Tidak akan ada yang tahu bagaimana isi hati setiap manusia, karena sekalipun hati adalah bagian yang paling jujur, tapi pada hakikatnya letak hati itu tersembunyi dan bisa di manipulasi oleh ekspresi atau bohongnya kata – kata yang terucap dalam lisan.
Hasan menatap sosok gadis yang saat itu sedang duduk di basement sebuah apartemen yang cukup mewah sambil memeluk lututnya dengan suara isak tangis yang terdengar memilukan. Pelan – pelan, Hasan berjalan mendeti perempuan itu. Sesaat dia hanya diam berdiri mematung dihadapan perempuan itu tanpa mengatakan apapun.
“Nat, kamu gak papa ?” tanya Hasan, sambil menyentuh pundak Natasya yang saat itu terlihat bergetar.
Perempuan yang Hasan panggil itu mendongakan kepalanya dan menatap Hasan dengan tatapan yang masih memancarkan aura ketakutan dengan air mata yang sudah membajiri kedua belah pipinya. Melihat keadaan gadis itu yang terlihat memprihatinkan, Hasan berjongkok menyamakan posisinya dengan perempuan dihadapannya.
“Hey, tenang ya ini aku, kamu aman sekarang, udah jangan nangis lagi ya” ujar Hasan, sambil mengelus kepala gadis itu dengan penuh kelembutan berusaha membuat dia merasa tenang dan aman.
Sadar yang sedang berada dihadapannya adalah Hasan, dia langsung memeluk Hasan dengan isak tangis yang kembali terdengar kencang. Sesaat, Hasan sempat mematung, karena meskipun dia tidak seislami ayah dan ibunya, tapi dia tahu batasan, dan di peluk seorang perempuan merupakan kali pertamanya yang dialami Hasan.
“Nat, udah dia udah gak ada, sekarang kamu aman sama aku, kamu tenang ya” ujar Hasan, sambil mengelus rambut Natasya ragu – ragu.
“Aku takut, tadi dia pukul aku Hasan, dia mau nodain aku, aku takut” ujarnya, masih dalam posisi memeluk Hasan dengan erat.
“Iya, sekarang kamu tenang, lebih baik kita pulang, biar aku antar kamu pulang ya” ujar Hasan, sambil melerai pelukannya kemudian menghapus lelehan air mata yang saat itu membasahi pipi Natasya.
Kemudian, dengan pelan – pelan Hasan membantu Natasya bangkit dari posisi duduknya, mereka tidak bisa berlama – lama karena hal itu akan mengundang kecurigaan orang – orang, dan hal itu juga bisa membuat Natasya kembali berada dalam bahaya.
Namun, belum sempat mereka sampai ke mobil Hasan yang saat itu memang sengaja diparkir agak jauh dari lokasi keberadaan Natasya, gadis itu sudah leih dulu pingsan. Hal itu sempat membuat Hasan merasa takut dan khawatir, tapi sebisa mungkin Hasan membawa Natasya ke mobilnya, karena setelah berada di dalam mobil semuanya akan jauh lebih aman.
“Nat, bangun” ujar Hasan, sambil menepuk – nepuk ringan pipi Natasya yang saat itu belum sadar juga.
Natasya, adalah gadis dari masa kecilnya, gadis itu adalah sosok yang selalu membuat Hasan semangat berangat ke sekolah, setiap ada tugas kelompok mereka pasti selalu berada dalam satu kelompok yang sama, dan karena saat itu rumah mereka dekat, setiap pulang sekolah mereka pasti selalu main bersama atau belajar bersama. Namun, tepat setelah Hasan lulus kuliah dan memutuskan berhenti dari tempat kerjanya, kemudian berpindah bersama keluarganya ke Makassar agar bisa lebih dekat dengan Intan dan Maryam, ternyata disanalah takdir kembali mempertemukan Hasan dengan Natasya. Karena, ternyata Natasya dan keluarganya juga pindah ke Makassar.
Namun, menatap wajah Natasya, berhasil membuat Hasan tiba – tiba teringat pada adiknya terutama Maryam, gadis itu pasti sangat kecewa karena dia tidak menepati janjinya karena dia harus menolong Natasya. Menyadari hal itu, Hasan berusaha membangunkan Natasya, karena setelah mengantarkan Natasya dengan selamat dia harus meminta maaf kepada adiknya terutama Maryam.
“Syukurlah, akhirnya kamu bangun, aku antar kamu pulang ya, soalnya aku harus buru – buru jemput adik ku lagi, tadi juga aku ninggalin acara makan malam untuk syukuran ulang tahun Maryam, dia pasti sedih sekarang, kamu udah baikan kan sekarang ?” tanya Hasan, sambil menelisik keadaan Natasya, berusaha memastikan keadaan gadis itu baik – baik saja atau tidak.
“Maryam, Maryam, dan Maryam terus yang kamu pikirin, bisa enggak sih sekali aja kamu gak usah bawa – bawa nama anak itu lagi, aku muak dengernya, kalau memang kamu lagi ada acara sama dia dan gak ikhlas nolongin aku, buat apa kamu datang ke sini ? buat apa ? biarin aja aku di pukulin sama orang itu, di lecehin sama dia biar kamu puas sekalian !” ujar Natasya, yang tiba – tiba marah kepada Hasan.
Menyadari jika saat itu dia sudah salah bicara, Hasan membawa tangan Natasya ke dalam genggaman tangannya, dia berusaha menenangkan Natasya yang pasti masih berada dalam keadaan tidak baik – baik saja.
“Atau jangan – jangan kamu bilang suka sama aku, itu bohong ! karena kamu aslinya suka sama Maryam iya ?! makannya kamu gak pernah mau kita pacaran” tanya Natasya, dengan suara yang terdengar melemah diakhir kalimatnya.
Hasan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Natasya, kemudian dia menangkup kedua pipi Natasya. Pelan – pelan, dengan penuh kelembutan Hasan menghapus lelehan air mata yang sudah kembali membanjiri pipinya karena air mata juga sudah berjatuhan dari pelupuk matanya. “Kamu lihat aku Nat, lihat mata ku” ujar Hasan, berhasil membuat Natasya yang sejak tadi berusaha menghindari tatapan Hasan akhirnya menatap tepat dibagian matanya.
“Kamu adalah orang pertama yang memperkenalkan aku pada sebuah cinta yang murni hadir seiiring perjalanan waktu, kamu orang pertama yang aku pilih sebagai cinta pertama dan akan aku perjuangkan hingga menjadi istri ku, jadi tolong jangan meragukan aku seperti itu, sampai detik ini aku masih berusaha memantaskan diri agar aku tidak terlihat rendah dihadapan ayah kamu, karena kamu sendiri tahu, saingan ku adalah anak dari seorang anak pengusaha emas, yang sudah memiliki banyak cabang” ujar Hasan, sambil menatap Natasya tepat dibagian matanya.
“Kamu adalah orang yang akan selalu aku lindungi semaksimal mungkin Nat, karena keselamatan kamu adalah kelegaan aku, ketenangan kamu adalah ketenangan aku, dan kebahagian kamu adalah kebahagiaan aku juga, tapi untuk masalah Maryam, tolong mengertilah, dia sudah aku anggap seperti adik ku sendiri sama seperti Alina, jadi aku mohon jangan pernah melarang ku memberi kasih sayang kepadanya, karena aku adalah kakaknya” ujar Hasan, berhasil membuat air mata kembali menetes dari mata Natasya.
“Aku hanya takut kamu salah menafsirkan rasa kamu, aku takut kalau hati kamu ternyata mencintai Maryam, atau jikapun tidak pelan – pelan hati kamu mencintai Maryam karena kedekatan yang terjalin diantara kalian” ujar Natasya, dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Sesaat Hasan tersenyum mendengar jawaban Natasya, karena pertengkaran yang disebakan oleh nama Maryam bukan satu kali dua kali terjadi diantara mereka, tapi sudah berkali - kali. Dan Hasan cukup paham dengan rasa takut yang Natasya rasakan. Karena, sebagai laki – lakipun Hasan juga sering merasa takut jika Natasya tiba – tiba memilih pergi darinya.
“Udah, jangan pikirin yang aneh – aneh lagi, sekarang aku antar kamu pulang” ujar Hasan, sambil menghapus lelehan air mata Natasya, kemudian mengelus kepala Natasya penuh kelembutan dan dijawab sebuah anggukan kepala oleh gadis itu.
“Aku gak mau pulang ke rumah, aku takut karena pasti dia udah ngadu yang aneh – aneh” ujar Natasya, sambil menatap Hasan dengan tatapan yang memancarkan rasa takutnya.
“Yaudah, kamu nginep di apartemen aku aja kalau gitu ya” jawab Hasan, yang di jawab sebuah anggukan kepala lagi oleh Natasya.
Hasan, hanya mampu menyunggingkan senyumannya saat dia melihat Natasya yang sudah jauh lebih tenang. Saat itu, Hasan memang merasa akan jauh lebih aman jika menuruti permintaan Natasya yang tidak ingin pulang, selain karena takut laki – laki itu akan berbuat aneh lagi kepada Natasya, Hasan juga tahut ayah Natasya adalah orang yang keras, bukan hal yang tidak mungkin jika gadis itu pulang akan dimarahi habis – habisan bahkan mungkin hingga dipukul jika laki – laki itu sudah mengatakan hal kebalikannya kepada ayah Natasya tentang apa yang terjadi malam ini.
***
Hasan, menatap jam yang melingkar dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 22.00, kemudian dari dalam mobil dia menatap bangunan rumah yang selalu terlihat sepi, menimbang apakah dia harus datang saat itu atau tidak. Namun, karena ingat tadi dia berjanji akan menjemput Alina, akhirnya dia turun dari dalam mobilnya setelah memastikan keadaan sekelilingnya aman.
Tidak lama Hasan berdiri di depan pintu, karena setelah mengetuk pintunya dua kali, Lili seorang Asisten Rumah Tangga di rumah Intan dan Maryam membukakan pintu.
“Udah pada tidur ?” tanya Hasan, dengan suaranya yang sengaja dia pelankan.
“Belum Mas, Ibu sedang di ruang keluarga, katanya gak bisa tidur jadi minta ditemenin nonton sama saya” ujar Lili, sambil tersenyum canggung.
Hasan hanya mengangguk anggukan kepalanya, kemudian memutuskan untuk masuk menemui Intan yang ternyata memang benar – benar masih di ruang kelarga. Perempuan berusia setengah baya itu tampak tersenyum saat menyadari kehadiran Hasan.
“Alina sama Maryam udah pada ke kamar Mbak ?” tanya Hasan, sambil mendudukan tubuhnya di sofa single.
“Setelah selesai makam malam Alina langsung pamit pulang dan gak mau di anterin sama siapapun, dan Maryam dia langsung pamit ke kamarnya” ujar Intan, sambil tersenyum samar karena menyadari dua gadis itu pasti sedang marah kepada Hasan.
“Alina pulang sendiri, Mbak ? aduh itu anak kenapa bandel sih, disuruh tunggu gak mau dengerin” ujar Hasan, sambil kembali bangkit dari posisi duduknya berniat menyusul Alina.
“Tadi Mbak udah telepon ke mamah kamu, katanya Alina udah sampai dan baik – baik aja” jawab Intan, berhasil membuat Hasan menghembuskan nafas lega kemudian mendudukan tubuhnya lagi.
Sesaat, Hasan dan Intan sama – sama terdiam, Hasan yang saat itu menyandarkan kepalanya sambil menatap kelantai atas tepat kearah pintu kamar Maryam tapi pikirannya sedang melayang kemana - kemana, dan Intan yang fokus menonton siaran televisi sambil menikmati juicenya,.
“Hasan ?” panggil Intan, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari layar televisi.
Mendengar namanya dipanggil, Hasan langsung menoleh menatap kearah Intan seakan menunggu perkataan Intan yang selanjutnya.
“Kita gak pernah tahu kematian akan datang kapan, tapi jika memang Mbak gak bisa menjada Maryam hingga dia dewasa, maka tolong lindungi dia dengan sebaik mungkin hingga dia bisa bertemu dengan laki – laki yang bisa melindunginya” ujar Intan, yang kini sudah mengalihkan tatapan matanya kearah Hasan.
Sesaat, Hasan terdiam berusaha mencerna kalimat yang baru saja Intan katakan dengan sebaik mungkin, selama beberapa saat matanya menatap kearah Intan, berusaha menyelami apa yang sebenarnya sedang dia pikirkan.
“Meskipun sebenarnya Mbak sangat berharap jika jodoh Maryam itu adalah kamu, tapi Mbak tahu kamu hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang adik dan Mbak sadar tidak bisa memaksa kamu, hanya saja Mbak sangat meminta tolong, tolong lindungi Maryam setidaknya sampai dia bisa menemukan laki – laki yang bisa melindunginya sendiri” lanjut Intan, sambil tersenyum diujung kalimatnya.
Menjaga Maryam, itulah yang dapat Hasan simpulkan dari perkataan Intan. Tentu, menjaga Maryam akan menjadi satu hal keharusan bagi Hasan, karena Intan adiknya yang akan dia lindungi dari siapapun. Namun, Hasan merasa tidak menyangka jika Intan, ibu dari Maryam itu mengharapkan dirinya menjadi suami Maryam, karena Hasan merasa tidak mungkin jika dia harus menikahi adiknya sendiri. Hanya saja, saat itu jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Hasan mengabaikan sebuah rasa, rasa yang seharusnya dia pertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah dia mampu mengizinkan Maryam yang pertumbuhannya ada andil Hasan juga di dalamnya, menikah bersama laki – laki lain.
“Ya, tentu Mbak, aku pasti akan menjaga Maryam dengan baik mungkin, aku pasti akan menjaga dia sampai kapanpun dan dari siapapun, selain itu …” ujar Hasan, menjeda kalimatnya sendiri.
“Aku pasti akan memastikan jika Maryam menikah dengan laki – laki yang baik dan tepat” lanjut Hasan, sambil mengalihkan tatapannya tidak lagi berani menatap Intan.
Nyatanya, sebuah rasa pasti akan memberontak kala sang pemilik tidak pernah mau mengakui keberadaannya. Hanya saja, mungkin rasa yang memberontak di dalam hati Hasan adalah sebuah rasa tidak ingin kehilangan yang dirasakan seorang kakak kepada adik perempuannya yang pasti akan mengikuti suaminya, tidak lebih.