Berusaha melindungi keluarga dan orang – orang yang di sayanginya adalah hal yang selalu Hasan lakukan, karena bagi Hasan keamanan keluarganya, kenyamanan keluarganya, dan keselamatan keluarganya adalah hal yang paling berharga baginya. Karena mereka, Hasan masih berdiri kuat bahkan saat hatinya pernah hancur berkeping – keeping. Tidak peduli sudah berapa banyak luka yang dia dapatkan, Hasan akan terus berusaha sekuat tenaga membuat mereka bahagia bagiamanapun caranya.
“Apa yang kalian lakukan di sini ? kenapa kalian menggedor rumah orang seperti itu” tanya Hasan, dengan suaranya yang terdengar sangat tenang tapi hal itu yang justru memunculkan aura mengerikan dari dirinya.
“Berhenti dan pergi dari rumah orang, berisik !!” lanjut Hasan, penuh ketegasan.
Dua laki – laki yang sedang berdiri tidak jauh dari posisi Hasan itu akhirnya membalik posisi badan mereka sehingga menjadi berhadapan dengan Hasan. Sesaat, ada senyuman yang terbit dari bibir mereka, seakan mereka meremehkan kemampuan Hasan yang sudah babak belum dan hanya sendirian. Namun, saat itu Hasan tidak memperlihatkan rasa takutnya sedikitpun, karena bagi Hasan tidak ada apapun yang bisa membuatnya merasa takut kecuali Allah.
“Pergi dari sini atau saya laporkan kalian ke Polisi.”
Lagi – lagi dua laki – laki tersenyum kecil mendengar ancaman Hasan, kemudian salah satu dari mereka melangkahkan kakinya mendekati Hasan, dan hal itu masih belum membuat Hasan bergeming sedikitpun. Dia masih tampak berani berhadapan dengan mereka.
“Laporin aja, tapi sebelum laporan itu sampai ke polisi lo akan jadi mayat lebih dulu” ujar salah satu dari mereka, sambil melayangkan satu pukulan ke wajah Hasan hingga laki – laki itu terjungkal kebelakang.
Sesaat, Hasan terdiam meresapi kepalanya yang terasa pening, kemudian dia bangkit dari posisinya dan membalas pukulan laki – laki itu, awalanya Hasan bisa mengimbangi, tapi karena keadaannya yang masih lemah setelah di pukuli habis – habisan di apartemennya, tubuh Hasan lagi – lagi terhuyung jatuh, hingga salah satu dari mereka tiba – tiba memegang tangan Hasan dan yang satunya lagi memukuli Hasan. Saat itu, untuk yang kedua kalinya tubuh Hasan di pukuli orang, tidak tahu sudah berapa banyak lukisan luka yang ada di wajahnya, karena aat itu yang Hasan pedulikan adalah keselamatan Maryam dan Alina, sekelipun saat itu keadaannya untuk mengambil nafas saja sudah terasa sesak.
Hasan terus berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang dia meliki meskipun Hasan sadar keadaanya sudah sangat lemah. Dia tidak akan membiarkan tubuhnya menyerah, karena jika hal itu sampai terjadi Hasan tidak tahu apa yang akan terjadi pada dua adiknya yang sedang ada di dalam rumah.
“Hey … siapa kalian ?! kenapa kalian memukulinya ?!” mereka yang saat itu sedang mengeroyok Hasan langsung menoleh dan seketika langsung berlari saat melihat tiga orang laki – laki yang mungkin tinggal di daerah itu juga, karena jika tidak mereka pasti akan memanggil wakrga lain dan mereka sudah pasti akan kalah jumlah.
Melihat dua orang mencurigakan itu berlari, mareka langsung mengejarnya setelah salah satu diantara mereka memastikan keadaan Hasan masih bisa dikatakan baik meskipun sudah babak belur. Kemudian, Hasan mengirimkan pesan kepada Lili untuk membuka pintu sambil bersandar di pintunya, karena saat itu dia sudah tidak memiliki kekuatan walau hanya untuk mengetuk pintu atau mengucapkan salam.
Tidak lama setelah itu, Lili membuka pintu, perempuan berusia 25 tahun itu tampak terkejut melihat keadaan Hasan yang tidak baik – baik saja. Saat itu, Hasan hanya mengangkat tangannya sebagai tanda jika dia baik – baik saja ketika Lili menanyakan bagaimana keadaannya. Kemudian, Hasan melanjutkan langkahnya menuju lantai atas, tepat dimana kamar Maryam berada. Sesekali laki – laki itu menghentikan langkahnya saat dia merasakan sakit di sekitar tubuhnya terutama di dadanya, tapi dia tetap memaksakan diri untuk tetap naik.
“Ini Kakak, buka pintunya” ujar Hasan, pelan sambil menyandarkan tubuhnya di dinding, meresapi rasa sakit pada tubuhnya, ketika dia sudah tiba didepan pintu kamar Maryam.
“Kak Hasan, Kakak kenapa ? kenapa wajahnya luka – luka gini ?” ujar Alina, sambil menangkup kedua pipi kakaknya dengan mata yang sudah terlihat berkaca – kaca.
Melihat kekhawatiran yang terpancar jelas dari mata adiknya, Hasan tersenyum kemudian membawa dia ke dalam dekapannya. Setidaknya, melihat Alina dalam keadaan baik – baik saja membuat Hasan merasa lega. Kemudian, tatapan mata Hasan beralih menatap Maryam yang saat itu hanya menatapnya dengan tatapan tidak kalah khawatir.
“Kakak gak papa, kalian juga gak papakan ? Alina baik – baik aja ? Maryam juga kan ?” tanya Hasan, memastikan keadaan dua gadis itu memang benar – benar baik – baik saja.
Namun, bukannya menjawab, saat itu mereka hanya diam sambil menatap Hasan dengan tatapan khawatir yang belum juga hilang dari mata mereka.
“Kakak baik – baik aja, dan Kakak harap begitupun dengan kalian, ayo lebih baik sekarang kalian beristirahat lagi di kamar ya, Kakak harus ke bawah dulu” ujar Hasan, sambil tersenyum menatap keduanya secara bergantian.
Hasan yang saat itu sudah berbalik kembali berbalik menatap kearah Maryam, saat dia sadar gadis itu memegang lengan jaket yang saat itu Hasan gunakan. Namun, gadis itu dengan cepat langsung melepaskannya, dan hal itu berhasil membuat Hasan bingung sekaligus geli melihat tingkah adiknya yang satu itu.
“Maaf ya Kak, karena aku Kakak jadi luka seperti ini, tapi sebaiknya lukanya biar diobati dulu ya” ujar Maryam, yang langsung mendapat anggukan setuju dari Alina.
“Kakak baik – baik aja Maryam, Kakak masih kuat” ujar Hasan, sambil mengangkat tangannya seakan memperlihatkan otot tangannya sambil terkekeh kecil. “Udah kamu jangan khawatir lagi ya, dan ini semua bukan salah kamu, Kakak juga akan segera mengobati luka – lukanya” ujar Hasan, sambil tersenyum kecil.
Namun, tepat ketika Hasan akan berbalik hendak pergi meninggalkan mereka, tiba – tiba laki – laki itu terbatur sampai akhirnya ada darah yang dia muntahkan. Tidak lama setelah itu tubuh Hasan limbung dan jatuh ke dalam kepelukan Maryam yang kebetulan saat itu sedang berada di hadapannya. Saat itu, Maryam tidak berusaha menangkap tubuh Hasan, hingga akhirnya tubuh laki – laki itu benar – benar terjatuh ke atas lantai karena tepat setelah Hasan jatuh dalam pelukannya Maryam langsung memundurkan tubuhnya.
“Kakak, Kak Hasan bangun, Kakak kenapa ?!” ujar Alina, dengan air mata yang sudah berjatuhan dari pelupuk matanya.
“Kak Hasan, bangun Kak …” uajr Alina, sambil memeluk Hasan yang saat itu masih tertidur diatas lantai.
Alina benar – benar menangis kencang saat dia melihat kakaknya tumbang tepat didepan matanya sendiri, sedangkan Maryam, setelah terdiam selama beberapa saat karena shock akhirnya dia ikut berjongkok dengan isak tangis yang ikut lolos dari bibirnya.
“Bagaiman ini, apa sebaiknya kita bawa Kak Hasan ke rumah sakit aja ?” tanya Maryam, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar.
Tidak ada yang Alina katakan saat itu, dia hanya diam sambil terisak menangis dan mengguncang tubuh Kakaknya, berharap dengan cara itu bisa membuat kakaknya kembali bangun. Namun, mata Hasan tetap terpejam, saat itu Alina juga merasa tidak mungkin jika harus membawa Hasan ke rumah sakit karena hal itu akan membahayakan Maryam, terlebih belum genap satu jam ada orang yang datang diam – diam mengintai rumah.
***
Sudah satu jam berlalu tapi Hasan belum juga terbangun dari pingsannya, laki – laki itu masih terlihat tenang dalam lelap membuat Alina dan Maryam harap – harap cemas menunggunya terbangun. Sampai akhirnya, Alina dan Maryam langsung sama – sama menoleh menatap kearah Hasan saat laki – laki itu tiba – tiba bergumam, hanya saja tidak terdengar jelas gumamannya apa.
“Nat, jangan pergi ..,” Alina dan Maryam sesaat langsung bertatapan saat mereka bisa mendengar gumaman Hasan untuk yang ke sekian kalinya.
“Natasya …” gumam Hasan lagi, berhasil membuat Alina menatap kakaknya dengan dahi berkerut dan tangan yang tidak lepas menggenggam tangan kakaknya.
Dalam tidurnya, Hasan bermimpi Natasya yang tiba – tiba memilih pergi meninggalkannya, dan hal itu berhasil membuatnya terluka. Dia merasa tidak bisa jika harus melepas Natasya begitu saja, karena kebersamaan mereka, komitmen mereka, semua rencana mereka, semuanya sudah menjadi rangkaian kisah yang terekam oleh memory dan dia hanya perlu melanjutkannya saja, tapi jika Natasya pergi meninggalkannya maka Hasan tidak bisa melanjutkan kisahnya.
“Kak Alin, aku akan menyiapkan bubur untuk Kak Hasan, agar saat dia bangun nanti bisa langsung makan” ujar Maryam, yang hanya diangguki Alina dengan senyum tipis yang terbit dari bibirnya.
Sepeninggalan Maryam, Alina kembali memandang wajah kakaknya dengan seksama. Mendengar Hasan menggumamkan nama seorang perempuan, membuat Alina merasa jika apa yang dia tebak tentang bagaimana kedekatan Hasan bersama Natasya, rencana kisah mereka ke depannya memang benar. Karena, Alina merasa ada yang tidak biasa diantara Hasan dan Natasya saat mereka sedang bersama.
Namun, kegiatan Alina yang saat itu sedang melamun tiba – tiba terusik saat melihat tidur kakaknya yang semua terlihat tenang tiba – tiba berubah gelisah. Saat itu, Alina hanya mampu mengelus lengat Hasan berharap cara itu bisa membuat tidur kakaknya jauh lebih tenang. Namun, tiba – tiba mata Hasan yang semula terpejam langsung terbuka hingga membuat Alina khawatir melihatnya.
“Maryam mana, Alin ?” tanyanya, pertama kali setelah dia pingan satu jam lebih.
“Ke dapur, katanya mau buat bubur buat Kakak, kenapa ?” tanya Alina, sambil menatapnya bingung.
Sesaat Hasan terdiam sambil menatap langit – langit kamar, kemudian dia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Melihat kakaknya yang hanya diam, lagi – lagi Alina mengerutkan dahinya bingung, karena menurutnya tingkah Hasan terlihat aneh tepat setelah dia bangun dari pingsannya.
“Barusan Kakak mimpi Maryam pergi, dia terus jalan sambil menunduk tapi Kakak denger ada isak tangisan, saat Kakak berusaha kejar dia tetap gak mau menoleh sedikitpun, saat Kakak berusaha menggapai tangannya dia justru samakin keras berusaha menjauh dari Kakak” ujarnya, sambil menatap kearah Alina.
“Tapi, syukur deh kalau memang dia ada di rumah dan baik – baik aja” ujar Hasan, sambil menghela nafas lega.
“Kakak mau ke rumah sakit, luka – lukanya harus di periksa, aku juga gak berani menghubungi siapapun karena takut mengecaukan semuanya” ujar Alina, sambil menatap Kakaknya penuh ke khawatiran.
Namun, saat itu Hasan yang sedang menyandarkan kepalanya pada kepala ranjang dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata jika dia perlu pergi ke rumah sakit. Mata terpejam laki – laki itu sengaja dia pejamkan saat dia teringat seseorang yang harus segera hubungi. Kemudian, dia langsung mengambil handphonenya yang tersimpan diatas nakas, tangannya dengan lihai mencari kontak nama seseorang, kemudian mendialnya untuk melakukan panggilan. Hanya saja, beberapa kali Hasan mencoba, tapi sambungan telepon itu tidak pernah terhubung.
“Mau telepon siapa sih, Kak ?” tanya Alina, sambil menatapnya kesal.
“Natasya, dia dalam bahaya, tadi apartemen Kakak didatengin cowo yang mau dijodohin sama dia, dan sekarang orang itu bawa paksa Natasya pergi” ujar Hasan, sambil sibuk mengutak atik handphonenya.
“Jangan bilang selain karena berantem di bawah tadi, wajah Kakak emang udah bonyok gara – gara ngebelain cewe itu ?” tanya Alina, sambil menatap Kakaknya yang sedang sibuk mengutak atik handphonnya, dan hanya laki – laki itu jawab pertanyaan Alina degan anggukan kepala aja.
Melihat anggukan kepala Hasan, Alina langsung merebut paksa handphone kakaknya, kemudian dia meminta Hasan untuk segera beristirahat. Saat itu, Alina lebih terlihat seperti seorang ibu yang sedang mendisiplinkan anaknya yang bermain handphone terus – terusan. Melihat sikap posesif adiknya, Hasan hanya mampu menghela nafas dan menuruti apa yang dia katakan.
Sementara, diluar pintu kamar yang saat itu terbuka, Maryam yang sudah membawa bubur untuk Hasan, memilih bersembunyi selama beberapa saat dibalik dinding saat tanpa sengaja dia mendengar percakapan dimana Hasan yang rela babak belur demi Natasya. Tidak tahu kenapa, tapi fakta itu berhasil membuat hatinya merasa tersentil, di tambah melihat Hasan yang terlihat mengkhawatirkan Natasya membuat hati Maryam merasa terluka.
“Kak Hasan makan dulu, baru setelah itu istirahat, malam ini Kakak tidur di kamar ini aja, biar aku tidur di kamar Umma” ujar Maryam, yang saat itu memilih masuk setelah tidak mendengar percakapan apapun lagi.
“Makasih ya, kamu langsung istirahat aja, nanti Kakak susul” ujar Alina, sambil menerima nampan yang dibawa Maryam.
Setelah selesai, Maryam dengan terburu – buru memilih pergi, tidak berniat ikut bergabung bersama Alina dan Hasan. Terlebih saat itu Alina memintanya untuk pergi ke kamar agar bisa beristirahat. Jika Alina tidak menyadari sikap Maryam yang terlihat sedang menghindar, berbeda dengan Hasan yang menyedarinya, karena meskipun biasanya Maryam selalu menjaga pandangan dengannya, tapi kali ini berbeda.