Satu bulan lalu.
“Sakit, ya? Kan, aku udah bilang. Jangan diforsir. Kamu harus istirahat, Angel. Tubuh kamu juga butuh istirahat.”
Angel tersenyum kecil begitu telinganya mendengar rentetan kalimat dari lelaki di depannya yang kini sedang menatapnya penuh khawatir. Dengan tubuh lemas yang terbaring di atas brankar, Angel memegang tangan Rian. Merasakan kehangatan yang lelaki itu berikan dengan penuh kasih sayang.
“Kata dokter apa?” tanya Rian lagi. Nada suaranya masih sama. Menyiratkan perasaan khawatir dan cemas berlebih.
“Angel nggak papa, Abang.”
Abang. Sebutan yang Angel sematkan untuk Rian. Sebutan yang Angel berikan pada Rian dan hanya dirinya yang boleh memanggil lelaki itu dengan panggilan tersebut. Tidak ada orang lain yang boleh menyebut Rian dengan sebutan yang sama. Angel tidak akan membiarkan orang itu jika ada yang berani melakukannya.
Ada banyak alasan mengapa Angel masih bertahan sampai saat ini. Salah satunya adalah kekhawatiran Rian, yang akan tampak jelas begitu melihat Angel seperti sekarang. Mata lelaki itu yang terlihat sangat sendu dengan wajah yang hampir pucat, Rian seolah merasakan apa yang saat ini Angel rasakan. Lelaki itu seakan tahu apa yang sedang Angel butuhkan.
Bukan obat. Bukan pula keperluan rumah sakit. Angel hanya butuh tatapan itu. Tatapan kasih sayang, tatapan tak ingin kehilangan, tatapan rasa sayang teramat yang bisa menyembuhkan Angel hanya dengan menatapnya. Dan hanya Rian yang memiliki itu semua. Salah satu alasan terkuat untuk Angel bertahan selama 6 tahun.
Apa ini yang Mamanya rasakan sampai-sampai mau bertahan sekian lama dengan sang Papa? Jika benar, sepertinya Angel juga akan tahan bertahan dengan lelaki ini. Sampai kapanpun.
“Kamu selalu lupa makan. Kerja bukan berarti bunuh diri. Kamu masih butuh—“
“Sstt!” Angel mengangkat jari telunjuknya dan menutup mulut Rian. “Abang mending duduk. Angel beneran nggak papa, cuman kecapekan aja.”
“Cuman kecapekan? Kamu diinfus dari semalam. Dan kamu bilang cuman karena kecapekan?”
“Abang, Angel lagi sakit, lho…”
Rian menghela napas panjang, decakan pelan tak luput ia keluarkan. Mengambil kursi yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini, Rian lalu menggenggam tangan Angel dengan erat. Takut saat ia melepaskan tangan itu, Angel juga ikut lepas dari pandangannya. Rian tidak ingin hal itu terjadi.
“Sekarang makan, ya?” bujuk Rian dengan lembut.
“Pait, Abang,” rengek Angel menolak.
“Sedikiiit aja.” Rian mendekatkan jari telunjuknya dengan ibu jari. Membuat persamaan dengan kata sedikit yang ia ucapkan.
“Angel bukan anak kecil, lho, Abang. Sedikit yang Abang maksud nggak mungkin sesedikit itu,” kesal Angel. Rian terkekeh pelan. Lelaki itu mengusap kepala Angel dengan lembut.
“Satu suap aja. Gimana?”
“Nggak mungkin satu suap,” cibir Angel.
Rian menghela napas. “Beneran satu suap. Serius.”
“Bohong!”
“Beneran. Aku nggak bohong.”
Mata Angel menyipit kecil, berusaha untuk mencari kebohongan dari ucapan Rian, walau sebenarnya ia sudah tahu jika itu hanya akal-akalan Rian saja. Tapi, melihat bagaimana gigihnya lelaki itu membujuk, Angel mau tak mau mengangguk. Membuat senyum manis terpatri di wajah Rian. Senyum penuh kepuasan itu membuat Angel mencebik kecil.
“Satu suap doang!” ucap Angel mengingatkan janji Rian.
Rian hanya mengangguk. Lelaki itu mengambil bubur di atas meja dan mulai menyuapi Angel.
“Udah!”
Rian yang hendak menyendok kembali bubur di tangannya itu menghela napas. “Satu kali lagi,” jawabnya.
Angel dengan cepat menggeleng. “Abang bilang cuman satu suap!”
“Satu kalii aja. Beneran! Sekarang sekali lagi aja,” pinta lelaki itu dan kembali menyuapi Angel.
“Udah, tuh!” Angel menutup mulutnya kala sendok itu kembali berada di depan mulut.
“Maksudnya satu ditambah satu. Jadi dua kali. Ayo, aaa!”
“Nggak—“ belum selesai Angel berbicara, sendok itu sudah berada di dalam mulutnya. Membuat Rian tersenyum puas. Sedangkan Angel memberenggut sebal.
“Sekarang minum obat dulu.”
“Nggak mau! Angel nggak mau!” tolaknya. Angel membuang wajahnya ke samping. Tak lupa tangan yang bersedekap gadis itu jadikan sinyal pada Rian jika ia benar-benar marah.
“Kan, mau sembuh. Ayo, Sayang. Minum obat dulu. Ya?”
Angel mengulum bibirnya begitu merasa kedua ujung bibirnya berkedut ingin tersenyum. Namun dengan cepat Angel menahannya. Ia tidak boleh sampai tersenyum. Meski panggilan Rian terlalu manis untuk ia dengarkan.
“Sayang,” panggil Rian.
Angel yang mendengarnya langsung menghentakkan kaki kesal. Kembali menatap Rian, Angel mencebik kala menemukan wajah Rian yang sedang tersenyum manis.
“Cuman tiga doang obatnya.”
“Tapi pait semua!” adu Angel dan menunjuk pada beberapa tablet obat yang ada di telapak tangan Rian.
“Namanya juga obat, Angel.”
“Ada, kok, obat yang manis,” timpal Angel dengan cepat.
“Apa? Sirop? Ya kali, segede kamu masih minum sirop.”
“Bukan!” Angel menggelengkan kepala.
“Terus apa?”
“Liat Abang senyum,” gombalnya dan terkekeh pelan begitu melihat telinga Rian yang perlahan memerah. “Cie ... malu!”
“Nggak ada!” Rian mengelak, tangannya mengusap telinga dan menatap ke arah lain. Membuat Angel tak bisa menahan tawanya melihat itu.
“Ah, sorry. Gue kira nggak ada orang di dalam.”
Angel dan Rian sama-sama menoleh begitu mendengar suara dari arah pintu. Seorang lelaki jangkung dengan jaket coklatnya itu menggaruk tengkuknya kikuk.
“Bisa ketuk dulu, kan?” sinis Rian. Ekspresi santai yang sejak tadi menghiasi wajahnya langsung berubah dingin.
“Maaf. Tapi, gue udah ketuk pintunya beberapa kali.”
Rian mendelik tajam, ujung matanya terlihat sekali ingin memakan habis lelaki yang kini tampak tenang dengan wajah tengilnya. Angel melihat Rian lalu pada lelaki di dekat pintu. Beberapa kali sampai akhirnya tersadar jika kedua orang itu akan terus begitu entah sampai kapan.
“Ah, ya. Ada apa Jayyen?” tanya Angel memecah ketegangan. Gadis itu menatap lelaki yang memasuki ruangannya dengan santai. Berbeda dengan Rian yang sejak tadi terus menatap tajam.
“Gue dengar lo sakit. Ada luka serius?” tanya Jayyen. Lelaki yang berada satu agensi dengan Angel itu menatap Rian yang terus menatapnya tajam. “Gue nggak datang sendiri. Ada Raya di luar. Dia sedang menerima telepon.”
“Hanya terlalu lelah. Seperti biasa,” jawab Angel dan terkekeh pelan kala melihat Jayyen yang mendelik kecil padanya. Rian yang melihat itu tentu saja berniat untuk menghentikannya. Namun, getaran ponsel di sakunya membuat lelaki itu urung.
“Aku terima telepon dulu,” ucap Rian pada Angel seraya menunjukkan ponselnya. Angel menganggukkan kepala. Setelahnya, lelaki itu pergi keluar dari ruangan. Meninggalkan Jayyen dan Angel berdua.
“Gimana? Kapan surat undangan gue terima? Kayanya lo sama Rian makin deket,” ucap Jayyen yang jelas berniat meledek.
“Niat kamu sebenarnya untuk menanyakan perihal ini? Bukan untuk menjenguk?”
“Bukan gitu maksud gue.” Jayyen mendengkus kecil. “Gue udah bilang buat terima lamaran gue aja. Nikah sama gue nggak akan selama kaya lo nikah sama Rian. Capek sendiri, kan, lo nunggu kepastian?”
Angel dengan cepat menggelengkan kepala. “Nggak.”
“Hah?”
“Yang capek itu justru Jayyen. Angel sudah bilang untuk tidak menunggu, kan?”
Jayyen tersenyum. “Kalau lo aja bisa nunggu Rian. Kenapa gue nggak bisa?”