SAAT PELAKOR MEMBAGIKAN FOTO PERNIKAHANNYA BERSAMA SUAMIKU
#ISTRI_CERDAS
#5
Setelah melewati pertimbangan di malam itu, akhirnya aku pulang secepatnya. Disaat semua tengah terlelap, malam itu juga aku memesan tiket secara online.
Bersyukur karena keberuntungan kembali memihak padaku, aku bisa mendapatkan tiket di jam empat pagi. Di saat memang mereka tengah beristirahat.
Sengaja pula aku menggunakan pakaian yang jarang aku pakai untuk mengelabui mereka, seandainya memang Mas Irwan nekat membayar orang untuk mencelakai aku, setidaknya aku telah mempersiapkan diriku untuk kemungkinan terburuk itu.
Dengan penuh keberanian aku keluar dari hotel, dan menggunakan taksi online yang sudah aku pesan sebelumnya. Aku berjalan santai agar tak menimbulkan curiga pada siapapun yang melihatku.
Andai aku mengajak seseorang, setidaknya adik lelakiku mungkin aku tidak harus sembunyi-sembunyi seperti ini.
Mas Irwan memang sudah merencanakan semua dengan matang. Ia telah memperhitungkan jauh gedung pernikahan dengan hotel dan bandara.
Lalu, tiket ke pulau terpencil di Kalimantan itu milik siapa? Padahal tertulis jelas jika disana ada nama Mas Irwan. Aah, bodoh sekali aku. Bisa saja itu adalah tempat dimana pelakor itu berasal.
Sebuah pernikahan tentunya harus melalui proses lamaran, dan mungkin Mas Irwan terlebih dahulu melakukan prosesi itu karena jika di lihat, orangtua pelakor itu sama sekali tidak tahu tentang status Mas Irwan yang sebenarnya.
Tepat pukul tiga pagi aku sampai di bandara, aku tidak lagi membuang waktu untuk berlama-lama dan bergegas menuju tempat check in dan melakukan semua proses sebelum akhirnya masuk ke dalam pesawat.
Satu jam aku menunggu, sampai akhirnya pihak bandara memberitahukan bahwa pesawat telah siap untuk penerbangan Kalimantan - Jakarta. Hatiku sedikit bisa bernafas lega, meski masih ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku saat ini.
Sebelum aku bertemu dan bisa memeluk Laura, rasanya hati ini masih belum bisa tenang.
Aku terjaga sepanjang perjalanan di dalam pesawat. Hanya wajah Laura yang tergambar dalam anganku. Karena bagaimanapun, hanya dia yang aku miliki saat ini.
Beberapa jam menjadi waktu tempuh saat itu. Hingga akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di bandara internasional Soekarno-Hatta.
Sebelum keluar bandara, aku segera menelpon adik lelakiku untuk menjemput dan melindungi ku. Mas Irwan memang memiliki banyak kekuasaan, karena ia bekerja di sebuah perusahaan ternama yang juga bekerja sama dengan instansi pemerintahan.
Itulah mengapa, aku yakin jika Mas Irwan akan membungkam mulutku agar aku tidak mengatakan tentang pernikahannya.
Namun, sedikitpun tak ada niatku melaporkan pernikahan suamiku. Bagiku, lepas dari dia adalah tujuan utama. Ia telah menghianati, telah memilih wanita lain sebagai pengganti ku. Meski, ia tak sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa di gantikan oleh siapapun.
"Mas Irwan mana Mbak? Kata Laura, Mbak jemput Mas Irwan?" tanya Aryo,.adik lelakiku.
Aku menggeleng, "Antar aku ke rumah ibu dulu aja Yo," pintaku seraya mengusap air mata yang kembali mengalir.
Aryo tak lagi bertanya, ia langsung mengemudi mobil menuju rumah orangtuaku. Beruntung, sebelum aku ke Kalimantan aku sudah membereskan semuanya dan membawakan surat-surat penting bersama koper yang aku bawakan untuk Laura.
"Mama ...!"
Gadis kecil itu berteriak seraya berlari menghampiriku, ia langsung memelukku dan menciumi wajahku.
"Anak Mama sayang," ucapku sembari menyambut pelukannya dan mencium lembut seluruh bagian wajahnya.
"Ayah, mana Ma?" tanya Laura lagi.
Aku melepaskan pelukan gadis kecil itu, kemudian menarik nafas agar air mata tak lagi jatuh di depan putriku.
"Laura, masuk dulu ya. Nenek mau bicara sama Mama," perintah ibuku.
Laura langsung mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamarnya. Aku masih berusaha tegar di depan ibuku, menceritakan satu demi satu kejadian yang baru saja aku alami.
Kedua orangtuaku, beserta dua adikku pun langsung geram mendengar apa yang aku ceritakan. Mereka murka melihat postingan yang juga menjadi titik awal kemarahan ku.
Inilah yang membuat aku enggan untuk menceritakan semua di awal pada kedua adikku, karena aku tahun emosi mereka masih belum stabil.
"Jadi, sekarang gimana mbak?" tanya adik perempuanku.
Aku menggeleng, "Semua surat-surat penting sudah aku amankan. Setidaknya, aku tidak ingin hak Laura di renggut juga oleh wanita itu," ucapku.
"Coba aku ikut kemaren mba, udah aku jambak-jambak itu perempuan gak tahu diri!" sentak adik perempuanku.
"Sudah, sekarang atur perceraian kami secepatnya. Kamu tahu kan, Irwan tidak akan tinggal diam?" ungkap wanita yang sudah melahirkan ku.
Kami pun menyusun rencana agar bisa menghadapi Mas Irwan dan keluarganya saat mereka sudah kembali ke Jakarta.
Bagiku harta yang utama adalah Laura, anak perempuanku satu-satunya. Namun, aku juga tak ingin Laura menderita setelah ayahnya menikah dengan wanita lain.
Bagaimanapun, aku yang sudah mendampingi Mas Irwan sebelum ia mencapai titik ini. Bahkan, keluarganya pun seharusnya mengucapkan terima kasih, bukan malah membalasku dengan cara seperti ini. Lagipula, siapa sebenarnya wanita itu sehingga mampu membuat Mas Irwan tergoda?