ke - 4 (Revisi)

1084 Words
“Raya bisa hapusin berita hari ini, kan? Kaya kemarin.” Menghela napas panjang, Raya melihat ke arah lain saat matanya tak sengaja menatap Angel yang tampak memelas. Sejujurnya, tanpa perlu diminta pun Raya pasti akan menghapus berita itu. Tapi tidak hari ini, mengingat hari ini dirinya sedang memiliki hal lain dengan si penghapus berita. Raya juga tidak bisa memaksa, meskipun uang bisa membantu dan Angel tidak akan kekurangan hal itu, Raya tetap tidak bisa melakukannya hari ini. Ada beberapa alasan yang tidak bisa Raya katakan pada Angel. “Hari ini nggak bisa,” jawabnya. Raut wajah yang semula terlihat penuh harap itu berubah menjadi lesu. Angel menatap lekat Raya, tangannya menggengam lengan sang manajer, berharap gadis itu akan merubah keputusannya hanya dengan melihat Angel. “Kenapa? Raya pasti tahu, kan, Angel nggak mau kalau sampe Abang liat, tadi aja dia udah curiga.” Raya menggelengkan kepalanya tegas. “Hari ini gue beneran nggak bisa, Ngel.” “Kenapa?” tanya Angel. “Karena uang? Angel bisa kasih berapapun, Raya pake aja uang yang di black card, Angel nggak pernah pake yang itu, kan? Raya pake buat yang lain juga nggak papa, yang penting—“ “Ngel, yang ngeliput berita ini lagi ada masalah sama Agensi kita,” jelas Raya. “Gue nggak bisa bantu lo hari ini, dan gue juga lagi punya masalah sama yang liput berita. Gue minta maaf.” Angel menyandarkan punggungnya lemas. Gagal sudah menyembunyikan berita hari ini dari Rian. Lelaki itu pasti akan langsung kembali kemari jika sudah mendengar beritanya. Angel hanya bisa berdoa, semoga saja tidak ada yang memberitahu lelaki itu tentang berita hari ini atau dirinya dan Rian akan benar-benar kandas, mengingat bagaimana bencinya Rian dengan berita miring yang tidak sesuai dengan fakta yang ada. Ditambah, lelaki itu pasti akan marah karena Angel tidak sempat memberitahunya tadi dan memilih menyembunyikan semuanya dari Rian. “Tapi—“ Angel dan Raya langsung menolehkan kepala serentak dan melihat pada pintu yang terbuka, pembicaraan mereka pun ikut terhenti begitu melihat siapa yang datang. Sadar jika Angel butuh waktu dengan lelaki yang ada di depan pintu, Raya segera bangkit dan menatap Angel sesaat, meminta izin untuk keluar yang langsung Angel jawab dengan anggukan pelan. Setelahnya Raya keluar dengan senyum kecil yang ia berikan pada lelaki di depan pintu sebelum benar-benar keluar. Sepeninggal Raya, Angel segera mengubah posisinya menjadi duduk tegap, matanya sesekali melirik pada lelaki yang kini tampak mendekat padanya, langkah kaki yang lebar dengan kaki yang panjang itu seolah menjadi salah satu langkah kaki yang sangat Angel rindukan akhir-akhir ini. “Kali ini karena apa?” tanya lelaki itu begitu tubuhnya sudah berada di samping brankar Angel. Nada dingin yang tak berubah itu berhasil membuat Angel terdiam. Tak bisa menjawab. Lebih tepatnya tak mau menjawab. “Tidak akan menjawab?” tanyanya lagi dengan suara yang cukup menusuk. “Perlu Angel jawab?” Angel menatap balik lelaki di sampingnya. Matanya yang memerah tak bisa menutupi rasa rindu sekaligus rasa kesal pada lelaki itu. “Kakak tidak bisa menyerahkan pasien pada orang lain begitu saja Angel,” ucap lelaki itu yang tiba-tiba saja menjelaskan keadaan mengapa dirinya baru muncul hari ini. Padahal Angel sama sekali tidak meminta penjelasan lelaki itu, kan? “Angel bertanya?” pertanyaan sarkas yang Angel lontarkan berhasil membuat lelaki di sampignya terhenyak. Terkejut, dan tak percaya dengan ucapan Angel yang berani bertanya dengan sarkas. “Angel, Kakak—“ “Pulang,” titah Angel. “Angel butuh istirahat.” Lelaki itu memejamkan matanya. Menghela napas panjang, tangannya menarik satu kursi yang kosong, duduk di sana dan menatap Angel dengan lekat, lelaki itu tampak biasa saja melihat wajah sang adik yang berubah pucat, bahkan bibirnya saja tampak putih. “Papa tidak bisa kemari. Dia akan secepatnya menjenguk kamu dan Rizal,” ucap lelaki itu. “Hal itu penting sekarang?” Noah Briani Paramitha, kakak pertama Angel yang juga menjadi anak pertama dari Lizandra itu adalah anak satu-satunya yang mengikuti jejak sang papa, terjun pada dunia medis. Berbeda dengan dirinya dan juga Rizal yang memilih jalur entertainment juga bisnis, Noah mengikuti jejak sang Papa dan mengikuti pria itu mengurus rumah sakit di Korea, yang mana menjadi satu-satunya alasan mengapa Angel cukup membenci sekaligus merindukan sosok Noah. Memiliki keluarga yang hancur ketika dirinya baru berusia 7 tahun, bukanlah sesuatu yang Angel inginkan, terutama saat melihat sang Papa yang pergi setelah membuat Mamanya menangis tersedu. Meskipun kejadian di mana papa dan mamanya bertengkar adalah 20 tahun lalu, nyatanya kepergian Noah baru saja terjadi ketika Angel berusia 12 tahun. Noah yang memang menjadi anak pertama secara tidak langsung memiliki tanggung jawab mengubah dirinya menjadi sosok ayah juga. Dan karena hal itu juga Angel lah yang merasakan sakit luar biasa begitu melihat Noah yang juga memilih meninggalkan Mamanya dan pergi menemui sang ayah di Korea. Noah bagi Angel adalah kakak, ayah, teman dan sahabat terdekat. Noah segala-galanya bagi Angel yang sangat merindukan sosok ayah, Noah bisa melakukan semuanya, Noah bisa membuatnya bahagia, Noah bisa membuatnya tertawa, Noah juga bisa membuat Angel menangis sampai menahan rasa sakit itu sampai sekarang. “Kakak melihat Rian dengan perempuan itu lagi di mobil. Apa kamu tidak melihat berita hari ini?” Angel menolehkan kepala. “Perempuan itu?” “Sekretarisnya.” “Ah, Viona.” “Kamu membiarkannya pergi dengan perempuan itu lagi?” “Lantas? Angel harus melakukan apa? Mereka hanya teman kerja. Angel juga—“ “Mereka bahkan berciuman di dalam mobil!” Suara dengan nada khas Korea itu memasuki telinga Angel. Memenuhi gendang telinganya dengan mudah, sampai-sampai suara sang kakak terngiang pelan di kepalanya. Terhenyak, Angel membulatkan mata kecil dan menatap Noah dengan kening mengerut dalam, Angel menggelengkan kepala, berusaha tidak mempercayai ucapan Noah, ia yakin hanya penglihatan lelaki itu yang salah, Angel tahu Rian tidak seperti yang lelaki itu katakan. “Kakak salah liat,” jawabnya dengan cepat. “Aku melihatnya dengan jelas! Mereka bahkan melakukan itu di depan halte bis. Kamu kira Kakak tidak memiliki mata sampai-sampai membuat rumor aneh?” Angel menelan salivanya, pikirannya mulai terbawa suasana, sesak juga ia rasakan secara perlahan di dadanya. Namun, lagi-lagi Angel menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, Rian mencintainya, Rian tidak akan menghianatinya, dan Angel percaya hal itu. “Kamu tidak percaya dengan ucapan Kakak?” Angel terkekeh pelan. “Angel bahkan sudah tidak percaya Kakak sejak 14 tahun yang lalu.” Melirik sesaat pada Noah, Angel gelengkan kembali kepalanya. “Jika kedatangan Kakak untuk ini, Angel mohon untuk keluar. Kehadiran Kakak bahkan lebih menyakitkan dari apa yang baru saja Kakak katakan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD