Tidak bisa tidur, itulah yang sedang terjadi pada Maryam. Gadis itu, hanya bergerak ke sana ke mari mencari posisi paling nyaman, tapi matanya seakan menolak untuk terpejam. Matanya, melirik jam yang saat itu sudah menujukan pukul 02.15, kemudian dia menghembuskan nafasnya karena sudah benar – benar jenuh dengan matanya yang tidak kunjung terpejam.
“Natasya … apa mungkin Kak Hasan dan perempuan bernama Natasya itu memiliki hubungan khusus ? Kenapa Kak Hasan terlihat sangat mengkhawatirkannya ?” batin Maryam, sambil menatap langit – langit kamarnya.
Sejak memutuskan pergi meninggalkan Hasan dan Alina setelah mengantarkan bubur yang sudah dia buatkan, Maryam justru tidak bisa berhenti memikirkan tentang Hasan dan Natasya, karena jika dia diperbolehkan jujur hatinya merasakan sebuah kecemburuan saat dia mendengar Hasan begitu mengkhawatirkan perempuan itu. Meskipun, saat itu Maryam juga sadar jika kecembuan itu timbul karena kesalahannya menjatuhkan hati kepada laki – laki yang sudah seharusnya dia anggap kakak saja.
“Udah Maryam, udah mending sekarang kamu lanjut tadarusan, biar berhenti mikirin yang gak penting” gumam Maryam, sambil bangkit dari posisi berbaringnya dengan pelan – pelan karena takut membangunkan Alina yang tidur di samping setelah dia membantu kakaknya makan bubur.
Setelah mengambil wudhu, Maryam baru teringat jika Al – Q ur’an miliknya masih di kamar, jika dia menggunakan Al – Qur’an milik ibunya, Maryam tidak ingat dibagian mata terakhir kali dia tadarus. Akhirnya, Maryam memilih mengambil Al – Qur’annya terlebih dahulu di kamar.
Maryam membuka pintu kamarnya dengan pelan – pelan karena takut menganggu Hasan yang saat itu sedang tidur. Kemudian, dengan membiarkan pintu kamar tetap terbuka Maryam melangkahkan kakinya dengan mengendap – endap, Maryam mengambil Al – Qur’an miliknya masih dengan cara mengendap – endap.
“Jangan pergi … tolong … jangan ..,” Maryam seketika langsung menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara Hasan.
Sesaat, gadis itu terdiam mematung ditempatnya, kemudian berbalik menatap kearah Hasan. Dia langsung menghembuskan nafasnya tenang saat melihat mata Hasan masih terpajam, saat itu Hasan hanya mengigau dalam tidurnya, hanya saja Maryam tidak tahu mimpi apa yang saat itu terjadi dalam tidur Hasan hingga laki – laki itu berkata jangan pergi. Seketika, rasa cemburunya kembali hadir saat dia berpikir jika Hasan mungkin sedang memimpikan Natasya.
“Maryam ..,” seketika Maryam yang hendak berbalik pergi langsung menolehkan kembali kepalanya kearah Hasan.
Gadis itu menatap Hasan selama beberapa saat, karena dia merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Hasan mengigaukan namanya, tapi sesaat kemudian Maryam berusaha menepis semua pikirannya, dia berusaha meyakinkan dirinya jika dia hanya salah dengar, karena Maryam tidak ingin dirinya berharap lebih.
“Jangan pergi … Maryam tetaplah di sini, di samping Kakak” gumam Hasan lagi, berhasil membuat Maryam akhirnya berbalik dan melangkahkan kakinya mendekati tubuh Hasan.
Maryam. Benar, Maryam bisa mendengar dengan jelas jika Hasan baru saja memanggil namanya, menyadari fakta itu, tiba – tiba dibalik cadarnya bibir Maryam menyunggingkan senyuman, senyuman yang hadir karena sebuah perasaan aneh yang hatinya rasakan. Kemudian, Maryam menyentuh bagian dadanya, jantungnya terasa berdebar kencang, saat dia mendengar seseorang yang selama ini dia kagumi dalam diam baru saja memanggilnya tidak seperti seorang Kakak, tapi seperti seorang laki – laki normal pada umunya, meskipun itu hanya dalam sebuah mimpi.
Namun, dahi Maryam seketika berkerut bingung saat dia melihat wajah Hasan yang terlihat pucat, tubuhnya juga terlihat berkeringat, dan saat itu tidurnya juga terlihat gelisah. Melihat hal itu, Maryam langsung mencari thermometer dan mengukur suhu badan Hasan.
“Ya Allah, 39, 7 tinggi banget, Kak Hasan demam” gumam Maryam, sambil menyimpan thermometer dan Al – Qur’an yang saat itu sedang dia pegang di atas nakas.
Kemudian, Maryam kembali bergegas pergi ke dapur, dan tidak lama kembali membawa alat – alat kompresan, karena Maryam ingat ibunya pernah mengajarkan jika sedang demam biasanya demamnya akan turun dengan cara di kompres, dan kali ini akan menjadi kali pertamanya Maryam mempraktekan apa yang ibunya ajarkan.
Setelah memeras handuk kecil yang dia masukkan kedalam air, Maryam meletakannya di dahi Hasan, berharap demam laki – laki itu bisa benar – benar turun setelah dia kompres. Sesaat, Maryam terdiam memandang wajah Hasan, tapi sesaat kemudian gadis itu langsung memalingkan wajahnya saat apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan. Namun, memandang wajah Hasan, membuat Maryam sadar, jika mencintai Hasan bukanlah sebuah kesalahan, karena nyatanya cinta berhak memilih kepada siapa dia jatuh cinta, sedangkan Maryam tidak bisa menentangnya, karena sekuat apapun dia mencoba menolak semua hanya akan berakhir sia – sia jika cintanya sudah menjatuhkan pilihan.
“Cepat sembuh Kak, jangan sakit seperti ini, karena meskipun sakit adalah salah satu hal yang harus di syukuri, tapi aku takut sakit itu juga yang akan membawa kakak pergi dari ku” gumam Maryam, sambil menatap perut Hasan yang tertutup selimut dan masih terlihat naik turun pertanda laki – laki itu masih bernafas.
Kemudian, Maryam mendongakan kepalanya keatas langit – langit kamar, memikirkan sesuatu yang terkesan abstark sehingga saat itu membuat kepalanya berpikir tapi dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan.
“Andaikan ada kisah kebersamaan antara aku dan Kak Hasan yang tercatat di langit untuk kami lalui selama hidup di bumi, mungkin itu bisa menyenangkan” gumam Maryam, sambil tersenyum kecil.
Menunggu Hasan yang sedang sakit sambil memikirkan hal – hal absurt sebenarnya baru pertama kali Maryam lakukan. Sesekali gadis itu juga membasahi ulang pengompres Hasan kemudian menempelkannya kembali di dahi laki – laki itu, kagiatan itu terus Maryam lakukan karena selama menunggu Maryam tidak mengantuk sedikitpun.
Hingga, samar – samar Maryam bisa mendengar sayup – sayup suara orang yang sedang mengaji, dan biasanya hal itu dilakukan saat waktu sudah mendekati waktu subuh. Saat Maryam melirik jam, ternyata saat itu memang sudah menunjukan jam 04.00, tidak terasa Maryam duduk hanya untuk mengopres Hasan sudah lumayan lama. Kemudian, Maryam mengecek kembali suhu tubuh Hasan.
“39 masih tinggi meskipun udah lumayan turun” gumam Maryam, sambil menyimpan kembali thermometernya.
Setelah itu, Maryam pergi meninggalkan Hasan karena Maryam tidak ingin saat laki – laki itu terbangun menemukan dirinya yang saat itu sedang merawatnya. Kemudian, Maryam membangunkan Alina, agar gadis itu segera pergi ke kamarnya menggatikan posisinya mengompres Hasan yang sedang demam.
***
“Kakak demam sejak semalam ? kenapa gak bilang ?” todong Alina kepada Hasan saat laki – laki itu sudah membuka matanya bertepatan ketika suara adzan subuh baru saja selesai berkumandang.
Namun, saat itu Hasan yang masih belum sepenuhnya sadar hanya menatap Alina dalam diam, kemudian dia menatap sekeliling kamar seakan ada seseorang yang sedang dia cari. Tangannya, terangkat menyentuh handuk kecil yang masih setia menempel di dahinya, kemudian dia mengalihkan tatapan matanya kearah Alina seakan bertanya apakah dia yang semalaman mengompresnya. Hanya saja, gadis itu justru ikut menatapnya seakan arti dari tatapan gadis itu adalah sebuah tuntutan agar Hasan segera menjawab pertanyaannya.
“Ya, Kakak cuma gak mau ngerepotin kamu aja” ujar Hasan, sambil menutupi mata dengan tangannya.
Karena jika saja dia diperbolehkan untuk jujur, saat itu kepalanya terasa sakit, tubuhnya juga terasa panas tapi dia merasa kedinginan. Sedangkan Alina, hanya mampu menghela nafasnya saat dia mendengar jawaban sang Kakak, jawaban yang selalu membuat Alina kesal mendengarnya.
“Kakak manusia, kan ? ingat, manusia itu makhluk sosial, pahamkan arti dari makhluk sosial ?” tanyanya, sambil menurukan lengan Hasan dan kembali menempelkan handuk kecil yang sudah dia basahi di dahi kakaknya.
“Makhluk yang saling membutuhkan.”
Hasan terkekeh kecil saat mendengar ceroscosan adiknya, karena jika Alina sedang berada dalam mode kesal dia akan sangat mirip dengan ayah mereka yang dingin, kaku, dan bicara tajam. Hal itu, berhasil membuat Alina mengerutkan dahinya sambil menatap kearah Hasan dengan tatapan kesal.
“Kamu mirip ayah” ujar Hasan, yang hanya Alina balas dengan delikan mata.
“Tolong Kak sadar diri, jangan so – soan ngelakuin semuanya sendiri, bahkan aku sudah merepotkan Kakak sejak aku masih berada dalam kandungan Bunda, jadi tolong biarkan aku jadi adik yang berguna, jangan seperti sekarang yang Kakaknya sedang sakit aku bahkan tidak tahu apa – apa” ujar Alina, sambil menatap Hasan dengan mata yang terlihat berkaca – kaca.
Menyadari saat itu adiknya sudah hampir mmenangis, Hasan langsung mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian dia menarik tubuh Alina ke dalam dekapannya. Hasan tidak pernah bermaksud membuat Alina merasa tidak berguna, dia hanya tidak ingin mengusik adiknya hanya untuk mendengar keluhannya. Dia selalu berusaha terlihat kuat dan baik – baik saja karena tidak ingin Alina tahu seberapa besar luka di dalam hatinya meskipun saat ini semua sudah membaik, tapi mengingat betapa kerasnya perjuangan dia dulu demi Alina dan Bundanya, selalu berhasil membuat Hasan takut massa itu akan kembali dan dia tidak bisa melindungi Alina seperti dulu.
“Kakak minta maaf, Kakak gak maksud bikin kamu merasa seperti itu, Kakak hanya gak mau membuat kamu repot oleh hal sepele seperti demam Kakak ini, udah jangan nangis” ujar Hasan, sambil mengelus punggung adiknya, berusaha membuat dia merasa jauh lebih tenang.
“Tapi, kamu tahu gak sih semalem Kakak mimpi aneh lagi tentang Maryam” ujar Hasan, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mendengar nama Maryam, Alina langsung merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Hasan lekat – lekat. Menunggu kelanjutan cerita yang kakaknya akan sampaikan. “Dalam mimpi Kakak dia pergi sambil nangis dan gak mau noleh ke belakang sedikitpun, bahkan saat Kakak berusaha tahan dia tetap gak mau berhenti” ujar Hasan, sambil menatap wajah adiknya.
Mimpi itu memang pernah Hasan Alami semalam saat dia pingsan dan tiba – tiba bangun setelah mimpi itu. Hasan tidak tahu apa makna dari mimpi itu, tapi karena mimpi itu terjadi secara beruntun membuat Hasan yang semula menganggapnya sebagai mimpi biasa menjadi penasaran. Karena, setelah mengalami mimpi yang sama sebanyak dua kali, Hasan merasa mimpi itu bagaikan sebuah isyarat atau teka – teki.
“Abis itu, Kakak dengar suara tapi gak tahu dia bilang apa, dan suaranya itu kaya suara Maryam tahu Gak” ujar Hasan, sambil menatap langit – langit kamar.
“Emang Kakak pikir yang jaga dan ngompresin Kakak di sini semaleman siapa kalau bukan Maryam” tanya Alina, sambil menatap Hasan dengan bibirnya yang terlihat menahan senyuman saat dia melihat ada senyuman juga yang terbit dari bibir kakaknya ketika tahu Maryamlah yang menjaganya semalam.
Namun, perbincangan sepasang kakak beradik itu tiba – tiba terusik saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya pertanda ada pesan masuk.
“Bu Intan di rencanakan akan melakukan operasi dalam dua hari ke depan, karena jika operasi terus di tunda akan membahayakan nyawanya, meskipun dengan tindakan operasi juga ada resiko besar yang harus di terima. Jangan dulu di beritahukan kepada non Maryam tentang hal ini, tolong buat dia merasa tenang saja di sana”
Hasan langsung mengembalikan ponselnya ke tempat semula tanpa membalas pesannya terlebih dahulu, kemudian dia mengajak Alina untuk melaksanakan sholat Subuh, tanpa Maryam karena mungkin gadis itu sudah melaksanakannya di kamar ibunya.
Sesaat, Hasan terdiam selama beberapa saat setelah dia menyelesaikan shalat dan berdzikir di atas sejadah. Kemudian, dia segera membereskan perlengkepan shalatnya karena setelah shalat Hasan berniat akan pergi ke rumah sakit kemudian pergi ke suatu tempat untuk menyelesaikan sesuatu yang memang sudah seharusnya di selesaikan.
“Kakak pergi ke rumah sakit dulu ya ngecek keadaan Mbak Intan, nanti Kakak suruh Ayah sama Bunda datang ke sini untuk menemani kalian, selama Kakak pergi dan selama Ayah sama Bunda belum datang baik – baik di rumah, jaga Maryam baik – baik, dan jangan buka pintu untuk sembarang tamu” ujar Hasan, sambil mendaratkan satu kecupan hangat di dahi adiknya.
Setelah itu Hasan berlalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban adiknya terlebih dahulu. Karena, hari itu dengan keadaannya yang bisa di katakan tidak baik, ada banyak hal berat yang harus dia selesaikan.
Selama diperjalanan menuju rumah sakit, Hasan berusaha menghubungi seseorang yang sebenarnya dia khawatirkan juga keadaannya. Namun, beberapa kali dia coba telepon tapi nomornya tidak pernah aktif, hal itu berhasil menambah kecemasan dalam diri Hasan terhadapnya dia yang Hasan sendiri tidak tahu sedang dimana, apakah dia baik – baik saja atau tidak.
“Oke, ke rumah sakit dan pastikan semuanya lebih dulu, baru setelah itu ambil langkah selanjutnya Hasan” ujar Hasan, kepada dirinya sendiri sambil mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit.
***
Hasan melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan yang beberapa hari lalu dia kunjungi dengan kepala tertutup oleh kupluk jaket yang saat itu dia gunakan. Tepat saat kakinya sampai di depan ruang perawatan yang dia tuju, Hasan menyalami tangan kedua orang tuanya kemudian membicarakan keadaan Intan bersama Adrian.
“Ini posisi yang sangat sulit, ada resiko besar yang harus kita terima terhadap masih – masing keputusan yang harus kita ambil” ujar Adrian, sambil menghela nafasnya.
“Dan kemarin, orang – orang yang sepertinya suruhan Tuan Adler ada di rumah sakit ini, hanya saja mereka tidak sampai ke sini, karena sejak awal saya sudah memalsukan identitas Bu Intan” ujar Adrian, berhasil membuat Hasan sempat kaget.
“Mereka benar – benar bergerak cepat Mas, karena kemarin ada dua orang yang berusaha masuk rumah” ujar Hasan, membuat kekagetan berganti pada Adrian.
“Tapi Mas, hari ini aku ada urusan sebentar, mungkin aku akan meminta tolong kepada Ayah dan Bunda untuk menjada Alina dan Maryam di rumah” ujar Hasan, yang langsung diangguki oleh Adrian.
Setelah berpamitan kepada Adrian, Hasan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatan Intan. Tepat saat Hasan duduk di dekat mereka, Bundanya adalah orang pertama yang menyadari luka – luka Hasan, dan menyadari jika Hasan sedang sakit, karena saat itu wajah Hasan memang terlihat pucat.
“Ayah, Bunda bisa tolong ke rumah Mbak Intan dan menemani Alina untuk menjaga Maryam di rumah, aku khawatir jika harus meninggalkan mereka berdua saja, hanya di temani Lili, aku ada urusan sebentar jadi tidak bisa menjaga mereka dulu” ujar Hasan, sambil menatap ayah dan ibunya.
“Iya nanti Ayah sama Bunda ke sana, tapi kamu mau kemana dengan keadaan kamu yang lagi sakit dan luka – luka begini ?” tanya Bunda Risa, sambil menatap Hasan penuh ke khawatiran.
Hasan tersenyum mendengar perkataan Bundanya yang sangat khawatir, tangannya bergerak membawa tangan Bundanya ke dalam gengaman tangannya. Baru saja mulutnya terbuka hendak memberikan jawaban, tiba – tiba suara notifikasi muncul dari handphonenya.
“Hasan, tolong jangan pernah kecewa dengan apa yang terjadi pada hari ini, yang harus kamu tahu aku mencintai Mu”
Setelah membaca pesan itu, Hasan langsung bangkit dari posisi duduknya kemudian berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan terburu – buru. Melihat tindakan Hasan, tentu saja membuat Bunda Risa merasa semakin khawatir pada keadaan putranya. Hanya saja, saat itu Hasan berada dalam keadaan yang membuatnya harus bertindak cepat untuk menyelamatkan hatinya, hidupnya, dan cintanya.