Gaun Pernikahan

1107 Words
Thalia Jayadiningrat, akan melangsungkan pesta pernikahannya hari ini. Segala kemewahan telah terancang jauh-jauh hari, kini terlaksana lancar di sebuah hotel besar yang merupakan kepemilikan keluarga Jayadiningrat. Namun terlepas dari semua itu, kesenduan bangkit di jiwanya yang sesungguhnya rapuh. Rasa yang sedari kemarin menyelinap di tengah-tengah euforia, terpancar melalui sorot mata yang selama bermenit-menit telah tertambat pada sebuah figura maha besar. Di sana sang ibu yang dibaluti gaun pernikahan seputih salju nan elegan, terabadikan begitu anggun dengan rona-rona kebahagiaan yang nyata pada sudut-sudut bibir yang melengkung ke atas sempurna. Manik mata sewarna karamel yang beliau wariskan pada sang putri, menyorot hangat pun tenang. Sedari dirinya kecil, Thalia selalu menginginkan gaun yang serupa dengan milik mamanya kala beliau menikah. Si gadis memang mendapatkannya kini, benar-benar sama persis. Namun segalanya terasa tidak lengkap jika ibu tak ada di sisinya. Thalia menginginkan kehadiran ibu saat ini, tetapi itu sangat tidak mungkin lantaran beliau telah lama berpulang ke rumah Tuhan. Si gadis menarik oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-paru yang terasa sesak. Memandangi senyum mama membuat dia harus memutar segala memori di kala mereka bersama. Hal tersebut sukses memanaskan bola mata. Seharusnya, mama ada di sini. Turut serta merasakan kebahagian Thalia. Seharusnya, mama ada di sini untuk mengantar Thalia kepada sosok laki-laki pendamping hidupnya. “Tuan Putri, ternyata ada di sini.” Kelopak Mata Thalia mengedip cepat, begitu suara serak pria paruh baya mendadak terdengar. Buru-buru dia memutar tubuh, dan detik itu pula senyuman mengembang di bibir merah delimanya. “Ayah….” Sosok dalam balutan tuxedo mengilap, serta dasi cokelat gelap, melangkah mendekati putrinya. Pria tua yang rambut serta jenggotnya telah di tumbuhi helai-helai berwarna putih, memindai penampilan Thalia dari ujung rambut ke ujung kaki. “Tuan Putri, Ayah, kenapa cantik sekali, hum? Ayah jadi nggak rela memberikan kamu ke laki-laki lain.” Senyuman penuh rasa haru serta tatapan yang begitu lembut dari sosok ayah, membuat Thalia tak dapat menahan luapan di dadanya lagi. Bibirnya gemetar, sementara kedua bola matanya digenangi air mata yang siap meluncur. Detik itu pula, Jati Jayadiningrat sigap mengusap cairan bening yang berpotensi besar merusak make-up si calon pengantin. “Bayi besar Ayah. Jangan nangis sekarang dong, nanti bedak kamu bisa luntur duluan sebelum mengucap janji pernikahan.”  Thalia mengangguk patuh seraya terkekeh kecil atas gurauan ayahnya. Kembali menarik napas dalam-dalam guna menahan desakan air mata. “Gaunnya mirip banget kayak gaun Bunda. Bahkan sampai ke detail kecilnya. Makasih, Ayah. Aku suka.” Thalia betul-betul takjub akan keikutsertaan ayah yang begitu aktif dalam mempersiapkan pernikahannya. Padahal dia sangat tahu, bahwa Jati memiliki kesibukan yang padat sebagai presiden direktur perusahaan konglomerat yaitu, Jayadiningrat Group. Bahkan Jati sendiri lah yang menghubungi desainer yang dulunya merancang gaun pengantin mendiang sang istri, untuk membuatnya kembali untuk putrinya. Memantaunya terus menerus, tidak ingin ada perbedaan setitik pun dari objek duplikat. Padahal sesungguhnya ia tak perlu melakukan hal tersebut, mengingat perancangnya sendiri telah turun tangan. Sebuah kewajaran sesungguhnya bila Jati bertindak demikian, sebab Thalia adalah anak semata wayangnya.  “Apa pun akan Ayah lakukan untuk Tuan Putri Ayah ini.” Jati menoleh sekilas pada figura mendiang sang istri, lalu mencondongkan kepala ke telinga Thalia. “Kamu tahu, Sayang. Kamu cantik sekali hari ini. Bahkan Bundamu kalah jauh. Sstt, jangan bilang ini pada Bunda. Thalia tahu ‘kan, Bunda pencemburu akut.” Thalia mencebikan bibir. “Tapi Ayah menikah lagi.” Jati mengerutkan kening dalam. “Eiy. Itu beda lagi. Kita sudah pernah membahasnya bukan? Ayah menikah untuk memberi sosok Ibu bagimu, karena Ayah nggak bisa berada di samping Thalia setiap saat. Bukan untuk menggantikan posisi Bunda. Ayah yakin kalau yang itu, Bunda pasti paham dan nggak akan cemburu.”  Thalia terkekeh kecil. Ia jelas paham sekali hal tersebut, dan tak pernah mempermasalahkannya. Apa lagi sosok ibu tirinya tidak seseram di sinetron. Kebalikannya, justru beliau sungguh perhatian padanya. Tadi Thalia cuma menggoda ayahnya saja. “Iya, Ayah. Aku paham, kok. Aku cuma bercanda.” Tepat setelah Thalia berkata demikian, bunyi dering ponsel terdengar dari saku celana Jati. Pria paruh baya itu segera merogoh, memeriksa siapa yang menghubungi. Alih-alih menjawab, dia malah menunjukkan layarnya pada Thalia. “Lihat, calon mempelai pria udah nelpon Ayah. Dia pasti kelimpungan sekarang karena calon pasangannya belum muncul juga.” Jati mematikan ponselnya sepihak. Kembali menyimpan. “Mari kita buat dia kelimpungan sebentar karena kehilangan calon istri.” Thalia memelotot, tetapi bibirnya mengulas senyum. Ayahnya ini memang tidak bisa kehilangan sifat jahilnya meski telah berkepala lima. “Ayah.” Suara Thalia beraksen jenaka. “Jangan begitu. Nanti kalau calon suamiku nyari calon lain gimana?” Jati mengedikkan bahu tak peduli. “Biar saja. Kalau dia berani begitu, artinya dia sudah siap Ayah lubangi kepalanya.” Kali ini pelototan mata Thalia tak main-main. Ia mendadak waswas betulan. “Ayah. Jangan.” Selanjutnya nada suara Thalia memelan. “Aku cinta dia, Ayah, dan begitu pun sebaliknya. Jadi aku yakin dia nggak mungkin begitu.” Jati tertawa tanpa suara melihat reaksi putrinya. “Uluh-uluh. Ternyata putri ayah udah bener-bener bisa bucin sama lelaki lain.” Jati menggelitiki bawah dagu Thalia, seolah-olah si gadis adalah seekor kucing. Itu kebiasannya yang tak pernah bisa hilang sejak Thalia masih bayi. “Tentu saja. Tapi Ayah tenang, Ayah tetap yang nomor satu di hatiku. Tapi ngomong-ngomong, dari mana Ayah tahu istilah bucin.” Jati menarik sudut bibir yang dihiasi bulu-bulu berwarna hitam-putih jemawa. “Jangan remehkan ayah, Sayang. Meski sudah berumur begini, Ayah tetap gaul mengikuti perkembangan zaman.”  Penuturan Jati ditutup oleh bunyi dering ponselnya lagi. Kali ini ia membiarkannya begitu saja, pasti sudah tahu siapa orang di balik panggilan tersebut. Jati melipat sebelah tangan ke belakang punggung, sedangkan sebelahnya lagi menengadah ke depan. “Ayo, Tuan Putri, kita harus segera menuju altar pernikahan. Calon suamimu sepertinya sudah tidak sabaran.” Senyuman si gadis terkembang semakin lebar, hingga menyipitkan mata. Ia sambut uluran tangan ayahnya, meletakan tangannya yang dilingkupi sarung tangan dari kain brokat, di sana. “Baik, Yang Mulia Raja,” ucapnya halus, meniru-niru aksen putri-putri kerajaan. Sejurus kemudian dua manusia berbeda usia itu menarik tungkai kaki berlawanan dengan posisi figura besar yang terpajang di ruangan yang tak kalah besarnya. Sementara kedua manik sosok dalam figura seakan-akan tengah menyoroti dua punggung itu, Thalia mulai bergumam harap-harap cemas dalam hatinya. Berharap dengan segenap jiwa, agar prosesi pernikahannya hari ini akan berjalan lancar sampai akhir. Remasan lembut di tangan lantas ia rasakan, kala menoleh, ia menemukan wajah Jati yang tersenyum menenangkan padanya, seolah memahami apa yang saat ini putrinya rasakan. “Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Ayah jamin itu.” Thalia mengangguk. Meyakinkan diri bahwa segalanya akan memang baik-baik saja. Namun ia tak pernah tahu apa yang telah semesta rancang bagi hidupnya beberapa jam kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD