Kedekatan yang Aneh

929 Words
Tanpa terasa setetes air mataku terjatuh, tubuhku terperosok ke lantai—jika Bi Mumu tidak sempat menahannya, mungkin dahiku sudah mengenai sudut mini bar. "Astagfirullah, Buk!" pekik Bi Mumu sambil ikut duduk di sebelah, menahan tubuhku yang ambruk. Apa yang perlu ditahan, Bi? Bukan hanya raga, jiwaku pun ikut ambruk sekarang. "Bi, Bibi tidak bohong, kan?" tanyaku terbata, kedua pipi ini sudah basah oleh air mata. Meski begitu, meski sosok Bi Mumu tidak lagi tampak terlalu jelas di hadapanku, tetap saja aku menatapnya dengan intens, memastikan apa yang barusan disampaikan tidak benar adanya. Sungguh, bahkan jika Bi Mumu berbohong tentang pernyataan itu, aku tidak akan marah sekarang. Namun, nyatanya Bi Mumu hanya menunduk dalam diam. Wanita paruh baya itu sibuk meremas jemarinya. Mas Hamdi? Ya Tuhan, benarkah itu Mas? Kalau iya, kenapa? Kenapa harus Mila? Kenapa harus suamiku. Sosok yang selama ini begitu kubanggakan pada teman-teman dan keluargaku. "Yang sabar, Bu! Tolong jangan lemah, Ibu jangan lemah, kasihan Den Arsen dan Den Dio," seru Bi Mumu membuatku seketika tersentak. Tiba-tiba aku teringat dengan putra pertamaku, bukankah sekarang Mas Hamdi, Mila dan Arsen sedang keluar untuk jalan-jalan. Dan tadi pagi Mas Hamdi sendiri yang meminta padaku agar Mila ikut. Apakah itu artinya ... artinya di luar sana mereka sedang bermain peran sebagai suami istri, jika seandainya peristiwa lakn@t yang Bi Mumu sampaikan itu benar terjadi setiap malam selama seminggu ini? Baiklah. Sudah cukup dulu aku menangis, benar seperti yang Bi Mumu katakan, aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat demi Arsen dan Dio. Aku harus bermain cerdas untuk membuktikan dengan mata kepalaku sendiri hubungan Mas Hamdi dengan Mila. "Bi, tolong bantu aku untuk membuktikan semuanya, Bi? Bantu aku untuk menguak kelakuan b3jat mereka di belakangku," ucapku pada Bi Mumu sambil memelas. Sepertinya aku terlihat sangat mengedihkan sekarang. "Baik, Bu. Tentu saya akan membantu Ibu. Selama ini Bu Yunda sudah sangat baik pada saya dan keluarga saya. Hati saya juga ikut sakit begitu memergoki Bapak dan Mila semalam. Saya sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana keadaan Ibu setelah mengetahui semuanya nanti. "Awalnya saya berencana menyembunyikan rahasia ini sendiri, Bu. Karena saya takut kalau sampai Bapak tahu saya mengadu pada Ibu. Tapi, saat membayangkan berada di posisi Bu Yunda saya jadi tidak tega. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu yang memiliki anak perempuan, hati saya hancur, Bu," tutur Bi Mumu panjang lebar, beberapa kali Bi Mumu mengusap asal air mata yang mulai membasahi pipinya. Ya Tuhan, mulia sekali hati wanita ini. Lalu, di mana hati Mila sebagai seorang perempuan, ya Tuhan? Apakah hati nuraninya tidak berfungsi lagi sampai tega merebut kebahagian wanita lain. Kebahagian Arsen dan Dioku. Apakah ini saatnya rumah tanggaku akan hancur? Kalau iya, kenapa harus secepat ini? Kebahagian yang kumiliki kenapa harus Engkau ambil secepat ini, Ya Rabbi? Apa salahku? Bukankah selama ini aku selalu berdoa dalam sujudku, memohon agar kebahagian dalam rumah tangga yang kubangun bersama lelaki yang kucintai akan terus ada hingga aku mati Ingin rasanya aku berteriak dan memaki andai aku tidak segera tersadar. Astagfirullah! Tidak seharusnya aku menyalahkan takdir. Mungkin ini salah satu cara Allah menunjukkan padaku siapa Mas Hamdi sebenarnya. Mungkin ini salah satu cara Allah menyayangiku dengan menampakkan kekejian Mas Hamdi lewat Bi Mumu secepat ini. Agar aku segera tersadar dan tidak terlarut dalam tipu daya mereka yang bermain gila di belakangku. Ya. Harusnya aku bersyukur, karena di balik setiap musibah ada hikmahnya. Dan ini adalah musibah bagi rumah tanggaku. Sabar Yunda! Sabar! Kamu harus kuat demi anak-anak. "Bibi tenang saja, aku tidak akan mengadukan ini pada Bapak, yang aku inginkan sekarang adalah menangkap basah mereka berdua. Bi Mumu harus berada di pihakku, ya?" bujukku sambil menggenggam tangan Bi Mumu. "Tentu saja, Bu. Tentu saja." "Kalau begitu ayo kita akhiri ini sebelum mereka pulang. Jangan sampai Mas Hamdi menaruh curiga sama kita. Bi Mumu silahkan lanjut memasak, aku akan ke atas dulu untuk mandi." "Baik, Bu. Tanpa menunggu lama, aku segera menuju kamar untuk membersihkan diri. Sebentar lagi mereka akan pulang, dan aku harus kelihatan fresh, jangan sampai Mas Hamdi melihatku seperti orang yang habis menangis. Mulai sekarang aku akan bersikap seperti tidak tahu apa-apa. Sampai aku bisa membongkar perbuatan terkutuk mereka di rumah ini. Sungguh aku tidak sudi membiarkan dua manusia akn@t itu menodai rumahku. Ini rumahku, rumah pemberian orangtuaku. Bukan rumah Mas Hamdi. Laki-laki itu tidak membawa apa-apa saat datang dari kampung. Bahkan untuk pekerjaan pun, Mas Hamdi bekerja di perusahaan keluargaku. Laki-laki itu hanya membawa Mila seminggu yang lalu, yang ternyata ada udang di balik batu. . Setelah mengenakan pakaian dan memoles wajah dengan make up tipis, aku mendengar deru mobil Mas Hamdi di luar. Segera saja aku berlari ke samping jendela kamar untuk mengintip mereka. Aku ingin melihat bagaimana sikap Mas Hamdi dan Mila saat di belakangku. Dengan perasaan tidak karuan, aku mulai menghitung mundur dalam hati, menunggu mereka keluar dari mobil. Tiga. Dua. Sa— Deg. Jantungku tersentak begitu cepat. Mas Hamdi keluar dari mobil dengan menggendong Arsen yang tampak terlelap, kemudian disusul Mila yang langsung menggandeng tangan suamiku. Pemandangan macam apa ini? Jemariku meremas gorden dengan kuat, berharap dengan begini bisa menahan air mataku agar tidak tumpah. Ingin rasanya kuhampiri dua manusia tidak tahu diri itu dan mencercanya dengan segala sumpah serapah. Bila perlu menghabisi keduanya. Kuat, Yunda. Kuatlah. Bukankah selama ini seorang Yunda Harjasa tidak pernah bertindak gegabah? Batinku terus berbisik kata-kata penguatan. Baiklah , tenang, sabar dulu. Sekarang ku hanya perlu menenangkan diri sejenak sebelum turun ke bawah. Jika kuhampiri mereka sekarang pun percuma, baik Mas Hamdi atau pun Mila pasti tidak akan mengaku. Menghadapi orang-orang seperti mereka harus dengan cara yang elegan, kan? Next?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD