#9
"Ayah ....!"
Terdengar suara teriakan Laura dari ruang tamu, suaranya begitu menggema hingga aku yang tengah berada di dapur pun bisa dengan jelas mendengarnya.
Apa Mas Irwan datang? Ah, untuk apa lagi? Aku segera bergegas keluar untuk mencari tahu, dan ternyata benar Mas Irwan sudah duduk di ruang tamu bersama dengan kedua orangtuaku.
"Ngapain lagi kamu datang!" sentakku penuh amarah.
Benar-benar tak tahu malu pria ini, bisa-bisanya ia datang dengan wajah polos dan seolah tak terjadi apa-apa dengannya.
"Mey, tolong beri kesempatan untuk aku menjelaskan semuanya."
Mas Irwan berusaha merayuku dan memintaku untuk memberinya kesempatan.
"Apa yang mau kamu jelaskan lagi Mas? Bukankah semua sudah jelas? Kamu menghianati pernikahan kita dengan sangat jelas!"
Nada suaraku semakin meninggi, amarah yang aku pendam beberapa hari ini tumpah akhirnya tumpah juga. Aku bahkan tak peduli ada Laura di antara kami. Sakit di dalam hatiku tak bisa lagi tertahan.
"Mey, kami masuk dulu," pamit kedua orangtuaku seraya membawa Laura masuk.
Kini, hanya tinggal aku dan Mas Irwan berdua di ruang tamu. Kami duduk saling berjauhan, karena aku memang sudah tak sudi lagi bersanding dengannya.
"Mey, aku menikahi gadis itu demi proyek yang pernah aku ceritakan. Proyek itu terhalang izin Mey, tolong mengertilah. Setelah keluarganya tanda tangan, aku akan segera menceraikan dia," jelas Mas Irwan.
Aku tersenyum miring, "Mas, pernikahan itu bukanlah permainan. Bagi kamu mungkin bisa dengan mudah menceraikan dia lalu kembali padaku, tapi kamu gak akan paham bagaimana rasanya seorang wanita yang harus berbagi suami."
Aku menghela nafas sejenak, berusaha mengatur kata agar bisa membuat Mas Irwan mati kutu dan tak akan lagi mampu merayuku nantinya.
Yang pasti tidak harus menanggapinya dengan emosi, karena marah dan memaki hanya akan membuang energi dalam diri.
"Mas, pergilah. Temui wanita yang baru saja sah menjadi istrimu. Perceraian kita akan aku urus secepatnya," ujarku.
Mas Irwan menundukkan wajahnya, entah apa yang tengah ia pikirkan.
"Mey, maafkan aku ...," ucapnya tanpa mendongak.
"Aku sudah memaafkan kamu Mas, jodoh kita sudah cukup sampai disini."
Hatiku memang sakit, aku memang terluka. Namun, aku juga harus memikirkan lagi mental Laura jika aku harus memakai dan menghina ayahnya.
Seburuk apapun, Mas Irwan adalah ayah dari putriku. Tak berapa lama, Laura keluar dari kamar dan langsung memeluk ayahnya.
Aku biarkan mereka berdua melepaskan rindu, dan meninggalkan mereka di ruang tamu. Setelah itu, aku bergegas melanjutkan pekerjaanku di dapur.
"Mbak? Kok bisa sih tenang banget ngadepin Mas Irwan?" bisik Alfi yang menemuiku di dapur.
Aku tersenyum, "Lihat Mas Irwan sekarang, dia jauh lebih merasa bersalah. Jadi, tidak perlu membuang tenaga untuk membalas orang yang sudah menyakiti kita," jelasku.
Alfi melongok ke ruang tamu, mungkin ia ingin membuktikan kata-kataku.
"Tapi kan gregetan Mbak," ucap adik perempuanku.
Aku menghentikan aktifitasku, kemudian menoleh ke arahnya.
"Fi, Mbak juga sakit hati kok. Wanita mana yang terima suaminya menikah lagi, diam-diam pula. Namun, kalau kita marah dan balas dengan emosi, dia justru akan merasa bahwa keputusannya meninggalkan kita adalah keputusan yang benar, tapi kalau kita berusaha sabar dan bersikap tenang, ia justru akan menyesal," ungkapku lagi.
Alfi mengangguk, sepertinya ia mulai paham dengan apa yang aku katakan.
"Apa menjadi seorang istri harus seperti itu? Mengabaikan perasaan sendiri?" tanya Alfi.
Ada nyeri yang tiba-tiba datang dalam hatiku, aku tidak mengabaikan perasaanku. Aku hanya berusaha menghargai diriku sendiri dengan tidak menyakiti hatiku jauh lebih dalam.
"Tidak semua istri bisa, karena emosi seseorang berbeda-beda. Namun, percayalah bahwa akan ada satu titik dimana kamu ikhlas menerima bahwa jodohmu bukan lagi dia. Lagipula, untuk apa mempertahankan seseorang yang sudah jelas-jelas menghianati kepercayaan? Tidak ada Fi."
Entah perasaan dari mana, hingga aku bisa mendapatkan kata-kata seperti itu. Padahal, aku bukanlah wanita yang biasa bijak seperti apa yang baru saja aku lakukan.
Braaaag!
"Aaaarrrgg!!"
Suara benda jatuh di barengi dengan suara Laura berteriak membuat aku dan Alfi sontak bergegas pergi melihat apa yang terjadi di ruang tamu.
"Aryo! Cukup!"
Aku terkejut saat melihat Aryo, adik lelakiku tengah menghajar Mas Irwan dengan membabi buta. Aku sadar, ia adalah adik lelaki yang tidak terima atas apa yang sudah Mas Irwan lakukan padaku.
Wajah Mas Irwan sudah babak belur, sementara Laura menjerit di sudut ruangan. Segera aku memeluk tubuh gadis kecil yang bergetar ketakutan melihat kejadian ini.
"Pergi kamu Mas! Aryo Masuk!"
Aku berteriak pada mereka berdua. Hanya kesehatan Laura yang aku takutkan saat ini. Aku yakin, akan ada trauma dalam hatinya.
Bahkan, kejadian ini mungkin akan tersimpan dalam memori Laura yang memang masih baik dalam mengingat segala hal.
Aku gendong tubuh kecil yang terus bergetar ketakutan, membawanya masuk ke dalam kamar kemudian terus memeluknya hingga ia terlelap dalam pelukanku.
Aku rela jika Mas Irwan menyakiti hatiku, tapi aku tidak akan pernah rela jika ia juga menyakiti Laura. Setengah mati aku berusaha menekan egoku agar Laura tidak terlibat dalam pertengkaran kami. Namun, mengapa ia harus memperlihatkan pertarungan mereka di depan Laura?
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk pintu, dan membukanya setelah aku mempersilahkan ia masuk.
"Mbak, maaf ...."
Aryo mendekat ke arahku, kemudian mengusap kening Laura dengan lembut.
"Maafin Om ya Sayang," ucapnya seraya mencium Laura.
"Lain kali, jangan gegabah. Apalagi di depan Laura, dia gak tahu apa-apa," ucapku seraya mengusap bulir bening yang tiba-tiba menetes dari ujung mataku.
Hari ini, aku belajar banyak hal. Terutama tentang menahan emosi saat hatiku benar-benar telah terbakar amarah. Kemudian, aku juga belajar jika mengikhlaskan jauh lebih membuat hati nyaman dari pada harus membalas perbuatan buruk seseorang.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk dari nomor Mike, sahabat Mas Irwan. Aku buka pesan di aplikasi hijau tersebut.
[Mey, kamu tahu gak? Irwan di pecat dari perusahaan!]
Mataku membulat sempurna saat membaca isi pesan tersebut. Padahal, aku belum melaporkan perbuatan Mas Irwan, tapi mengapa ia sudah di pecat?