#R - Kepedihan Berbaur Duka

1902 Words
Hasan, tidak pernah tahu bagaimana cintanya kepada Natasya bisa tumbuh, bagaimana prosesnya Hasan tidak mengingatnya secara pasti. Karena, yang dia tahu dia tidak pernah bisa melihat dia berada dalam keadaan sedih apalagi terluka. Bagi Hasan, kebahagiaan Natasya adalah segalanya, yang dia inginkan Hasan dia selalu bahagia dalam keadaan apapun, melewati waktunya tanpa ada tekanan, seperti masa kecil mereka yang penuh canda tawa dan bahagia. Hasan, menatap gedung megah yang saat itu ada di hadapannya, kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam tanpa peduli saat itu dia hadir sebagai tamu undangan atau bukan. Bahkan, saat orang – orang menatapnya dengan tatapan heran laki – laki itu seakan tidak mempedulikannya sedikitpun. “Berhenti dan jangan sematkan cincin itu di jari sahabat ku !” Natasya, dan semua orang yang berada di ruangan itu langsung menolehkan kepalanya dan manatap Hasan dengan tatapan heran. “Laki – laki sepertimu tidak pantas bertunangan dengannya !” lanjut Hasan, membuat Natasya langsung turun dan menghampirinya. Bertunangan, itulah yang sedang Natasya lakukan. Saat itu, Hasan merasa tidak rela jika harus membiarkan Natasya begitu saja bertunangan dengan orang lain, terlebih saat perempuan itu mengatakan jika dia mencintainya sekalipun Hasan tidak memberikan kejelasan pada hubungan mereka. Jika saja saat itu Natasya bertunangan dengan laki – laki pilihannya, laki – laki yang dicintainya, mungkin Hasan akan membiarkannya, merelakan Natasya bersama laki – laki lain, karena bagi Hasan, yang Natasya bahagia. “Rupanya, kamu belum kapok juga ya” ujar sosok Alex, sambil menatap Hasan dengan tatapan mengintimidasi. Alex Febrian, itulah nama laki – laki yang dijodohkan dengan Natasya, sosok laki – laki yang tidak jarang berani bersikap kurang ngajar kepada Natasya. Hanya saja, kesepakatan perjodohan itu tidak bisa dibatalkan sekuat apapun Natasya berusaha menggagalkannya. “Hasan tolong pergi dari sini, sudah cukup kemarin kamu terluka karena aku, biarkan saja aku melanjutkan perjodohan ini, semua demi kebaikan kita berdua” bisik Natasya, yang saat itu tidak di gubris sedikitpun oleh Hasan. “Aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup menderita bersama dia Nat, kamu terlalu berharga untuk laki – laki busuk, laki – laki yang bahkan hobinya hanya membuang s****a dimana saja” ujar Hasan, sambil menatap Alex dengan tatapan sinisnya. Mendengar perkataan Hasan yang terdengar merendahkannya, tentu saja berhasil membuat Alex yang semula terlihat biasa saja langsung marah, kemudian laki – laki itu langsung memanggil penjaganya yang memang sejak tadi sudah siap – siaga menunggu bossnya mengeluarkan intruksi. “Tembak saja dia menggunakan pistol kalian, karena aku benar – benar muak mendengar ucapannya itu !” ujar Alex, sambil menunjuk Kearah Hasan. Melihat pistol para pengawal Alex sudah diarahkan kepadanya, Hasan tidak terlihat takut sedikitpun. Laki – laki itu justru menunjukan seringainya seakan dia menantang mereka untuk segera melesatkan pelurunya. Berbada dengan Hasan yang terlihat tidak takut sedikitpun, gadis itu terlihat sangat ketakutan dan meminta kepada Hasan agar segera pergi meninggalkan lokasi acara pertunangannya. Namun, saat itu Hasan benar – benar tidak mengubrisnya sedikitpun. Sementara orang – orang terpilih yang saat itu sengaja di undang untuk menghadiri acara pertunangan Natasya bersama Alex, terlihat kaget saat melihat para penjaga yang sejak tadi berjaga mengeluarkan pistolnya. Mereka terlihat mulai gelisah karena takut akan benar – benar terjadi pertumpahan darah. “Apa yang kalian lakukan, cempat tembak !” teriak Alex, mebuat tiga orang penjaga kembali beriap – siaga memfokukan bidikannya kepada Hasan, dan semekin membuat orang – orang merasa ketakutan. Namun, Natasya langsung berlari memeluk kaki Alex, memohon agar jangan menyakiti Hasan, gadis itu memohon sambil terisak dibawah kaki Alex agar laki – laki itu membiarkan Hasan pergi saja. Melihat apa yang dilakukan Natasya, tentu membuat Hasan tidak suka, dia tidak suka Natasya berlutut dihadapan orang lain apalagi demi dirinya. “Berhenti bersikap keras kepala Hasan ! pergi dari sini jika kamu tidak mau melihat aku berlutut seperti ini !” ujar Natasya, dengan suara yang sedikit di naikan sambil menepis tangan Hasan yang berusaha membantu Natasya bangun. “Enggak, aku gak akan pergi dari sini Nat, aku gak bakal pergi sebelum kamu mau ikut pergi bersama ku” ujar Hasan, dengan suaranya yang masih terdengar tenang. Mendengar jawaban yang Hasan berikan, Natasya langsung bangkit dari posisi berlututnya, kemudian dia merebut salah satu pistol penjaga dan menempelkan pistol itu bertepatan dengan keberadaan jantungnya. Melihat hal itu, Hasan langsung berusaha untuk merebutnya, karena dia tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada Natasya. “Kamu pergi atau aku MATI !!!” ujar Natasya, sambil menekan kata mati dengan air mata yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. Perlahan, Hasan melangkan kakinya mundur, menjauh dari Natasya yang saat itu menatapnya dengan tatapan yang Hasan sendiri bahkan tidak pernah melihatnya. Tatapan yang terlihat tajam, tapi Hasan juga seakan melihat kesedihan terpancar dari tatapan mata Natasya. Saat itu, Hasan benar – benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Natasya sejak kemarin gadis itu sudah bertingkah aneh dengan memilih pergi meninggalkannya dari pada bertahan bersamanya. Padahal, baik kemarin atau hari ini, Hasan datang untuk membelanya, agar gadis itu terbebas dari semua tekanan yang selama ini membuat dia terluka, membela dia agar kebahagiaan yang sudah seharusnya menjadi miliknya tetap menjadi miliknya. “Pergi, jangan pernah menolehkan kepala kamu sama aku lagi Hasan !!” teriak Natasya, tanpa melepaskan pistol yang saat itu masih dia letakan dia bagian perutnya. “PERGI !!!” teriak Natasya, dengan air mata berurai. Sakit, itulah yang Hasan rasakan, saat itu Hasan yakin Natasya melakukan semua itu pasti demi melindungi dirinya, dan Hasan tidak bisa melihat Natasya melakukan hal itu, terlebih gadis itu akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada laki – laki bernama Alex yang Hasan tahu adalah laki – laki tidak bertanggung jawab. Hasan tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya hidup Natasya nantinya jika dia benar – benar menikah bersama Alex. Namun, saat itu Hasan juga tidak bisa melakukan apapun karena dia takut Natasya akan benar – benar menembak dirinya sendiri jika dia terus mendekat dan tidak mau mendengarkan perintahnya untuk segera pergi. Saat itu, meskipun ada pancaran luka yang terpancar dari mata Natasya, tapi Hasan bisa melihat ada kesungguhan dari setiap apa yang dia lakukan, sehingga menembak dirinya sendiri bukan menjadi hal yang tidak mungkin. “Aku pergi, tapi kamu harus tahu aku sayang kamu, aku harap kamu bahagia” ujar Hasan, kemudian berbalik pergi. Mendengar perkataan Hasan, Natasya semakin terisak kencang. Pistol yang sejak tadi gadis itu pegang akhinya jatuh, tubuhnya ikut luruh bersama air matanya yang benar - benar tumpah tidak tertahankan. Hatinya sakit saat mendengar perkataan yang terkesan romantis dan sangat jarang Hasan katakan kepadanya, dan padahal saat itu seharusnya Natasya bahagia bisa mendengarnya. “Aku juga sayang kamu Hasan” batin Natasya, sambil menatap punggung Hasan yang perlahan sudah mulai pergi meninggalkannya. *** Hasan berlari dengan terburu – buru menyusuri lorong rumah sakit saat dia mendengar kabar dari Adrian dan Bundanya kalau Intan sudah bangun dari komanya, bahkan Maryam yang sangat tidak pernah diperbolehkan pergi ke rumah sakit saat itu juga datang karena dia tahu ibunya itu sudah bangun dari komanya. “Masuk Kak, kamu udah di tungguin” ujar Bunda Risa, sambil mengelus lengan putranya. Pelan – pelan, Hasan membuka pintu ruang perawatan Intan, dan di sana terlihat sosok Maryam yang sedang terisak menangis sambil memeluk ibunya. Melihat hal itu, sesaat Hasan mematung, dia merasa tidak enak jika harus mengganggu kebersamaan ibu dan anak yang sudah beberapa hari tidak bertemu itu. Namun, saat Hasan berniat untuk membalik badannya lagi saat itu Intan sudah lebih dulu melihatnya, dan hal itu membuat Hasan urung melangkahkan kakinya. Pelan – pelan, Hasan melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat Intan berbaring, dengan keadaannya yang terlihat masih sangat lemah, dia terlihat menyambut kehadiran Hasan dengan senyum tulus yang mengembang di wajahnya. “Mbak Intan apa kabar ?” tanya Hasan, saat dia sudah sampai di dekat Intan. Tidak ada jawaban yang permpuan itu sampaikan, dia hanya tersenyum seakan mengatakan jika saat itu dia baik – baik saja. Kemudian, Hasan melihat tangan perempuan itu melambai pelan Kearah Hasan, seakan dia meminta kepada Hasan agar mendekatkan telingnya. “Tolong … tolong jaga Intan” tanya Intan, dengan suaranya yang terdengar pelan tapi masih tetap bisa Hasan dengar. “Tolong jaga dia sampai ada seseorang yang bisa manjaganya dengan tepat” lanjut Intan, membuat Hasan menatap kearah matanya kemudian beralih menatap kearah Maryam yang saat itu hanya diam sambil menundukan kepalanya. Sesaat Hasan terdiam, menemukan orang yang tepat untuk Maryam, tapi tidak tahu kenapa saat itu Hasan justru merasa sedikit tidak rela, gadis yang sudah dipantau pertumbuhannya, yang sudah dia bantu didik membesarkannya harus di bawa oleh laki – laki lain. Dia tidak ingin kebersamaannya dengan Maryam menjadi terbatas, padahal seharusnya Hasan mengerti kalau masa dimana Maryam bertemu laki – laki yang akan menjadi jodohnya pasti akan datang. “Maryam, percayalah, taatilah Hasan saat Umma tidak ada di dekat kamu sayang, percayalah dia Kakak terbaik yang Umma pilih untuk menjaga kamu, meskipun sebenarnya Umma sangat berharap kamu dan dia bisa lebih dari sekedar kakak beradik” ujar Intan, sambil tersenyum memandang wajah putrinya. Sesaat, Hasan kembali tertegun untuk yang kedua kalinya saat untuk yang kedua kalinya pula Intan mengatakan dengan terang – terangan kalau dia ingin dirinya menjadi imam untuk putrinya yang selama ini Hasan klaim sebagai adiknya. Sesaat kemudian, Hasan bertanya pada hatinya sendiri, perasaan apa sebenarnya yang dia rasakan, kenapa hatinya selalu terasa menghangat setiap kali mendengar Intan mengatakan jika dia ingin Hasan menjadi suami dari anaknya. Padahal, Hasan merasa beberapa saat lalu hatinya merasa patah saat keadaan antara dia dan Natasya harus berpisah, hatinya sakit saat Natasya memilih mengorbankan perasaannya demi keselamatannya. Namun, semua rasa sakit itu seakan tiba – tiba lengat dan terobati dengan bagitu cepat setelah mendengar perkataan Intan dan melihat Maryam. “Tolong, jaga dan lindungi dia” ujar Intan, sambil menatap Hasan dengan senyuman. Setelah itu, Intan mengalihkan tatapan matanya kearah Maryam. Kemudian, genggaman wanita paruh baya itu terasa semakin mengencang dengan senyumannya yang semakin melukis lebar dan hal itu berhasil membuat Maryam memfokuskan tatapan matanya kearah ibunya. Sampai perlahan, gengaman tangan wanita itu mulai mengendur, pandangan matanya merdup akhirnya tertutup. “Umma …” panggil Maryam, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar. “Umma bangun …” panggil Maryam, untuk yang kedua kalinya dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk matanya, sambil mengguncang tubuh ibunya yang saat itu tidak melakukan pergerakan apapun. Hasan, langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter, tidak lama setelah itu Dokter benar – benar datang bersama beberapa orang suster dan memeriksa keadaan Intan. Sedangkan Maryam, gadis itu masih terduduk di tempatnya sambil terisak menangis dengan tangan yang terus menggenggam tangan ibunya. “Mbak, tolong tunggu di luar, karena kami harus melakukan pemeriksaan” ujar Suster, membuat Maryam menganggukkan kepalanya kemudian bangkit hendak berjalan keluar. Sementara Hasan, laki – laki itu masih mematung di tempatnya, menatap kosong kearah Dokter dan Suster yang saat itu sedang melakukan pemeriksaan, bahkan perintah Suster yang memintanya keluar tidak dia hiraukan sedikitpun. Saat itu, Hasan sudah sadar jika Intan barus saja melakukan salam perpisahan. “Catat waktu kematiannya Sus,” perkataan Dokter, berhasil membuat Maryam yang saat itu baru berjalan hingga keambang pintu langsung berbalik dan terdiam selama beberapa saat, kemudian dia langsung berlari memeluk tubuh kaku ibunya dengan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Sakit, itulah yang pasti Maryam rasakan. Setelah kehilangan ayah bahkan sebelum dia melihatnya sudah cukup membuat Maryam paham jika kehilangan itu tidak enak. Sekarang, gadis itu harus kembali merasakan kehilangan sosok ibu, sosok yang merupakan segalanya bagi Maryam, hal itu pasti sangat terasa berat dan menyakitkan.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD