Menghilang?

489 Words
“Seperti yang di harapkan, keluarga Jayadiningrat memang tidak akan tanggung-tanggung bila menggelar pesta. Apa lagi ini adalah pesta pernikahan anak semata wayang. Penerus satu-satunya Tumenggung Group. Pesta ini sungguh luar biasa, Jati.” Pujian banjir ketakziman akan kemegahan pesta pernikahan seorang putri dari seorang pengusaha konglomerat.  Jati tertawa penuh wibawa menanggapi kata-kata pengagungan dari rekan bisnisnya yang saat itu hadir. Binar matanya yang di kelilingi keriput penuaan, menatap ke sepenjuru halaman hotel yang seluas lapangan golf dan kini di sulap menjadi lebih ramai dengan kehadiran meja-meja serta kursi yang di dekor sedemikian rupa dengan warna senada. Pun dari tempatnya berdiri, juga terlihat sebuah altar yang berdiri agung di dekat danau kecil Hotel I-Land—yang mana salah satu aset kepemilikan Tumenggung Group di bidang pariwisata. “Tentu saja, Cakra. Mereka mengharapkan emas, maka kami akan memberi berlian. Mereka mengharapkan isi dunia, maka kami akan berikan isi semesta.” Jati meneguk minuman sejenak. “Lagi pula ini tidak seberapa, Cakra. Aku hanya mengosongkan satu hotel kebanggaan Tumenggung Group untuk perayaan ini. Kamu tahu? Raja minyak di negeri seberang bahkan menyewa tiga hotel sekaligus. Sayang, putriku melarang keras saat aku mau melakukan hal yang serupa.” Pria paruh baya bertubuh tambun yang mengenakan dasi mentereng warna merah muda, yang tadi di panggil Cakra, terkekeh kecil. Turut meneguk minuman sebelum menimpali. “Dia gadis yang sederhana.” Jati menunjuk menggunakan telunjuk serta mengedikkan kepala, mengangguk-ngangguk setuju. “Benar sekali. Dia bahkan sempat meminta melakukan pemberkatan di gereja saja. Aku benar-benar berdebat hebat dengannya untuk kemegahan hari ini.” Jati kembali terbayang-bayang ke hari-hari di mana ia bersitegang serta sempat melancarkan perang dingin, untuk menentukan kemegahan pesta yang akan terlaksana. Beruntung Jati mampu memenangkan, itu pun bila ia tak berpura-pura sakit mungkin detik ini hotel ini masih beroperasi secara normal. Para rekan bisnisnya kembali terkekeh mendengar ungkapannya itu. Detik berikutnya, seorang gadis berkuncir kuda serta kaca mata bulat, datang menghampiri Jati. Berbisik di telinga si pria paruh baya. “Tuan, Non Thalia menghilang.” Jati tersenyum maklum pada sekumpulan pria tua di sekelilingnya, berusaha sekeras mungkin agar tak menampilkan ekspresi yang dapat menjadi buah bibir. Kemudian dia menarik diri dari mereka, memimpin langkah, menyelip di antara kerumunan orang-orang berpakaian mahal. Lantas berhenti di sebuah lorong yang lengang. “Apa maksudnya menghilang?” tembaknya langsung pada gadis tadi, sembari berkacak pinggang. “Non Thalia menghilang setelah selesai memakai gaun pengantin, Tuan. Kami sudah mencari ke segala penjuru, tapi Non Thalia tidak di mana pun. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi.” Jati menghela napas panjang, berpikir sejenak. “Kalian nggak perlu cari Thalia lagi. Biar saya yang atasi ini. Selama saya pergi pastikan kabar ini tidak merebak ke mana-mana. Paham?” Si gadis mengangguk. “Paham, Tuan.” “Bagus. Sekarang kamu bisa pergi.”  Menuruti perintah, gadis itu melenggang pergi dari sana. Meninggalkan Jati yang bergerumul dengan pikiran. Tak habis pikir dengan tindakan putrinya. Thalia, Thalia, kamu ini ada-ada aja sih, Nak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD