#R – Kembali Berhias Luka

1623 Words
Merasa takut terjadi sesuatu terhadap Maryam, akhirnya Hasan memilih untuk bekerja dari rumah perempuan itu. Setelah insiden hampir tertangkapnya Maryam sehingga membuat Hasan tanpa sadar sudah berbohong mengakui jika Maryam adalah istrinya, Hasan yang tentu saja dibantu oleh Adrian selalu bersiap siaga, berusaha menjaga gadis itu agar tidak mengalami hal serupa. Beruntung saat itu Maryam menggunakan softlen yang selalu dia gunakan untuk menutupi warna iris mata aslinya yang berwarna abu – abu agar yang sedang mencarinya tidak mengenal Maryam. Hasan sendiri merasa tidak tahu dengan makna perasaannya sendiri, karena rasa takutnya kehilangan Maryam justru lebih besar dari pada saat dia merasa takut kehilangan sosok Natasya, perempuan yang Hasan pikir menjadi sosok perempuan cinta pertamanya. “Maryam, nanti malam kita makan malam bareng sama Alina di halaman belakang ya, buat nebus makan malam saat ulang tahun kamu itu, Kakak tunggu jangan sampai gak turun” ujar Hasan, sambil menatap sosok Maryam yang baru saja menuruni anak tangga. Sesaat gadis itu terdiam, kemudian dia berjalan dengan terburu – buru menuju dapur. Maryam langsung meneguk air minum saat dia merasakan pipinya terasa sangat memanas saat Hasan mengajaknya bicara, padahal jangankan bicara, bercanda gurau saja sering terjadi diantara mereka. Namun, tepat setelah kejadian Hasan mengakui Maryam sebagai istrinya, hal apapun yang dilakukan Hasan selalu berhasil membuat pipi Maryam seketika memerah. “Kamu kenapa sih belakangan sikapnya aneh banget ?” Maryam yang saat itu merasa kaget tanpa sadar manumpahkan air yang saat itu dia pegang, karena kedatangan tiba – tiba Hasan berhasil membuat Maryam antara kalang kabut sebagus kaget. “Kamu kenapa ? sakit ? soalnya setiap Kakak tanya, kamu selalu menghindar begitu saja dan hanya menjawab semua pertanyaan Kakak dengan anggukan atau gelengan, bahkan barusan kamu tidak memberi jawaban apapun walau itu hanya sekedar isyarat saja” ujar Hasan, sambil menatap Maryam dengan tatapan yang terlihat menuntut jawaban dari Maryam. Sesaat, Maryam terdiam, dia yang dulu sangat akrab dengan Hasan, sangat manja kepada Hasan. Seketika langsung berubah menjadi selalu berusaha menghindarinya, karena satu kata pengakuan palsu yang tidak pernah bisa berhenti dia pikirkan, hingga pikiran itu mengantarkan Maryam pada sebuah bayangan dimana apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan. Karena, hal itulah yang membuat Maryam menjadi malu – malu di hadapan Hasan. “Maryam, kamu kenapa ? bisa jawab Kakak ?” tanya Hasan, sambil menatap gadis yang saat itu masih saja diam dan menundukan kepalanya. “Aku … aku ..” ujar Maryam, setengah menunduk berusaha menatap wajah Maryam yang saat itu sedang menunduk tidak seperti biasanya. Biasanya, sekalipun Maryam tidak pernah menatap wajah terutama matanya kecuali jika tidak sengaja, tapi saat itu Maryam terlihat benar – benar sedang menghindarinya, dan hal itu sudah Hasan rasakan sejak dua minggu lalu lebih tepatnya setelah inseden Maryam yang hampir saja tertangkap, dan perubahan sikap Maryam benar – benar berhasil membuat Hasan merasa bingung dengan kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga Maryam tidak pernah lagi mau bersikap seleyaknya dulu kepadanya. “Aku mau ke kamar lagi aja Kak” ujar Maryam, sambil berlari meninggalkan Hasan yang saat itu sudah sangat penasaran dengan apa sebenarnya yang sudah membuat Maryam berubah sikap kepadanya. Tidak ada yang bisa Hasan lakukan saat itu selain menghela nafas sambil menatap kepargian Maryam. Saat itu, Hasan benar – benar tidak bisa mamahami Maryam, bahkan Hasan pernah menanayakannya kepada Alina, barang kali Maryam cerita sesuatu, tapi gadis itu mengatakan jika Maryam tidak mengatakan apapun. ***  Setelah mendapat kabar dari Alina jika dia sudah menunggunya di halaman belakang untuk malam bersama Kakaknya, Maryam langsung bergegas turun dan hendak ikut bergabung karena Hasan juga sempat mengajaknya. Namun, saat dia sudah memasuki sekitar halaman belakang, Maryam tidak menemukan keberadaan Alina di sana, yang Maryam lihat hanyalah meja dengan menu makan malam yang sudah di tata dengan sangat baik, bahkan menurut Maryam ide makan malam di halaman belakang menjadi hal yang cukup menarik untuk di ulang, terlebih saat itu langit malam sedang bertabur bintang. “Jangan – jangan Kak Alina bohong” gumam Maryam, saat gadis itu sudah berdiri di dekat meja makan berbentuk  lingkaran.  “Iya, dia emang bohong, setengah jam lalu dia ngabarin kalau hari ini dia harus pergi ke Jakarta untuk mewakili kampusnya dalam ajang lomba Agriculture Inovation Technology Competition” ujar Hasan, yang saat itu tiba – tiba muncul dari arah belakang. Sesaat, Maryam terdiam saat menyadari jika dia hanya di kerjai oleh Alina, kemudian gadis itu berbalik dan hendak pamit sekaligus meminta maaf kepada Hasan karena dia tidak ingin menghabiskan waktu malamnya bersama Hasan, karena saat itu keadaan jantung dan pengontrolan diri Maryam masih belum aman. Namun, belum sempat kakinya melangkah, Hasan sudah lebih dulu menarik ujung lengan bajunya sehingga membuat Maryam secara reflex langsung menoleh. “Mau kemana ? duduk.” ujar Hasan, sambil menarik kursi untuk Maryam hingga membuat gadis itu secara reflex langsung menatap kearah kursi yang baru saja Hasan tarikan untuknya. “Duduk.” Mulut Maryam yang saat itu sudah terbuka hendak memberikan alasan kenapa dia tidak bisa melanjutkan makan malam bersama Hasan, seketika langsung kembali terkantup rapat saat Hasan sudah mendahuluinya dengan meminta dia duduk. Kemudian, Hasan melirik kearahnya dan kursi yang bahkan masih dia pegang dengan bergantian, sebagai intruksi jika dia meminta Maryam untuk segera duduk. “Tapi Kak aku …” “Duduk Maryam, Kakak hanya ingin melunasi hutang Kakak yang udah pernah janji kalau mau ganti waktu makan malamnya, jadi udah ayo duduk dan jangan banyak protes” potong Hasan lagi, tanpa membiarkan Maryam menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Saat itu, Maryam tidak memiliki pilihan lain untuk menolak. Gadis itu langsung mendudukan tubuhnya diatas kursi yang sudah Hasan persiapkan untuknya, hal itu berhasil membuat senyuman terbit dari bibir Hasan karena akhirnya dia berhasil membuat Maryam duduk bersamanya dalam satu meja setelah beberapa hari tidak bisa, meskipun dengan sedikit pemaksaan.  “Gitu dong, duduk jangan kabur – kaburan terus, lagian Kakak udah bingung mikirin apa kesalahan Kakak yang udah bikin kamu kabur – kaburan terus dari Kakak, jadi udahlah ya mending Kakak paksa aja” ujar Hasan, sambil ikut duduk dengan senyum lebar yang tercetak di bibirnya. “Dasar tukang maksa” ujar Maryam, tanpa menatap Kearah Hasan hingga membuat laki – laki ikut terkekeh mendengarnya. Hasan, mungkin tidak mengerti alasan apa yang sebenarnya membuat Maryam tiba – tiba sering berusaha menghindarinya, padahal Maryam kabur – kaburan darinya atau lebih tepatnya tidak mau berpapasan atau bicara dengannya, semua karena ulah Hasan sendiri, dan saat itu kenyataan Hasan mengatakan jika Maryam istrinnya adalah sebagai caranya melindungi Maryam, tapi tanpa Hasan sadari  hal itu membuat Maryam antara ingin berusaha yakin jika gelas istri Hasan akan dia dapatkan, atau pasrah karena sudah tahu semuanya tidak benar – benar nyata, jadi untuk melindungi hatinya Maryam memilih menjauh selama beberapa saat darinya. Setelah itu, Maryam mulai menyantap makanannya dalam diam, begitupun dengan Hasan, laki – laki itu hanya sesekali mengajak Maryam bicara dan hanya di tanggapi dengan kalimat – kalimat singkan saja. Namun, tidak tahu kenapa, saat dia sedang memotong daging di atas piringnya, bukan daging yang Maryam iris tapi Maryam justru mengiris jari tangannya sendiri. “Ya Allah, kamu ngapain sih, gimana bisa malah ngiris jari tangan sendiri, liat itu darahnya banyak banget” ujar Hasan, yang secara reflex langsung menutupi luka Maryam dengan tissue yang saat itu ada di atas meja. Kemudian, Hasan langsung berlari dengan cepat memasuki rumah untuk mengambil obat P3K, karena saat itu luka Maryam memang cukup besar dan mengeluarkan banyak darah. Tidak lama kemudian Hasan kembali muncul bersama kotak P3K dengan langkah yang terburu – buru. Namun, baru saja dia membuka kotak P3K, tiba – tiba handphonenya berbunyi, Hasan juga baru ingat jika dia tidak mungkin mengobati luka di tangan Maryam sendirian, dia berusaha kembali sadar batasan apa yang dia miliki dengan Maryam, sehingga Hasan memanggil Lili agar perempuan itulah yang mengobati Maryam dan dia bisa mengangkat teleponnya. “Hallo Nat, kenapa ? perasaan kamu udah jauh lebih baik ?” tanya Hasan, saat untuk pertama kalinya mengangkat telepon dari sosok Natasya yang akhirnya bisa dia ajak bicara kembali setelah aksinya beberapa saat lalu di acara pertunagannya sendiri. Setelah pembicaraannya bersama Natasya, setidaknya Hasan tahu jika Natasya melakukan semua itu karena dia terlalu takut Alex akan melakukan hal nekad kepada Hasan. “Oke, saya akan segara datang ke sana, tolong Mbak jangan pergi dulu kalau bisa ya” ujar Hasan, kemudian mematikan sambungan telepon dengan terburu – buru. Maryam mengerutkan dahinya bingung saat dia melihat Hasan yang terlihat panik, sesaat gadis itu hanya diam sambil memperhatikan Hasan yang perlahan berjalan mendekatinya dengan langkah sedikit terburu – buru tanpa menghilangkan raut wajah paniknya, “Maryam, Kakak harus pergi ke rumah sakit dulu ya Natasya baru saja keserempet motor, kamu baik – baik di rumah, sebentar lagi Mas Adrian akan datang” ujar Hasan, kemudian berlalu pergi meninggalkan Maryam, tanpa mengucapkan salam. Saat itu, untuk yang kesekian kalinya, Maryam merasa sakit, sakit yang terasa lebih perih dari pada luka di tangannya, yaitu luka di bagian hatinya. Karena, biar bagaimapun, Maryam tidak bisa memungkiri perasaannya kepada Hasan memang benar – benar nyata, dan kecemburuan yang dia rasakan adalah perwujudan dari rasa cinta itu. Hanya saja saat itu Maryam sadar jika dia bukanlah siapa – siapa yang bisa menahan Hasan agar tidak pergi dan tetap di sini untuk menamaninya. “Non Maryam, lukanya sudah selesai saya obati” ujar Lili, sambil membereskan P3K yang baru dia gunakan. “Makasih Mbak Lili, aku ke kamar dulu ya” ujar Maryam, sambil berlalu masuk setelah berpamitan. Malam itu, mungkin akan menjadi malam yang kesekian kalinya Maryam lalui dengan perasaan terluka. Terluka, karena cinta dalam diam yang dia pilih, cinta yang sudah lama tumbuh di dalam hatinya. Maryam tidak akan menyalahkan Hasan, karena dia sadar di sini yang salah adalah dirinya yang tidak bisa menahan hati, jadi patah hati adalah resiko yang harus dia terima. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD