Model cantik Angelica Paramitha jatuh sakit saat pemotretan. Tidak diantar ke rumah sakit oleh sang kekasih, Angel pergi dengan kakaknya. Pertandakah hubungan keduanya kandas? Setelah bertunangan selama 6 tahun?
Bertunangan selama 5 tahun lebih, Angelica jarang muncul bersama sang kekasih. Audira Clarisa: Siapa yang akan bertahan selama itu, kan?
Seminggu tidak memposting kebersamaan dalam media sosial, Angelica akhirnya memutuskan pertunangan?
Jari Angel langsung menekan tombol kembali. Mulutnya yang sedari tadi membaca rentetan berita di layar persegi itu seketika menutup begitu merasakan seseorang datang. Matanya yang tertuju ke arah Ipad pun beralih pada Rian yang tersenyum. Dengan manis, Angel balas senyuman lelaki di depannya. Dengan setelan kemeja dan juga jas berwarna hitam yang tampak menawan, Rian duduk di sampingnya.
“Abis baca apa?” tanya lelaki itu seraya melirik kecil pada Angel.
“Bukan apa-apa. Siapa yang telepon?” tanya Angel balik. Berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
“Viona.”
“Lagi?” Kening Angel mengerut dalam, tak suka dengan nama yang baru saja disebut oleh Rian. Dengan kesal, Angel menatap ke arah lain begitu Rian menatapnya dengan lekat. “Kapan sih dia nggak telepon Abang? Bahkan setelah berita yang keluar hari ini, Abang pasti tetep ke kantor dan temuin dia, kan?”
Rian menarik napas panjang. “Ini masalah pekerjaan, Angel. Bukan masakah yang lain. Aku ke sana pun karena pekerjaan, dia telepon juga karena—“
“Ya udah. Sana!” usir Angel dengan kesal. Memotong ucapan Rian yang bahkan belum rampung lelaki itu lontarkan. “Viona sama pekerjaan lebih penting, kan?”
“Bentar, maaf karena gue nyela obrolan lo berdua. Berita yang lo maksud itu… Ini?” sela Jayyen yang memang masih berada di dalam ruangan. Lelaki itu menunjukkan ponselnya pada Rian dan Angel. Mata Angel membulat melihatnya, ia buru-buru menarik ponsel Jayyen dan menyembunyikan benda itu ke belakang tubuh, sengaja tidak membiarkan Rian membacanya. Kenapa lelaki itu justru memperlihatkannya?
“Kenapa ditutup?” tanya Rian penuh selidik.
“Itu berita yang kemarin. Nggak ada berita,” elak Angel.
“Siniin ponselnya,” pinta Rian dengan dingin. Angel menggelengkan kepala pelan. “Kamu juga bilang ada berita, tentang apa?”
“Bukan apa-apa,” jawab gadis itu dan melirik Jayyen tajam, memperingatkan lelaki itu agar keluar dan membawa ponsel yang Angel pegang dengan cepat. Namun, Jayyen malah terdiam alih-alih menuruti isyaratnya. Angel yakin lelaki itu paham dengan apa yang sedang Angel isyaratkan, bahkan ketika tangan Angel terus terulur kecil pada lelaki itu, Jayyen masih diam dan memilih melihat ke arah Rian yang berubah.
“Nggak ada berita,” timpal Raya. Perempuan yang datang bersama dengan Jayyen itu mengambil ponsel Jayyen dan memasukkannya ke dalam kantung jas. Raya mencubit kecil pinggang Jayyen dari belakang, yang mana membuat Jayyen meringis kecil, namun lelaki itu urungkan saat melihat tatapan tajam yang Raya lempar.
“Gue nggak yakin,” jawab Rian. Lelaki itu masih berusaha untuk mengambil benda persegi panjang yang ada di kantung jas Raya, tidak percaya dengan apa yang dibicarakan Angel juga Raya. Melihat bagaimana reaksi keduanya, siapapun jelas menaruh curiga yang sangat besar, kan? Apalagi saat mendengar Angel yang bernapas lega. Rian yakin seratus persen jika kali ini ada yang sedang disembunyikan kedua wanita itu.
Raya, perempuan yang menjadi manager Angel itu menatap Rian balik. Tidak seperti Angel yang tidak bisa melihat Rian karena takut, Raya justru menatap tajam mata Rian yang juga tengah mendelik padanya. Maaf-maaf saja, Raya bukan Angel yang akan diam saja dan merasa takut dengan tatapan biasa itu. Menjadi manager Angel saja, bukan sekali dua kali Raya melihat tatapan itu, dan sekarang ia harus merasa takut? Hah, mata netizen bahkan lebih tajam dari Rian.
“Abang ada urusan di kantor, kan? Kenapa—“
“Kamu mau terus kaya gini? Biarin aku jadi orang bodoh yang nggak tahu apa-apa?” tanya Rian dan menoleh pada Angel. Suasana kembali tegang, bahkan lebih menegangkan saat Jayyen datang.
Angel menatap ke arah lain. Meminta bantuan pada siapapun yang mungkin saja bisa mengalihkan pembicaraan dan membuat Rian lupa akan apa yang sedang mereka bicarakan, dan sekan doanya dikabulkan oleh Tuhan, seseorang menelepon Rian. Angel tahu siapa yang lagi-lagi menghubungi tunangannya itu. Pasti Viona, kan?
“Aku angkat—“
“Abang mending langsung ke kantor aja, deh. Di telepon terus, habis pulsa dia nanti minta ganti rugi sama Abang, Angel juga nggak papa.”
Meski merasa kesal, Angel tidak bisa memungkiri telepon dari Viona seberguna itu membuatnya merasa lega, ditambah dengan Rian yang langsung mengangguk dan melupakan masalah. Angel akan berterimakasih pada wanita itu jika Angel ingat nanti.
“Aku pulang ke apartemen kamu malam ini. Jangan sampe minta pulang cepet, kalau dokternya belum bilang untuk pulang hari ini,” pesan Rian pada Angel. “Kalau gitu, gue titip Angel, Ray. Kalau ada apa-apa, lo bisa telepon gue, jangan sampe ada hal yang penting lo nggak bilang sama gue.”
Raya memutar bola matanya malas, bahkan tanpa Rian katakan pun ia pasti akan melakukan hal tersebut. Lagi pula, siapa lagi yang bisa ia hubungi selain Rian di saat-saat genting? Meskipun kemarin ia lupa dan berakhir menelepon Rizal—kakak kedua Angel.
“Hm,” jawab Raya.
“Jangan telepon Kak Rizal!” peringat Rian. Raya menarik napas panjang dan menatap Rian dengan tajam. “Gue lupa telepon lo kemarin. Salah liat juga namanya,” jawab Raya seraya mendengkus.
“Ada gue juga. Nggak perlu telepon lo juga Angel masih bisa gue jagain,” ucap Jayyen yang sedari tadi diam. Matanya melirik pada Rian yang kini langsung merubah raut wajahnya, tangan lelaki itu juga ikut mengepal kala melihat Jayyen yang membentuk seringai.
“Kenapa dia nggak kamu suruh keluar?” Rian menunjuk pada Jayyen, berbanding terbalik dengan matanya yang kini melihat Angel dengan sebal.
“Peran gue jelas lebih penting dari lo,” kompor Jayyen, senyum miring yang tercetak di bibirnya itu semakin lebar.
“Dia balik sama gue,” jawab Raya mewakili. “Jayyen berangkat bareng sama gue. Dia nggak bawa mobil,” tambahnya.
Rian menghela napas panjang. “Biar gue yang anter dia pulang.”
Angel memejamkan mata, merasakan kepalanya yang pusing karena melihat dua lelaki itu tampak seperti anjing dan kucing. “Abang mending sekarang ke kantor. Itu hape dari tadi bunyi terus. Bentar lagi juga Raya pulang.”
“Lo sama siapa di sini?” tanya Jayyen yang mana mendahului pertanyaan Rian dan Raya yang baru akan terlontar.
“Angel bisa telepon siapa aja.”
“Ngel,” panggil Jayyen dan Rian bersamaan.
“Astagfirullah! Abang jadi ke kantor nggak, sih? Udah sana cepet!” usir Angel. “Jayyen juga di luar dulu bisa? Ada yang mau Angel obrolin sama Raya dulu.”
Jayyen yang baru akan meledek Rian dengan menjulurkan lidah langsung menatap Angel dengan memelas, sedangkan Rian tersenyum miring. Lelaki itu berjalan mendekati Jayyen dan menarik kerah kemeja yang dipakai lelaki itu untuk ia ajak keluar bersama.
“Ngel, gue nggak akan nguping obrolan lo, kok. Gue juga—“
“Lo nggak denger tunangan gue bilang apa?” desis Rian.
Jayyen mencebik kasar, menghempaskan tangan Rian yang tengah menarik kerahnya dengan kasar. “Gue bukan anjing lo!”