpa sengaja dia sempat mendengar apa yang sebelumnya sedang Maryam dan Hasan bicarakan.
“Sayang, Bunda tahu pasti hati mu terluka, tapi percayalah luka itu yang kelak akan membuat mu paham bahwa tidak selamanya cinta memberikan kamu bahagia, jadi setidaknya kamu bisa belajar untuk mencintai orang – orang sesuai takaran dan kebutuhan” ujar Risa, sambil mencium dahi Maryam yang saat itu sedang terisak menangis dalam diam.
“Bunda yakin, kelak sakit mu hari ini akan mendapatkan balasan cinta paling terbaik dari orang yang akan menjadi pelindungmu, Aamiin, maafkan anak Bunda yang sudah membuat mu kecewa” lanjut Risa, sambil mengurai pelukannya dan menghapus lelehan air mata di pipi Maryam.
“Di sini aku yang salah, Bun, aku yang salah menyimpan tempat cinta ku pada Kak Hasan” jawab Maryam, sambil tersenyum kecil.
Maryam, sadar jika cinta bukanlah sesuatu yang bisa dia paksakan. Jadi terluka adalah resiko yang harus dia telan saat kenyataan bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Karena, Maryam sendiri sadar bahwa dia tidak bisa memaksa Hasan untuk mengubah rasa cintanya yang mencintai dia sebagai seorang adik, menjadi cinta kepada seorang perempuan. Biarlah semua berjalan sesuai alur dan prosesnya, hingga nanti semuanya akan terjawab sesuai catatan takdir yang tertulis.