"Ekhem!" Aku yang baru muncul dari balik pintu sengaja berdehem dengan keras. Reflek Mila segera melepas tangannya dari lengan Mas Hamdi dan segera menjauhkan diri.
Sementara suamiku hanya bisa menyengir. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Kaget mungkin, melihatku yang tiba-tiba datang.
Ternyata asik juga mengerjai Mas Hamdi dan Mila. Sepertinya jika mengerjai mereka setiap hari menyenangkan juga, lumayan untuk menebus rasa sakitku meski tidak seberapa.
"Sayang, aku bawa Arsen ke kamar dulu, ya. Berat, nih!" keluh Mas Hamdi sambil menunjuk tubuh Arsen yang gemoy itu dalam gendongannya.
"Oh, iya silahkan, Mas." Aku sengaja memiringkan tubuh agar Mas Hamdi bisa masuk ke dalam. Kini tinggallah Mila yang tampak salah tingkah di depanku.
Jika aku tidak ingat dengan rencanaku, mungkin kuhajar gadis ini sekarang juga. Tanganku gatal sekali rasanya ingin menarik rambut panjang Mila.
"Bu." Gadis berusia 20 tahun itu segera meraih tanganku dan menciumnya. Jika dulu aku menganggap Mila anak yang sopan karena bersikap seperti ini padaku dan Mas Hamdi, sekarang malah merasa jij1k.
Tapi, ingin menolak uluran tangannya juga tidak mungkin. Nanti Mas Hamdi malah akan curiga lagi. Baiklah, sepertinya aku harus bersabar.
"Argh!" teriak Mila saat aku dengan sengaja meremas tangannya saat dia sedang mencium tanganku.
"Eh, maaf, Mil, aku benar-benar tidak sengaja. Habis ini tangan gatal sekali dari tadi!" kilahku sambil menggaruk-garuk telapak tangan dan tidak kupedulikan Mila yang meringis. Sepertinya dia sangat kesakitan.
Rasakan!
Itu tidak seberapa bukan, dibandingkan dengan membayangkan kamu dan Mas Hamdi berbagi keringat setiap malam.
"I—iya, Bu. Tidak apa-apa. Eum, setahu saya kalau tangan kita gatal-gatal, itu tandanya akan datang rezeki. Berarti kalau sekarang tangan Ibu lagi gatal-gatal, mungkin dalam waktu dekat akan ada rezeki yang menghampiri Ibu," jelasnya panjang lebar.
Huuft!
Apa Mila yang polos ini tidak tahu, kalau gatal-gatalnya tanganku kali ini sebagai pertanda datangnya musibah. Dan musibahnya ada di depanku sekarang.
Ah, sudahlah. Di sini bukan hanya Mila yang salah. Tapi, Mas Hamdi juga. Bukankah tanj tidak akan masuk kalau tuan rumah tidak membuka pintu?
Lah, ini jangankan pintu, Mas Hamdi malah sudah membuka hal-hal yang lain untuk diberikan kepada Mila. Yang harusnya itu hanya menjadi milikku, dan dia hanya boleh memperlihatkan di depanku sebagai istrinya.
Ah, membayangkannya saja sudah membuatku j1jik. Semoga saja Mas Hamdi tidak meminta haknya sebagai suami padaku, aku tidak mau terinfeksi penyakit k3lamin. Astagfirullah. Jauhkanlah hamba dari segala keburukan ya Allah.
"Kalau begitu saya masuk dulu, Bu," ujar Mila sambil menunduk. Sungguh keren sekali akting anak ini.
"Oh ya, silahkan, Mil. Di dapur ada Bi Mumu sedang makan siang, kamu gabung aja sana. Belum makan siang, kan kalian?" tanyaku.
"Belum, Bu. Ya udah, saya susul Bi Mumu ke belakang ya, Bu."
"Eum."
Setelah Mila pergi, aku mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Aku melakukannya hingga beberapa kali. Berharap bara api yang sedang berkobar dalam dadaku segera padam
Setelah emosiku mereda, aku segera ke atas untuk mencari Mas Hamdi untuk makan siang. Sepertinya dia masih di kamar Arsen dan Dio.
Arsen dan Dio. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. Bagaimana nasib anak-anak kelak jika aku harus berpisah dengan Mas Hamdi?
Aku tidak tega menjadikan mereka anak broken home. Tapi, bertahan dengan mengatasnamakan anak-anak setelah suami berselingkuh sampai berz1na dengan wanita lain sama sekali bukan prinsipku.
Bukankah jika ibunya tidak bahagia, maka anak-anak pun akan ikut tidak bahagia? Tenang saja, Sayang, jika pun nanti Mama akan menjadi ibu tunggal, Mama akan tetap memperjuangkan kebahagian kalian.
Ada banyak ibu-ibu tunggal terhormat di luar sana yang bisa dijadikan teladan, yang terus mempertahan nama baik dan harga dirinya agar tidak sampai mengemis sama suami orang untuk dinafkahi.
"Mas," panggilku yang baru tiba di kamar anak-anak, kulihat Mas Hamdi sedang asik menatap Dio yang tengah terlelap dalam baby box.
"Iya, Sayang. Mas lagi liatin anak kita. Lihat, gaya Dio kalau lagi tidur mirip kamu, ya? Lucu."
"Hehe. Iya, Mas. Ya udah kita ke bawah, yuk. Makan siang udah aku siapin. Nanti keburu dingin," ajakku pada Mas Hamdi.
"Yuk, Sayang."
Saat Mas Hamdi ingin merangkul pinggangku, segera saja aku menjauhkan diri.
"Why?" tanya laki-laki itu bingung. Raut kekecewaan dapat kutangkap dari sorot matanya.
"Jijik, Mas."
Bersambung...