#R – Kepergian Yang Menyakitkan

1915 Words
Kematian, adalah sesuatu yang sudah pasti akan terjadi dan di alami oleh manusia, karena kematian adalah ujung tombak dari perjalanan hidup manusia selama di dunia, dan gerbang awal perjalanan menuju kehidupan yang kekal. Nyatanya, dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menusia berperan, peran apa yang dia mainkan dan imbalan apa yang di dapatkan itu semua tergantung dengan dirinya sendiri. Satu minggu sudah berlalu setelah kepergian Intan, Maryam masih terlihat sangat terpukul atas kepergian ibunya, yang dia lakukan hanya duduk diam sambil melamun lalu kadang dia selalu tiba – tiba menangis. Melihat keadaan Maryam, Hasan paham jika gadis itu pasti sangat terguncang. “Makan dulu ya sayang, kamu belum makan sejak kemarin, kalau kamu tidak mengisi perut mu itu namanya dzolim sama diri sendiri loh” ujar Risa, yang masih belum menyerah membujuk Maryam makan, karena sejak kemarin gadis itu tidak mau makan sedikitpun, bahkan hari – hari sebelumnyapun, gadis itu tidak makan dengan benar. Lagi – lagi Maryam menggelengkan kepalanya tanda dia tidak ingin makan, dan saat itu Risa sudah tidak tahu lagi harus dengan makanan apalagi dia membujuk Maryam, dengan cara apa dia harus membujuk Maryam makan. Kemudian, Risa memilih bangkit dari dekat Maryam dan membawa makanan yang seharusnya menjadi makanan pertama yang Maryam makan hari ini ke dapur. “Bun, sini biar aku coba” ujar Hasan, yang tiba – tiba muncul setelah beberapa hari menghilang dan menitipkan Maryam kepada orang tuanya dan Alina, karena hal itulah kedua orang tua Angga dan Alina menginap di rumah Maryam. “Tolong Kak, pastikan makanan ini dia makan, karena sejak kemarin dia belum makan sama sekali” ujar Bunda Risa, sambil mengelus lengan Hasan. Bunda Risa berlalu pergi setelah dia melihat anggukan kepala putranya, setelah itu Hasan melangkahkan kakinya mendekati Maryam, kemudian dia mendudukan tubuhnya di samping Maryam dengan sedikit jarang di antara mereka yang saat itu duduk di undakan tangga. Sesaat, Hasan terdiam sambil menghela nafas saat dia melihat keadaan Maryam yang tidak baik – baik saja. “Hati ini terasa sakit dan sesak Ya Allah melihat gadis ini berada dalam keadaan seperti ini” batin Hasan, sambil menundukan kepalanya, berusaha menghela nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. Setelah selesai acara pemakaman, Hasan langsung meminta kepada kedua orang tuanya untuk membawa Maryam pulang dan sebisa mungkin meminta tolong agar mereka menghibur Maryam. Sementara Hasan, lebih memilih pergi karena dia tidak berani bertemu dengan Maryam, karena setiap kali melihat Maryam yang terlihat sangat rapuh membuat hati Hasan terasa hancur. Dia yang selama ini terlihat tegar dan kuat, seketika langsung lemah saat melihat Maryam berada di titik rapuhnya. Namun, pesan Alina yang berisi “Sejatinya lelaki adalah tempat bersandarnya seorang wanita, tapi apakah laki – laki yang memilih pergi masih bisa tetap dikatakan lelaki ?” berhasil membuat Hasan sadar, jika dia tidak seharusnya pergi dari sisi Maryam, karena sebagai sosok laki – laki yang Maryam kenal dekat Hasan seharusnya ada di sisi Maryam, membantu dia bangkit dari semua rasa sakit dan terpuruknya. Bukan pergi dan sembunyi, karena nyatanya bangkitnya Maryam, hilangnya semua air mata gadis itu akan memberikan efek baru kepadanya yang selama ini memendam rasa sakit setiap melihat Maryam bersedih. “Kata Bunda Risa kamu belum makan sedikitpun, kenapa ? Umma di surga pasti sedang melihat kamu, dia sedih melihat putri kesayangannya bersedih, begitupun dengan Kakak, Kakak sedih melihat adik Kakak gak mau makan” ujar Hasan, dengan suaranya yang terdengar bergetar. “Kakak gak suka melihat kamu seperti ini, bersedih itu boleh tapi jangan berlebihan, karena kesedihan kamu akan menjadi kesedihan Umma, kesedihan Kakak, dan kesedihan kami semua” ujar Hasan, sambil berusaha menerbitkan senyuman di tengah rasa sakit yang saat itu mendera hatinya. Sesaat, Maryam menoleh menatap nasi yang saat itu di pegang Hasan, kemudian isak tangis kembali terdengar saat dia melihat nasi itu, itu karena nasi mengingatkan Maryam pada sebuah dongeng yang pernah Ummanya ceritakan tentang dongeng asal muasal nasi jadi makanan. Dongeng yang sengaja Maryam pinta ceritakan karena saat itu ibunya terus membujuk dia agar makan. “Makan ya …” ujar Hasan, dengan suaranya yang terdengar serak karena tidak kuasa melihat Maryam kembali menangis. Maryam, menganggukan kepalanya, kemudian dia berniat mengambil piring yang saat itu masih di pegang Hasan. Namun, dengan cepat Hasan melarangnya karena saat itu dia akan benar – benar menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin. “Biar Kakak yang suapin kamu” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil. Kemudian, Hasan mulai menyendokan makanan dan menuapkannya kepada Maryam, setidaknya meskipun saat itu dia belum mampu mengobati rasa sakit Maryam, menghangatkan rasa sepi Maryam, tapi Hasan tahu jika Maryam sudah makan dan karena hal itu dia memiliki sedikit kekuatan untuk menopangnya agar terus bertahan. Namun, suatu hari nanti Hasan berjanji jika dia tidak akan membiarkan ada air mata lagi yang jatuh dari pelupuk mata Maryam. Meskipun luka atas kepergian ibunya adalah luka yang tidak memiliki obat dan luka itu akan selalu membekas, tapi sebisa mungkin Hasan akan menawarkan sedikit kebahagiaan menggunakan cara yang bisa dia upayakan, agar Maryam setidaknya bisa melupakan rasa sakitnya, rapuhnya, dan sepinya setelah kehilangan seorang ibu *** Hasan, Alina, dan Bunda Risa, mencari Maryam diseluruh penjuru rumah, tapi mereka tidak kunjung menemukan keberadaan Maryam dimanapun. Hal itu, tentu membuat mereka merasa khawatir mengenai keberadaan Maryam yang mereka tahu tidak terlalu mengenal dunia luar karena selama ini dia sangat jarang keluar kecuali jika ada keperluan mendesak dan itupun di temani olah ibunya. “Kak Maryam Gak ada, coba kamu cari keluar, takutnya dia mau jalan – jalan dan lupa pamitan” ujar Bunda Risa, sambil menatap putra sulungnya dengan tatapan penuh khawatir. Selepas melaksanakan shalat Subuh, Bunda Risa sempat menemui Maryam ke kamarnya, dan saat itu dia tampak baru akan melaksanakan shalat. Namun, tepat saat waktu sarapan Bunda Risa yang saat itu berniat untuk mengajak Maryam sarapan bersama baru menyadari jika saat itu Maryam tidak ada di kamarnya. “Maryam, kamu kemana ? ini masih pagi kamu pergi atau di paksa pergi ?” batin Hasan, selama perjalanan dengan mata yang terlihat awas mengamati sekitar takut ada seseorang yang terlewat untuk dia teliti. Namun. Sudah hampir 15 menit dia mengelilingi sekitar rumah Intan dan Maryam, tapi gadis itu masih belum di temukan juga. Sampai akhirnya, Hasan memiliki satu kemungkin mangenai keberadaan Maryam, sehingga saat itu Hasan langsung bergegas pergi menuju tempat yang baru teringat olehnya. Makam Intan, adalah tempat pertama yang Hasan pikir akan menjadi tujuan pertama Maryam, dan selama perjalanan ke sana Hasan memelankan laju mobilnya, berharap dia masih bisa bertemu Maryam di jalan menuju kesana. Tapat saat Hasan akan membelokan mobilnya ke sebuah persimpangan menuju pemakaman tempat dimana Intan di makamkan, Hasan melihat seseorang berpakaian hitam sedang di seret dua orang pria dan saat itu salah satu dari mereka berniat merebut sesuatu dari perempuan itu. Selama beberapa saat, Hasan terdiam di dalam mobil untuk memastikan lebih dulu apakah itu benar – benar Maryam atau bukan. “Apa itu benar – benar Maryam, tapi dia pakai topi dan Maryam bahkan dia tidak punya topi” gumam Hasan, masih dari dalam mobilnya sambil menatap sosok yang sedang berusaha di paksa entah untuk melakukan apa karena Hasan tidak melihatnya secara jelas. Namun, meskipun saat itu Hasan tidak tahu dengan pasti itu Maryam atau bukan, karena saat itu Hasan hanya merasa jika di perlu menolong perempuan itu. Hanya saja jika itu memang benar – benar Maryam, Hasan pasti akan bersyukur karena setidaknya saat itu bisa menemukan dan menolong Maryam, dan jika memang bukan Hasan berdo’a semoga gadis itu selalu berada dalam lindungan Allah SWT. “HEI … BERHENTI !” ujar Angga, dengan tatapan yang terlihat memancarkan ketajaman membuat dua orang itu menoleh bahkan perempuan yang dalam sandraan mereka. Sesaat Hasan terdiam menatap sosok perempuan di hadapannya, tidak ada satu katapun yang gadis itu ucapkan, tapi Hasan bisa melihat tatapan perempuan itu telihat sedang menatapnya dengan tatapan permohonan, dan dari matanya yang berkaca serta sebagian wajahnya yang tertutup cadar membuat Hasan merasa jika sosok dihadapannya adalah Maryam saat itu matanya  tidak terlihat berwarna hitam. Satu hal lainnya yang berhasil membuat Hasan semakin yakin itu adalah Maryam yaitu dari topi yang gadis itu gunakan. Topi itu adalah topi miliknya yang sempat kemarin dia gunakan dan mungkin tertinggal di rumah Maryam. “Lepas !” ujar Hasan, sambil melangkah pelan dengan tatapan tajam, suara dingin seakan berusaha mengintimidasi dua sosok dihadapannya. Namun, bukannya melepaskan dua sosok laki – laki itu justru tersenyum kearah Hasan, seakan mereka tidak peduli dengan kata – kata penuh penekanan yang Hasan ucapkan. Karena semakin keras Hasan mencoba melepaskan perempuan yang saat itu sudah menjadi Sandra mereka, semakin yakin pula mereka kalau perempuan itu benar – benar Maryam. “Lepaskan adik ku atau aku patahkan tulang kalian satu – satu hingga tubuh kalian menjadi lunak !” ujar Hasan, sambil menendang d**a laki – laki yang sedang memegang kedua tangn Maryam dengan gerakan cepat sehingga lawannya gagal menghindar atau menyerang balik. “Aku semakin yakin, kalau gadis ini memang gadis yang kami cari selama ini, lebih baik kau menyerah saja karena kami jamin nyawamu akan pergi meninggalkan tubuh mu jika kau terus keras kepala seperti ini untuk melindunginya” ujar salah satu dari mereka, sambil tersenyum sinis saat Maryam sudah berhasil melepaskan diri. Hasan, baru menyadari jika yang sejak tadi berusa mereka paksa pada Maryam adalah cadarnya. Mereka memaksa ingin membuka cadar Maryam untuk memastikan. “Aku tidak tahu dan tidak mengerti mengapa kalian terus – terusan mengusik kami, saat itu kamu dan teman mu yang lain datang ke rumah memaksa masuk, lalu sekarang kalian kembali dan berniat menculiknya” ujar Hasan, masih dengan santai berusaha memperlihatkan jika saat itu dia tidak berbohong dengan ucapannya. “Tapi di sini, aku hanya ingin memberi tahu kalian, jika perbuatan kalian termasuk tindakan yang bisa diperkarakan dengan hukum, dan kalian bisa dikenakan pasal berlapis, selain itu apakah kalian tahu dosanya seseorang yang berniat memisahkan dua orang yang saling mencintai ? coba kalian cari tahu agar kalian mengerti dan tidak mengusik ku bersama istri ku, dan setelah ini berhenti mengusik hidup kami” ujar Hasan, sambil memegang pergelangan tangan Maryam yang saat itu terlapisi baju Maryam sendiri. Tidak ada jawaban yang mereka sampaikan, karena mereka hanya tersenyum kecut seakan tidak peduli dan tidak mau mendengarkan apa yang baru saja Hasan katakan. Sampai akhirnya, bertepatan ketika Hasan berbalik hendak pergi membawa Maryam, dua orang itu langsung menyerang Hasan. Sementara Maryam, gadis itu masih mematung di tempat karena Hasan baru saja menyebutkan jika dia adalah istrinya. Kemudian, bibir Maryam menerbitkan senyum kelu saat sadar jika apa yang baru saja Hasan katakana semata – mata hanya untuk melindunginya dan menyamarkan identitasnya. “Ayo kita harus segera masuk mobil” ujar Hasan, tiba – tiba menarik lengan Maryam yang terlapisi pakaian dengan nafasnya yang terdengar ngos – ngosan karena baru saja berkelahi bersama mereka yang berhasil Hasan tumbangkan untuk sementara, karena Hasan sendiri yakin jika dia tidak segera lari mereka akan kembali bangun dan menghajarnya. Sementara Maryam, hanya diam sambil mengikuti Hasan. “Menjadi istri mu adalah suatu hal yang paling aku inginkan, tapi menginginkan hal itu menjadi kenyataan hanya akan menjadi hal yang paling tidak mungkin” batin Maryam, saat mereka sedang berlari menuju mobil. Tidak ada yang tahu memang bagaiman garis takdir kehidupan di masa yang akan datang, hanya saja menginginkan bukan menjadi suatu hal yang di haramkan, asalkan semua masih berada dalam takaran yang pas. Maka, jika memang Maryam sudah mencintai Hasan dan menginginkan dia menjadi suaminya, maka dia harus mampu mengelola hatinya agar cinta dan keinginannya hanya akan tetap menjadi keinginan sampai takdir menentukan apakah keinginan itu akan di wujudkan atau tidak. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD