"Why?" tanya laki-laki itu bingung. Raut kekecewaan dapat kutangkap dari sorot matanya.
"Jij1k, Mas."
.
Ah, andai bisa ingin sekali kujawab seperti itu di depan Mas Hamdi.
Aku ini j1jik mengingat dia pernah menyentuh wanita lain selain tubuh ini. Namun, kembali lagi, aku harus bersabar. Tidak lama lagi semuanya akan terbongkar, Mas. Tunggu saja pembalasanku.
Cintaku pada Mas Hamdi mulai berubah menjadi kebencian sejak sebuah kebenaran yang menyakitkan kudengar dari mulut Bi Mumu hari ini.
Ah, entah bagaimana caranya menjelaskan kondisi hatiku saat ini.
Perih.
Perih sekali di dalam sini.
Lukaku bagai ditabur air garam. Andai, mau, kenapa dari dulu Mas Hamdi tidak selingkuh dengan para wanita cantik di kantor. Kenapa harus Mila? Kuakui gadis itu cantik, tapi tetap saja bandingannya sangat jauh jika dibandingkan para wanita yang bekerja di perusahaan Paman Heru.
Lalu, apa alasan Mas Hamdi sebenarnya berani berselingkuh dengan Mila sampai berani membawanya ke rumah.
Apa suamiku itu tidak memikirkan dampaknya jika suatu saat aku mengetahui perbuatan mereka? Ah, entahlah. Namun, sepertinya jauh sebelum Mila datang ke rumah ini mereka sudah menjalin hubungan.
Pantas saja Mas Hamdi selalu mengeluhkan kinerja babysitter sebelumnya padaku, rupanya dia ingin memasukkan Mila ke rumah ini. Agar mereka bisa bebas berz1ina.
Shit! Sayangnya niat busukmu itu cepat ketahuan, Mas. Kalau tidak, mungkin setiap hari kamu dan Mila akan menertawakan kebodohanku.
"Bukan apa-apa, Mas. Aku hanya takut kalau tiba-tiba Arsen terjaga. Udah, kita langsung turun makan siang, yuk. Habis itu baru aku membangunkan Arsen untuk makan. Biarkan dia istirahat dulu sebentar, mungkin dia kecapean," jelasku memberi alasan yang masuk akal pada Mas Hamdi.
"Eh, iya, Mas lupa kalau kita lagi di kamar anak-anak. Iya sih, Sayang, Arsen pasti lelah. Tadi, dia happy banget main sama Mila. Ya udah, yuk."
Ck. Sebenarnya yang happy Arsen atau kamu, Mas?
.
"Mas, nasinya cukup?"
"Cukup, Sayang. Jangan banyak-banyak nanti badan Mas makin melar, kalau Mas jadi gendut nanti Mas takut kamu enggak cinta lagi."
Sekarang pun aku udah enggak cinta lagi, Mas. Yang ada aku mulai eneg dengan manusia tidak tahu diri seperti kamu.
Karena kesal, aku terus membalas setiap kata-kata Mas Hamdi dalam hati. Hanya dalam hati untuk sementara ini.
Akan ada waktunya untuk kutumpahkan semuanya. Mas Hamdi dan Mila hanya perlu menunggu kejutan dariku. Akan kupastikan itu lebih parah dari kejutan yang mereka kasih buatku.
Di meja makan, aku melayani Mas Hamdi dengan sebaik mungkin, meski sebenarnya aku mulai tidak ikhlas melakukannya.
Ah, rasanya ingin sekali kutodong laki-laki itu dengan satu pertanyaan?
Apa yang kurang dariku selama ini, Mas? Aku bahkan rela tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga penuh seperti yang kamu harapkan.
Selama ini aku selalu melayani Mas Hamdi dengan baik dalam hal apapun, tanpa terkecuali di tempat tidur. Bahkan Mas Hamdi sendiri yang selalu memujiku sebagai istri terbaik. Lalu, beginikah balasan untuk predikat istri terbaik yang kamu berikan, Mas?
Jenis penghargaan macam apa ini? Tega sekali kau menghancurkan kepercayaan yang kuberikan selama ini. Apakah untuk orang-orang seperti kalian kesucian cinta tidak ada harganya?
"Hai Mil, ayo sini gabung sama kami!" Mas Hamdi mengajak Mila untuk makan dengan kami saat gadis itu muncul.
Apa aku tidak salah dengar? Berani sekali laki-laki ini. Aki segera menoleh ke arah Mila dengan tatapan tajam.
"Tidak usah, Pak. Saya sudah makan di belakang barusan," jelas Mila sebelum lekas pergi. Ternyata gadis itu masih tahu posisi, baguslah.
Dia sudah mengganti posisiku di atas kasur, jangan sampai menggantikannya juga di meja makan. Kenapa aku mendadak tidak berselera makan?
.
Setelah acara makan siang yang membuat hatiku dongkol selesai, aku segera beranjak ke kamar anak-anakku.
Mungkin dengan melihat mereka suasana hatiku bisa menjadi sedikit lebih tenang. Untuk saat ini anak-anaklah alasan aku tetap waras. Seberat apapun masalah yang tengah kuhadapi, jangan sampai Arsen melihat kedua orangtuanya bertengkar. Mental putraku jauh lebih berharga daripada laki-laki jahat seperti Mas Hamdi.
Di kamar anak-anak, aku menyusui Dio—yang sudah terjaga—sambil selonjoran di tempat tidur Arsen. Tidak lama setelah Dio selesai menyusu Arsen terbangun.
"Eh, gantengnya Mama udah bangun. Sini cium dulu."
Cup.
Cup.
"Ma, laper," rengek Arsen manja dengan suaranya yang serak.
"Iya bentar lagi Mama ambil makanannya. Arsen ?main sama adek, ya."
"Iya, Ma. Hai, Dio. Ih, gemes banget, sih!"
"Halo, Dio. Ini abang Arsen!"
"Halo abang Arsen," balasku dengan suara yang kubuat-buat seperti anak kecil.
Setelah membaringkan Dio dengan posisi yang aman, aku segera beranjak turun untuk mengambil makanan buat Arsen.
Kebetulan Bi Mumu sudah mebereskan meja makan dan membawa semua makanan untuk di simpan dalam lemari dapur, jadi aku harus ke dapur untuk mengambilnya.
Tida di dapur saat hendak mengambil piring dan gelas, kulihat pintu belakang dalam keadaan terbuka. Aku berniat menutupnya karena kupikir Bi Mumu lupa. Wanita itu paruh baya itu memang sering kelupaan, jadi aku tidak merasa aneh dengan hal itu.
Yang aneh di sini adalah ... ternyata pelakunya bukan Bi Mumu. Melainkan dua orang yang tengah bersantai di pinggir kolam ikan.
"Jadi, Mas Hamdi suka melihatku seperti itu?"
Mas?
Mila memanggil suamiku dengan sebutan Mas? Terus soal 'suka melihatku seperti itu', itu maksudnya apa?
"Iyalah."
"Mas Hamdi!" panggilku agak keras, sampai keduanya terkejut.
Mereka terlihat gelagapan.
Bersambung ...