bc

STOCKHOLM SYNDROME

book_age18+
735
FOLLOW
2.7K
READ
billionaire
possessive
love after marriage
badboy
tragedy
Writing Challenge
betrayal
cheating
bodyguard
like
intro-logo
Blurb

Warn!! 21+

Thalia Jayadiningrat merupakan anak semata wayang dari seorang pengusaha sukses bertaraf internasional yaitu, Jati Jayadiningrat. Kehidupan bergelimang harta serta kehidupan percintaan yang mulus, membuat banyak perempuan yang iri padanya. Namun sayangnya, Thalia harus merasakan pengalaman pahit tepat setelah pesta pernikahannya dengan kekasih dua tahunnya, Jared Hatumolo.

Bermula dari pengakuan Thalia bahwa ia hamil, pada Jared di malam pertama mereka. Membuat Jared murka padanya. Menuduhnya yang bukan-bukan, lalu segalanya bertambah buruk ketika sekelompok orang asing bersenjata memasuki rumah mereka secara paksa. Thalia sama sekali tak mengetahui apa niatan mereka, tetapi mereka berhasil melukai Jared. Sementara kelompok bersenjata tersebut membawanya kabur malam itu juga.

kehidupan Thalia, berubah sejak malam itu.

chap-preview
Free preview
Prolog
Gelap menguasai bentangan cakrawala di atas sana. Kesiur angin malam menusuk-nusuk hingga ke tulang dua bocah berbeda gender yang tengah bersembunyi di balik dinding. Tubuh mereka bergetar hebat bukan hanya karena diterjang udara bersuhu rendah, tetapi juga karena tremor yang muncul akibat ketakutan memenuhi setiap tetes darah mereka.   Sementara di balik dinding itu, lolongan kesakitan saling bersahut-sahutan. Mengirimkan denyutan nyeri pada gendang telinga. Lolongan yang sarat akan permohonan pertolongan. Namun sayangnya, tempat itu terlampau terpencil. Jarang ada manusia hidup yang lewat di sana. Rumah-rumah penduduk juga berjarak ratusan meter jauhnya. Barangkali akan terdengar samar-samar di telinga mereka yang masih terjaga hingga larut begini, tetapi mereka yang mendengar tak akan menghiraukan. Entah karena alasan tak ada keberanian memeriksa sumber suara, atau pun kadar keapatisan dalam diri yang sangat kental.   Pun, dua bocah itu tak tahu menahu siapa mereka yang tengah menyakiti teman-teman panti juga Bunda mereka. Saat keduanya kembali—setelah sebelumnya mereka kabur tengah malam, untuk menyaksikan taburan gemintang—tahu-tahu orang-orang itu sudah ada di sini. Awalnya mereka ingin masuk, tetapi pandangan Bunda Panti yang tak sengaja bertemu pada si bocah laki-laki, mengisyaratkan agar keduanya tak mendekat. Mengisyaratkan agar keduanya pergi. Maka, meski masih tersimpan sejuta ragu, si bocah laki-laki menurut. Menarik tangan bocah perempuan yang cuma setinggi bahunya, mengajaknya bersembunyi di balik dinding pembatas.   “Aku takut...,” lirih seorang bocah perempuan pada bocah laki-laki yang saat itu tengah menggenggam erat jari-jemari mungilnya. Si bocah laki-laki yang tadinya sedang mengintip ke balik tembok, mengintai. Langsung menoleh begitu mendengar aduan yang tenggelam dalam aksen getar.   “Jangan takut. Ada aku di sini. Aku pasti jagain kamu,” bisik si bocah laki-laki, sembari mengusap-ngusap puncak kepala bocah perempuan yang satu tahun lebih muda darinya. Berupaya sekeras mungkin agar tampak berani, menyembunyikan ketakutannya sendiri yang sukses bikin tangannya tremor.    Karena Bunda Panti senantias mengatakan padanya, bahwa laki-laki tugasnya melindungi. Bahwa seorang kakak tugasnya memberi rasa aman. Walau pun tak ada ikatan darah yang mengalir pada mereka. Nasihat-nasihat Bunda Panti itu, telah tertanam kokoh dalam chip di otaknya, dan ia terapkan sepenuh jiwa.   “Kakak nggak takut?”   Sosok yang di panggil kakak, menggeleng cepat. “Aku ‘kan laki-laki. Laki-laki harus pemberani.”   “Ternyata di sini kalian bersembunyi.”   Kedua bocah tersebut kontan menegang, mereka menoleh ke sumber suara dengan mata yang membola. Lalu menemukan, tiga sosok laki-laki bertubuh besar yang tengah menatapi mereka dengan kilat-kilat tajam mengerikan. Si bocah laki-laki mempererat genggamannya. Kemudian memacu langkah seribu menjauhi sosok-sosok itu, ia bertindak sesuai instingnya. Mereka menyakiti kerabatnya di panti, itu artinya mereka orang jahat. Orang-orang yang harus di jauhi.   Pacuannya lantas terhenti mendadak, waktu merasakan bocah perempuan yang dia seret lari, terjatuh. Ia buru-buru mendekati si bocah perempuan yang meringis kesakitan sembari berlutut, dengan air muka panik. “Aduh. Maaf, ya.”   “Sakit,” ringisnya. Air mata menggenangi pelupuk mata. Siap meluncur kapan saja.    Kala si bocah laki-laki ingin menyuarakn tanya lagi. Tubuhnya tiba-tiba saja melayang. Di dekap kuat sampai-sampai dadanya terasa terhimpit, sementara bibirnya di bekap. Hal serupa juga terjadi pada bocah yang sedari tadi bersamanya. Bahkan ia tengah meraung-raung menangis.    Tiga pria dewasa tadi, berhasil menangkap mereka. Membawa mereka ke sebuah bangunan yang baru setengah jadi. Bukan ke rumah panti—tempat mereka menyakiti kerabat-kerabatnya. Ada dua orang pria dewasa lagi yang menanti di sana. Begitu sampai di dekat sosok itu. Tubuh bocah-bocah itu di lempar ke atas tanah. Praktis mereka meringis, sementara yang perempuan sesegukan menangis, yang laki-laki buru-buru mendekati dan memeluknya erat.  “Aku mohon, jangan sakiti kami,” pintanya dengan jantung yang berdebar-debar kencang. Tak ada penerangan berupa lampu di sana, visi cuma di bantu oleh cahaya bulan purnama besar di luar sana, yang menerobos lewat celah-celah bangunan. Sehingga ia tak mampu melihat dengan jelas wajah-wajah penjahat itu. Hanya samar-samar.   Permohonan tersebut di balas gelak tawa membahana. Menggema di dinding-dinding. “Berani sekali kau bocah!” hardik salah satu di antara mereka. “Memangnya apa yang bisa kau berikan jika kami tidak menyakiti kalian?! Bahkan wanita tua itu tidak memilki apa pun untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Dia cuma bermodalkan kekeras kepalaan yang membuatnya berakhir begini sekarang.”   “Kalian tenang saja. Kalian akan segera menyusul mereka.” tambah pria yang lainnya, bersuara rendah sekali. Sukses membuat dua bocah itu merinding serta terhimpit lebih banyak ketakutan.   “A-aku... aku, mohon.” Bocah laki-laki itu tidak mampu menahan suaranya agar tak terbata-bata. Tanda bahwa dia telah kepalang takut. Dipuncaki kegamangan yang menggerogoti kewarasan. “A-ku, akan... lakukan apa pun. Aku akan lakukan apa pun untuk, Paman, kalau tidak menyakiti kami.”   “Heh, bocah!” Pria tua itu tampak hendak berteriak kembali, tetapi seorang pria dengan tampilan lebih berwibawa darinya menghentikkannya.   Pria itu berjongkok di hadapan si bocah yang saling memeluk menghalau ketakutan. Manik matanya yang segelap laut dalam memindai keduanya, hingga berhenti tepat di iris yang laki-laki. “Apa pun?” tanyanya dengan resonansi suara rendah nan halus. Seakan memberi pengharapan. Si bocah yang ditanya, cepat-cepat mengangguk. Anggukannya membawa senyum terpasang di bibir si pria.   “Kalau begitu, aku ingin kamu melenyapkannya.” Pandangan si pria berpindah ke arah bocah perempuan yang tenggelam dalam dekapan sang kakak. Hanya setengah wajahnya yang terlihat. Itu pun di tutupi oleh rambutnya yang basah lantaran air mata. “Karena dia tidak berguna, dan aku cuma menginginkan yang berguna. Yaitu, kamu.”   Bocah laki-laki itu semakin mempererat dekapannya. Menatap nanar pria di hadapannya. Ia jelas paham maksud kata berguna dan tidak berguna. Ibu Panti bilang, barang yang tidak berguna memang sepatutnya disingkirkan.   Akan tetapi, manusia bukan barang....   “Bagaimana, Nak? Kamu lenyapkan dia, atau kami yang melenyapkan kalian berdua?”   *   Tubuh bermandikan keringat seorang pemuda terjengit di susul kelopak mata yang terbuka spontan, menampilkan iris mata berwaran biru selayaknya samudra. Napas si pemuda memburu. Ia lantas perlahan mendudukan diri di atas ranjangnya berbalut seprai putih. Ia tatapi kedua tangannya yang bergetar tremor seperti tangan para lanjut usia. Berusaha mengalihkan getar serta kepingan adegan yang detik itu tengah terputar terus-menerus di kepalanya, ia bawa kedua tangan untuk mencengkram rambutnya. Berharap dengan begitu kepingan adegan tersebut, mau menyingkir dari memori barang sejenak. Memberinya ruang untuknya bernapas dengan leluasa.   Akan tetapi sekeras apa pun dia mencengkram rambut di kepala, bahkan sampai rambutnya rontok sekali pun, asanya itu tak akan pernah terkabulkan.   “Udah bangun lo?”   Si pemuda mengangkat kepala menuju sumber suara. Menemukan seorang pria pendek bergaya rambut cepak menyembulkan kepala dari balik pintu. Kepalanya lantas terangguk singkat, menanggapi tanya retoris cowok itu.   “Cepetan ke bawah gih. Ada tugas baru.”   Lagi kepalanya terangguk tanpa sepatah kata. Begitu cowok itu pergi, baru lah ia bangkit. Meraih kaos hitam yang tersampir di kepala ranjang, lalu segera memakainya sembari melangkah ke luar kamar. Sesampainya di tempat yang cowok tadi maksudkan, ia langsung berhadapan dengan sosok jangkung berwajah pucat. Sosok itu melemparkan sebuah amplop padanya, seraya berkata dengan nada perintah tak terbantahkan.   “Tugas besok malam, lo yang pimpin. Tolong kordinasiin sama anak-anak. Gue bakal kasih tahu detailnya sama lo.”   Si pemuda membuka amplop yan di berikan padanya, di sana terdapat selembar foto. Hanya seorang gadis. Sedetik melihat, si pemuda memasukannya kembali. Lagi-lagi mengangguk, kemudian berujar singkat. “Oke. Gue ambil.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

KISSES IN THE RAIN

read
58.1K
bc

Long Road

read
148.6K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Oh, My Boss

read
387.1K
bc

Over Protective Doctor

read
484.3K
bc

Everything

read
283.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook