#ISTRI_CERDAS
#6
"Mbak, kenapa sih gak laporin aja Mas Irwan ke atasannya?" tanya Aryo.
Aku diam sejenak, niat awal yang tadinya tak ingin memperpanjang masalah kini, berubah. Membayangkan bagaimana wanita itu menari di atas deritaku, aku semakin bersemangat untuk melaporkan Mas Irwan.
Apapun yang terjadi pada Mas Irwan sudah bukan lagi menjadi urusanku. Semenjak ia memutuskan untuk mendua dan mengkhianati ku, saat itu pula ia telah kehilangan semua kesempatan bersamaku dan Laura.
"Iya Mbak, mendingan laporin. Enak aja tinggal metik hasilnya tuh pelakor, lagipula Mas Irwan kok ya gak tahu diri gitu Mbak!" cetus Alfia, adik perempuanku.
Kedua adikku berdebat, mereka sama-sama tidak terima dengan perlakuan Mas Irwan padaku. Apalagi, mereka semua tahu bagaimana perjuanganku saat Mas Irwan merintis semua usahanya hingga saat ini ia mampu mencapai kesuksesan.
"Kalian tenang dulu, Mbak pikir, sepertinya memang Mas Irwan harus di laporkan, tapi ...," ucapanku tertahan, karena mengingat sesuatu.
"Tapi apa Mbak?" tanya Alfia.
"Aku tahu semua tidak akan mudah," jelasku.
"Mey, kamu istirahat dulu saja. Ajak Laura juga, dia menunggu kamu sejak semalam. Sampai dia benar-benar tidak tidur," ucap Ibu.
Aku segera menuruti perintah ibu untuk menemui Laura di dalam kamar yang dulunya adalah kamarku. Gadis kecil yang tengah berbaring di atas ranjang seorang diri itu langsung menoleh ketika aku membuka pintu.
"Mama ...," panggilnya.
Aku segera mengganti pakaian, kemudian langsung menghampiri Laura. Ia langsung memelukku dan menangis.
Hatiku tersayat ketika mendengar helaan nafas bocah kecil itu, suaranya serak seolah ada sesuatu yang menahan tenggorokannya.
"Laura kenapa sayang?" tanyaku berusaha membuka pembicaraan.
Bagiku, ia bukanlah anak kecil yang tidak penting untuk memberikan pendapat. Ia juga bagian dari keluarga kecilku, dan ia berhak memberikan pendapatnya.
"Apa Mama dan Ayah akan berpisah?"
Deg! Hatiku tersentak saat tiba-tiba Laura menanyakan hal tersebut, darimana ia tahu tentang Mas Irwan? Atau mungkin postingan saat itu yang tak sengaja terlihat olehnya?
"Laura, dia tetap Ayah bagi Laura. Pria yang harus Laura hormati, bagaimanapun. Seburuk apapun pria itu, ia tetaplah orangtua Laura."
Aku berusaha menahan ego dan emosiku, Laura tidak seharusnya ikut menjadi korban perpisahan kami nantinya meski aku yakin, ia tetap akan mengalami masa-masa sulit itu.
"Tapi, Ayah jahat! Ayah sudah menikah dengan Tante itu!" ucap Laura kesal.
Aku melepas pelukan gadis kecil itu, kemudian mengusap air mata yang membasahi wajah mungilnya.
"Sayang, dengarkan Mama. Apapun yang di lakukan orang lain pada kita, meskipun itu adalah hal yang buruk sekalipun biarkan saja. Apalagi, dia adalah Ayah Laura. Urusan dia sama Allah, sedangkan urusan Laura adalah berbakti pada kedua orangtua, paham?" jelasku.
Laura mengangguk, sepertinya ia memahami apa yang berusaha aku sampaikan.
"Tapi, Laura mau sama Mama aja. Gak mau sama Ayah. Tante itu juga sering jahatin Laura," cetusnya.
Sering? Aku mengerutkan kening, "Memang, Laura sudah pernah bertemu dengan Tante itu?" tanyaku berusaha memancing informasi.
Laura kembali mengangguk, "Waktu kita liburan ke Kalimantan, kan Ayah pergi ngajak beli obat buat Mama," ungkapnya.
Ya Allah, hatiku kembali terasa sakit ketika mendengar penjelasan dari putriku. Ia memang masih begitu polos. Aku ingat betul terkahir kali berlibur ke Kalimantan susah setahun yang lalu, saat Mas Irwan harus menghadiri acara peresmian kantor cabang di sana.
Saat itu bertepatan dengan ulang tahunku, jadi Mas Irwan memberikan hadiah sebuah mobil yang akhirnya di gunakan jika memang kami ke Kalimantan.
Ternyata semua hanya akal-akalan Mas Irwan saja, semua ia lakukan bukan untukku melainkan untuk wanita yang sudah merebut hatinya.
Satu persatu kebohongan dan kebusukan Mas Irwan mulai terungkap. Aku semakin yakin untuk melaporkan Mas Irwan ke perusahaannya agar ia tahu jika aku bisa menghancurkan karirnya dalam sekejap.
Rasa sakit dalam hati ini membuatku semakin tidak rela istri baru Mas Irwan menikmati apa yang sudah aku rawat selama ini.
Ibarat bunga, aku yang sibuk merawat dan menyiraminya hingga tiba saat berbunga, justru di petik orang. Aku tak akan rela, Mas Irwan bahagia bersama wanita selingkuhannya.
"Kenapa Laura gak ngomong sama Mama waktu itu?" tanyaku.
"Laura udah bilang, tapi Ayah bilang semua orang dewasa memang begitu," jelasnya.
Aku menghela nafas panjang, Mas Irwan benar-benar sudah menipuku dengan sangat rapi, sekarang giliran aku yang harus menunjukan bahwa ia salah telah meremehkan aku seperti ini.
Aku mencium kening putriku dan memintanya untuk tidur. Sementara mataku tetap tak bisa terpejam, otakku seolah terus memikirkan cara untuk membalas perbuatan curang Mas Irwan dan kekasihnya.