“Angel mau jadi tunangan Rian.”
Ungkapan yang sejatinya tidak pernah Angel sesali. Ungkapan perasaan yang Angel berikan secara tulus kepada Rian 6 tahun lalu itu adalah segalanya bagi Angel. Masa depan, harapan, cinta dan kasih sayang yang Angel inginkan seolah sudah terancang hanya dengan kalimat itu. Angel bahkan sudah merencanakan segala hal tentangnya dan Rian. Seakan semua itu akan terjadi dengan cepat dan tidak tertunda.
Namun, kenyataannya tidak seindah ekspetasti. Harapan itu sedikit demi sedikit menghilang. Rencana matangnya yang dirasa tidak akan pupus, perlahan terhapus. Kehidupan yang Angel bayangkan, lenyap terbawa keputus-asaan.
6 tahun.
Waktu yang harus Angel pertahankan agar semua mimpi dan harapannya tercapai. Waktu yang Angel pakai untuk terus menetapkan hati pada lelaki yang sama. Waktu yang Angel pakai untuk menulikan pendengarannya dari ucapan orang luar tentang bagaimana dirinya dan Rian. Waktu yang Angel pakai untuk menutup matanya dari segala pandangan orang mengenai hubungannya.
Anggap saja Angel bodoh. Tetap bertahan dengan harapan yang tidak memiliki kepastian. Tetap mencintai tanpa tahu kapan hari itu datang dengan pasti. Karena Angel yakin, kebahagiaannya ada pada Rian. Persis seperti sang mama.
“Bisa kasih satu alasan sama Mama kenapa kamu masih bertahan sama Rian?”
Angel mendongak. Menatap wanita yang berada di sampingnya dengan wajah datar. Wanita yang baru saja pulang dari lokasi syutingnya itu mengangkat kedua alisnya melihat Angel yang hanya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaan yang baru ia lontarkan.
“Kenapa?” tanya wanita itu bingung.
“Mama sendiri, kenapa masih mau bertahan sama Papa?” tanya Angel balik. Pertanyaan yang berhasil membuat perempuan di sampingnya terdiam kaku. “Kasih satu alasan sama Angel, kenapa Mama masih bertahan setelah semua yang Papa lakuin ke Mama selama ini?”
Kerutan di kening wanita berkebangsaan Amerika itu tampak jelas terlihat. Dengan umur yang sudah menginjak kepala 5, kulit wanita di samping Angel ini cukup terawat. Meski beberapa jejak penuaan terlihat pada wajahnya, wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti perempuan berumur 55 tahun. Mata biru dengan kulit seputih s**u itu tampak kontras dengan lipstik merahnya.
“Angel—“
“Kalau Mama saja tidak bisa mengatakan alasannya, kenapa Angel harus mengatakan alasan yang sama juga?” potong Angel cepat.
Lizandra Briani. Perempuan yang besar di kota New York itu menatap putri satu-satunya dengan tajam. Pembahasan yang sangat Lizandra hindari itu kini terlontar dengan mudah dari mulut putrinya.
“Kamu jelas tahu kenapa Mama masih bertahan. Papa cukup baik. Dia—“
“Baik dalam artian apa?” Angel kembali memotong ucapan Mamanya. Perempuan dengan dress mini berwarna kuning itu menatap ke arah lain saat wajah sang Mama berubah. Sepertinya Angel tahu dari siapa ia belajar bertahan. 6 tahun mungkin terdengar lama. Tapi, bagaimana dengan sang Mama yang bahkan masih bertahan setelah menunggu selama hampir 20 tahun?
“Angel, tidak semua lelaki bisa menerima kekuranganmu. Terkadang, mereka hanya melihat kelebihan yang kamu miliki, semuanya jelas ketika kamu bersamanya dalam keadaan susah dan senang. Memang tidak mudah, tapi, Papa adalah lelaki terbaik yang pernah Mama temui. Dia lebih baik dari lelaki manapun.”
“Dan bertahan adalah jawabannya?”
“Tentu. Papa menyayangi Mama sebagaimana Mama menyayanginya. Kami hanya sedang beritirahat. Kamu jelas paham hal itu, kan?”
Beristirahat? Selama 20 tahun? Itu yang dinamakan berisitirahat?
“Angel masih tidak mengerti kenapa Mama melakukan itu dulu. Tapi, sepertinya Angel paham apa yang Mama rasakan sekarang.” Angel tersenyum pahit. Kalau Mamanya saja bisa bertahan selama 20 tahun lamanya, bagaimana ia bisa mengeluh hanya dengan 6 tahun?
Sementara dirinya bisa melihat dan mengawasi Rian dari jarak dekat. Sedangkan Sang Mama? Mendengar kabarnya saja sudah lebih dari cukup. Melihat? Papanya saja tak mau bertemu. Bagaimana bisa melihat?
“Mama sebaiknya beristirahat. Mbak sudah menyiapkan makan malam.”
Tersenyum manis, Lizandra mengusap kepala Angel dengan lembut. “Kalau begitu, Mama ke kamar dahulu. Kamu cepat berganti pakaian. Di luar sudah mulai dingin.” Lizandra bangkit. Aktris cantik itu pergi meninggalkan Angel yang terdiam.
Angel menghela napas panjang. Menyandarkan punggungnya pada sofa, Angel menatap punggung sang Mama yang mulai menaiki tangga guna memasuki kamar. Langkah kaki yang elegan dengan postur tubuh yang indah, Mamanya masih tetap profesional. Bahkan dalam kehidupan nyata. Wanita itu memiliki segalanya dalam hal fisik. Bahkan materi saja Mamanya lebih unggul dari wanita manapun. Lantas, apa yang sebenarnya membuat Sang Papa tak kunjung kembali?
Apa harus ber-akting di depannya juga? Tanya Angel dalam hati. Mamanya memang jago bersandiwara. Mamanya handal mengubah raut wajah dengan cepat. Entah karena pekerjaannya, atau memang terbiasa, wanita itu bisa menutupi perasaannya hanya dalam satu detik. Namun, semuanya tidak berguna di hadapan Angel, Mamanya tidak bisa menutupi semua kekecewaan dan rasa sedih yang setiap kali Angel lihat di kedua matanya.
Han Yoo Jun. Pria berkebangsaan Korea Selatan yang menikahi Lizandra 33 tahun yang lalu itu, tak kunjung menetap setelah keributan besar 20 tahun lalu. Keributan yang memicu segala perubahan pada keluarga kecilnya. Pria dengan marga Han itu meninggalkan Lizandra setelah memaki wanita itu habis-habisan.
Alih-alih merasa marah dan memilih perceraian sebagai jalan keluar, Lizandra justru memilih bertahan. Bertahan tanpa kepastian. Bertahan menunggu seseorang yang bahkan wajahnya saja Angel tidak yakin sang Mama sudah kembali melihatnya setelah sekian lama. Bertahan menungu pria yang sama sekali tidak menginginkannya. Bertahan dengan rasa sakit dan tangis yang ia tumpahkan secara diam-diam di malam hari.
Menjadi publik figur yang cukup berpengaruh, Angel paham dengan perasaan Mamanya. Tidak semudah itu melangkah dan memutuskan sesuatu. Terutama dengan kehidupan pribadi. Begitu berita muncul, semua orang akan menelannya secara bulat-bulat. Semua orang akan mulai menuangkan bensin pada kobaran api yang semula hanya berupa percikan. Membuat semuanya semakin panas dan melahap habis semua kebenaran yang akan diungkap.
Angel merasakan hal itu. Menjadi model, bukan sekali dua kali perjalan hidup Angel diliput, diekspos tanpa seizinnya. Tak jarang juga orang-orang membuat rumor tak jelas. Dan semua itu harus Angel terima dengan lapang d**a.
Lantas, bagaimana caranya sang Mama terlepas dari genggaman Papa jika satu langkahnya saja bisa menjadi boomerang bagi dirinya sendiri?
“Lo nggak balik ke apartemen? Tumben balik ke rumah.”
Angel mengalihkan pandangannya. Matanya menatap malas lelaki dengan jaket kulit yang kini menghampirinya dengan wajah berseri. Wajah datar yang Angel tampilkan membuat lelaki bermata sipit itu mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa emang kalau Angel pulang ke rumah?!” sewot Angel. Rizal, lelaki yang menjadi kakak kedua Angel itu menjauhkan wajahnya begitu mendengar semprotan dari sang adik.
“Ya gue nanya aja. Biasanya juga, kan, lo nggak akan pulang. Apalagi kalau tahu Mama balik.”
“Kakak kenapa belum nikah, sih? Nikah sana. Biar nggak buat Mama sama Angel pusing!”
Rizal menatap jengkel pada Angel. “Dimana-mana gue yang harusnya ngomong gitu sama lo! Tunangan mulu. Nikahnya kapan tau!”
Angel memutar bola matanya malas. “Nantilah! Kalau Angel sama Abang udah siap!”
“Siapin aja terus. Keburu ditinggal kaya Mama, baru tau rasa lo!”