#ISTRI_CERDAS
#8
#Irwan
"Kamu bisa gak sih, gak usah bikin keributan? Aku kan udah kasih semua yang kamu mau!" sentakku pada Windy.
Ia tersenyum licik, sepertinya ia begitu puas karena telah membuatku benar-benar akan bercerai dengan Meylani. Meski begitu, aku terus berusaha agar semua tidak terjadi.
Meylani adalah cinta pertamaku, ia adalah idaman banyak lelaki dan aku tidak akan melepaskan ia begitu saja. Walau aku tahu, sulit pastinya bagi dia untuk menerima kesalahan yang sudah dengan sengaja aku lakukan.
"Aku hanya memastikan kamu akan menepati ucapan kamu Mas!" sentak Windy.
Di tengah acara makan malam dengan dua keluarga besar, aku benar-benar tak bisa lagi berkutik.
Kini, aku hanya harus memikirkan cara bagaimana agar pihak kantor tidak menggubris jika memang Meylani melaporkan pernikahan keduaku.
Satu yang terlambat aku sadari, adalah aku lupa bahwa perusahaan tempat aku bekerja melarang seluruh staf nya menikahi dua wanita sekaligus. Itulah mengapa, aku tidak pernah mengekspos keluargaku pada pihak kantor.
Termasuk, akun sosial media yang sempat menayangkan pernikahanku secara live dengan Windy. Aku harus memutar otak agar Meylani tidak melaporkan aku. Karena semua akan sia-sia saat pihak perusahaan tahu dan aku di pecat.
Apalagi aku sudah bersikap kasar dan mempermalukan Meylani di pesta pernikahan itu. Aku benar-benar tak menyangka jika ini terjadi dalam hidupku.
Dua jam setelah resepsi pernikahan selesai, kami semua memang memutuskan untuk menginap di hotel yang biasa aku sewa bersama Meylani sebelum aku memiliki sebuah rumah disini.
Selain karena pemandangannya yang langsung menuju ke pantai, aku juga sudah terlanjur nyaman dengan fasilitas di hotel ini. Namun, berada di hotel ini membuatku merasa semakin bersalah pada Meylani. Anganku tentangnya selalu tergambar di pelupuk mata.
Terbayang kembali, bagaimana Meylani selalu menyukai jika aku mengajaknya ke kota ini, kota yang di anggap sebagian besar orang hanya hutan belantara, tapi pada kenyataannya kota ini memiliki pesona yang luar biasa hingga mampu membuat aku dan Meylani ingin menetap di kota ini.
Meski aku sudah memiliki rumah di kota besar ini, aku masih belum berani mengajak Windy tinggal disana. Bagaimanapun, aku masih merasa bahwa pernikahan ini bukanlah kemauanku.
Ini semua aku lakukan agar proyek yang perusahaanku rencanakan berhasil, bukankah semua juga akan dinikmati oleh Meylani nantinya? Aah, kenapa ia harus secepat itu mengambil keputusan.
"Besok aku pulang ke Jakarta, bagaimanapun aku harus menjelaskan semua pada Meylani!"
Aku mengatakan keputusanku setelah kami sampai di kamar hotel usai makan malam bersama dua keluarga besar.
"Aku ikut!" rengek Windy.
Aku benar-benar kesal dengan gadis ini, ia terlalu banyak menuntut dan terlalu banyak meminta sesuatu yang sulit aku turuti.
"Tolong Win, aku butuh waktu untuk bicara sama Meylani."
Aku memohon pada wanita yang baru saja aku nikahi, akan tetapi ia melengos dan tidak memberikan aku kesempatan untuk mengatakan lebih banyak kata lagi.
Ia langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Sementara aku menggerutu geram karena tak bisa menyalurkan emosi. Kedua orangtua Windy masih di hotel ini dan aku tidak mungkin membuat Windy terluka, apalagi kontrak untuk perizinan juga belum di tanda tangani.
Aku beranjak ke kamar orangtuaku, meminta mereka untuk membantuku sekali lagi.
"Apalagi Wan?" tanya Ibu.
"Bu, aku mau balik ke Jakarta, tolong bilang sama keluarga Windy kalau aku ada kerjaan mendadak," pintaku.
Wanita yang sudah melahirkan aku tiga puluh tahun silam itu menghela nafas berat.
"Wan, sudahlah jangan bermain api!" protes ibu.
"Udah Bu, tinggal selangkah lagi," ucapku.
Aku pun tak lagi menghiraukan ucapan ibu dan langsung bergegas pergi ke bandara. Tiket pesawat aku pesan secara online melalu sebuah aplikasi, sayangnya penerbangan hari itu baru ada esok pagi.
Aku memutuskan untuk memesan penerbangan pagi pukul delapan, dan kembali ke hotel karena tak sanggup jika harus menunggu semalaman di bandara.
____
Aku terjaga, saat angin masuk melalui balkon yang sudah di buka oleh Windy. Sontak, aku langsung melihat jam di atas meja yang sudah menunjukan pukul setengah enam pagi.
Aku bergegas mandi untuk siap berangkat ke Jakarta.
"Kamu rapi banget? Mau kemana?" tanya Windu curiga.
"Aku mau balik ke Jakarta, ada kerjaan mendadak," dustaku.
"Kerjaan? Atau cuma pengen ketemu sama Meylani?" selidik Windy.
"Please Win, jangan seperti ini. Kamu pegang kartu ATM ku dan pulang ke Jakarta dengan orangtuaku. Ok?!"
Aku berusaha menawarkan hal tersebut demi bisa membuat Windy diam dan mengizinkan aku pergi. Sudah tak ada lagi waktu untuk berdebat.
Yang penting sekarang, aku harus menemui Meylani dan bicara dengannya. Aku yakin dia akan memahami semuanya.