Tidak ada yang bisa menebak seperti apa jalan kehidupan seseorang dimasa yang akan datang, karena tadir bagaikan teka – teki silang yang harus dipecahkan. Dalam hidup, apapun bisa terjadi, karena apa yang terjadi di bumi sudah tercatat dalam catatan yang ada dilangit. Bumi, hanyalah wadah dimana orang - orang memerankan kisah mereka.
Hati adalah bagian terpenting dalam diri, karena hati adalah salah satu bagian yang tidak akan pernah bisa berbohong. Saat lisan tidak mampu berkata sejujurnya tapi hati akan selalu menyadari semuanya sesuai yang terjadi, sekeras apapun berusaha menyangkalnya.
“Aduh Kak Alina, ngapainsih mata ku ditutup segala, Kakak tahukan satu – satunya bagian yang kelihatan diwajah ku itu cuma mata, kalau sekarang Kakak tutup juga mata ku, apa yang bisa kelihatan dari wajah ku coba” ujar Maryam, saat Alina sedang menuntunnya berjalan dengan mata ditutup kain menuju halaman belakang rumahnya.
Saat itu Alina memilih diam tidak memberikan jawaban apapun, karena dia takut saat mulutnya terbuka hendak menjawab, dia tidak bisa menahan suaranya agar tidak menjerit saat itu juga. Tepat setelah berada ditengah – tengah halaman belakang rumah, Alina langsung meninggalkan Maryam begitu saja.
“Hitungan tiga, kamu buka ya penutup matanya” ujar Hasan, yang saat itu sedang berdiri diantara beberapa orang yang sedang mengelilingi Maryam.
“1… 2… 3…”
Maryam langsung membuka penutup matanya, dan bersamaan dengan itu ada air mancur yang menyiram tubuhnya, hal itu sempat membuat Maryam kaget selama beberapa saat, tapi kekagetan itu akhirnya berubah menjadi senyum dan tawa bahagia saat dia melihat orang – orang yang disayanginya sedang berdiri mengelilinya, sambil memegang selang air untuk mengguyur tubuh Maryam.
“Turut berduka cita atas berkurangnya sisa usia Maryam Aisyah Putri Alaric” teriak serempak mereka yang berhasil membuat senyuman mengembang lebar dari balik cadar yang saat itu menutupi wajah Maryam.
Maryam tersenyum sambil memandang Alina yang saat masih terlihat asik menyiram Maryam dengan senyum cerah yang mengembang di wajahnya. Tidak jauh dari dekat Alina ada Hasan yang sedang menatap Maryam dengan senyuman menenangkan yang selalu dia tunjukan dihadapan Maryam. Tidak jauh dari samping Hasan, berdiri sosok Kiana, kakak sepupunya yang sangat aktif dan ceria bersama kembarannya Kiano yang sangat baik tapi sangat tidak peka.
“Kenapa dimatiin airnya” tanya Maryam sambil mendongakan kepalanya.
Kemudian, dari arah depan muncul ibunya yang sedang berjalan penuh keanggunan. Bibirnya terlihat menyunggingkan senyuman dengan mata yang terliha fokus menatap kearah Maryam. Kemudian, perempuan berusia setengah baya itu menyerahkan sebuah jinjingan kearah Maryam.
“Umma mau, kamu lebih disiplin lagi untuk hapalan Al – Qur’annya, semoga disisa usia kamu selalu dilimpahi keberkahan sayang, Umma menyayangi mu” ujar Intan, sambil mendaratkan satu kecupan hangat di dahi putrinya.
“Aku akan belajar lebih disiplin lagi untuk menghafal Al – Qur’annya Umma, dan terima kasih untuk kasih sayang Umma selama ini sama aku, aku juga sayang Umma” ujar Maryam, sambil menerima hadiah yang diberikan ibunya.
Melihat pemandangan penuh kehadangatan yang terjadi antara Maryam bersama ibunya, semua yang melihat hanya mampu mengukir senyuman. Kemudian, Intan berbalik hendak pergi meninggalkan putrinya agar bisa kembali bersenang – senang bersama yang lain, Maryam langsung meminta tolong kepada ibunya untuk memegang hadiah yang baru saja di berikannya.
“Terma kasih, Umma” ujar Maryam, sambil mendaratkan satu kecupan hangat di pipi ibunya.
Setelah itu, Intan langsung berbalik pergi dengan senyuman manis yang terbit dari bibirnya. Sementara Maryam gadis itu langsung berlari mengejar Alina kemudian merebut selang air yang sejak tadi dia gunakan untuk menyiramnya. Tepat setelah selang itu berhasil di rebut Maryam, posisinya berubah menjadi Alina yang di kejar – kejar Maryam untuk di siram, melihat dua gadis itu, semuanya hanya bisa tertawa. Namun, tidak berlangsung lama, Alina langsung berlari mendekati kakaknya, tepat setelah berada di dekat Hasan, dia langsung mendorong kecil tubuh Maryam hingga membuat gadis itu menubruk tubuh Hasan dan akhirnya terjatuh, karena pada saat itu Hasan hanya diam tidak berani menangkap tubuh Maryam.
“Sorry, aku udah terlalu ngebet liat kamu nikah sama Kak Hasan, jadi reflex, sini” ujar Alina, sambil menahan senyumnya saat bertatapan dengan Maryam yang dia yakin tidak kesakitan.
“Yaudah, kita nikahin mereka sekarang aja” ujar Kiana, yang berhasil membuat Hasan menoleh,
Maryam hanya mampu terkekeh mendengar perkataan Kiana, kemudian gadis itu langsung membantu Maryam berdiri dan mengambil selang air yang tergeletak di tanah agar Maryam tidak bisa menyiram tubuhnya lagi. Kemudian, Alina langsung berlari merebut selang yang sedang di pegang Hasan juga, setelah itu Alina, Kina dan Kiano langsung menyiram keduanya dibawah langit malam yang bertabur bintang.
Tidak ada yang di lakukan Hasan dan Maryam saat itu, keduanya hanya berdiri mematung tidak melakukan protes sedikitpun saat orang – orang sedang menyiram mereka.
“Tolong lamar Maryam malam ini ya Kak, aku percaya pada mu” ujar Alina, dengan tawa diakhir kalimatnya sambil berlari meninggalkan Hasan dan Maryam yang masih sama – sama bungkam.
“Anak itu” gumam Hasan, sambil melirik Alina yang sudah memasuki rumah diikuti Kiana dan Kiano.
Setelah itu, tatapan Hasan beralih menatap Maryam yang saat itu masih tampak diam, tapi sesaat kemudian bibir Hasan menerbitkan lengkungan saat dia melihat Maryam yang menengadahkan telapan tangannya, sebagai isyarat jika gadis itu sedang menangih hadiah kepadanya.
“Mana pajak nambah angka umur dan kurangnya sisa usia aku, Kak ?” tanyanya, tanpa menatap kearah Hasan.
Hasan terkekeh semakin kencang saat mendengar gaya remaja perempuan itu menagih hadiah kepadanya, jika saja saat itu Hasan diperbolehkan dan tidak memiliki batas yang membuat dia dan Maryam harus berjarak, saat itu Hasan ingin sekali memeluknya, mengelus kepalanya dengan sayang. Namun, Hasan sadar, Maryam bukanlah siapa – siapanya, jadi Hasan sadar akan selalu ada batasan antara dia dan Maryam sampai kapanpun.
Kemudian, Hasan menyerahkan sebuah kotak berwarna biru yang berhasil membuat dahi gadis itu berkerut selama beberapa saat. Namun, tidak urung dia tetap mengambilnya dan membolak – baliknya selama beberapa saat. Saat itu, dia seakan sedang menebak isi dari kota itu.
“Buka dong, masa cuma dibolak – balik doang” ujar Hasan, sambil berusaha menahan senyumannya karena gemas melihat tingkah lucu Maryam.
Dahi Maryam semakin berkerut saat dia melihat isi dari kotak yang sudah berpindah ketangannya. Kemudian, dia mendongakkan kepala, menatap wajah Hasan dengan wajah cemberut dibalik cadarnya. Melihat itu rasanya Hasan ingin sekali mencubi pipi Maryam, karena gadis itu benar – benar terliha menggemaskan.
“Kenapa Filza namanya ? kenapa tidak Maryam atau Aisyah saja namanya ? kan dari bagian nama ku gak ada Filzanya” ujarnya, memprotes nama yang tertulis dalam kalung yang Hasan berikan kepadanya.
“Ini Kak Hasan gak salah kasih kan ?” tanyanya, sambil menatap kalung dan wajah Hasan secara bergantian “Enggak, kalung itu sengaja kakak pesan untuk kamu, Maryam Aisyah Putri Aalaric” ujar Hasan, dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.
Mendengar jawaban Hasan, Maryam kembali terdiam sambil mengamati kalung yang saat itu belum dia sentuh sekalipun. Tidak tahu apa yang sedang dia lakukan dan apa yang sedang dia amati dari kalung itu.
“Jangan lupa dipakai ya kalungnya, jadilah pribadi yang selalu lebih baik dari hari ke hari, dan Kakak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, jangan pernah lupa kalau Kakak sayang sama kamu” ujar Hasan, sambil tersenyum menenangkan.
Selama beberapa saat Maryam terdiam sambil menatap Hasan, kemudian dengan cepat dia memalingkan pandangannya, berusaha menjaga pandangannya yang sempat menatap Hasan.
Ungkapan jika Hasan akan selalu menyayanginya, adalah salah satu kalimat yang paling Maryam sukai, hatinya selalu terasa hangat dan bergetar setiap kali mendengar Hasan mengatakan kalimat itu, Maryam selalu berharap jika rasa sayang itu memang murni untuknya. Namun, Maryam selalu berusaha sadar jika sayang yang Hasan maksudkan adalah sayang sebagai seorang kakak kepada adiknya, tidak lebih. Dia yang sudah terlalu lancang memendam perasaan kepada kakaknya sendiri.
“Udah sekarang masuk, terus bersih – bersih, jangan lupa mandinya pakai air hangat ya biar gak masuk angin, habis itu kita makan malam sama – sama, kakak sudah pesankan tadi makannya” ujar Hasan, sambil tersenyum hangat.
Maryam menganggukan kepalanya sambil tersenyum, kemudian dia berlalu masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuhnya yang saat itu sudah basah kuyup. Begitu juga dengan Hasan, laki – laki itu ikut masuk ke dalam rumah, untuk bersih – bersih dan mengganti pakaiannya yang ikut basah kuyup juga karena ulah Alina, Kiana, dan Kiano.
***
“Akhirnya muncul juga, lama ya Bu dandannya” sindir Alina, sambil menahan senyum dan hanya dibalas cubitan pelan di lengan Alina hingga membuat gadis itu terkekeh.
Setelah itu, semuanya langsung menyantap makanan yang saat itu tersaji di meja makan, Suasana makan malam itu di hiasi oleh obrolan – obrolan ringan hingga membuat meja makan jadi terasa hangat.
“Kak Kiana, ke sini naik apa ?” tanya Maryam, membuka suara.
“Pakai motor, dia aku paksa pakai jeket ojeg online” ujar Kiana, sambil terkekeh kecil sedangkan kembarannya hanya meliriknya sinis.
“Kakak sepupu kamu yang satu itu memang agak barbar, jadi agak menyeramkan kalau di tolak, De” ujar Kiano, yang berhasil membuat semua penghuni meja makan tertawa.
Menyamar, adalah salah satu hal yang harus dilakukan Kiana dan Kiano saat mereka akan pergi berkunjung ke rumah Maryam. Karena, meskipun setelah kepergian Alaric mereka tidak pernah pergi lagi ke Jerman sebagai bentuk rasa marah mereka kepada kakeknya yang sudah menyebabkan paman kesayangannya meninggal. Mereka berjaga – jaga karena takut diikuti oleh orang – orang suruhan kakeknya yang nanti akan membuat tempat tinggal yang selama ini Maryam tempati terbongkar, dan hal itu akan berakibat bahaya untuk Maryam. Namun, kehangatan perbincangan di meja makan saat itu tiba – tiba terhenti saat ponsel Hasan tiba – tiba berbunyi karena ada sebuah panggilan masuk. Mereka, memilih fokus pada makanan mereka karena menghargai Hasan yang harus mengangkat teleponnya terlebih dahulu.
“Kamu kenapa ? coba kamu tenang dulu dan jelasin sama aku pelan – pelan,” Maryam dan Alina dengan kompak langsung menoleh kearah Hasan saat mereka mendengar Hasan berbicara dengan gaya yang terdengar lembut dan perhatian.
“Okey, aku ke sana sekarang, kamu jangan pergi kemanapun, aku akan sampai secepat yang aku bisa” ujar Hasan, sambil meneguk air minumnya dengan terburu – buru.
Melihat hal itu, bukan hanya Maryam dan Alina saja yang menatap Hasan, tapi semua yang ada di meja juga ikut memperhatikan Hasan yang saat itu terlihat terburu – buru dan terlihat khawatir.
“Kakak mau kemana ?” tanya Maryam, sambil menatap Hasan dengan tatapan bingung.
“Kakak harus pergi, teman Kak…”
“Gak bisa, Kakakkan udah janji mau ngosongin jadwal kakak malam ini biar bisa habisin waktu bareng kita, ko sekarang Kakak pergi, lagian kalau Kakak pergi nanti aku pulang sama siapa ?” ujar Alina, sambil menatap Kakaknya dengan tatapan serius bercampur dingin.
Selama beberapa Hasan terdiam sambil menatap adik kandungnya, dia ingat memang pernah berjanji kepada Alina dan Maryam untuk mengosongkan waktunya pada malam ini, hanya saja kali ini dia tidak bisa diam begitu saja, ada suatu hal penting yang harus dia lakukan. Kemudian, Hasan mengalihkan tatapan matanya kearah Maryam yang saat itu sempat menatapnya dengan tatapan kecewa.
“Maryam, Kakak minta maaf ya karena ingkar janji, tapi Kakak janji akan mengganti makan malamnya dihari lain, untuk Alina nanti kakak jemput lagi ke sini ya, jangan pulang dulu karena Kakak pasti akan jemput” ujar Hasan, sambil mengelus kepala adiknya dengan sayang.
Setelah itu, Hasan langsung pamit kepada Intan, dan yang lainnya juga. Kemudian, dia segera bergegas pergi menuju suatu tempat meninggalkan seberkas rasa kecewa dihati dua gadis yang dianggapnya sebagai adik itu.